4. Dunia dan Ketidakwarasan

1761 Words
Sore itu cuaca agak mendung dan hujan sudah ancang-ancang untuk terjun beberapa saat lagi. Dua cewek itu, Kasa dan Kisa, santai-santai saja di kamar asrama mereka. "Sa!" Kisa berseru. "Hm?" "Nengok kek." Kasa menghela napas lelah dan akhirnya menengok ke arah Kisa. "Kita jadi nih ngelaporin si manusia mermed itu ke kepala sekolah?" Kasa berdecak lalu kembali fokus pada gawainya. "Yaiyalah." "Tapi, gue kok ngerasa kasian ya?" Kening Kasa mengkerut. "Hah?! Seriously?" "Ya..." Kisa manyun, "gitu deh." "Bisa-bisanya lu kasian sama tuh orang gak jelas." Cewek itu memutar kedua bola matanya. "Hidup kita udah ribet jangan ditambah ribet sama kehadirannya. Bisa naik tensian darah gue kalo lama-lama deket ada dia." "Tapi nih ya, selepas dari bener atau nggaknya dia sebagai manusia, gue rasa dia tuh orangnya baik." "What? Lo cenayang apa bisa berawang baik buruknya orang?" "Kasa—" "Jangan liat orang dari cover doang, Kis. Lo gak tau aja bisa jadi dia tuh ...eumm... barangkali kayak mafia yang suka nyamar di tv-tv tuh." Kisa mendelikkan mata lantas berdecak. Kemudian, terdengar seseorang mengetuk pintu, kedua cewek itu kompak menoleh dan ternyata itu Saka yang datang. "Gue gak tau harus bilang gimana, tapi lo harus liat ini!" Kata Saka setengah khawatir. Kasa dan Kisa mengernyit. "Ini tentang si mermaidman," lanjut Saka. Akhirnya mereka pergi ke kamar Saka di mana Akriel berada. Ternyata cowok itu sedang berdiri menatap ke luar jendela namun segera menoleh ketika mereka datang, wajahnya sedikit pucat. "Kayaknya dia sakit," pelan Saka. Kisa tersentak, Kasa mendeleikkan mata malas. "Oy!" seru Kisa pada Akriel. "Lo sakit, Boi?" "Kenapa?" "Lo sakit?" "Tidak." "Lo udah makan?" "Saya tidak bisa makan makanan manusia?" Kasa berdecak. "Terus makanan lo apa emangnya?" "Makanan khusus guardian angel. Berbeda dengan manusia. Makanan saya dibuat dari sinar fajar matahari." Kasa tersenyum miring sambil membuang pandangan mendengar kengacoan Akriel lagi. Kisa pun ikut dibuat geleng-geleng kepala, lalu cewek itu keluar dari kamar Saka dan pergi ke suatu tempat. Tak sampai 5 menit, Kisa kembali lagi ke kamar Saka sambil membawa sebungkus roti isi coklat. "Lo sakit karena belum makan, kan?" tanya Kisa pada Akriel. "Tapi saya tidak makan makanan manusia. Saya ini guardian angel." Akriel menjelaskan. "Gue tau, tapi sekarang lo manusia, kan? Jadi sekarang, lo makanannya pun makanan manusia dong?" Akriel termenung sesaat. Sejak kemarin, dia memang belum makan apa pun sampai rasanya badannya lemas tak berenergi. Akriel tersenyum kemudian mengambil sebungkus roti yang diasongkan Kisa padanya. "Jadi, kalian sudah percaya kan sama saya?" Ketiga bocah itu saling pandang bergantian. "Iya." Kata Kisa membuat Saka dan Kisa kian melotot sampai matanya nyaris keluar dari rongganya. "Kita percaya kok. Soalnya gue tuh pernah baca cerita terus mirip banget kayak cerita lo itu." Akriel terkekeh, sementara Saka dan Kisa mau minum oskadon saja rasanya melihat kelakuan Kisa yang sebelas dua belas dengan si mermaidman. "Eh, btw di dunia lo itu gimana sih?" Kisa malah bertanya sok asik. "Ya begitu, sekarang tempat itu hancur karena perang. Maka dari itu, saya ditugaskan ke Bumi untuk mencari seseorang agar perang itu selesai." "Seseorang yang kayak gimana?" "Gadis yang memiliki tanda sepasang sayap malaikat di punggungnya. Saya harus menemukan dia." Kisa manggut-manggut sok paham. "Terus kalo ketemu mau diapain?" "Udah gak usah dilanjut," Kasa menyahut. "Lagian kita juga gak peduli-peduli amat." "Maka dari itu, saya ingin meminta bantuan kalian bagaimana caranya agar saya bisa tinggal di sini beberapa waktu. Orang yang saya cari pasti ada di sekitar tempat ini. Atau mungkin barangkali salah satu dari kalian lah orangnya?" Akriel melirik Kasa dan Kisa. "Idih?" Kasa tiba-tiba bergidik. "Mana ada. Ngadi-ngadi, gue kagak punya ye gambar kayak begituan." "Sama." Kisa manyun. "Bukan gue juga deh, suer." "Sekarang pikirin caranya gimana?!" Giliran Saka yang bersuara. "Kalo lo lama-lama di sini bisa kepergok sama kepala sekolah atau guru yang lain ntar. Lagian latar belakang lo kagak jelas, kalopun mau tinggal di sini alias sekolah itu harus daftar pake surat-surat lengkap." "Nah, bener." Kata Kasa. "Emang lo punya akta, kartu keluarga, ijazah TK, SD, SMP sama yang lainnya?" "Akta... itu apa?" "Akta itu..." Kisa yang menjawab, "surat kelahiran lo. Emang di negeri lo gak ada akta?" Akriel menggeleng. "Huhh... harusnya ada." Kisa menyikut perut Akriel sampai pria itu sedikit meringis. Saka dan Kasa langsung diserang ke-ilfeel-an melihat Kisa yang benar-benar sok akrab dan sok asyik dengan Akriel. "Eh nama lo siapa ya? Gue lupa." Tanya Kisa. "Akriel Zaphka Mihr." Kisa ber-oh. "Nama lo ribet juga ya. Lidah gue keseleo nyebutnya." Akriel terkekeh kecil. "Oh iya, kenalin nama gue Kisa alias Markisa Firaya, tapi bukan nama buah. Terus mereka temen gue, yang cewek namanya Kasalira Sabina atau Kasa, yang cowok tuh Aksa Kastara tapi dipanggil Saka." Akriel manggut-manggut paham. Saka dan Kasa malah menyipit. "Saya juga punya 4 orang adik." Kata Akriel. "Siapa aja tuh?" "Yang pertama ada si kembar, yaitu Bariel Sahca Mihr dan Castiel Sophia Mihr." "Terus terus?" "Selanjutnya Dariel Veuliah Mihr." "Terus terus?" "Yang terakhir adalah Eremiel Valoe Mihr." "Terus terus?" "Sudah." Kisa nyengir lalu tiba-tiba Kasa mencubitnya sampai cewek itu mengaduh. "Apaan sih lo?" "Ck. Lo udah ketularan gila apa?" "Tau tuh, malah diladenin segala." Saka menyahut. "Seru aja, emang kenapa sih?" "Cringe tau gak?" "Bodo amat." Kisa mengabaikan Saka dan Kasa. "Eh, Ariel. Umur lo berapa taun sih sebenernya?" Akriel bengong sesaat tampak berpikir. "210 tahun." "Buset!" Kasa tercengang. "Berarti lo itu sepuh dari para sepuh dong?" "210? Tapi kok lo masih keliatan muda ya? Kayak masih 18? Lo pake skincare apa?" Kisa nyengir. "Skin... apa?" "Skincare. Perawatan buat kulit. Kayak serum, body lotion, sunscreen, moisturuzer gitu lah pokoknya." "Saya tidak mengerti." "Beda kali, Kis. Mungkin skincare di sana tuh pakenya sejenis jurus gitu. Iya gak?" Saka ketularan stres. "Kayak di Rapunzell kali ya yang nyanyi depan bunga ajaib terus jadi muda lagi." Saka diam-diam suka nonton disney princess juga, btw. Dari Rapunzell sampai Frozen dia udah pernah nonton karena kebanyakan gaul sama Kasa dan Kisa. "Wah, bener tuh Saka. Pengen juga deh ke negerinya Ariel biar bisa dapet skincare awet muda." Kasa menyaut. Sementara Kisa— kayaknya cuma dia yang masih waras —melirik sinis pada Saka, Kisa dan juga Akriel, mungkinkah dunia sudah semakin struggle? "Eh, Ariel—" "Nama saya Akriel." Yang punya nama buru-buru meralat perkataan Kisa. "Oh iya Akriel, jadi kita mau ngebantuin nuntasin misi lo." "KITA?!" kata Saka dan Kisa kompak. "Benarkah?" "Apa maksud, Boi?" Kasa protes. "Gue sih ogah deh. Segabut-gabutnya gue gak bakal deh ngelakuin hal konyol kayak gituan." "Terserah sih, tapi gue mau bantu Ariel ini." Kisa mengacungkan tangannya. "Siapa lagi yang mau ikut? Saka?" Cowok itu berdecak dahulu lalu tanpa diduga dia juga mengacungkan tangannya. "Gue juga ikut." Kasa tersenyum miring lantas membuang pandangan dari kedua temannya tersebut. *** Jam istirahat tinggal beberapa menit lagi, tapi ketiga anak itu masih duduk santai saja di meja kantin. Tidak hanya mereka saja, banyak anak-anak kelas lain yang malah keburu tiduran di kursi kantin padahal bel masuk mungkin akan berdering 5 menitan lagi. "Sa." Kasa tak menoleh, malah menyendokkan es krim ke mulutnya. "Sa." Kasa tetap geming. "Kasa!" "Ih apaan sih?!" Kasa meringis usai Kisa mengeplak lengannya. Sementara Saka malah asyik menyaksikan sambil meminum minuman kaleng yang sudah detik-detik penghabisan. "Manusia mermaid tuh gimana urusannya?" Kasa menyipit. "Itu mah urusan lo berdua. Siapa kemarin yang sok-sok-an mau jadi pahlawan buat ngebantuin dia? Tentu aja bukan gue!" "Kita cuman butuh gimana caranya biar si mermaidman bisa sekolah di sini." Kata Saka. "Wah, I don't care, epribadeh." Kasa mengedikkan bahu. "Lo aja lagi sekolah malah mau nyekolahin orang lain. Lo pikir gampang, boi? Dikira bayar sekolah cukup pake daun jati kali ya? Gue udah bilang sejak awal gue gak mau ikut-ikutan, kan? So, it's your business." Saka dan Kisa kompak memutar kedua bola mata. Kasa kemudian beranjak lebih dulu dari sana. Saka dan Kisa mengekor di belakang, menuju ke kelas karena bel istirahat akan segera berakhir. Kisa sesekali menendang-nendang kerikil tak berdosa saat berjalan melewati taman. Saat di depan tangga, mereka terpaksa berhenti ketika melihat pak kepala sekolah, yaitu Pak Bondan Taksadana atau disingkat Pak Botak yang disebut-sebut sebagai kepala sekolah, sedang berada di sana. Kebetulan di tempat itu hanya ada mereka, Saka, Kasa, Kisa dan juga Pak Bondan yang lagi megang foto polaroid— kelihatannya gambar Song Hye Kyo— di tangannya. Ketiganya dibuat ternganga melihat Pak Botak— eh Pak Bondan yang lagi ngomong sendiri secara random ke foto Song Hye-kyo. Pak Bondan belum menyadari kehadiran 3 anak itu. "Liat deh, itu ada pohon palm, pohon nangka, pohon jengkol." Kata Pak Bondan sambil ngobrol sama Song Hye-kyo, sesekali menunjuk pohon-pohon di sana dengan jari. "Terus ada cintaku kepadamu." Ketiga bocah itu masih bergeming di tempatnya, kemudian saling pandang melihat kelakuan random gurunya yang lagi ngobrol sama foto Song Hye-kyo. 'Dunia makin hari makin sinting semua ya isinya?' Kasa berbisik dalam hati. Pak Bondan masih cengengesan imut lihatin Song Hye-kyo, sampai akhirnya Saka berdehem membuat pria itu terlonjak kaget setengah mati sampai jantungnya nyaris copot dari tempatnya, ia kemudian berbalik dan mendapati 3 bocah yang kini menatapnya keheranan. "Kenapa...kalian di sini?!!!" Kagetnya. "Bapak yang lagi ngapain di sini? Ngomong sendiri sama Song Hye-kyo lagi." Kata Saka yang membuat Pak Bondan nyaris keringatan panas dingin. "Bapak ngefans sama Song Hye-kyo, Pak?" tanya Kasa. "Atau jangan-jangan...." "Heh mana ada? Jangan suudzon ya kamu! Saya mah setia sama istri saya." Kata Pak Bondan agak panik. Tiba-tiba muncul lampu bolham di balik kepala Kasa yang membuatnya refleks menjentikkan jari karena ada ide bagus yang baru saja melintas. "Aha!" Kasa berbisik pada kedua temanna. "Woy, woy, gue punya ide cemerlang." "Apaan?" tanya Kisa. Kasa tersenyum miring. "Wah, Pak, kalo istri Bapak tahu kalo suaminya selingkuh kira-kira perasaannya bakal gimana ya?" Saka dan Kisa masih bingung. Sementara Pak Bondan sepertinya mulai termakan akal-akalan Kasa. "Kasian banget dia, ternyata suaminya selingkuh sama Song Hye-kyo." Kasa sok dramatis membuat Saka dan Kisa geli. "Saya mau laporin ke istri Bapak!" Kasa mengambil handphonenya lalu pura-pura menelpon istri Pak Bondan, dan ternyata Pak Bondan gelagapan percaya saja sama keisengan Kasa. "Heh! Heh! Kamu jangan macam-macam ya!" Pak Bondan berlari ke arah Kasa dan mencoba menyingkirkan teleponnya dari telinga anak itu supaya dia tidak menelpon istrinya. "Ya saya sih kasian sama istri Bapak yang udah diduain suaminya sendiri. Ehmm.. Halo, Bu? Dengan istri Pak Bondan betul? Saya mau ngomong—" Pak Bondan mencoba merampas handphone Kasa. "Jangan bilang-bilang ke istri saya atuh. Oke sekarang mau kamu apa saya turutin, asal kamu harus ngejaga rahasia saya." Kasa tersenyum puas, akhirnya rencananya bisa berjalan sesempurna itu. "Janji, apa pun yang saya minta bakal diturutin? Deal?" Kasa mengulurkan tangannya sebagai tanda deal ke Pak Bondan. Pak Bondan membalas uluran tangan Kasa. "Deal!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD