Dua: Tunangan?

1791 Words
“Danita, lo tuh suka banget ya sama Rian?” Pertanyaan itu nyaris membuat Danita tersedak. Ia menoleh, mendapati Reza yang duduk dengan posisi setengah berbaring di sofa ruangannya. Setelah Rian pergi, CC sepakat untuk merubah tempat berkumpul ke ruangan Danita. Selain menghindari pandangan karyawan yang lain, tentu saja ruangan Danita lebih nyaman dari ruang meeting. “Lo ngomong apaan sih?” sahut Danita seraya memutar bola matanya malas. “Dia asisten pribadi gue, ya jelas gue harus suka sama dia?” “No (nggak)…” racau May yang sudah setengah mabuk . “Maksud Reza tuh, dalam konteks romantis tau kak.” “Iya itu,” balas Reza. “Ini udah dua tahun, tapi gue heran kenapa si Rian nggak sadar sama mata lo yang berbinar-binar tiap ngobrol sama dia?” “Ada dua kemungkinan.” Sahutan itu kini datang dari David yang sedari tadi tidak kunjung menghabiskan roti lapisnya. “Dia emang nggak sadar, atau dia udah sadar tapi memilih tutup mata soal itu.” “Wow, kontroversial.” Reza mendadak duduk, dan menatap serius Danita yang duduk di kursi kerjanya. “Menurut gue, kalau lo emang naksir yaudah sih coba aja? Coba deketin, lagian lo nggak punya pacar ini kan?” “Nggak ada pacar dan FWB,” balas Fadli seraya menyesap minumannya. “Dengan pekerjaan segila ini, dan nggak ada pelampiasan seksual. Gue cukup takjub lo nggak gila.” “Tapi larinya ke alkohol Bang.” Dengan wajah memerah Karin menyahut, wajahnya sudah menempel pada meja. Melihat bagaimana ia berani mengejek Danita yang jelas-jelas atasannya menunjukkan kalau perempuan itu sudah tidak sadar. “Kak Danita, tapi serius deh. I think you need a boyfriend (Gue rasa lo butuh pacar)” “Gue punya….” Ucapan itu sukses membuat keempat teman Danita tertawa, merasa bahwa perempuan itu mulai melantur. Sebab mereka sangat tau bahwa Danita tidak memiliki kekasih. “Tunangan.” Hening. Tidak ada yang satupun bersuara, dan Danita juga tidak mengulang ucapannya. Namun sorot mata perempuan yang sedang menatap gelas minumannya itu, jelas mengatakan bahwa ia tidak bercanda. “HAH?!” Reza menjadi orang pertama yang melompat dari kursi. Matanya membulat, begitu pun teman-temannya yang lain. Pria itu lantas memegangi telinganya. “Wah baru kali ini gue tau kalau mabok, bisa ganggu indra pendengaran juga.” “Iya Bang, telinga gue jadi bermasalah-“ “Gue serius.” Kali ini Danita kembali berbicara, memandangi teman-temannnya dengan ekspresi datar. “Gue punya tunangan.” “Kayaknya lo nggak ada cerita punya pacar deh, kenapa tiba-tiba punya tunangan?” Berbeda dari yang lain, Fadli sebagai sahabat sejak masa sekolah Danita mulai berkomentar. “Gue marah loh Ta, kalau misalnya lo tunangan dan nggak ngundang satupun dari kita.” “Ya, karena emang gak ada pesta.” Danita menghela napas, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. “Gue bahkan nggak tau siapa namanya.” “Wah, lo gila sih Kak.” May mengerjapkan mata, tampaknya sudah tidak lagi mabuk. “Lo tunangan, nggak ada pesta dan bahkan nggak tau siapa tunangan lo?” “Dijodohin?” terka David yang dibalas anggukan dari Danita. “Wow, ketika dunia udah gunain AI masih ada ya perjodohan-perjodohan gini.” “Jangan samain Danita sama kita,” balas Fadli, menepuk-nepuk pipi agak ia sepenuhnya sadar. “Dia kan dari keluarga konglomerat.” “Ya, gue juga sempat protes itu sama bokap. Tapi dia bilang ini cuman alasan buat satuin keluarga gue sama keluarga dia.” Danita mengangkat gelas berisi anggurnya, lantas memain-mainkannya di tangan. “Gue bahkan gak tau kesepakatan apa yang dibuat antara mereka.” “Tapi kak, sampai gak tau namanya menurut gue itu gila sih.” May menyugar rambut bergelombang ke belakang. Entah kenapa terlihat lebih frustasi dari Danita sendiri. “Udah berapa bulan?” “Dua tahun.” “Itu mah tolol.” Fadli mendengkus lantas menegak habis minumannya. Membiarkan sensasi membakar dari alkohol itu menerpa tenggorokan berharap itu dapat mengurangi kepalanya yang mendadak pusing. “Pas lo ditunjuk jadi EIC berarti?” “Sebulan setelah gue ditunjuk.” Kini tangan Danita bergerak meraih botol anggur, dan mengisi gelasnya hingga penuh. “Bokap cuman kasih tau kalau dia bakal urus segala persoalan pertunangan ini. Jadi walaupun pestanya nggak pernah ada, orang-orang taunya gue udah tunangan.” “Jangan bilang ini alasan gak ada yang deketin lo Kak?” tanya Karin dengan nada penuh antusias, seolah ia baru saja menemukan jawaban dari misteri yang selama ini tak terjawab. “Lo benih unggul di majalah kita, tapi cuman lo yang nggak keliatan pernah jalin hubungan sama orang Kak!” “Kenapa terus dilanjutin, Ta?” tanya Reza yang entah sejak kapan sudah menyeret sebuah kursi kosong dan duduk manis di dekat Danita. “Om maksa kalau lu harus sampai nikah sama si cowok ini?” “Bokap gue gak akan pernah begitu.” Danita menyesap anggurnya pelan. “Beliau aja saking nggak enaknya sama gue, ngasih gue properti di Hannam-dong sebagai kompensasi. Tapi ya gak ada omongan apa-apa lagi soal ini, jadi gue juga gak nanya?” “Karena Kakak terlalu sibuk ngurus Oneiro?” “Karena gue sibuk ngurus Oneiro,” balas Danita lebih pasti. Mengiyakan dugaan sahabat-sahabatnya kenapa dia bisa sebodo amat itu dengan soal terpenting ini. Melihat ekspresi keempat sahabatnya yang tampak tidak senang, Danita jadi meringis. “Gue harus ngomong ini ya sama bokap?” “Ya iyalah Kak, minimal lo minta dikenalin beneran sama tunangan lo itu.” David memijat pelipisnya. “Atau kalau lo emang gak tertarik sama hubungan itu langsung minta udahan aja. Bisa aja alasan lo gak berhubungan sama siapa pun itu, salah satunya karena alam bawah sadar lo terus ngingetin kalau lo udah punya pasangan. Tunangan lo itu.” Kalimat David tak sepenuhnya salah. Danita memandangi gelasnya yang berisikan cairan berwarna merah keunguan pekat itu. Kembali teringat saat ia tiba-tiba dihubungi sang ayah bahwa beliau ingin ia menerima ‘sandiwara’ pertunangan itu. Bahkan saat itu ayahnya hanya menjelaskan dengan teramat singkat, di sela-sela jam makan siang bersama mereka. Makan siang yang berhasil terlaksana berkat Danita meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya saat itu. Danita tidak menampik, kalau hatinya mulai tergerak untuk menyukai seseorang. Seseorang yang bukan orang asing melainkan teramat dekat dengannya. Rian. Namun, selain fakta bahwa segala perhatiannya kadang tidak bisa dibedakan antara kepedulian pribadi atau murni profesionalitas. Ada sesuatu yang membuat Danita tidak berani melangkah lebih dekat. Melewati batas tipis antara profesionalitas dan kehidupan pribadi keduanya. Ya, sepertinya Danita harus mulai membicarakan soal pertunangan ini kepada sang ayah. *** Dua minggu setelah acara ‘minum-minum’ di ruangannya hari itu. Danita mendapat kabar bahwa ayahnya akan singgah ke ibukota, sebelum kembali ke bagian timur negaranya itu. Semenjak sang ayah beralih profesi dari seorang pebisnis menjadi pemimpin daerah, frekuensi Danita bersua dengan ayahnya itu semakin berkurang. Bisnis sang ayah yang diambil alih sang ibu, membuat kedua orang tuanya semakin sulit untuk diajak bertemu. Itulah kenapa Danita mau tak mau akan selalu menjadi pihak yang meluangkan waktunya ketika ayah atau ibunya datang berkunjung. Meski kunjungan itu hanya akan dihabiskan dengan makan bersama. Sudah sangat lama, sejak terakhir kali Danita merasakan bagaimana ketiganya menghabiskan waktu bersama selayaknya sebuah keluarga normal. Kali ini ayahnya lah yang memilih tempat. Sebuah restoran mewah di area Jakarta Pusat yang menyajikan menu makanan laut yang bukan hanya bernilai fantastis namun juga lezat. Restoran yang terkenal sulit untuk melakukan reservasi itu, nyatanya berhasil disewakan seluruh tempatnya oleh sang ayah. Membuat orang-orang yang mengisi restoran itu adalah orang-orang suruhan sang ayah selain mereka. “Gimana kerjaan? Aman?” tanya sang Ayah seraya meletakkan sepiring nasi hangat ke hadapan putrinya itu. “Aman, masih berdiri, masih laris, dan masih viral.” Danita menjawab dengan nada tenang. Ia dengan mandiri menyendok sendiri kepala ikan kakap yang dimasak kuah kuning dari sebuah mangkuk. Lantas meletakkannya ke dalam piring. “Aku dengar Mama udah pergi lagi ke Maldives. Mau buka resort baru lagi?” “Teman Papa ada yang nawarin lahan kosong di sana. Lokasinya strategis banget Danita.” Sang ayah lantas tertawa kecil. “Tapi Papa bilang sama Mama, sebaiknya dibangun resort pribadi keluarga aja.” Tak ada sahutan, Danita hanya menghela napas. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Fakta bahwa ia dan keluarganya memiliki banyak sekali resort pribadi di berbagai negara, jelas bukan suatu hal yang mudah dilupakan. Bahkan keluarganya mengelontorkan uang yang begitu banyak tiap tahunnya, demi membayar gaji para pekerja yang merawat tempat-tempat itu. Kadang Danita merasa bahwa ia tinggal di dalam keluarga yang terdiri oleh banyak sekali orang. Namun pada kenyataannya dia adalah putri tunggal dari kedua orang tua yang sama-sama anak tunggal. “Pah,” panggil Danita seraya mulai memisahkan daging ikan dari tulangnya. Ia melirik ke arah sang ayah tampak sibuk menikmati makanannya. “Danita mau akhirin pertunangan itu boleh?” Danita bisa melihat bagaimana sang ayah menoleh ke arahnya cepat sekali. Pria itu mengerjapkan mata, tidak menyiratkan kekecewaan namun juga tidak tampak senang. Tenang dan tidak terbaca. Sang ayah terdiam cukup lama, sebelum akhirnya meletakkan sendok dan garpu di tangannya ke atas piring. “Kenapa? Kamu udah punya pacar?” “Nggak ada Pah,” balas Danita seraya tertawa, menganggap pertanyaan sang ayah barusan terdengar konyol. Namun, perlahan tawa itu terhenti dan Danita tersenyum tipis. “Tapi ada orang yang Danita suka.” “You want to chasing him? (Kamu mau mengejarnya?)” “ I am. (Ya.)” Hening. Sang ayah tidak langsung menjawab. Pria itu tampak berpikir cukup lama, tidak lebih tepatnya menilai apa yang tampak di wajah putrinya saat ini. Menutupi kegugupannya, Danita kembali fokus pada makannya. Pura-pura tak acuh akan tatapan sang ayah. “Oke.” Persetujuan itu membuat bola mata Danita membulat. Namun, sang ayah menyiratkan bahwa ia belum selesai bicara. “Tapi satu syarat.” “Kenalan, dan coba dulu jalin hubungan sama tunangan mu itu. Setidaknya selama dua bulan ke depan.” *** Di sebuah gedung perkantoran, seorang pria berjalan menuju mejanya. Pria itu mengenakan setelan jas yang teramat rapi, sibuk berkutat dengan tumpukan berkas dan data-data di layar komputer. Perhatiannya teralih ketika ponselnya mendadak bergetar, menandakan ada sebuah pesan masuk. Dahinya sesaat mengernyit, menyadari bahwa pesan itu datang dari seseorang yang tidak ia sangka akan menghubunginya kembali. Tidak lebih tepatnya, menghubunginya menggunakan nomor yang sedang ia gunakan saat ini. Alih-alih nomornya yang lebih pribadi. Pak Adiyasmara: Putri saya ingin mengakhiri pertunangan, namun saya minta dia untuk menemui anda dulu. Pak Adiyasmara: Dua bulan. Temui dan berkenalan lah secara normal dengannya. Sudah waktunya kalian berdua bertemu selayaknya sebuah hubungan pertunangan bukan? Pria itu menghela napas, tanpa sadar menarik lepas dasi yang mencekiknya selama seharian ini. Jarinya tanpa sadar mulai mengetuk-ngetuk meja, membentuk melodi acak yang menjadi pertanda bahwa ia sedang berpikir keras. Lantas ia mulai mengetikkan balasan. “Beri saya waktu. Ada sesuatu yang harus saya lakukan sebelum benar-benar menemui putri anda.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD