Delapan

1731 Words
Seperti apa yang dikatakan oleh Rian, pria itu tidak berlama-lama di lantai editorial. Tampaknya ia hanya bertemu dengan Wanda, leader section fashion, menyerahkan map yang ia bawa sebelum akhirnya turun ke lobi. Pria itu tidak langsung menghampiri Danita yang duduk di sebuah meja. Melainkan langsung ke konter memesan minuman. Tak butuh waktu lama sampai ia kembali seraya membawa baki berisikan segelas besar chocolatte frappe with tapioca pearl dan satu potong carrot cake. Menu andalannya di kafe. “Kenapa ketawa?” tanya Rian memasang ekspresi kebingungan, ketika melihat Danita menutup mulut dan memalingkan wajah. Jelas sekali menahan diri untuk tidak tertawa lepas. “Lucu aja Mas. Kamu tau nggak sih julukan kamu di kantor?” Sebuah gelengan polos diberikan oleh sang pria. “Es batu.” Rian menyeringai. “Ah, jadi itu alasan kenapa tiap saya lagi makanin es batu banyak yang diem-diem ketawa?” Sebelah alis pria itu naik, memasang ekspresi meledek. “Saya terlihat seperti kanibal yang sedang makan makhluk sejenisnya begitu?” “Betul sekali,” ujar Danita riang seraya menjentikkan dahi. “Setiap Mas kedapatan lagi gerogotin es batu, kita pasti diem-diem ketawa terus ngomong. ’Wah Mas Rian, makan temen-temennya lagi’.” Tawa kembali terdengar dari meja itu, beberapa kali. Seolah untuk sesaat mereka melupakan alasan kenapa keduanya duduk di sudut kafe saat seharusnya mereka kembali dan mengistirahatkan diri. Keduanya larut dalam perbincangan yang ada, hingga Danita tampaknya mulai lupa akan kejadian aneh dan sedikit merinding yang ia alami tadi. “Danita, soal ucapan kamu semalam.” Kalimat yang diucapkan dengan perlahan dan rendah itu, membuat Danita sedikit tersedak. Ia yang tadinya merasa tenang kembali dihantui oleh kegugupan. Tangan Danita bergerak memegangi gelas es tehnya yang sudah tersisa setengah. “Maaf ya Mas, kalau itu bikin kamu merasa nggak enak. Bagaimana pun, aku sadar kalau pengakuan ku bikin kamu serba salah.” Danita meneguk ludahnya kasar. “Tapi aku bener-bener suka sama kamu Mas Rian, bukan suka karena profesionalitas kamu selama jadi PA ku. Tapi sebagai pria dan wanita. Jadi, nggak bisakah Mas tetap di sini? Di samping aku?” Hening. Rian tidak langsung menjawab. Pria itu hanya memandangi Danita cukup lama. Jenis pandangan yang seolah ia sedang mengamati. Mencari tau dan meyakinkan diri bahwa pernyataan Danita semalam bukan trik yang dipergunakan demi mempertahankan pria itu sebagai asisten pribadinya. Namun, murni dari perasaan terdalamnya. “Bagi saya kamu juga berharga Danita.” Danita yang semula hanya berani menatap meja, kini mendongakkan kepalanya. Menatap Rian yang sedang mengusap-usap tengkuknya. Ini pertama kalinya Danita mendapati kegugupan tampak dalam kedua mata itu. “Tapi jarak antara kita terlalu jauh kalau kamu ingin lebih dari ini.” “Maksud Mas?” “Danita coba pikirkan lagi,” ujar Rian seraya melipat kedua tangannya di atas meja. “Saya hanya seorang karyawan biasa. Datang ke Jakarta hanya untuk melihat bagaimana kehidupan di kota besar ini berjalan sebelum akhirnya saya harus kembali untuk meneruskan usaha sederhana keluarga. Sementara kamu? Penghasilan kamu setiap bulannya berkali-kali lipat dari saya, datang dari keluarga dengan latar belakang terkemuka. Bahkan Ayah kamu mungkin akan maju ke pemilihan presiden dalam waktu dekat. Saya bukan menantu yang diharapkan oleh keluarga kamu.” “Mas tapi aku nggak peduli sama semua—“ “Tapi saya peduli,” potong Rian tenang. “Saya tidak mau kamu mengorbankan banyak hal untuk saya. Jadi Danita, maaf karena saya tidak bisa menerima perasaanmu itu.” Melihat Danita yang terdiam dan jadi menunduk itu, Rian memalingkan wajah. Berdeham sekali sebelum akhirnya memutuskan bangkit. “Keluarga saya sudah mendesak saya segera kembali. Kelly bilang dia kesulitan mencari pengganti saya, jadi saya sudah mengirimkan CV dari teman-teman saya yang mungkin akan cocok sama kamu. Tolong kamu pertimbangkan ya Danita.” Pria itu lantas sedikit membungkuk. “Terima kasih atas kesempatan bekerja sama kamu selama 2 tahun terakhir ini.” Tanpa mendengar balasan dari Danita lagi, Rian bergegas pergi. Meninggalkan Danita yang masih membeku di tempatnya, dengan kedua tangan mencengkram erat ujung bajunya. Menahan diri untuk tidak menangis di tempat. Butuh waktu lama, sampai perempuan itu akhirnya bisa menenangkan diri. Tidak ada air mata yang mengalir, namun mata Danita jelas sekali berkaca-kaca. Tenggorokannya terasa kering, seolah ia baru saja menegak satu gelas penuh pasir. Saat itulah ponselnya bergetar. Kelly menelpon. “Halo?” “Dan lo udah tau?” Di ujung sana Kelly tampak terdengar panik. “Mas Rian kirim email ke gue kalau dia minta dipercepat proses turn over nya dipercepat. Karena gue bilang kesulitan nyari kandidat, dia akhirnya ngirimin gue beberapa. Dan, sorry tapi kayaknya gue gak bisa lama-lamain proses resign nya Mas Rian.” Cukup lama Danita terdiam, sebelum ia mulai mendengkus lantas perlahan tersenyum getir. “Ya mau gimana lagi. Proses aja El.” Danita menghela napas menatap ke luar kafe, ke arah Rian pergi barusan. “Sepertinya memang gue gak bisa nahan dia lebih lama El.” “Mungkin ini saatnya gue lepasin dia.” *** Tiga hari tanpa Rian, itu artinya tiga hari pula Danita tidak memperhatikan dirinya sendiri. Jangan salah paham, maksud dari tidak memperhatikan dirinya sendiri bukan berarti Danita muncul ke kantor dengan penampilan urakan atau semacamnya. Dari luar Danita tampak biasa, datang ke kantor tepat waktu, tidak melewatkan satu pun jadwalnya, dan fokus dalam setiap diskusi. Namun, kalau diperhatikan lebih dalam perempuan itu berantakan. Tentu yang menyadari hal itu hanyalah CC, sebagai orang terdekat EIC satu itu. “Lo ngapain?” tanya Fadli, menatap ke arah Danita yang masih asyik mengetik sesuatu di laptopnya. Tepat di belakangnya, ada May yang memegang sisir serta catokan. Membantu sang puan menata rambut. “Bukannya lo udah booking riasan di salon langganan lo? Kenapa malah May yang ngurus penampilan lo?” “Gue batalin,” ujar Danita tenang. “Jarak dari kantor ke tempat acara lebih dekat dari salon ke sana. Jadi gue minta tolong May yang dandanin gue. Lagian gue belum selesai bikin laporan ekspansi Oneiro ke Malaysia buat dikasih ke publishing.” Dahi Fadli mengernyit. “Bukannya itu tugas Mas Rian?” “Mas Rian kan cuti 3 hari, dan publishing mau laporan itu dikasih ke mereka paling lambat hari ini.” “Ya lo tinggal kasih tau Mas Rian? Dia juga selalu stand by kan walaupun cuti, biasanya juga gitu.” “Mas Rian mau resign, jadi gue harus ngerjain apa yang emang udah seharusnya kerjaan gue. Kenapa sih kalau gue yang ngerjain? Jangan karena gue udah jarang nanganin hal-hal kayak buat laporan, lo jadi meragukan kemampuan gue ya.” Fadli berdecak. “Gue gak ngeraguin kemampuan lo Ta, cuman ini alasan kenapa gue dan yang lain ajuin ke publishing biar lo hire asisten pribadi. Hal-hal sederhana kayak gini biar yang lain kerjain, lo udah punya terlalu banyak hal untuk diurus.” Tak ada jawaban. Entah apa Danita sungguh mendengar kata-kata sang sahabat atau memilih untuk mengabaikannya. Fadli menghela napas, kalau sudah begini itu artinya apa pun yang dikatakan oleh orang lain hanya akan dianggap sebagai angin lalu. Danita tidak marah, ia hanya akan memutuskan untuk berhenti mendengarkan ocehan itu. “Hari ini gue bakal ketemu Ditrian.” Kalimat itu menjadi kalimat yang memecah keheningan. May yang sedari tadi memilih bungkam tidak mau mengintrupsi perdebatan sedikit ‘panas’ kedua rekan kerjanya itu tak bisa menahan diri untuk tidak membulatkan mata. Dia memang tak tau betul siapa Ditrian dan rumor-rumor buruk tentangnya seperti Reza atau pun Kiki. Namun, perempuan itu tau betul bahwa nama yang disebutkan Danita barusan adalah nama dari ‘tunangan’ misterius Danita. “Kok bisa? Dia kerja di industri media juga Kak?” tanya May tak bisa menahan diri untuk tidak menyahut. Matanya yang biasanya menyipit, kini tampak melebar jelas begitu terkejut akan ucapan Danita barusan. Tepat setelah mengirimkan laporannya ke pihak publishing, Danita meletakkan tabletnya ke atas meja dan mulai memejamkan mata. “Nggak tau juga, tapi katanya perusahaan dia jadi sponsor acara penghargaan itu. Lagian adiknya kan dapat penghargaan juga, mungkin dari awal dia berencana dateng buat nyampaiin selamat ke adiknya langsung. Tapi karena gue nuntut ketemu, kenapa nggak sekalian aja kan?” “Lo harusnya bilang gue dari tadi Kak.” May mendadak jadi panik, buru-buru meletakkan catokan dan sisir di tangannya sebelum mulai berlari menuju ruang wardrobe seraya setengah berteriak. “Gue harus totalitas, biar pertemuan pertama lo lebih mengesankan Kak!” “Kalau pas pertemuan pertama gue makin mau langsung akhirin aja gimana?” “Justru itu!” Suara kekehan Fadli, membuat Danita membuka salah satu matanya dan melirik sang sahabat. Fadli setengah bersandar ke meja rias, kini menatap Danita serius. “Kalau ternyata dia jelek dan bukan tipe lo banget, ya itu berarti penampilan lo harus lebih keren lagi Ta.” “Kenapa?” “Ya biar kesannya lo yang campakin dia, bukan sebaliknya.” *** Danita duduk manis di kursi belakang mobil. Berbeda dari biasanya, hari ini ia tidak datang menggunakan mobil miliknya sendiri. Sebagai permintaan maaf karena tidak bisa ikut merayakan penghargaan yang baru di dapat oleh putrinya itu, sang ayah alias Radi Adiyasmara, langsung meminta supir keluarga mereka untuk mengantarkan Danita menggunakan salah satu koleksi kendaraan mewahnya. Kaca kecil di tangan Danita angkat, untuk melihat keseluruhan riasan dan tata rambutnya lantas ia tersenyum kecil. May tidak main-main ketika dia bilang, dia harus mengerahkan seluruh pengalaman dan kerja kerasnya untuk memoles Danita agar terlihat menawan malam ini. Bagaimana pun, Danita adalah sosok penting di indutri media membuat dia jelas berada di bawah sorotan. Penampilan Danita malam ini jelas akan menjadi perbincangan selain penghargaan yang Danita raih malam ini. Rasa seperti dicubit dari perutnya, membuat Danita sedikit mengerutkan dahi. Ia berdeham, dan tak butuh waktu lama sampai rasa pahit mulai terasa di ujung lidahnya. Saat itulah Danita baru sadar, bahwa lambungnya mulai bermasalah. Ia berniat untuk meraih obat pencernaan yang selalu tersimpan dalam tas andalannya, namun Danita baru sadar kalau dia membawa sebuah clutch berwarna biru muda yang senada dengan gaun turquoise nya. Clutch yang diberikan oleh May sebagai pelengkap penampilannya kali ini. Ya, sepertinya tidak apa melewatkan obatnya toh acara tidak akan selama itu. Menahan rasa sakit selama 2/3 jam tidak akan menjadi masalah besar. “Nona Danita, kita sudah sampai.” Otomatis Danita mengembangkan senyum, lantas mengangguk kecil. Tak butuh waktu lama, sampai pintu di sebelahnya terbuka dan serbuan kilatan dari kamera mulai menyerbunya. Sesaat Danita menarik napas dalam, sebelum mulai bangkit dan keluar dari mulai. Mulai masuk ke dalam mode profesionalnya sebagai Danita Adiyasmara, EIC paling berpengaruh dan sukses di industri media saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD