twelve - rencana di tengah malam

1155 Words
"Hindari makanan manis dulu. Kau paham? Patuhi ucapan ibumu, itu yang paling penting sampai kondisimu membaik." Mia mengulurkan tangan untuk mengacak rambut bocah itu dengan gemas. Sang ibu tersenyum lega mendapati putranya telah mendapat pengobatan dan akan berangsur membaik setelahnya. "Terima kasih banyak, Mia." "Aku senang bisa membantu." Arata menggeser pintu kamar dan melihat pagi ini Mia kedatangan pasien muda dari penduduk Asakusa bersama ibunya. Mereka terlibat berbincang santai sebelum dirinya turun, memakai sandal untuk pergi ke sekitar sebentar. Geto dan anggotanya sudah tiba lebih dulu di tempat dokter Kaza yang tak tersisa. Mengais beberapa tempat yang ada tanpa terkecuali. "Tidak ada apa pun tertinggal dari tempat ini," ujar Geto dengan dengusan keras. "Mereka tidak berniat membiarkan jejak apa pun masih ada." Arata hanya diam. Memandang reruntuhan bekas kebakaran dengan tatapan menerawang. Saat anggota memilah puing yang masih ada, Arata teringat akan sesuatu. "Aku akan datang ke rumah pemimpin desa Asakusa sendirian, tak perlu ditemani oleh siapa pun. Yang juga termasuk dirimu." "Kau bertindak gegabah," tegur Geto setelah meminta anak buahnya untuk pindah ke lokasi baru. "Mereka terbukti menyimpan barang aneh dan menanam tanaman tak biasa yang tidak sama sekali berguna untuk penduduk Asakusa. Para pedagang memanfaatkan ini sebagai ladang bisnis, termasuk kepala desa itu sendiri. Apa insiden itu hanya sebagai pengalihan?" "Aku tahu mereka juga menyuruh seseorang yang cukup misterius. Kau sudah melihatnya, kan?" tanya Geto serius menatap skeptis pada beberapa orang yang lewat dengan masam. "Kau perlu bersikap lebih siaga. Tidak ada yang bisa menduga kejadian di menit berikutnya." "Tidak memungkinkan keberadaanku sudah diketahui banyak orang. Termasuk petinggi pusat di Tokyo." Arata menatap Geto yang memasang raut dingin. "Jika mereka mendengarnya, aku akan diberi mandat untuk kembali." "Apa mereka ingin mengulang kisah yang sama dua kali?" gerutu Geto masam melirik Arata saat berjalan pergi dari rumah Kaza. "Tidak semua yang duduk di sana selalu berpikiran waras. Mereka cenderung berkata semaunya tanpa pikir panjang." Kedua kaki Arata berhenti melangkah saat melihat Mia muncul dan seolah bersiap berangkat ke suatu tempat. Sebelum gadis itu menghilang, tatapan mereka bertemu canggung. "Dia tabib itu?" "Iya," balas Arata ringan. Geto tidak membuang waktu untuk menghampirinya. Mia berhenti, menunggu pria itu mendekat dengan wajah bingung. "Geto, aku kepala tim kepolisian sektor dua." "Kau bukan dari Asakusa." "Bukan. Kedatanganku kemari karena pria itu," tunjuk Geto pahit pada Arata yang datar. "Dan karena mendengar banyak kejadian di Asakusa. Aku tidak akan banyak bicara lagi karena membutuhkan keteranganmu segera." "Apa kau akan membawanya pergi ke suatu tempat?" Kening Geto berkerut dalam. "Aku tidak melakukannya. Untuk sementara dia harus menetap di Asakusa. Aku yang memintanya untuk bertahan lebih lama di kota ini." "Kau sudah tahu siapa dirinya?" Mia menatap pria itu penasaran lalu diam. "Kuasumsikan kau sudah kenal," sahut Geto dengan desisan. "Karena pemimpin tempat ini mengacau bersama pebisnis yang kuberi tanda merah, aku harus mengulik latar belakang mereka sebelum menyebar lebih luas. Tugasmu hanya membantu." Mia melirik Arata yang diam dan menatap ke arahnya. "Aku akan berusaha apa pun yang kau butuhkan." Kalimatnya terlihat serius dan Geto mengangguk tanpa perlu menunggu lama. "Aku bisa membawamu ke ladang di dekat perbatasan." Sebelah alis Geto terangkat naik. "Itu ide bagus. Karena aku butuh alasan untuk mampir ke rumah pria tua itu," dan melihat ke arah Arata sekilas. "Kau bisa ikut bersamaku, Arata. Melihat kemampuanmu sekarang, aku meragu dirimu bisa berhasil di atas mereka semua." "Aku juga bisa seperti dirinya," sahut Mia polos dan tampak apa adanya. "Kalau sekadar memakai alat dan melindungi diri, aku cukup terlatih. Diriku menguasai ilmu bela diri dari seorang guru hebat." "Kau cukup pada batasmu, tabib. Asakusa pasti sangat bersedih jika kehilangan perempuan berbakat sepertimu." Geto melangkah mundur, memberi Mia ruang untuk berjalan saat matanya mendelik Arata dan kembali memandang lurus ke depan. *** Geto hampir saja mencela ladang ini dengan kasar andai dia kehilangan kesabaran. Sedangkan Mia berlutut, memandang secara jelas batang tanaman untuk memeriksanya lebih lekat. "Aku hanya mencemaskan cara buruk pria itu dengan penduduknya sendiri kalau mereka telah mengetahui kebenarannya," katanya setelah bangun membersihkan lutut dan tangan. "Dia bisa melakukan segala cara untuk membuat kami semua diam tanpa bergerak." "Dia harus dihentikan. Aku mencium adanya rahasia lain. Sebuah gudang terpencil yang mungkin menyimpan kelinci percobaan," ujar Geto sinis berjalan untuk melewati ladang dengan kasar. "Aku tidak mau menunggu lagi." Mia menoleh, melihat sekurangnya ada empat orang yang tergeletak karena perbuatan Geto. Arata bahkan tidak perlu menunjukkan kemampuannya melalui mereka di depannya. "Bawahan para pedagang dan kepala desa bukan orang kelas sembarangan. Mereka mampu mengukur dari jarak jauh atau pun dekat," sambung Mia pada Geto yang memunggungi. "Arata pernah menemui salah satunya." Geto berbalik dengan kening mengernyit. "Bekas pada punggung tangannya adalah bukti. Kenapa kau membiarkan mereka menyentuhmu?" Arata hanya bergeming, memilih untuk tidak bersuara. "Kau merasa kehebatanmu menurun dan menjadi payah? Ini caramu untuk bertahan dari mereka di saat semua memakai perlengkapan yang lebih modern?" tanya Geto dingin. "Kenapa dengan terluka? Manusia wajar mengalaminya," sahut Mia dan Geto menautkan alis, memandang sang tabib datar. "Dia berupaya dan luka adalah hal yang pasti." "Dia tidak pernah begitu sebelumnya. Tak ada pendekar siapa pun yang bisa memberinya bekas." Geto membalas masam dan kini Mia yang terdiam. "Kita kehabisan waktu dan aku tidak diam saja. Mereka yang berkhianat demi kepentingan pribadi akan menyesal malam ini." Geto berlari mendahului Arata yang kaku, memandang ladang datar tanpa ekspresi berarti. "Kau harus lekas bersiap. Jika aku bisa meruntuhkan rumah itu malam ini, aku akan melakukannya. Kita merencanakannya untuk menghindari pertanyaan dari atasan." Lalu pria itu berbalik, meninggalkan keduanya di sawah yang luas dalam sepi. "Aku sudah menemukan bahan terbaik." Pandangan kelam Arata bergulir ke arah gadis itu. Saat Mia menghampiri, menatap gelisah pada empat orang di depannya. "Untuk berjaga jika mereka melakukannya, aku bisa menyelamatkan banyak penduduk." "Surat dokter Kaza membantumu." Kepala Mia menggeleng. "Aku akan memberikannya padamu. Itu hanya denah sebuah rumah, mungkin tempat tersembunyi di dalam ruangan pemimpin Asakusa. Aku tidak tahu seperti apa itu dan belum pernah masuk sejauh dugaan." "Kau tahu jika dokter Kaza telah tiada?" Mia mengangguk sedih. "Sagara memberitahuku. Dokter Kaza tidak berhasil selamat untuk sampai ke tempat tujuan." "Aku akan menghentikan ini sebelum terlambat." Arata menghela napas, memandang mereka yang tersisa dengan datar. "Pria tadi nampak mencurigakan?" Arata mengerutkan kening menggeleng tipis. "Dia bagian dari petinggi pusat. Hidupnya mengabdi untuk warga sejak dulu. Aku memastikan dia tidak akan berbelok dari ajaran murni." "Aku merasa lega mendengarnya," sahut Mia dengan senyum samar dan Arata berjalan memutar, meninggalkannya sendirian di ladang. Geto menunggu di depan perbatasan. Saat Arata tiba dan Mia mengikuti, gadis itu mengangkat tangan untuk mengalihkan perhatian mereka berdua. "Kau ingin bertanya sesuatu?" "Apa aku boleh bergabung? Maksudnya, pergi ke rumah kepala desa bersama kalian?" Alis Geto tertekuk dan Arata meneleng, mengamati keseriusan pada wajah cantik itu secara seksama. "Kami tidak membutuhkan murid dojo anggar untuk hadir ke rumah kepala desa. Akan lebih baik kalau guru itu yang turun tangan membela kebenaran," sahut Geto sinis dan berbalik menjauh, membiarkan Mia yang keheranan jengkel. Apa dia bilang?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD