“Kamu tuh ada yang mau diomongin ya sama saya?”
Pertanyaan barusan, sukses mengalihkan atensi Danita dari jalanan di depannya ke pria yang duduk di kursi penumpang. Ini adalah kalimat pertama yang tersuarakan semenjak mereka masuk ke dalam mobil dan membelah jalanan ibukota yang padat. Danita berdeham lantas menggeleng kecil. “Aku cuman mau bantuin Mas Rian kok, setelah dipikir-pikir udah 2 tahun tapi kenapa rasanya aku gak tau apapun soal kamu ya Mas?”
Rian terdiam sesaat, sebelum dia akhirnya terkekeh. “Kamu nggak pernah nanya apapun, Danita.”
Bohong kalau Danita bilang bahwa hatinya tidak merasa seolah sedang diremas. Pria itu tidak salah. Selama 2 tahun ini, memang Danita tidak pernah sekalipun menanyakan hal-hal yang lebih pribadi ke pria itu. Pembicaraan antara mereka tidak jauh dari urusan Oneiro, dan kalaupun membicarakan soal urusan yang lebih pribadi. Itu semua selalu tentang Danita, lagi dan lagi. “Jadi, kalau udah beneran resign Mas Rian bakal balik ke Surabaya?”
“Ya, saya akan kembali ke tempat asal saya.” Pandangan pria itu kini tampak teralih menatap jalanan di depan sana. Memandangi jalanan ibukota yang selalu tampak magis di tengah hiruk pikuk keramaian yang ada. “Sebenarnya kalau dipikir lagi, ya ini sesuai janji saya.”
“Janji?” Dahi Danita tampak mengernyit. “Janji apa Mas?”
“Saya janji sama keluarga saya hanya akan bekerja seperti ini selama dua tahun.” Rian menghela napas. “Sepertinya saya terlalu nyaman bekerja bersama kamu Danita, sampai tidak sadar kalau waktu berlalu secepat itu.”
Tangan Danita tanpa sadar mencengkram setir kemudinya lebih kuat. Senyum itu, nada bicara yang terkesan lebih lembut dan tidak monoton adalah sesuatu yang jarang sekali ditunjukkan oleh Rian. Saking jarangnya, siapa sangka bahwa senyuman itulah yang sukses membuat Danita jatuh hati pada asisten pribadinya tersebut. Danita mengigit bibir, “Kalau gitu kenapa nggak tetap di sini aja?”
“Ya?”
Lampu merah yang menghadang jalan mereka, membuat Danita menginjak pedal rem lantas menatap Rian serius. “Kenapa Mas nggak tetap di sini aja? Di Oneiro, di samping aku?”
“Saya harus bantu saudara yang lain untuk jalanin usaha keluarga Danita. Bahkan walaupun saya senang bekerja sama kamu, saya bukan tipikal orang yang akan melanggar janji. Terlebih kalau janji itu saya buat sama keluarga saya.” Menyadari bahwa lampu merah telah berganti hijau, Rian menjadi orang pertama yang memutus tatapan mereka. “Lampunya udah hijau, Ta.”
Danita menghela napas, lantas kembali melajukan mobilnya. Kenapa ya? Segala hal terkait Rian selalu terasa sulit bagi Danita. Semua orang bilang kalau Danita memiliki intuisi yang bagus, ia selalu bisa memprediksi dan menebak apa yang ada di pikiran orang-orang. Intuisi itu pula yang membuat dia bisa memperkirakan topik dan hal-hal apa saya yang akan menjadi tren di masa depan. Membuat Oneiro dikenal sebagai majalah paling trendi di antara majalah-majalah lainnya.
Namun, entah kenapa jika itu soal Rian. Semuanya terasa sulit dan abu-abu. Pria itu terlalu abu-abu untuk bisa Danita pahami. Ada sesuatu yang membuat Danita selalu merasa ragu untuk menunjukkan perasaannya secara lebih jelas pada pria itu, ketika Danita ingat sekali bahwa ia bukanlah orang yang penakut. Terlebih jika itu soal perasaan.
“Danita, turunin saya di halte depan aja.”
Dahi Danita mengernyit, melihat halte yang ditunjuk oleh Rian sebelum mulai menepikan mobil. Ia memandang sekitar, sadar bahwa mereka masih di area ibukota dan belum memasuki area Tangerang sama sekali. “Kita masih di Jakarta gak sih Mas? Bukannya kamu mau ke Tangerang?”
“Saya baru aja dihubungin, kalau ketemuannya gak jadi di Tangerang. Jadinya ngumpul di rumah teman saya yang lain.” Rian merapatkan resleting jaketnya, dan tak lupa memasang tudungnya. Meski hujan telah berhenti, dingin yang menyengat di luar sana jelas terasa terlalu mengigit jika ia hanya mengandalkan kemejanya. Secara jas yang biasa pria itu kenakan, telah dijejalkan ke dalam ranselnya tadi. “Kamu lihat gang kecil di sana Ta? Saya mau ke arah sana. Terima kasih ya sudah antarin saya, kamu hati-hati pulangnya.”
Jalanan yang di maksud oleh Rian adalah gang kecil yang berada di tengah-tengah bangunan ruko di dekat halte. Dari tempatnya, ia bisa melihat bahwa gang itu tidak sepenuhnya sepi. Tampak beberapa warga keluar masuk, mungkin mencari sesuatu untuk di makan di cuaca yang dingin seperti ini. Mengingat ada deretan penjaja kaki lima tak jauh dari sana. Tepat sebelum Rian keluar dari dalam mobil, pria itu bisa merasakan bahwa tiba-tiba bagian belakang jaketnya ditarik. Cukup kuat hingga ia yang sudah setengah bangkit, kembali jatuh ke kursi empuk mobil Danita.
“Danita—“
“Mas, aku suka sama kamu.”
***
“Jadi ada angin apa, tiba-tiba lo dateng ke restoran gue di jam mau tutup ini?”
Suara kursi yang ditarik di depannya, membuat Danita yang sedari tadi menempelkan pipi di atas meja akhirnya menegakkan badan. Rambutnya yang memang sengaja digerai, kini jatuh hingga hampir menutupi seluruh wajahnya. Sukses membuat sahabat sang puan, Kiki menghela napas. Sudah tau kalau ini adalah pertanda kalau Danita akan mulai bersikap dramatis. Untung saja ia sudah meminta pekerjanya untuk mengosongkan area sekitar tempat mereka duduk. “Kenapa? Oneiro kena tipu dan resmi bangkrut jadinya?”
Danita berdecak, langsung memberi tatapan tajam pada perempuan di depannya. “Omongan lo nggak bisa lebih sembarangan lagi?”
Kalimat sinis itu hanya membuat Kiki terkekeh, lantas menyesap es teh manis yang sengaja ia bawa dari dalam dapur restoran. Mengetuk-ngetukkan jari di atas meja, lantas bicara lebih serius. “Kata Fadli lo diem-diem punya tunangan? Beneran?”
Sebuah anggukan kecil diberi oleh Danita. “Dua tahun lalu, cuman taktik bisnis ayah gue dan nggak ada pesta. Makanya lo sama Fadli nggak gue undang kan.”
“Tapi kurang ajar sih menurut gue, kalau lo sampai gak cerita.” Kiki merengut. “Lo sama Fadli aja pasti tau siapa cowok yang gue bawa ke apart kalau habis dari klub.”
“Itu karena lo oversharing ya Ki.”
“Jadi, alasan lo frustasi ini karena dia? Tunangan lo?”
Danita menggeleng. “Asisten pribadi gue mau resign.”
Sebelah alis Kiki naik, tidak paham kenapa hal itu bisa membuat sahabatnya sedemikian frustasi. “Ya terus kenapa? Tinggal cari penggantinya gak sih? Ngapain lo pusing—“
“Gue naksir sama dia.”
Ah, benar. Kenapa Kiki bisa lupa ya? Berbeda dari Fadli yang terus mendampingi Danita sejak mereka lulus dari sekolah menengah atas. Kiki yang menuntut ilmu di luar negeri baru kembali ke tanah air sejak setahun yang lalu dan sudah sibuk mengurus restoran yang baru saja ia buka di sebuah pusat perbelanjaan besar. Wajar saja kalau banyak cerita yang Kiki tidak ketahui dan lupa, meski kerap bertukar kabar dengan Danita dan Fadli.
Kiki lantas terkekeh. “Yaudah sih, kalau emang senaksir itu mah coba aja deketin. Tapi kelarin dulu tuh urusan sama tunangan lo itu. Selesaiin, jangan jadi buaya yang jalanin hubungan sama dua orang bersamaan. Ngapain pusing-pusing deh?”
“Ki, tadi gue nyatain perasaan gue.”
Mata Kiki mengerjap lantas berdecak. “Ahelah, lo kebiasaan deh Ta. Kalau lagi jatuh cinta pasti impulsif gini. Terus? Aspri lo ngomong apa? Dia juga naksir sama lo, terus kalian pacaran? Atau lo langsung ditolak?”
“Dia gak ngomong apa-apa.” Ekspresi Rian yang terlalu datar tadi, sulit untuk membuat Danita memahami apa yang ada di pikiran pria itu ketika mendengar pernyataan cinta tiba-tibanya. “Dia bersikap seolah gak denger sama sekali, padahal gue rasanya mau mati ngakuin itu.”
“Wow, agak lebay ya.”
“Ki, gimana kalau habis ini Mas Rian beneran nggak ke kantor lagi? Dia kabur gitu aja, toh dia emang mau resign?” Dengan dramatis Danita mengguncang-guncang badan sahabatnya. “Ki, gue nggak pernah semau ini sama orang!”
“Om sama Tante emangnya bakal restuin kalau lo sama dia?” Kiki melepaskan cengkraman Danita dari pundaknya dengan paksa. “Kalau bakal ribet, menurut gue mending lo ikhlasin aja si Rian-Rian ini.”
“Papa gue bilang dia akan restuin siapapun yang gue bawa ke depan dia, asal gue mau kenalan dan coba jalin hubungan dulu sama tunangan gue ini.”
“Yaudah coba dulu.”
Danita menatap gelas berisi es kopinya dengan pening. “Tapi rumor soal dia jelek banget, gue jadi takut mau ketemu. Dia juga susah banget dihubungin, malah adeknya yang nawarin buat jelasin soal kakaknya kayak apa.”
“Emang lo dijodohin sama siapa?”
“Ditrian Handoyo.”
Tubuh sahabatnya itu membeku. Tangan Kiki yang tak henti memain-mainkan sedotan terhenti begitu saja. Melihat reaksi itu Danita semakin menghela napas. “Seburuk itu ya?”
“Jujur, gue juga gak terlalu tau. Cuman ya, seburuk itu.” Meski sesama anak konglomerat, Danita tidak seaktif Kiki dalam urusan bersosialisasi dengan anak konglomerat lainnya. Ia hanya akan muncul beberapa kali dalam setahun, itupun hanya mendampingi atau mewakili salah satu orangtuanya. “Tapi Ta, rumor buruk soal si Ditrian ini cuman pas dia remaja aja. Soal gimana dia sekarang, nggak pernah kedengeran apa-apa lagi. Mungkin lo bisa coba dulu deh,”
“Dia aja nggak—“
Kalimat Danita terputus begitu saja, teralih ke ponselnya yang bergetar. Menampakkan ada sebuah panggilan masuk dari sebaris nomor tidak dikenal. Ia mengernyitkan dahi, lantas meraihnya. Sadar bahwa Danita tampaknya akan mengurus soal pekerjaan, Kiki memutuskan bangkit. “Gue bantuin karyawan gue beres-beres restoran dulu. Ntar gue nebeng lo ya?”
Danita mengangguk, lantas memberi isyarat agar sahabatnya itu meninggalkannya. Tak butuh waktu lama sampai Danita menggeser ikon telpon berwarna hijau ke kanan. Kemudian mendekatkan ponsel ke telinganya. “Halo?”
Hening. Hanya ada suara samar lantunan lagu berbahasa asing yang saking terasa jauh sulit bagi Danita mengenali menggunakan bahasa apa. Dahi Danita mengernyit, mulai berpikir bahwa ini adalah panggilan iseng sampai sebuah suara berat terdengar.
“Malam Danita.”
“Malam? Siapa ya?”
“Saya Ditrian.”
Mata Danita membulat, refleks menjauhkan ponsel dari telinganya lantas mengerjapkan mata berkali-kali. Ia menelan ludah, mencoba mengontrol dirinya sendiri sebelum kembali mendekatkan ponsel ke telinga. “Ah, akhirnya Pak Ditrian mau juga menghubungi saya?”
Suara kekehan di ujung telpon terdengar. “Jangan marah, maaf saya baru bisa menghubungi kamu sekarang. Ini nomor pribadi saya, nomor yang Pak Radi kasih ke kamu itu nomor untuk urusan bisnis. Mulai sekarang hubungi saya lewat nomor ini saja.”
Danita memutar bola matanya malas, diam-diam mencibir karena pada akhirnya ia tidak akan begitu sering menghubungi nomor tersebut. “Kapan kita bisa bertemu Pak—”
“Saya rasa orang yang memanggil tunangannya sendiri dengan ‘Pak’, hanya kamu Danita…”
“Maaf tapi anda adalah rekan bisnis ayah saya. Hubungan pertunangan ini juga permainan bisnis yang ayah saya dan anda mainkan. Jadi rasanya lebih tepat untuk saya memanggil anda dengan ‘Pak’”
“Pak Radi bilang kamu mau mengakhiri hubungan ini Danita.” Hening. Danita tidak langsung menjawab. “Beliau memberikan kamu 2 bulan untuk bertemu dan menjalin hubungan dengan benar sama saya kan? Kalau kamu ingin terus memanggil saya dengan sebutan ‘Pak’, saya bisa menganggap kalau anda tidak sepenuhnya ingin menuruti kata Pak Radi dan mau melanjutkan hubungan pertunangan ini saja?”
“Bapak mengancam saya?”
“Danita, ini bukan ancaman tapi sebuah permintaan.” Ditrian menghela napas pelan. “Kalau kamu benar-benar mau kita mengenal satu sama lain lebih baik lagi. Bukannya memanggil saya dengan panggilan lebih santai dibutuhkan?”
Tangan Danita bergerak memijat pelipisnya. “Oke, Mas Ditrian. Jadi kapan kita bertemu?”
“Saya dengar kamu akan menerima penghargaan di sebuah acara publishing. Kebetulan perusahaan saya menjadi salah satu sponsornya. Biasanya saya tidak datang, tapi karena adik dan tunangan saya akan menerima penghargaan di sana. Lebih baik saya datang kan?”
“Mas Ditrian mau ketemu di sana? Kenapa kita nggak langsung ketemu aja besok?”
Suara kekehan kembali terdengar. “Kenapa tidak sabaran sekali Danita? Apa yang kamu kejar sebenarnya?”
Tidak mungkin bukan kalau Danita bilang dia mengejar hubungan di antara mereka segera diakhiri, agar ia tidak merasa dibebani oleh tekanan moral karena mendekati Rian ketika ia masih memiliki seorang tunangan. Danita tak menjawab, memilih abai akan pertanyaan itu.
“Kalau begitu, sampai jumpa nanti Mas Ditrian.”