Permintaan Tolong

1073 Words
Keesokan harinya. Shena yang baru saja pulang bekerja, memilih untuk mampir ke sebuah warung untuk meminta pekerjaan. Jika setiap hari ia hanya menjadi b***k tanpa gaji, ia tidak akan pernah memegang uang sepeserpun. "Permisi," ucap Shena pada pemilik warung. "Ya, mau beli apa?" tanya penjaga warung. Namanya Bu Siti. "Saya ingin melamar pekerjaan, apakah bisa?" tanya Shena dengan ragu. Si pemilik warung melihatnya dari atas sampai ke bawah dengan tatapan sinis. "Kenapa kau ingin bekerja? Kau kan sudah punya pekerjaan?" "Saya ingin digaji." "Oh, ternyata b***k! Maaf, tapi saya tidak menerima pelayan tambahan. Sebaiknya pergi, saya tahu tujuan utamamu bukan untuk itu saja." Shena mengernyitkan dahinya. Ia sama sekali tidak mempunyai tujuan lain. Tujuannya hanyalah satu, yaitu mendapatkan uang. Ia pun pergi dari warung itu dengan rasa heran. Beberapa pria yang tadi melihatnya sempat beberapa kali menoleh ke arahnya. "Kenapa tidak diterima? Dia cantik," ucap salah seorang pria. "Apa kalian tidak ingat dengan yang terjadi beberapa tahun belakangan ini? Beberapa gadis muda meminta bekerja padaku, tetapi mereka ternyata punya tujuan lain, yaitu menggoda suamiku. Kalian tahu sendiri kan suamiku itu tampan dan kaya. Banyak wanita yang mengantri ingin menjadi istri keduanya." "Kaya darimana? Suamimu hanya seorang pengantar barang ke luar desa ini. Dia hanya bisa mengendarai sepeda motor dan kau bilang kaya?" "Dengar, ya, dia adalah salah satu laki-laki yang bisa mengendarai sepeda motor dan hanya dia yang punya sepeda motor. Alat transportasi tercanggih di sini." "Tapi suami Dewi juga punya sepeda motor dan dia jauh lebih tampan dari suamimu." "Tapi sepeda motor itu milik desa, bukan miliknya seperti yang suamiku miliki. Hanya suamiku yang pernah ke kota jika sepeda motornya perlu diperbaiki. Hanya dia yang pernah melihat lampu listrik dan jalan raya serta kendaraan dengan empat roda." "Ya baiklah, kau benar." Shena sempat berbalik melihat ke arah warung saat seorang pria yang menyapa para pembeli datang menghampiri. Ia serta merta memeluk istrinya dengan penuh kehangatan. Shena terkejut melihat fisik pria yang dibilang tampan tadi. Baginya, itu jauh dari kata tampan. Tapi, mungkin di desa ini punya standarisasi soal ketampanan. Shena terus melangkah berjalan menyusuri jalanan yang masih ramai orang lalu lalang. Pemandangannya terhenti saat melihat seorang pria tua terbatuk-batuk hingga tersungkur ke tanah dan tidak ada yang mau menolong. Shena segera menolong pria itu. "Pak, apa anda baik-baik saja?" tanya Shena sambil memapah pria tua itu. "Tidak, biarkan saja saya di sini. Saya sudah tidak kuat bekerja dan tidak punya siapa-siapa lagi. Saya adalah b***k di sini, jadi, saya akan meninggal di sini." "Tidak, Pak, setiap nyawa itu sangat berharga. Dimana rumah tabib?" tanya Shena. "Sudahlah, jangan pikirkan saya." Shena tidak kehilangan akal. Ia menoleh ke sana kemari. Pandangannya tertuju pada sebuah rumah yang terlihat sangat bersih dan lumayan bagus. Ia pun segera membawa pria tua tadi ke sana. Dan benar dugaannya, itu adalah rumah tabib atau bisa dibilang bidan. Shena membawa masuk pria itu dan meminta bidan memeriksa pria tua tadi. Ia memerhatikan wajah sang bidan yang ternyata pernah ia lihat sebelumnya. Dialah wanita yang pernah melintas di rumahnya bersama suaminya dengan begitu mesra dan melihat Shena berkali-kali seperti orang penasaran. "Tunggu, jangan! Jangan obati saya. Saya tidak akan bisa membayar," cegah pria tua. "Tidak, ku mohon, obati dia, saya akan bekerja membersihkan rumahmu setiap hari sampai biayanya lunas," ujar Shena. Bidan itupun langsung memeriksa pria tua tadi. Memberinya makanan, lalu obat herbal untuk di konsumsi. "Dia kelaparan dan keracunan akibat memakan buah-buahan beracun." Shena turut prihatin mendengarnya. "Bisakah dia mendapat makanan setiap hari? Aku akan bekerja setiap hari di sini," ucap Shena antusias. "Apa dia ayahmu?" tanya Bidan itu. "Tidak, kami baru bertemu barusan saat dia jatuh tersungkur." "Kenapa kau menolongnya? Anak-anaknya saja kabur meninggalkannya di desa ini. Membuatnya harus bekerja sebagai b***k demi menutupi hutang atas uang yang dibawa lari anak-anaknya." "Aku manusia, aku punya hati nurani." "Jika kau menolongnya hari ini, belum tentu dia akan menolong mu suatu hari nanti." "Aku tidak peduli, aku akan tetap menolongnya." "Kau harusnya menolong dirimu sendiri." "Aku sudah menolong diriku dengan tetap sehat." "Jika kau sakit, maka kau tidak akan bisa menolong dirimu atau pria tua ini." "Aku masih sehat, dan aku akan menolongnya sekeras apapun kau menentang keinginan ku. Aku tetap pada pendirian ku." "Baiklah, aku akan menggratiskan semua biaya untukmu. Sekarang pulanglah tapi jangan katakan ini pada siapapun. Kau cukup datang setiap sore ke sini untuk membantu ku meracik obat-obatan herbal." Shena menghembuskan nafas lega. "Terima kasih." "Siapa namamu?" "Aku Shena." "Aku Dewi, dan itu suamiku, namanya Harun." "Baik, Dewi, aku akan kembali lagi besok, terima kasih." Setelah mengatakan hal itu, Shena pun pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia terkejut melihat kunci rumah yang sudah dirusak. Ia pun segera masuk dan mencari pelakunya. Ia terkejut saat melihat seorang gadis meringkuk di sudut ruangan rumah itu sambil terus menangis. Perlahan Shena mendekati gadis itu dan menyentuh bahunya. Gadis itu terkejut dan langsung mendongakkan kepalanya. "Siapa kau?" tanya Shena. Ia meneliti wajah gadis itu. "Ah, aku ingat, kau adalah wanita yang diseret paksa ayahmu waktu itu, bukan?" "Ya, dan aku ke sini untuk meminta bantuanmu." Gadis itu menatap Shena dengan mata berkaca-kaca. "Bantuan? bantuan apa?" "Semenjak kau datang ke desa ini, aku selalu membuntutimu. Aku bersembunyi di kegelapan saat kau menunggu untuk makan malam. Aku juga bersembunyi dibalik semak-semak belakang rumah orang yang suaminya terluka karena ulah mu. Aku melihat semuanya." Shena terkejut mendengar kesaksian gadis itu. Ternyata bunyi di semak-semak yang ia dengar adalah ulah gadis itu. "Siapa namamu?" tanya Shena. "Aku Wulan." "Apa yang terjadi padamu?" Shena mengajak gadis itu duduk di atas ranjang papan miliknya. "Ayahku, dia, dia akan menjual ku pada seorang pria tua di desa seberang. Aku tidak mau, tolonglah, aku mohon!" Shena tampak berpikir sejenak. "Dengan siapa lagi kau tinggal di rumah?" "Aku dan ayahku saja." "Seberapa besar kepercayaan penduduk di sini pada Dewi?" "Dia itu bagaikan wakil ketua desa yang omongannya selalu didengarkan." "Baiklah, kalau begitu, aku ingin kau melakukan hal ini." Shena membisikkan sesuatu pada gadis itu. "Tapi, aku takut, dan bagaimana aku bisa hidup nantinya?" "Apa kau bisa membaca?" "Bisa. Kami diajari membaca, menulis dan berhitung oleh istri ketua desa." "Bagus, kau punya uang?" "Aku bisa mencurinya nanti." "Kalau begitu ini." Shena menuliskan sebuah alamat di kertas lalu memberikan pada gadis itu. "Ini adalah alamat dimana kau bisa mendapatkan pekerjaan. Katakan saja pada mereka, jika mereka tidak mau menerima mu, maka Shena akan datang." Meskipun ragu, gadis itu tetap menurut. Ia pun segera pergi dari rumah Shena setelah memahami semua rencana Shena.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD