Kasa sempat ingin mengeluarkan semua jurus lisan boncabenya ketika Kisa teriak-teriak tidak jelas di tengah malam bak habis lihat hantu. Setelah tidur nyenyaknya dibuat terusik karena ulah Kisa, alhasil Kasa pun juga ikut terbangun sambil setengah linglung.
"Jangan takut denganku!"
Pandangan Kasa langsung tajam ketika mendengar suara seseorang, yang jelas itu bukan Kisa karena suaranya muncul dari tenggorokan laki-laki aneh yang kini sedang berdiri tak jauh satu meter dari ranjang mereka. Kasa sontak memekik sementara Kisa menyembunyikan tubuhnya di balik selimut tebal.
"Saya bukan orang jahat. Saya hanya tersesat di sini." Kata cowok itu yang merupakan Akriel Zaphka Mihr.
Kasa mencoba memberanikan diri sambil berkacak pinggang berdiri di atas ranjangnya. "Heh! Lo siapa berani-beraninya masuk kamar cewek?! Modus lo hah?!"
"Saya sedang tersesat di sini. Saya juga tidak tahu ini di mana." Jelas Akriel.
"Gue kagak peduli ya. Lo harus keluar sekarang juga atau gue panggil pak guru buat ngusir lo!" Kata Kasa dengan lantangnya.
"Eh tapi..." Kisa tiba-tiba menyahut. "Gimana caranya lo masuk ke sini? Wah, lo pasti punya niat jahat ya?!"
"Tidak, saya datang dari Flat." Kata Akriel. "Saya sedang menjalankan misi di Bumi dan entah kenapa saya mendarat di tempat ini, saya pun tidak tahu."
Kasa tersenyum miring. "Mulai ngaco nih orang. Flat flet flat flet. Apaan tuh? Gue taunya itu bahasa Inggris artinya datar."
Akriel berdecak. "Tolong percaya dengan saya. Saya seorang malaikat yang sedang menyamar menjadi manusia."
"Malaikat apaan lo?" Kening Kisa keriput. "Jangan bilang kalo lo malaikat pencabut nyawa. Kalo iya, kita nolak buat dicabut nyawa sekarang, kita belum siap soalnya masih terlalu muda buat mati."
Akriel hanya bisa mendelikkan mata lalu membuang napas lelah. "Saya sudah bilang, saya tersesat di sini. Tolong bantu saya, saya sedang mencari seseorang di sini."
"Idih." Kasa menyipitkan mata. "Atas dasar apa kita harus bantu bentukan manusia yang gak jelas kayak lo? Jangan bikin gue emosi ya, mending lo keluar sekarang juga dari kamar gue!"
Tok tok tok
Ketiganya— Kasa, Kisa dan Akriel —kompak menoleh ke arah pintu yang baru saja diketuk oleh seseorang. Kasa memberanikan diri untuk membuka pintu sambil berjalan ala kepiting sambil mepet pada tembok menjaga jarak dengan Akriel. Usai membukakan pintu, jantung Kasa sempat melorot dari tempatnya, ia kira itu adalah satpam keamanan atau guru kesiswaan yang sedang berpatroli, tapi ternyata itu Saka yang datang karena Kisa diam-diam menelepon cowok itu beberapa waktu lalu.
Saka sempat mematung usai masuk ke kamar Kasa dan Kisa, apalagi ketika di depannya sudah terpampang seorang pria yang tidak mereka kenal dengan randomnya.
"Usir dia, Sak!" Kisa memerintahkan masih berdiri di atas ranjangnya sambil menunjukkan jarinya ke arah Akriel.
"Dia siapa sih? Maling?" Saka mengernyit.
Akriel tampak pasrah di sana. Bagaimana ia harus menjelaskan pada manusia-manusia amburadul ini tentang sosoknya? Sedikit sulit memang menjelaskan hal yang sebenarnya, bisa-bisa dia keburu dianggap gila karena mengatakan hal-hal aneh.
"Dengar, nama saya Akriel Zaphka Mihr. Saya adalah seorang malaikat yang sedang diberi misi pergi ke Bumi untuk mencari sesuatu. Flat adalah tempat tinggal saya yang sedang hancur sekarang."
"Nama lu siapa tadi?" Tanya Kisa dengan randomnya.
"Akriel."
"Lu sejenis mermaid kah?"
Akriel menghela napas lelah. "Saya malaikat. Memangnya mermaid itu apa?"
"Putri duyung."
Akriel berdecak.
"Tapi..." Kasa bersuara. "Kenapa lo datangnya ke kamar gue sih? Kalo lo mau cari bantuan, sorry kita gak bisa bantu, nyusahin doang yang ada. Lagian kenapa lo gak mendarat di kamar si Badrol aja sih?"
Ngomong-ngomong, Badrol itu teman sekelas Saka, Kasa dan juga Kisa yang nyebelin parah. Dia suka nyopetin pulpen atau tip-x anak-anak kelas atau kadang-kadang suka ngumpetin sepatu anak-anak cewek. Coba kalau Akriel datangnya di kamar Badrol dan minta bantuannya ke dia, Kasa tidak akan terbangun tengah malam dan acara tidurnya tidak akan hancur karena kehadiran manusia absurd yang katanya seorang malaikat, konon.
"Justru itu, berarti kalian orang yang tepat untuk membantu saya menyelesaikan misi ini." Akriel tersenyum awkward. "Jadi, kalian mau membantu saya, kan?"
"Mon maap aja nih, Pak. Situ orang kagak jelas dan kita gak tahu secara detail asal usulnya dari mana. Apalagi malaikat, Flat, misi, kita kagak ngerti ya mon maap nih sekali lagi. Mending Anda saya laporin aja ke kepala sekolah kali ya?" Kasa mencoba mengancam.
"Tolong, jangan libatkan saya dengan manusia lain selain kalian. Tolong bantu saya sebentar saja. Saya hanya perlu mencari gadis bertanda sayap malaikat di punggungnya." Akriel memohon sambil merapatkan telapak tangannya di depan d**a berharap tiga bocah itu luluh.
Saka, Kasa dan Kisa saling tatap. Lama-lama mereka merasa kasihan pada laki-laki awkward bin absurd di depan mereka yang lagi ngemis-ngemis minta tolong.
***
Keesokan harinya di kantin, ketiga bocah itu— Saka, Kasa dan Kisa —kompak jajan siomay dan tak lupa segelas es teh sarat kelengkapan juga hadir di sana. Kisa yang paling lahap memakannya. Semalam mereka dibuat amburadul oleh kehadiran yang katanya seorang malaikat turun dari kayangan dengan ngaconya. Mau tidak mau, mereka percaya saja karena Akriel ngotot kalau yang dikatakannya itu benar adanya. Mereka sempat berpikir kalau kejadian semalam itu cuma mimpi belaka, tapi setelah mereka saling cubit pipi sampai sakit rasanya dan ternyata itu bukan sekadar mimpi. Mereka juga tidak sempat kepikiran bagaimana caranya Akriel bisa masuk ke kamar itu apalagi tidak ditemukannya alat-alat semacam linggis, celurit atau obeng untuk membobol pintu, jendela ataupun atap.
Katanya Akriel datang ke sini tuh pakai dimensi yang entah bagaimana bentuknya, mereka pun tidak tahu.
Tadi pagi saja, mereka bertiga berdebat ketika Akriel ngotot ikut ke kelas sampai capek Kasa memperingatkannya untuk tetap di kamar Saka. Kebetulan, Saka itu tidurnya sendirian di kamar asramanya alias gak ada roommate.
"Kalo lo mau kita bantu, lo diem di sini jangan ke mana-mana sampe kita selesai sekolah! Atau nanti lo ketahuan satpam terus lo diusir dari asrama ini. Mau?!" Tegas Kasa pada Akriel.
Kasa sesekali menguap saat makan siomay yang tinggal setengah porsi itu. Ini semua pasal kejadian semalam yang mengakibatkan ia kekurangan jam tidur.
"Jadi, kita beneran mau bantuin pria aneh itu?" Tanya Saka.
Kasa berdecak, Kisa tetap asyik makan.
"Suruh aja dia pulang. Di jaman modern gini, emang ada ya malaikat-malaikat nyasar jadi manusia terus dikasih misi terus ini itu blah blah?" Omel Kasa.
"Iya juga sih." Saka manggut-manggut. "Tapi dia pasti bakal ngotot banget dan ngemis-ngemis lagi kaya semalem buat ditolongin."
"Hadehhh. Lagian gimana caranya kita nolongin dia? Emang lu mau ngeladenin orang gabut kek dia hah?" Kisa agak sewot sambil menyendokkan siomay ke mulutnya besar-besar.
"Tapi kalo yang dia bilang tuh bener gimana? Gue sih rada percaya soalnya." Kata Saka.
"Ck. Sama aja gilanya lo kaya dia." Kasa menyedot es teh melalui sedotannya.
Saka menghela napas. "Kalo gitu, cepet-cepet aja deh usir tuh orang. Gue juga kagak mau nimbun dia di kamar gue."
"Eh!" Kisa melirik dua temannya. "Jangan, kasian tau."
Kasa memutar kedua bola matanya. "Kalo lu kasian, urus sono sendiri. Kasianin orang kayak dia tuh tuman."
"Tapi nih ya, gue tuh suer kasian sama dia." Kisa memerintahkan dua temannya untuk mendekat kemudian berbisik, "lo kepikiran gak sih kalo dia tuh orang yang kena down syndrome?"
Saka dan Kasa saling pandang.
"Mungkin kali iya." Saka manggut-manggut. "Tapi nih ya, gue bingungnya kenapa dia bisa tiba-tiba ada di kamar lo berdua? Pertama, gerbang asrama digembok terus ada penjaganya lagi. Kedua, kamar lo ada di lantai 3 dan dikunci. Pertanyaannya, gimana bisa dia dengan gak elitnya masuk kamar lo, hah?"
"Dia punya ilmu sihir kali, terus bisa pindah-pindah dimensi gitu. Terus tujuan dia itu buat nyari putri yaitu si cewek yang punya gambar sayap itu loh, iya gak?"
Kasa berdecak keseribu kalinya. "Kisa, ini bukan waktunya buat berpikiran kayak di cerita dongeng dari nenek lo. Ngerti?"
Kisa mingkem.
"Udahlah." Kasa menegakkan punggungnya lalu melipat kedua tangannya di depan d**a. "Kita laporin aja dia ke kepapal sekolah. Masalah beres."
"Tapi sebelumnya, kita introgasi dulu aja si mermaidman." Saka melirik dua temannya.
***
Dua cewek itu berjalan mengendap-endap, sesekali melirik ke sana kemari, waspada barangkali ada seseorang yang mengegep mereka masuk ke kamar Saka.
Psstt psstt
Kasa memerintahkan Kisa untuk agak cepat. "Buruan woy."
Kasa baru menempelkan tangannya ke slot pintu, namun tiba-tiba...
"Kalian?!"
Mereka terperanjat ketika mendengar seruan dari arah belakang. Keduanya melotot kaget.
"Pak guru?!"
"Kalian lagi ngapain? Ini kan asrama cowok. Asrama cewek ada di sana tuh."
"A-anu, Pak." Kasa mendadak gagap. "Kita mau ke... sana. I-iya ke sana." Kata Kisa menunjuk ke arah tong sampah di pojokan.
Pak guru manggut-manggut. "Emang di asrama cewek gak ada tong sampahnya?"
"Penuh, Pak." Giliran Kisa yang menjawab.
Pak guru ber-oh. "Tapi kok kalian gak bawa sampahnya?"
"Nih, saya kantungin. Hehe."
"Loh, kenapa dikantungin?"
"Ah, Bapak kepo aja deh. Gak apa-apa sih, Pak. Malu aja kita nenteng-nenteng sampahnya, mending dikantungin."
Pak guru geleng-geleng kepala. "Ya udah cepetan buang sampahnya ya, saya mau turun dulu."
"Siap, Pak!"
Dalam beberapa detik, akhirnya pak guru menghilang di belokan, jantung Kasa dan Kisa akhirnya bisa kembali lega.
Mereka akhirnya masuk ke kamar Saka lalu buru-buru menutup pintunya lagi.
Saka sudah cengengesan sambil melipat lengannya di depan d**a dan bersender di tembok. "Mampus ditegur pak guru kan lo?"
Kasa dan Kisa kompak menyipit.
"Gara-gara lo nih." Kasa menohok ke arah Akriel yang terdiam di pojokan bikin Akriel mengehla napas. Kenapa manusia-manusia random ini begitu tidak sopan padanya? Dia sungguh tidak habis pikir dengan tiga bocah itu.
"Kita hampir ketahuan pak guru deh." Lanjut Kasa.
"Maaf." Final Akriel.
"Lo masih belum mau pulang? Pulang sono ke rumah lo!" Tegas Kasa lagi.
"Belum, misi saya belum selesai. Saya baru bisa pulang ketika saya sudah menemukan orang saya cari." Kata Akriel.
"Denger ya, lo bisa gak sih bicara sesuai realita aja? Bilang aja deh kalo lo cuman iseng doang ngerjain kita tentang asal usul ngaco lo, iya kan?"
"Kalian bicara apa? Apa yang saya katakan adalah benar."
Saka jadi capek. "Gini ya, Pak. Kalo emang bener, oke baik kita percaya. Tapi, Anda harus segera jauhin hidup kami karena kami gak bisa tuh bantuin misi Anda itu. Cari aja orang lain selain kita, soalnya kita keberatan atas kehadiran Anda."
"Saya gak bisa. Karena cermin itu yang membawa saya pada kalian. Berarti kalian memang diutus untuk membantu saya."
Kasa mau minum jus baygon aja rasanya, Saka mau loncat dari ujung Monas, Kisa mau berenang di sungai sss setelah mendengar omongan ngaco dari Akriel.
"Tolong, saya sudah keseribu kalinya memohon pada kalian untuk bersedia membantu saya. Jangan libatkan manusia lain, semuanya akan semakin rumit nanti. Saya hanya punya waktu 100 hari di sini, setelah itu saya akan kembali ke negeri saya dan tidak akan memberatkan kalian lagi. Hanya seratus hari."
'Dikira 100 hari cuman sejam doang kali ya?' kata Kasa dalam hati.
"Kebersediaan kalian akan menyelamatkan negeri saya." Ucap Akriel kemudian.