6. Cewek Maung

1759 Words
Sore itu cuaca sangat cerah. Sesuai dengan perasaan Saka, Kasa dan Kisa yang riang gembira sambil nongkrong di salah satu mall Jakarta hanya untuk sekadar makan. Tidak seperti biasanya mereka makan sampai ke cafe mall seperti ini, biasanya mentok-mentok makan di kantin atau tidak di warteg dekat asrama saja sudah cukup. Hanya saja tadi pagi Akriel dikasih segepok duit sama Pak Bondan, yang dikasih sih cuma Akriel tapi duitnya malah dibagi satu untuk semua. Udah kayak slogan stasiun televisi aja. Siapa pun tahu Pak Bondan orang kaya tajir melintir. Meskipun Akriel dikasih duit yang sebegitu lumayan banyaknya bagi kalangan orang biasa, bagi Pak Bondan duit segitu serasa lagi bayar gorengan di Warung Pecel Lele Cik Siti. Tak ada harganya. Sayangnya, Pak Bondan gampang sekali diperdaya. Pernah kejadian beberapa bulan lalu, Pak Bondan cerita kalau dia suka sekali membantu orang-orang yang suka mengiriminya melalui layanan pesan pendek alias SMS yang mengabarinya bahwa istrinya baru kecelakaan dan dia harus transfer uang sekian juta, Pak Bondan gercep saja transfer bahkan tak segan-segan melebihi jumlah yang diminta, padahal dia tahu istrinya ada di rumah dan lagi baik-baik saja waktu itu. Saka anteng nonton video tutorial hijab di You Tube. Dia tidak berniat mau hijaban kok, buat bekal saja kalau suatu hari istrinya kesusahan memakai hijab, Saka bisa dengan ahlinya memakaikannya hijab dengan berbagai kreasi. Kasa dan Kisa oke-oke saja. Malah bersyukur setidaknya Saka punya kesibukan. Pokoknya jangan sampai seorang Aksa Kastara alias Saka itu gabut. Kalau sampai dia gabut, mungkin Saka akan melakukan hal yang lebih bikin tepuk jidat dibanding menonton video tutorial hijab. Menonton vlognya Lucinta Luna misalnya. Mereka hampir seharian jalan-jalan keliling mall, tapi hanya sekadar main game atau tidak naik turun eskalator. Kini mereka duduk di bangku di salah satu unit mall junkfood. Mereka makan burgur tapi Akriel hanya memakannya segigit. Makanan itu terasa aneh baginya, dia lebih suka batagor atau siomay yang kemarin ia makan. Akriel pamit ke toilet, mau muntahin makanan tidak enak itu katanya. "Ada gunanya juga ya si manusia mermed." Kata Kisa sambil sesekali menyuapkan kentang goreng yang dicocol saus tomat ke mulutnya. Kasa meneguk colanya. "Ya syukur, setidaknya gue jadi ikhlas ngebantuin dia. Jadi gak sia-sia deh jerih payah gue nipu Pak Bondan." "Kalian kepikiran gak, kalo misal kita buru-buru cari cewek yang punya gambar sayap itu berarti misi Akriel cepet selesai dong, terus kita gak bakal dapet duit lagi dari Pak Botak?" Butuh waktu beberapa menit bagi Kasa dan Kisa untuk mencerna kata-kata Saka, setelah beberapa detik baru mereka bisa connected. "Saka bener," lanjut Kisa. "Gini ya, kalo kita lama-lamain nyari itu si cewek, Akriel bakal lebih lama di sini dan Pak Botak bakal ngasih duit terus pastinya. Jadi, kita gak boleh buru-buru nyari si itu cewek." Kasa manggut-manggut. "Ide bagus." Tak lama Akriel pun terlihat datang dari ujung sana. Laki-laki jangkung itu berjalan dengan tegapnya, tak heran kini dia jadi pusat perhatian semua orang. Baru saja duduk, dia sudah bertanya. "Selain suka menyelewangkan nama dan pergi tanpa permisi, apa lagi yang biasa dilakukan manusia?" "Kalo ngomong tuh jangan kaku-kaku amat kayak robot aja." Kasa mencerca. "Memang apa bedanya? Mau pakai bahasa apa pun, pesan yang disampaikan tetap sama saja maksudnya." "Gak enak dengernya, tau gak?" Akriel manggut-manggut. "Saya harus belajar dulu dan tidak ada waktu. Jadi, jawab pertanyaan saya tadi!" "Ghosting." "Ghosting?" "Kalo lo chattan sama gebetan lo terus tiba-tiba dia ngilang entah ke mana itu namanya ghosting." "Jadi, manusia suka melakukan itu ya?" "Gak semuanya sih, yang suka ngeghosting itu cuman golongan manusia k*****t. Kalo yang dighosting itu cuman orang-orang yang ngenes aja sama percintaannya." Akriel memperhatikan setiap orang di mall itu. Tidak sedikit dari mereka yang berpakaian crop top atau memperlihatkan sedikit bagian punggung dan perut mereka. "Sepertinya akan sulit menemukan gadis bertanda sayap itu di Bumi." Saka, Kasa dan Kisa saling pandang. "Udah tau pake nanya." "Jadi, kita harus bagaimana untuk mencarinya? Saya tidak ingin lama-lama di sini." Saka menghentikan aktivitasnya menonton video tutorial hijab. "Gini ya, kalo lo mau nyari tuh cewek lo harus tanyain mereka satu per satu dan cewek di dunia itu banyak, Bro! Lalu ada sebuah etika di mana nanya hal yang gak senonoh itu tidak diperbolehkan. Lo gak bisa seenak jidat nanya 'eh lo punya gambar sayap gak di punggung lo, boleh gue liat?' itu namanya mesum." "m***m itu apa?" "Perbuatan yang gak sopan." "Lalu?" "Ya lo gak boleh lakuin." "Terus bagaimana caranya supaya saya segera menemukan orang yang saya cari?" Saka capek. Kalau saja ini sebuah acara di tv, dia ingin melambaikan tangan saja sambil dadah-dadah ke kamera. "Emang gak ada ciri-ciri lain apa selain gambar sayap di punggung?" "Tidak ada." Kisa menghela napas lelah. "Nanti gue bikinin iklan, konteksnya 'dicari orang hilang' di internet. Lebih gampang" "Memangnya bisa?" "Gak usah banyak tanya, kalo gak ngerti mending diem aja!" Kisa menyahut lantang. Akriel suka ngeri kalau sudah dicerca Kasa. *** "Lu serius mau bikin iklannya, Kis?" tanya Saka. "Gak pa-pa deh, biar itu orang anteng aja." "Tapi kenapa pake laptop gue, Bu?" Kasa tak bisa untuk tak manyun. Kisa malah cengengesan. "Hehe, kebetulan laptop saya lagi rusak. Jadi, gak bisa dipake sementara waktu, saya gak keburu panggil tukang servis." Mereka berinisiat membuat papan iklan pengumuman untuk mencari si cewek bertanda sayap malaikat yang nantinya akan dibagikan ke base-base di Twitter. Bukan mereka sih, sebetulnya itu cuma ide gila yang dibuat Kisa saja. Jujur, Saka dan Kasa sih ogah. Tapi kalau tidak dibuatin, Akriel sudah pasti akan nagih dan mengintrogasi mereka 24/7 sampai mereka rasanya mau kayang di atas Monas saking dibikin gilanya. Usai selesai mengedit, Kisa siap mengirimnya ke bot base yang dimaksud melalui direct message, tapi jari-jarinya malah kepeleset dan bukannya memencet kolom dm bot, dia malah memencet kolom dm yang lain. Kisa sedikit mengernyit, membaca history chat Kasa dengan entah siapa. "WHAT?!! BADROL?!!" Saka yang masih asyik nonton vlog keluarga Gang Gledek yang lagi ngeprank Raffi Ahmad ikut terperanjat karena mendengar suara Kisa yang secempreng burung kutilang pas lagi pilek. Kasa beda lagi, cewek itu sudah panik bukan main saking kagetnya sampai seperempat nyawanya serasa hampir tercabut. Dia kaget bukan karena Kisa yang berteriak, tapi ketika cewek itu menyebut nama Badrol yang membuatnya langsung panas dingin. Di saat itulah Kasa merasa jadi manusia terbego karena lupa menghapus history chat-chatnya di Twitter. "Kasa suka chattingan sama Badrol?!" Saka ikut melotot lalu tergelak bersama Kisa. Kasa yang mukanya sudah semerah apel, merebut paksa laptopnya dari Kisa. Ekspresinya tentu marah persis banteng yang siap menyeruduk kain merah dari matador. "Gak sopan lo buka-buka obrolan orang." Kasa cemberut sambil menghapus semua chatnya dengan sangat emosi. Padahal isi obrolannya tidak begitu rahasia, saat itu Badrol men-dm-nya ketika dia minta jawaban PR matematika beberapa minggu lalu, tapi Kasa tidak mau dan mulailah Badrol sok-sok-an merengek dan memuji-muji Kasa lewat dm Twitter dengan kata-kata klise tapi cringe menurut Kasa. Siapa pun tahu kalau Kasa dan Badrol adalah dua kubu yang saling bermusuhan bagai Tom dan Jerry kalo lagi berantem, atau seperti minyak dan air yang kalau dicampur susah menyatu. Lalu muncullah sebuah chat di mana Badrol memuji-muji Kasa yang katanya cantik, baik, pinter dengan kata-kata yang tak jauh beda dengan Dilan ke Milea. Maka dari itu, pikiran Saka dan Kisa langsung travelling sampai ke negeri Hongkong ketika melihat isi chat yang begitu manisnya. Saka dan Kisa masih terkekeh-kekeh sejak tadi dan tak mau berhenti. "Sangat tidak menyangka, epribadeh! Kasa diem-diem chattan sama musuh sendiri, tapi kok pake bahasa kek orang pacaran ya?" Kasa mendelik. Rasanya dia kepingin nyemplung ke laut sekarang juga. "Bisa diem gak sih?" "Gue curiga kalian lama-lama musuhan sekarang malah—" "Lo ngomong gitu sekali lagi gue tebas leher lo pake celurit!" Kasa mengancam. Saka dan Kisa masih berani tergelak. "Gak usah sensian deh, ngaku aja pasti ada apa-apa diantara lo berdua. Kalo ada apa-apa juga gak bakalan kita sebarin sampe satu sekolah kok, paling ya dighibahin sekelas doang." "Kisa!" Kasa melotot. "Amit-amit jabang bayi, mana ada gue mau sama si kutu beras modelan Badrol. Jangan ngadi-ngadi ya lo!" "Jangan kebanyakan ngehina, siapa tahu jodoh lo emang si Badrol, kan jodoh tuh kagak ada yang tahu." Kata Saka. "Nah bener." Kisa melanjutkan. "Mulut lo tuh harusnya udah mulai difilter dari sekarang. Takutnya lo kualat sendiri kebanyakan ngatain Badrol eh tahu-tahunya jodoh." Saka dan Kisa kembali tergelak, sedangkan Kasa sumpah demi apa pun dia pengin mentungin kepala mereka pakai palu milik Thor sampe benjol 5 meter juga gak pa-pa. "Kesel gue sama lu berdua!" Kasa akhirnya beranjak lebih dulu dari pelataran taman sekolah meninggalkan kedua temannya tersebut sambil membawa laptopnya. Dia marah tapi ada rasa malunya juga. Saat perjalanan menuju ke kamar asramanya, tiba-tiba ada yang mencegatnya, saat dilihat ternyata dia adalah Badrol. Melihat Badrol di sana, amarah Kasa semakin munjuk saja rasanya. Cowok itu sengaja menghalangi jalan Kasa. "Jangan bikin gue mau nonjok muka lo ya. Minggar gak?!" Kasa menegaskan, tatapannya tajam. Badrol menghela napas berat. "Lo tuh jadi cewek dandanan udah oke kayak kebanyakan cewek imut pada umumnya, tapi mulut lo tuh udah kayak amukan harimau yang abis kemalingan anaknya aja." "Maksud lo? Lo ngehina gue gitu?" Kening Kasa keriput sampai membentuk perempatan di Cileungsi. "Ck. Siapa yang ngehina lu dasar Markonah Maemunah Jaenudin?" Badrol kayaknya lagi ngabsen nama-nama tetangganya. "Ya jadi cewek tuh soft dikit lah. Lo pikir bagus cewek garang-garang kayak lo gitu?" Kasa masih diam mematung dan menatap tajam, tak lupa bibirnya yang manyun 5 senti. Amarahnya menggebu tapi coba ia redakan sedikit demi sedikit. "Gue udah bawaan dari lahir begini. Asal lo tahu aja pas gue baru dilahirin, emak bapak gue sampe ketakutan liat muka gue yang cemberut gak ada senyum-senyumnya. Pas lahir aja gue udah badmood, tahu gak? Jadi, wajar gue gak ada jiwa lemah lembut sedikit pun bahkan sejak gue lahir sampe gue 16 tahun. Dan sekarang mending lo minggir atau gue slepet lu!" "Gue gak nanya gimana ekspresi lu pas dilahirin dulu, mau lu lahir sambil ketawa-ketiwi kayak kuntilanak sekali pun gue gak peduli." Badrol berdehem lalu mengambil sesuatu yang nyelip di telinganya. "Nih, pulpen lo." Kasa cemberut lagi. "Kok bisa ada di lo sih?" Badrol tersenyum miring. "Heh, pulpen lo ada di laci meja lo sejak kemarin. Lo nya aja yang b**o gak inget naro pulpen sendiri di mana." Kasa mendengkus. "Cepetan nih ambil, gue gak bisa lama-lama deketan sama lo. Kayaknya lo lagi badmood banget sekarang, gue takut lama-lama lo bisa makan gue." "GUE BADMOOD KARENA LO?!!!!" Badrol terperanjat, kaget sampai seperempat ruhnya nyaris keluar. Lalu cewek itu mengambil pulpennya dari tangan Badrol lantas berjalan melewatinya begitu saja tanpa sekiranya berterima kasih terlebih dulu, padahal Badrol berharapnya begitu. Cowok itu lalu mendengkus, "dasar cewek maung!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD