Ketika Danita keluar dari ruangan Andri, ia dapati Ditrian berdiri di dekat lift. Ada ponsel yang menempel ke telinganya, dan ekspresi pria itu tampak suram. Alisnya mengerut, tangan di pinggang, dan jangan lupakan bagaimana suaranya sesekali naik beberapa oktaf. Mendominasi, penuh amarah, dan mendesak. Siapapun yang sedang ia telpon saat ini, Danita merasa kasihan bukan main karena menjadi sasaran amarah sang pria. Menyadari bahwa Danita berjalan mendekat, Ditrian melirik lantas dengan cepat mematikan sambungan telponnya. Ia menggaruk tengkuknya, menunjukkan kegugupan sebelum akhirnya mulai bertanya. “Udah?” Sebuah anggukan diberi oleh Danita. “Aku mau ngomongin sesuatu sama kamu Mas.” “Oh oke,” ujar Ditrian langsung mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. “Sekalian makan aja ya? Kamu

