Keluarga Adiyasmara, bisa dibilang bukanlah pemain lama dalam urusan bisnis di tanah air. Meski ayah Danita saat ini, adalah generasi kedua dari bisnis keluarga dan sang ibu berasal dari keluarga politikus ternama tanah air. Tetap saja, bagi sosialita keluarga kelas atas Danita dan keluarganya masuk ke dalam golongan OKB alias Orang Kaya Baru. Mungkin itulah kenapa sang ayah tidak begitu diperhitungkan pergerakan bisnisnya oleh keluarg-keluarga lain.
Sekarang setelah dipikir-pikir, Danita sepertinya bisa memahami taktik bisnis apa yang sedang kedua orang tuanya lakukan. Dipandang sebagai OKB jelas membuat keluarga-keluarga lain selalu menahan diri atau bahkan mempersulit untuk menjalin kerja sama bisnis dengan mereka. Menjadi mantu keluarga Handoyo yang terbilang keluarga kelas atas lama, pandangan OKB itu bisa perlahan menghilang dan orang-orang akan memandang bisnis mereka dalam sudut yang lebih objektif.
Mungkin ketika sang ayah menuntaskan tugasnya sebagai kepala daerah, beliau berencana untuk melebarkan bisnis mereka lebih luas dan lebih eksklusif.
“Woy.”
Panggilan itu, menyadarkan Danita dari lamunan. Ia menoleh, mendapati Fadli sudah berdiri sembari bersandar di kusen pintu ruangannya. Pria itu menghela napas. “Ngopi di bawah yuk, sebelum meeting sama finance.”
Mendengar itu refleks Danita melirik ke jam digital di ujung meja, mendapati bahwa sudah lewat dari jam 1. Menjadi pertanda bahwa jam makan siang belum berakhir, dan kotak makanannya yang tersembunyi di bawah meja tidak tersentuh. Perempuan itu menghela napas, namun bergegas meraih dompet kecil dan tabletnya lantas bangkit berdiri. “Jam segini roti-rotian di kafe masih ada gak sih?”
“Ya roti di sana selalu di restock kok, tenang aja lo nggak usah takut kehabisan.” Sembari berjalan menuju lift, Fadli menyempatkan diri melirik ke arah meja asisten pribadi Danita yang kosong. “Mas Rian kemana? Lo suruh ikut research sama tim editor lain?”
Danita tak menjawab, hanya memandang datar pintu lift yang akhirnya terbuka dan masuk ke dalam sana. Ketika pintu kembali tertutup, dan lift mulai bergerak turun. Ia menghela napas seraya memegangi kepalanya. “Mas Rian cuti selama 3 hari ke depan.”
“Itu cuti atau diam-diam kabur—Argh!”
Sebuah tepukan keras di punggung, menyisakan sensasi panas yang sukses membuat Fadli mengerang. Memegangi punggungnya lantas menoleh ke arah Danita yang menatapnya tajam. Jelas sekali siap menyuarakan segala u*****n yang tertahan di kepala, namun pada akhirnya perempuan itu hanya menghela napas. Melenggang lebih dulu menuju kafe yang ada di lantai satu.
Sebagai satu-satunya toko minuman di gedung kantor, kafe yang Danita dan Fadli datangi adalah tempat di mana pegawai Oneiro lain kerap datangi. Itulah kenapa tak heran, ketika keduanya memasuki area kafe ada banyak sekali wajah-wajah tak asing mengisi meja dan kursi di sana.
“Lo mau apa? Biar gue aja yang bayar,” ujar Fadli yang sudah lebih dulu mengambil baki di ujung etalase berisikan makanan dan memasukkan dua salt bread dan satu donat karamel ke sana. Lantas menyerahkan capitan tersebut ke Danita.
“Gue mau sourdough blueberry sama chicken samosa mereka aja.” Setelah memasukkan makanan yang ia pilih ke dalam baki yang sama, Danita menadahkan tangan. “Mana kartu lo? Biar gue yang pesen minum, lo nyari meja kosong aja.”
“Strawberry milkshake, ekstra krim kocok dan gulanya 100%”
Mendengar itu Danita tak kuasa menahan tawa. Pilihan minuman Fadli memang selalu diluar dugaan. Sahabatnya itu sering dipandang sebagai editor menakutkan nan dingin, jadi fakta bahwa pria itu sangat menggemari segala hal berbau stroberi jelas sesuatu yang terasa lucu bagi Danita.
“Strawberry milkshake, ekstra krim kocok dan gulanya 100%. Tambah ice americano nya satu ya.”
Sang barista yang sudah teramat hapal dengan pesanan milik dua petinggi Oneiro itu tampak mengernyit. “Tumben bukan chocolate frappe Kak Danita?”
Danita terkekeh. “Iya, saya lagi butuh kafein,” balasnya seraya mendorong baki. “Makanannya tolong dipanasin lagi ya? Kecuali yang donat.”
“Siap Kak, nanti kita anterin aja ke Kak Danita sama Kak Fadli.”
“Thank you Risa.”
Ketika hendak berjalan menuju meja di mana Fadli duduk, ponsel di saku blazer Danita terasa bergetar. Perempuan itu mengernyitkan dahi, mendapati nama yang menelponnya adalah Ditrian. Bergegas ia menerima telpon itu dan mendekatkan ponsel ke telinga. “Halo?”
“Menurut saya minum ice americano ketika kamu belum makan apapun, itu gaya hidup yang sangat mengundang penyakit Danita.”
Langkah Danita terhenti. Ia menoleh ke sekitar, lantas tidak menemukan siapapun yang sedang menelpon sepertinya. “Anda ke kantor saya?”
Suara kekehan terdengar di ujung sana. “Saya memang ada urusan di kantor firma hukum di gedung kantor kamu. Kebetulan sekali ketika saya keluar dari kafe, saya dengar kamu sedang memesan minuman.”
Mata Danita membulat, otomatis mencoba mengingat siapa saja yang sempat berpapasan jalan dengannya. Berharap ada seseorang yang lebih mencolok dan cocok dengan penggambaran sosok Ditrian, namun nihil. “Kenapa anda tidak memanggil saya saja?”
“Sama seperti kamu, ini juga jam kerja saya Danita.” Ditrian terkekeh. “Tenang saja saya tidak bermaksud menguntit kamu kok, murni saya memang ada kerjaan di sini. Saya juga tidak tau kalau kamu akan turun ke kafe di tengah jam kerja.”
Danita berdecak. “Bukankah menurut Mas ini gak adil?”
Hening. “Tidak adil soal?”
“Anda tau wajah dan karir saya.” Tangan Danita tanpa sadar meremas ujung bajunya. “Tapi saya bahkan tidak tau apapun soal anda.”
“Kamu akan tau.” Kekehan lain terdengar. “Bisa saja kamu pernah bertemu dengan saya tanpa kamu sadari?”
“Apa maksud—“
“Sampai jumpa Danita.”
***
Bicara soal Ditrian, apa yang mengelilingi pria itu hanyalah rahasia dan rahasia.
Reza bilang rumor terkait pria itu selalu saja tentang hal-hal buruk. Namun, menurut Kiki rumor-rumor itu tidak bisa sepenuhnya dipercaya karena itupun terdengar sejak pria itu masih remaja. Tentang bagaimana ia tumbuh hingga saat ini, tidak ada yang pernah tau soal itu.
Danita berjalan lesu menuju mobilnya yang terparkir di area khusus direksi, di basement. Minggu darurat memang baru akan dimulai besok, tapi bagi Danita setiap minggu adalah minggu darurat. Tidak ada hari ia tidak melakukan meeting, namun hari ini meeting yang berlangsung jelas lebih menguras energi.
Suara derakkan seperti sesuatu yang terinjak mendadak terdengar, membuat Danita tersadar dari lamunan. Ia bergegas menoleh, memperhatikan sekitar namun tak ada satupun orang yang terlihat. Ia mengerjap beberapa kali, sebelum mulai berjalan kembali.
Langkah Danita memang tidak terburu-buru, namun matanya mulai awas. Dari ujung bola matanya, ia menangkap ada sebuah bayangan yang mulai mengikutinya. Danita menelan ludah, diam-diam mencengkram tas dan kunci mobil di tangan. Mempertahankan tempo langkah, meski saat ini apa yang Danita inginkan hanyalah berlari terbirit-b***t menuju mobilnya.
“Danita?”
Panggilan itu membuat Danita tersentak, menoleh ke asal suara mendapati sosok Rian yang baru saja keluar dari dalam sebuah mobil. Pria itu berjalan mendekat, seraya tersenyum kecil. “Kamu baru mau pulang?”
“I-iya Mas, baru selesai meeting sama tim finance.” Danita menggunakan kesempatan ini untuk menoleh ke belakang, namun ia tidak melihat siapa pun di basement tersebut selain mereka berdua. Dahinya mengernyit, semakin bingung apakah suara tadi murni memang ada atau hanya bagian dari halusinasi yang muncul di tengah rasa mengantuknya? “Kamu bukannya cuti Mas, kenapa ke sini?”
Sebuah map di tangan Rian yang luput dari mata Danita teracung ke depan mata sang puan. “Saya kebawa materi divisi fashion yang sebelumnya minta approval kamu. Ini mau saya balikin, karena mereka bilang mau mulai olah datanya.”
“Oh gitu…”
Melihat keresahan yang nampak dengan jelas di mata Danita. Tanpa sadar pria itu mulai merendahkan tubuh, dan menatap sang atasan dalam jarak teramat dekat. “Mau ikut saya ke dalam? Mungkin kamu mau kasih arahan lain ke divisi fashion?”
“Udah malam Mas, aku nggak mau nanti mereka makin ngundur waktu pulang karena aku datang.”
“Kalau gitu kita ngobrol di kafe lobi gimana?” Rian terdiam sesaat, sebelum akhirnya menepuk kecil puncak kepala Danita. Sesuatu yang sukses membuat sang puan tersentak.
“Ada yang harus kita obrolin kan?”
***
“Selamat malam Pak Radi.”
Radi Adiyasmara yang sedang menatap pemandangan lampu-lampu kota tersaji di depannya menoleh. Pria itu mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya menghela napas. Tangannya bergerak meraih gelas berisi kopi hangatnya. “Saya ingat sekali kalau yang saya panggil adalah kakak Anda.”
Ucapan yang sarat akan sindiran itu, sukses membuat Iyan tertawa. “Kakak saya sibuk, anda tau benar kenapa.
“Bagaimana kondisi ayah kamu?”
Bohong kalau Radi Adiyasmara tidak merasa merinding melihat perubahan ekspresi yang semula ramah dan bersahaja itu berubah menjadi ekspresi dingin. “Masih sama Pak Radi, kolot seperti biasanya dan terus bersikap tempramen.”
“Sepertinya kamu tidak senang akan itu.”
“Sebesar apapun rasa berbakti saya pada beliau, tetap saja saya tidak bisa menutup mata akan hal-hal buruk apa yang sudah beliau lakukan dengan alasan mempertahankan nama baik keluarga itu.” Iyan meneguk berkali-kali sparkling water yang tersaji di atas meja. Membiarkan rasa menggigit dari minuman itu menyerang tenggorokan dan lidahnya. “Apa anda sudah tau kalau lusa, Kakak saya memutuskan datang ke acara penghargaan?”
“Itulah kenapa saya memintanya untuk datang ke sini.” Radi menghela napas.
“Saya mau bertanya, sebagai siapa dia akan muncul nanti. Putra dari Keluarga Handoyo, dirinya sendiri, atau sebagai orang lain?”