Minggu ketiga setiap bulannya, adalah minggu paling padat bagi majalah Oneiro. Di minggu inilah setiap orang khususnya divisi kreatif disibukkan oleh segudang pekerjaan. Saking sibuknya, minggu itu sampai disebut sebagai Minggu Darurat. Bagaimanapun, mempersiapkan penerbitan sebuah majalah tiap bulannya butuh usaha dan kerja sama tim yang kompak. Namun, di sinilah Danita sekarang duduk di kursi terujung yang ada di ruang rapat. Menyaksikan dua karyawannya sedang berdebat terkait tata letak halaman salah satu section.
Danita mendengkus, lantas mengetuk-ngetuk meja. Mengalihkan perhatian dua orang yang sedang berdebat panas ke arahnya. Sudut bibir Danita memaksakan diri menunjukkan senyuman ramah, meski wajahnya yang terlihat kuyu jelas sekali menunjukkan bahwa dia tidak baik-baik saja. “Oke, jadi yang gue simpulkan Karin ngerasa section di FnB terlalu kosong dan malah jadi membosankan kalau isinya dominan tulisan. Bener?”
Anggukan itu datang dari Karin, sang manajer editorial yang memang bertugas mengecek guideline yang diberikan oleh departemen kreatif terkait susunan setiap desain per halaman termasuk cover. Sementara itu lawan bicaranya, tidak lebih tepatnya lawan berdebatnya adalah David, si manajer divisi desain sudah menghela napas seraya memijat keningnya pelan.
“Kak, guideline itu gue buat tanpa alasan. Gue udah liat bahan foto yang mau di masukkin ke kolom itu, dan foto-foto yang diambil lebih banyak menyorot interior restorannya. Bukan makanan atau minumannya. Kalau kolom diisi sama foto-foto kayak gitu, apa bedanya sama kolom lifestyle yang bulan ini bahas soal arsitektur artistik?” balas David jelas tidak mau disalahkan sepenuhnya.
Pandangan Danita teralih ke layar yang menampilkan guideline yang menjadi topik perdebatan saat ini. Perempuan itu terdiam cukup lama, sebelum akhirnya menghela napas. “Ini restoran yang ada di PIK itu kan? Hasil researchnya si Wendi kan?”
“Iya, dia pergi minggu lalu ke sana. Tapi yang pergi ke sana buat ambil foto bukan dia, tapi anak Fnb lain,” balas Karin.
“PIK kan? Yaudah, sekarang coba kontak restorannya lagi bilang kita mau ambil foto sekali lagi. Kalau bisa hari ini ya bagus, tapi kalau nggak bisa. Paling mentok besok sore fotonya udah masuk ke tim desain biar bisa diolah.” Danita lantas menatap David. “Vid, gue paham banget niat lo biar komposisi kolom FnB jadi gak terlalu mirip sama kolom lifestyle. Tapi, kalau lo kasih slot foto sedikit ini yang ada pembaca bosen karena artikelnya kepanjangan. Tolong rombak dan kirim ke email gue aja. Selebihnya aman.”
“Oke Kak.”
Mendengar balasan kompak dari kedua bawahannya itu Danita tersenyum seraya beranjak dari kursi. “Ini baru hari kedua, Minggu Darurat loh. Tolong kurangin perdebatan dan sehati buat nyusun Oneiro. Kalau masih belum sehati, please langsung kontak gue aja.”
Sebelum benar-benar pergi dari ruang rapat tersebut, Danita bisa melihat keduanya jadi saling melirik tajam. Tampak sekali menahan diri untuk tidak kembali bertengkar di depan sang puan. Danita menghela napas, namun lantas mulai tertawa kecil. Ya, semoga saja pertengkaran di antara karyawannya satu itu tidak menjelma menjadi dasar sebuah hubungan romantis saja.
“Danita, tadi Reza telpon katanya photoshoot buat cover bulan ini diundur jadi sore. Soalnya dari pihak artisnya minta undur sebentar karena urusan pribadi.”
Bohong kalau Danita tidak terkejut, ia nyaris saja berteriak kala Rian mendadak sudah berbicara tepat di dekatnya. Perempuan itu memegang dadanya, bisa merasakan dengan jelas jantungnya yang berdebar begitu cepat. “Mas! Kenapa sih suka banget tiba-tiba muncul gitu?”
Rian, sang asisten pribadi, hanya mengerjapkan mata. Jelas sekali tidak merasa bahwa ia baru saja melakukan kesalahan. Pria yang acap kali mengenakan jas hitam meski Danita berulang kali mengatakan padanya untuk berpakaian santai saja di kantor, kini membenarkan letak kacamatanya. Lantas menyodorkan map berwarna hitam yang berada di tangannya, tentu sambil menyamakan langkah dengan Danita menuju ruangan editor in-chief . “Ini ada berkas dari publishing, mereka butuh tanda tangan kamu buat kesepakatan yang dibuat di meeting kemarin.”
“Soal perekrutan magang semester ini ya?” ujar Danita membaca cepat isi map tersebut lantas membubuhkan tanda tangannya di kolom yang ada. Bersamaan dengan ia yang akhirnya berhasil tiba di ruangannya sendiri. Perempuan itu memberikan kembali map tersebut ke Rian sebelum akhirnya menghela napas kasar. “Ada lagi Mas?”
“Meeting sama tim finance dimajuin jadi jam 3. Selain itu habis mantau photoshoot, Fadli minta dikosongin jadwal kamu buat meeting soal online issue yang bakal kita rilis bulan depan.”
“Iya, aku lupa bilang itu ke kamu Mas buat masukin soal itu ke kalender bersama. Tolong cantumin yang ikut aku, Fadli, Karin, Reza, David, sama May.” Danita menghela napas berat sekali, lantas bersandar pada kursinya empuk. “Wah hari ini sibuk banget. Rasanya mau mati.”
“Tolong jangan mati dulu ya.” Jawaban itu membuat Danita langsung melirik pria yang sedang mengutak atik sesuatu di tabletnya. Rian lantas tersenyum tipis. “Kalau mau mati, tolong setelah Minggu Darurat aja.”
“Mas Rian!”
Rian terkekeh kecil, lantas berjalan menuju salah satu sudut ruangan Danita yang menjelma menjadi pantri kecil. Tempat di mana mesin kopi, rak berisi peralatan makanan, kulkas kecil hingga microwave. Pria itu tampak mengeluarkan sesuatu dari kulkas, lantas memasukkan sebuah kotak makan ke dalam microwave. Lama Danita mengamati apa yang sedang pria itu lakukan, sampai ia bisa mencium bau makanan yang terasa familiar.
“Mas beliin aku udon?”
“Lebih tepatnya udon dari resto sebelah gedung yang kamu bilang mau cobain,” balas Rian seraya menuangkan kuah udon ke dalam mangkuk mie, dan memasukkan isiannya yang sengaja dipisah. Tak butuh waktu lama sampai pria itu meletakkan semangkuk udon hangat dan segelas air putih. “Semangkuk udon, cabainya 2 sendok, bubuk cabe satu sendok, dan jahe setengah sendok. Benar?”
Sudut bibir Danita bergerak, membentuk senyuman lebar. “Terima kasih Mas Rian.”
“Sudah jadi tugas saya untuk memperhatikan kamu seperti ini Danita.”
***
Danita baru saja selesai mengantarkan artis yang menjadi model untuk cover majalahnya bulan ini hingga ke lobi. Ketika ponsel yang sedari tadi berada di dalam saku blazernya mendadak bergetar. Perempuan itu bergegas merogoh ponsel, mendapati ada sebuah panggilan video masuk dari sang ayah. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, lantas menggeser tombol telpon ke kanan. Bergegas merapihkan diri, sebelum mengarahkan kamera depan ponselnya ke depan wajah.
“Selamat ulang tahun Danita!”
Seruan itu terdengar jelas sekali. Masih ada 2 jam sebelum hari berganti, itu artinya hari ini belum sepenuhnya ulang tahun Danita. Namun, sebagai anak yang sejak kecil terbiasa menghabiskan ulang tahun tanpa kedua orang tuanya. Ucapan yang lebih cepat 2 jam ini, sudah cukup untuk membuat Danita merasa teramat senang.
“Terima kasih Pah, Mah.” Di layar Danita bisa melihat kedua orang tuanya memegang sebuah kue ulang tahun berlapis krim putih berukuran kecil. Disertai tulisan ‘Selamat ulang tahun anak kami tersayang’ berada di atasnya. “Sebenarnya kecepetan 2 jam, tapi gak papa.”
“2 jam?” Sang ibu melebarkan matanya tak percaya. Bergegas meraih ponselnya lantas menunjukkan jam yang tertera di layar, sudah pukul 12 lewat. “Ini udah jam 12 loh Danita.”
“Pah, Mah kalian lagi di Maluku kan? Ya jam di sana lebih cepat 2 jam dari di sini, nggak sih?”
Kedua orang tuanya tampak bertukar pandang, sebelum menepuk dahi masing-masing. Tak butuh waktu lama sampai keduanya memburu Danita dengan permintaan maaf. Sukses membuat Danita tak kuasa menahan diri untuk tidak tertawa. Ia mulai berjalan menuju lift, bersiap berjalan menuju ruang rapat 3 di lantai editorial. Masih mengingat jelas bahwa ia masih memiliki rapat yang harus diselesaikan hari ini. Rian bahkan tak lagi berada di dekatnya, jelas sekali bahwa pria itu sudah lebih dulu pergi ke ruang rapat. Mempersiapkan bahan untuk rapat kali ini.
“Kamu masih di kantor Nak?” Pertanyaan itu datang dari sang ayah yang kini mendominasi layar. Tampaknya sudah tak sabar mendapat gilirannya sendiri untuk bercengkrama dengan sang anak. Setelah sedari tadi, ibunya lah yang mendominasi percakapan.
“Masih Pah, biasa minggu padat. Aku masih ada meeting terakhir, sebelum bisa pulang buat hari ini.”
Tampak pria di usia 50-an itu menghela napas, lantas menggelengkan kepala tak percaya. Namun, tidak ada protesan ataupun keluhan yang terucap melihat pola hidup sang anak yang tak bisa dikatakan sehat semenjak meniti karir di majalah tersebut. Tidak lebih tepatnya tidak bisa protes karena baik ia maupun sang istri sama saja gila pekerjaannya.
Keheningan yang melanda, membuat Danita merasa ini adalah waktu yang tepat untuk mengakhiri panggilan. Ia menekan tombol lift, dan tak butuh waktu lama sampai suara berdenting itu terdengar dan pintu terbuka. “Pah, Mah nanti lagi ya? Danita harus pergi sekarang.”
“Ah, iya. Kalau begitu nanti Papa sama Mama telpon lagi.” Sang ayah mengembangkan senyum. “Hadiah Papa sama Mama udah di jalan mungkin besok atau lusa sampai di kamu.”
“Terima kasih Pah, Mah.”
Sambungan telpon video berakhir. Sudah sangat lama sejak Danita menyayangkan fakta bahwa kedua orang tuanya tidak pernah menemani bahkan di hari terpenting seperti ulang tahunnya. Bagaimanapun Danita sadar bahwa apa yang ia cecap dan rasakan hingga bisa menjadi seperti ini, semua adalah buah dari segala jerih payah yang dilakukan kedua orang tuanya demi memastikan bahwa ia mendapat kehidupan yang layak.
Ketika pintu lift terbuka di lantai 19, Danita bisa menyaksikan bahwa seluruh lampu di lantai tersebut memang masih menyala. Ia melirik ke arah ruang editorial di mana beberapa editornya bekerja. Dari dinding kaca tipis yang memisahkan antara lorong dan ruangan. Ia bisa melihat beberapa dari mereka masih menghuni meja masing-masing. Ada yang setengah mengantuk di depan komputer, namun ada pula yang sudah menyerah dan tertidur begitu saja di kursi mereka dengan menutupi diri dengan jaket. Sebuah pemandangan yang biasa di Minggu Darurat.
Melihat itu Danita tanpa sadar ikut menguap, berjalan lunglai menuju ruang rapat di mana tim utamanya menunggu. Namun rasa kantuk itu lenyap sudah ketika apa yang menyambutnya saat membuka pintu adalah konfeti dan seruan kompak.
“Selamat ulang tahun Danita!”
Kepalanya yang dipenuhi oleh konfeti kertas berwarna-warni, membuat Danita bergegas membersihkan konfeti yang mengotori puncak kepalanya. Ia tidak kuasa tertawa, mendapati tim utamanya sudah menyeringai. Tau benar apa yang sedang mereka lakukan. Secara ia bisa melihat bagaimana Rian berdiri dengan ekspresi datarnya memegangi kue dengan lilin menyala.
“Selamat ulang tahun Danita,” bisik Rian pelan tepat sebelum Danita meniup lilin yang ada.
“Terima kasih semua,” ujar Danita riang. Ia lantas tersentak kala Fadli mendadak memberikannya sebuah paperbag dari brand mahal. Tidak lebih tepatnya menjejalkannya ke pelukan.
“Hadiah dari CC.”
CC atau Creative Core adalah sebutan yang digunakan Danita untuk menyebut tim intinya. Terdiri dari Fadli, senior manager editorial yang mengepalai divisi editorial. Reza, direktur kreatif sekaligus kepala divisi desain dan artistik. May, direktur artistik. Karin, manajer editorial dan David, manajer desain. Empat orang yang bukan hanya menjadi inti dari majalah ini bersamanya, namun juga orang-orang yang berhasil membangkitkan kembali kejayaan majalah Oneiro bersamanya. Rekan kerja, sahabat sekaligus orang-orang terpercaya Danita.
“Rian, malam ini biar gue yang anter Danita pulang. Lo pulang aja,” ujar Fadli seraya melirik jam dinding. Melihat asisten pribadi Danita sempat meragu, pria itu terkekeh lantas mengeluarkan sebuah kantung kertas yang sedari tadi ia sembunyikan ada beberapa botol kaca di dalam kantung tersebut. Cukup untuk membuat Rian menyadari apa yang akan terjadi. “Kecuali lo mau gabung juga?”
Sudut bibir Rian terangkat, membentuk senyum tipis. “Tolong jangan minum terlalu banyak, ini masih Minggu Darurat.”
“Tenang aja Mas Rian,” balas May seraya menyeringai, mulai mengeluarkan beberapa gelas dari dalam tas kain yang ia bawa beserta beberapa makanan ringan. “Paling parah kita jadinya nginep aja di sini.”
“Tidak, saya sudah pernah menyaksikan yang lebih parah. Makanya saya mengingatkan.”
Senyum Rian memang tampak biasa, namun cukup untuk membuat kelima orang itu merinding. Kembali teringat kejadian memalukan yang membuat Rian harus turun tangan menangani kelimanya karena tidak ada yang sadar saat itu. Rian melirik ke arah Danita yang sudah duduk manis di salah satu kursi. Tampak mulai melahap kue ulang tahunnya menggunakan garpu. Rian menghela napas, lantas mendekati perempuan itu.
“Tolong hubungi saya kalau kamu membutuhkan sesuatu besok. Biar saya bawakan.” Sebuah kantung diletakkan Rian ke atas meja, lantas menepuk pundak Danita beberapa kali. “Sekali lagi selamat ulang tahun Danita.”
Cukup lama Danita terdiam, sebelum ia menunduk dan melambaikan tangan. Memberi isyarat agar Rian segera pergi. “Hati-hati di jalan Mas Rian.”
Apa yang Rian tidak ketahui adalah, fakta bahwa Danita diam-diam menyembunyikan semburat merahnya. Merasa salah tingkah.