Handoyo.
Itu adalah nama keluarga tunangan Danita. Ayahnya tidak menceritakan lebih banyak perihal siapa tunangannya itu, namun ia menjelaskan lebih banyak tentang siapa keluarga Handoyo dan bidang bisnis mereka. Ayahnya bilang, alasan pertunangan itu terjalin karena sebuah kesepakatan bisnis. Keluarga Handoyo yang berbisnis di industri media dan hiburan, berada di ambang kebangkrutan. Sebuah keputusan bisnis yang salah di buat oleh pemimpin keluarga itu, membuat bisnis keluarga itu terus berhadapan dengan kerugian tiap tahunnya. Entah apa kesepakatannya, namun yang pasti sang ayah menjadi tangan yang membantu keluarga Handoyo keluar dari pasir hisap yang mengarahkan mereka menuju kehancuran.
Apa pun yang terjadi selama dua tahun terakhir, yang Danita tau adalah keluarga Handoyo sudah resmi membaik. Bahkan bisnis mereka perlahan tapi pasti mulai mendapatkan kembali keuntungan, semua itu berkat kepiawaian putra kedua mereka yang mewarisi bisnis.
“Iyan Handoyo?” Danita tersentak, tanpa sadar setengah membanting tablet yang ia pegang ke atas meja. Ia menoleh, mendapati Reza sudah berdiri di dekatnya dengan sebatang permen lolipop berada di dalam mulut. “Kenapa lo cari dia? Mau lo jadiin model buat online issue kita?”
“Model? Maksudnya?”
Tangan Reza bergerak mengambil alih tablet Danita. “Iyan Handoyo. CEO baru Satu TV dan agensi NewStar. Naik jabatan sejak 2 tahun lalu, dan berhasil bikin bisnis keluarganya menghindari dari kebangkrutan.” Reza lantas menunjukkan potret pria itu di sebuah seminar para pemimpin media-media besar di tanah air. “Mantan model yang sempat tampil di Milan Fashion Week mewakili brand milik keluarga Padma di usia remajanya.”
“Wow, lo kayaknya kenal banget sama dia Za,” gumam Danita seraya berpangku tangan. “Sehebat itu ya?”
“Lo bercanda? Lo nggak kenal dia?” Reza berdecak-decak kecil. “Ketenarannya di industri kita 11-12 kayak lo. Mereka yang berhasil mengembalikan kejayaan sebuah media yang udah terlanjur mengambil jalan salah karena mengabaikan pusaran perkembangan teknologi. Bahan yang bagus untuk ditulis di kolom lifestyle. ”
“That’s him (Itu dia),”ujar Danita seraya menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
Cukup lama Reza terdiam, sampai mata pria itu tiba-tiba membulat. “Dia tunangan lu?”
“Bukan. Saudaranya yang lain.” Danita menghela napas. “Bokap minta gue buat ketemu dan kenalan selama 2 bulan dulu, sebelum akhirin pertunangan. Lo punya informasi soal mereka?”
Dahi Reza mengernyit, lantas meletakkan kembali tablet itu ke atas meja. Ia lantas mengeluarkan permen dari mulutnya. “Kenapa lo nanya itu sama gue deh? Gue nggak tau-“
Keluhan itu terpotong begitu saja, karena Danita sudah terkekeh kecil. Memandangi Reza dengan pandangan mengejek. “Lo bisa sembunyiin siapa diri lo yang sebenarnya dari yang lain. Tapi gak dari gue sama Fadli. Lo juga sama kayak gue.”
“Gue bukan keluarga konglomerat.”
“Menurut gue kurang ajar, kalau lo bilang Padma bukan keluarga konglomerat,” ujar Danita seraya menyeringai. “Nama belakang lo bahkan tertera nama Padmana, siapa yang mau lo bohongin Reza?”
“Gue cuman dari keluarga cabang. Hubungan keluarga gue sama keluarga intinya aja udah cukup jauh. Selain itu harta keluarga gue harus dibagi di antara 5 anak, gue gak kaya lo Danita.”
“Tetap aja, lo seorang Padma.” Danita tertawa kecil. “Lo udah jadi bagian lingkungan sosial ini lebih lama dari gue.”
Reza mendengkus, tau bahwa ia tidak bisa menang soal berargumen melawan sahabatnya tersebut. “Yang mana? Anak keluarga Handoyo mana yang tunangan lu itu?”
“Anak tertua mereka?” Dahi Danita mengernyit mencoba mengingat nama yang sempat disebutkan sang ayah. “Ditrian Handoyo.”
“Cerita cinta lo bisa lebih gila lagi gak sih?” keluh Reza mendadak memijat dahinya. “Lo beneran gak tau siapa dia? Om nggak ngomong apa-apa?”
“Kenapa emangnya dia?”
Tangan Reza mengusap dagunya. “Sebenarnya gue gak terlalu juga. Tapi anaknya yang satu itu terkenal banget Ta. Lo tau apa sebutan dia? Anjing Gila Keluarga Handoyo. Dia suka buat onar selama masa sekolah, dan tiba-tiba dia ngilang gitu aja. Gak ada yang tau dia lanjut sekolah di mana, dan segala rekam digital baik foto maupun video mendadak hilang di publik. Apa yang gue tau cuman rumor, dan menurut gue itu bukan informasi yang pantas untuk lo ketahui.”
Kini giliran Danita yang merasa pening. Ayahnya bilang dia tidak bisa memberikan informasi lebih banyak, karena tunangannya itu lah yang meminta. Sang ayah bilang, Ditrian yang akan menghubungi lebih dulu. Namun sampai sekarang tidak ada kontak apapun yang dibuat.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian keduanya. Setelah menyahut memberikan izin masuk, sosok Rian tampak di ambang pintu. Ia melirik ke arah Reza yang kini setengah duduk di tepi meja Danita. “Kalian belum selesai berdiskusi?”
Mendengar itu, Danita baru sadar. Ia melirik ke arah Reza, menyadari bahwa pria itu tidak menjelaskan alasannya berada di ruangan sang puan. “Lo ngapain ya ke sini Za?”
Pria itu menyeringai. “Gue tadinya mau bahas soal budget online issue bulan depan, tapi kayaknya nanti aja gue bahas.” Reza melirik jam tangannya. “Bentar lagi gue harus jemput cewek gue di bandara.”
“Intan udah balik?”
“Yup, nanti CC makan-makan ya.”
Reza melambaikan tangan, lantas melenggang keluar dari ruangan. Membuat perhatian Danita kini sepenuhnya tertuju pada Rian. Ia membuka aplikasi kalender di komputernya, menyadari bahwa tak ada jadwal meeting menantinya untuk hari ini. “Kenapa Mas? Aku nggak ada meeting kan hari ini? Atau kamu mau ajak aku makan ke luar?” tanya Danita sedikit berharap. Walau ia tau betul kalaupun Rian mengajaknya makan di luar, semua itu tak lebih untuk menunjukkan restoran yang layak untuk ditulis di majalah Oneiro.
Asisten pribadinya itu tidak mengatakan apa-apa, hanya berjalan mendekat sampai tiba tepat di depan meja panjang Danita. Rian merogoh sesuatu dari saku dalam jas hitamnya, mengeluarkan amplop berwarna putih lantas meletakkannya ke atas meja. Kalimat pria itu berikutnya, sukses membuat Danita merasa ia kehilangan napasnya saat itu juga.
“Saya mau mengundurkan diri.”
***
Jam menunjukkan pukul 9 malam, ketika Fadli mengetuk pintu ruangan EIC. Pria itu sempat mengernyitkan dahi, ketika dia berada di depan ruangan Danita. Tak ada sosok Rian yang biasanya duduk manis di kursinya, entahlah pria itu terlihat selalu sibuk dengan banyak hal. Namun kali ini pria itu tidak ada di mejanya, tidak bahkan barang-barang Rian tak ada sama sekali. Menandakan Rian jelas sudah pulang lebih dulu.
Sebuah hal yang tak biasa, mengingat pria itu baru merasa tugasnya selesai setelah mengantarkan Danita kembali ke apartemen.
Balasan lirih dari Danita di dalam sana, membuat Fadli menghela napas sebelum mendorong pintu terbuka. Ia dapati sahabatnya sejak SMA itu sedang terbaring di atas sofa. Kaki panjangnya terjulur ke luar, sengaja dibuat menggantung di salah satu sisi sandaran tangan. Dari tempatnya Fadli bisa melihat sebuah tangan yang memegang sebuah gelas anggur dengan lemas.
“Lo kenapa deh?” tanya Fadli seraya mendudukkan diri di sofa seberang Danita. Tangannya meraih kaleng bir yang belum terbuka, lantas membuka dan menegaknya sedikit. Melihat kondisi Danita yang tampak parah, ia jelas harus menyiapkan diri untuk mendengar penyebab kefrustasian sang perempuan. Mengingat apa yang membuat perempuan itu resah dan frustasi pasti tak jauh dari permasalahan terkait majalah. “Penjualan Oneiro mendadak turun? Ada masalah hak cipta di salah satu artikel? Masalah aplikasi-“
“Mas Rian mau ngundurin diri.”
Hening. Tak ada jawaban. Namun Fadli bisa menyaksikan bagaimana Danita merubah posisinya yang tadi rebahan menjadi duduk. Rambut sang puan yang dibiarkan terurai kini jatuh, hingga hampir menutupi seluruh wajahnya yang sudah setengah memerah karena mabuk. Pencahayaan di ruangan Danita yang sedikit gelap, jelas membuat perempuan itu lebih mirip seperti hantu-hantu di film horror terkenal Jepang. Alih-alih seorang EIC yang telah menjadi figur fenomenal di industri media.
“Tiba-tiba?” tanya Fadli kembali menegak minumannya. “Lo habis ngelakuin kesalahan apa deh, sampai dia tiba-tiba mau resign?”
“Gue bisa pastiin gak ada masalah di antara kita, Dli.” Danita mendengkus. “Bonus dia selalu gue transfer tanpa telat, tiap gue ngerepotin dia pasti gue akan minta maaf karena dia ngerjain sesuatu di luar tugasnya. Kita baik-baik aja, gue gak tau apa yang salah.”
“Dia bilangnya kenapa?”
“Ada urusan keluarga yang harus dia urus.” Untuk kesekian kali Danita memijat dahinya yang terasa pening. “Gue kasih dia pilihan buat cuti lama aja, dan gue bakal cari aspri sementara. Tapi dia kekeh buat resign.”
“Lo tau, kalau lo nggak bisa nolak pengunduran diri seseorang kan?” Kaleng minuman setengah kosong itu Fadli letakkan ke atas meja dengan sedikit keras. Berharap suara dentingannya sedikit menyadarkan Danita dari kabut mabuk. “Jadi sampai kapan Mas Rian disini?”
Danita menatap tajam Fadli yang bersikap teramat tenang. Ekspresinya menunjukkan kekecewaan dan di saat yang sama kesedihan yang mendalam. Fadli yakin ia tidah berhalusinasi kala menyadari kedua mata sang sahabat mulai berkaca-kaca, sebelum Danita kembali menunduk. “Sampai gue dapet aspri pengganti, dan terbiasa.”
“Lo udah nyatain perasaan belum?”
Pertanyaan itu membuat Danita menghela napas keras. Lantas menuangkan anggur dari dalam botol, hingga memenuhi gelasnya. Ia mengigit bibir, kemudian memandangi Fadli. Seolah begitu tersakiti.
“Gue rasa omongan lo soal dia naksir gue juga, itu salah besar.” Danita bisa merasakan tenggorokannya terasa perih.
“Kalau dia memang punya perasaan yang sama, dia seharusnya gak ninggalin gue gak sih?”