Danita sakit kepala.
Ia menatap pesan yang baru saja diterimanya. Sebuah pesan dari sebuah nomor tidak dikenal yang mengatakan bahwa ia adalah Iyan. Adik dari tunangannya itu. Pria itu bilang, bahwa kakaknya telah membaca permintaan Danita untuk bertemu namun Ditrian sedang sibuk sekali sehingga kemungkinan untuk bertemu tidak mungkin. Oleh sebab itu Iyan menawarkan bagaimana kalau Danita bertemu dengannya lebih dulu jika ada sesuatu perihal sang kakak yang ingin Danita ketahui.
“Sebenarnya kenapa sih dia susah banget dikontak deh?”
Reza yang sedang menemani Danita makan siang, mengalihkan fokusnya dari sepiring pasta. Kepala divisi desain itu meraih gelas, membiarkan air membasuh saus yang memenuhi mulutnya untuk masuk ke tenggorokan sebelum menyahut. “Lo ngomongin siapa sih?”
“Siapa lagi? Ditrian Handoyo.” Danita berdecak. “Gue berkali-kali kirimin pesan minta ketemuan sama dia, biar kita bisa kenalan secara proper. Tapi malah adeknya yang hubungin gue?”
“Udah gue bilang, orang itu emang aneh.” Helaan napas berat keluar dari celah bibir Reza, yang kini menatapnya serius. “Gue punya info baru buat lo.”
“Apa?”
“Gue sempat bilang kan kalau Ditrian ini dipindahin ke luar negeri tiba-tiba sama orang tuanya? Denger-denger alasannya dia ribut sama ayahnya, tapi sampai sekarang nggak ada yang tau apa alasan ribut itu. Sampai pukul-pukulan malah.”
“Tunggu, bukannya lo bilang dia dipindahin ke luar negeri pas baru masuk SMA?”
“Iya, dia berantem sama bapaknya pas masih SMA.”
Fakta itu jelas membuat Danita semakin sakit kepala. Jujur, ia mengakui kalau dia juga bukanlah anak yang teramat berbakti. Sewaktu-waktu ada masa ia bertengkar hebat dengan kedua orang tuanya. Namun kalau sampai memukul? Sebenarnya apa sih yang ayahnya pikirkan sampai menjodohkannya dengan orang yang sedemikian tempramen itu? Apa beliau tidak takut kalau pernikahannya benar terealisasikan Danita akan menjadi korban KDRT?
Danita tidak begitu kapan ia terakhir kali jatuh cinta.
Mungkin saat ia duduk di bangku SMA? Atau saat ia masih duduk di bangku kuliah? Selayaknya anak dari keluarga konglomerat, Danita tidak begitu berambisi perihal kisah cintanya. Meskipun kedua orang tuanya termasuk orang tua yang bersikap santai dan memiliki pemikiran terbuka. Membebaskan Danita untuk meniti karir di bidang apa pun yang ia inginkan. Danita tetap sadar diri bahwa suatu hari nanti, akan ada masa kedua orang tuanya datang dan meminta ia untuk menikah dengan seseorang yang telah mereka pilih.
Jadi dari pada menghabiskan tenaga mencintai seseorang yang takkan direstui oleh kedua orang tuanya, lebih baik Danita menunggu hingga hari itu tiba. Benar saja, ketika Danita diberitahukan bahwa sang ayah ingin ia bertunangan dengan salah satu kenalannya. Ia sadar bahwa waktunya telah tiba.
Tapi, masa sih ayahnya asal saja memilih siapa pendamping hidupnya kelak mentang-mentang ia pasrah saja?
“Rian resign kan? Lo mau aspri dari keluarga gue aja nggak?” tanya Reza tenang.
Tawaran yang terasa seolah sedang menawarkan kacang goreng itu, tidak datang tanpa alasan. Keluarga Reza memang dikenal memiliki orang-orang yang telah mengabdi pada keluarganya selama berpuluh-puluh tahun, generasi demi generasi. Itulah kenapa sekedar mencari asisten pribadi, adalah urusan mudah baginya.
“Mas Rian bilang dia nggak akan kemana-mana sampai nemuin aspri yang cocok buat gue.”
Mendengar itu sang pria terdiam cukup lama, memandangi Danita yang kini mulai menyendok potato gratinnya. Butuh waktu cukup lama sampai, Reza berdecak. Mendadak sadar apa yang sedang perempuan itu coba lakukan. “Lo mau jadiin itu alasan buat nunda Mas Rian pergi ya?”
“Jujur gue kehabisan alasan, dan ini satu-satunya cara buat nahan dia.” Tangan Danita jadi mencengkram garpunya lebih erat. “Kayaknya gue emang senaksir itu deh Za sama dia.”
“Terima kasih karena sudah mengakui itu ya,” balas Reza dengan nada menyindir. Pria itu menghela napas. “Ya terus sekarang apa? Urusan lo sama tunangan lo belum kelar. Mas Rian udah mau resign. Kalau lo semau itu sama Mas Rian ya kejar? Deketin? Kalau lo cuman ngungkapin secara tersirat kayak gini, yang ada dia keburu resign dan menghilang dari hidup lo selamanya.”
Danita memanyunkan bibir. “Kenapa lo bikin ini terdengar kayak Mas Rian bakal sepenuhnya hilang dari hidup gue? Kita kan bisa tetep kontakkan lewat sosmed—“
“Emang Mas Rian punya sosmed?” Melihat reaksi sang sahabat, Reza jadi mendengkus. Tak menyangka bahwa Danita baru sadar bahwa asprinya itu tidak memiliki sosmed apa pun, selain aplikasi pesan yang biasa ia gunakan untuk bertukar pesan. “Pegang omongan gue, setelah dia resign. Lo nggak akan pernah tau kabar apa pun soal dia. Apalagi dia bilang resign karena urusan keluarga kan? Gimana kalau itu artinya dia bakal pulang kampung? Dia orang Surabaya kan?”
“Ya makanya gue sebel. Gue berkali-kali bilang mau ketemu sama Ditrian, biar gue bisa langsung batalin nih pertunangan langsung. Tapi dia gak muncul-muncul?”
“Harus banget ya, ketemu dia?” Ucapan itu membuat Danita mengernyitkann dahi, tidak paham maksud ucapan sang sahabat. “Maksud gue, hubungan kalian kan dari awal emang udah nggak normal. Itu berarti nggak perlu lah lo merasa terikat dan jadi tunangan yang setia-setia amat. Sambil nunggu Ditrian bisa ketemuan sama lo.”
“Ngapain lo setia-setia amat sama si Ditrian, kalau dari awal hubungan kalian aja antara ada dan tiada?”
***
Pembicaraan dengan Reza, sukses membuat Danita untuk kesekian kalinya melamun di kursinya. Ia mengetuk-ngetuk sandaran lengan, seraya menatap gedung-gedung tinggi dan jalanan yang padat di bawah sana. Pemandangan yang untuk pertama kalinya, Danita nikmati keindahannya semenjak ia diberikan ruangan terbesar di lantai editorial tersebut. Terlebih hujan yang turun membuat suasana terasa lebih magis.
Suara ketukan di pintu, membuat Danita menoleh. Tak butuh lama sampai sosok Rian berjalan masuk. Kali ini tablet yang biasanya tidak lepas dari tangannya tidak tampak. Biasanya kalau begini hanya ada satu arti.
“Kamu mau pulang duluan Mas?”
“Saya ada urusan hari ini Danita, kerjaan saya buat hari ini juga sudah selesai.” Pria itu melirik meja Danita, entah apa yang dipikirkannya melihat meja sang atasan masih berantakan dengan kertas berserakan di sana-sini. “Kamu udah mau pulang juga? Kalau iya, biar saya sekalian antar kamu.”
“Aku…” Danita menghela napas. “Aku masih mau di sini?”
Biasanya Rian akan langsung menceramahi Danita. Mengatakan untuk apa ia berlama-lama di kantor ketika Danita bisa pulang dan beristirahat di rumah. Lagipula pria itu jelas tau kalau Danita tidak memiliki pekerjaan apapun yang harus dikejar hingga ia lembur seperti ini. Namun, malam ini berbeda. Pria itu mengangguk kecil, lantas meletakkan kunci mobil ke atas meja. Kunci mobil Danita.
“Kalau begitu saya pamit, hati-hati di jalan dan sampai jumpa besok ya Danita.”
“Mas pulang naik apa?” tanya Danita tepat sebelum tangan Rian menyentuh pegangan pintu. Ia memutar kursinya, sehingga sedikit menyamping. Bermaksud menunjukkan hujan yang turun dengan lebatnya di luar sana. “Di luar masih hujan deras banget loh.”
“Saya naik busway?”
“Ke haltenya?”
Rian terkekeh kecil. “Jalan, kamu nggak sadar saya nenteng payung dari tadi?” tanyanya dengan nada bercanda. Kini lebih menunjukkan payung berwarna hitam yang Danita tak sadar pria itu bawa sedari tadi. “Mungkin buat kamu hujan sekarang deras banget, tapi percaya sama saya kalau nggak sederas itu.”
“Saya pergi—“
“Biar aku antar ya Mas?”
Sahutan itu membuat Rian terdiam. Pria bertubuh tinggi itu, kini bersandar pada pintu dan memperhatikan bagaimana Danita dengan terburu-buru menupuk kertas ya ada. Sebelum akhirnya menyambar tas mahal dan kunci mobilnya. “Kamu mau nganterin saya?”
“Iya, aku mau nganterin Mas.”
“Tapi urusan saya di Tangerang.”
“Iya, biar aku anterin.”
Hening. Rian terdiam cukup lama, sebelum bibirnya kembali bergerak. “Kamu yang nyetir?”
“Ya, aku yang nyetir.”
“Danita, ini hujan dan kamu sadar kalau jalanan bakal lebih macet dari—“
“Mas lama deh, kalau aku nawarin ya berarti aku mau nganterin.” Cepat-cepat Danita memotong ucapan Rian. Tidak, dia bahkan berinisiatif sendiri membuka pintu dan berjalan menyusuri lorong. Lebih dulu berdiri di depan lift. Ia menoleh, menyadari bahwa Rian masih terpaku di ujung lorong. Memandanginya dengan penuh kebingungan.
“Ayo Mas Rian, kamu mau kita makin kejebak macet?”
***
Sementara itu di sebuah mobil yang terparkir di depan gedung tempat majalah Oneiro beroperasi. Dua orang di kursi depan, menatap lobi depan gedung dengan fokus. Memandangi setiap orang yang keluar masuk dari sana. Dahinya mengernyit, kala menyadari sebuah mobil mazda berwarna merah gelap berjalan memasuki area lobi. Seorang petugas valet keluar dari sana, dan tak butuh waktu lama sampai sang pemilik kendaraan muncul. Siapa lagi kalau bukan Danita.
Berbeda dari apa yang mereka saksikan selama ini. Kali ini yang duduk di kursi kemudi bukanlah pria yang selalu mengenakan jas kebesaran itu. Melainkan Danita yang tampak bicara menundukkan diri di sana. Mengabaikan fakta bahwa pria yang selalu setia bersamanya selama dua tahun terakhir tampak memohon. Meminta agar ia saja yang membawa kendaraan. Namun Danita tak mau menurut. Entah apa yang dikatakannya, hingga pria itu menurut dan akhirnya duduk di kursi penumpang depan. Tak butuh waktu lama sampai mobil itu mulai berjalan meninggalkan gedung.
“Ikuti mereka.” Pria tua yang duduk di kursi penumpang memberi perintah. Pria yang jauh lebih muda darinya itu menurut. Langsung memasukkan gigi dan mulai berkendara mengikuti mobil Danita. Hingga, ponsel sang pria tua mendadak bergetar. Tak butuh waktu lama sampai ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku kemejanya. Membaca pesan yang baru saja ia terima.
“Putar balik, Pak Ditrian bilang tidak perlu mengikuti Danita malam ini.”