eleven - berlalunya sebuah mimpi

2303 Words
Dari balik gerbang besi besar yang ada, Mia bisa melihat gelagat santai kepala desa dengan beberapa bawahannya sedang berbincang. Sorot matanya yang menatap muak tidak lagi bisa terbendung. Kekesalan yang terpancar begitu terang nampak jelas. Saat beberapa penjaga menegurnya dengan sinis, Mia sengaja mengabaikan. "Oh, aku kedatangan tamu luar biasa hari ini." Pria itu menghampirinya dari balik gerbang yang terpasang. Seakan pria menyebalkan itu ingin meledeknya, Mia tetap tak gentar. "Apa kau datang untuk menjenguk putriku yang sedang terbaring lemah di kamar?" Senyum mencela itu hadir kala pintu terbuka. Mia mendongak, melihat pria bertopeng misterius yang menatapnya dari ujung pohon besar lain, seakan mengawasi dan menilai dirinya. "Kau bisa masuk, tabib. Pahlawan yang akan menyelamatkan Asakusa dari kegelapan." "Aku akan menggagalkan semua rencana busuk itu demi melindungi semua orang." Mia bertekad dalam suaranya, yang membuat sang kepala desa menahan senyum setelah membuang cerutunya sembarangan. "Apa pun. Aku melakukan upaya untuk menyelamatkan mereka darimu." "Kenapa kita tidak duduk dan berbincang hangat selagi mendengarkan ceramahmu?" tanya kepala desa ramah. "Kau mau masuk ke rumah?" Mia mengambil napas, membuangnya perlahan dengan cibiran. "Bagaimana bisa ladang tersembunyi itu menyimpan seluruh dosa?" Kedua mata pria itu yang dingin memicing ke arahnya. "Bisnis tetap berjalan dan aku tidak bisa membahas usaha pada orang lain, terutama pada sosok sepertimu." "Kita hanya perlu waktu untuk menanti kebenaran sesungguhnya terungkap. Bukan begitu, Tuan Sagara?" Mia tersenyum manis, penuh kepalsuan yang melelahkan. "Kebenaran jika kau menyimpan seorang bertangan dingin di dalam rumahmu?" seakan itu belum cukup membuat Mia membeku, Sagara melanjutkan menjatuhkan kalimat itu di atas kepalanya. "Aku benar. Pengembara asing itu tidak memberitahu siapa dirinya kepadamu." "Apa?" "Arata, sang pendekar dari Kyoto. Kau tidak mengenalnya? Dia menumpang hidup dan tidur di rumahmu lalu kau membiarkannya begitu saja?" Sagara tertawa sinis. Ekspresi Sagara berubah geli saat menyadari keseriusan itu menyentuh telak pada Mia. Sang tabib muda terlihat resah sekaligus heran, kedua matanya menari dalam ragu. "Semalam dia berhasil melenyapkan beberapa orang penting yang menjalin kerja sama denganku. Asakusa rupanya punya malaikat pelindung yang asalnya belum bisa dipastikan. Untuk apa dia ke kota ini? Arata melarikan diri dari kubunya sendiri demi mencari sesuatu. Kau juga tidak tahu akan hal itu?" Mia membuang napas lirih. "Aku tak peduli siapa dirinya." "Dia terbiasa melakukannya pada banyak orang, ratusan dalam satu malam. Tangannya sudah berlumuran. Selamanya akan menjadi sosok dingin. Dia adalah pendekar paling hebat yang terkenal sebelum era baru. Kau juga tidak mendengarnya?" Sagara melepas tawa mencelanya ke arah Mia. "Kau tabib muda naif dan aneh." "Tidakkah kau mendengarnya?" Mia mendengus kesal. "Aku tidak berurusan dengan alasan tersebut." "Kedatangannya ke Asakusa adalah bencana, Mia. Kau seharusnya berterima kasih karena aku tidak sebaik itu. Tetapi aku berhasil menghilangkan Kaza. Kau perlu merasa beruntung sekarang." Tubuhnya membatu, mendadak kaku saat matanya melihat si pria bertopeng misterius menatap ke arahnya. Sorot kedua matanya seolah memancarkan kesenangan, kegembiraan pribadi. "Kau berbuat apa pada dokter?" "Kau pikir upaya remeh itu berhasil membawanya pergi ke tempat yang dia mau? Kaza harus membawa rahasia itu sampai di akhir napasnya." Suara tawa membahana Sagara membuat pendengaran Mia berdenging. Gadis itu mengulurkan tangan ke arah sang kepala desa hingga terjatuh yang membuat para penjaga waspada, segera mengacungkan benda mereka ke arahnya. "Kau yang seharusnya sadar diri atas kelakuanmu." Suara itu menggema semakin keras ketika tubuhnya terhuyung ke belakang. Mia tidak akan bisa menahannya. Tidak bisa berhadapan dengan sang dalang seorang diri. *** "Terima kasih untuk hari ini." "Liana, bisakah kami menumpang mencuci baju?" Gadis kecil itu tersenyum manis. Menaruh kayunya ke tempat semula dan berlari saat anak lain mengekori. Saito membungkuk pada papan nama milik keluarga Mia yang tertinggal dalam dojo. Selamanya, tulisan itu akan berkesan untuknya. Sebagai jalan hidupnya, pedoman dalam menunjukkan jalan kebenaran hakiki. "Paman." "Kau sudah kembali," ucap Saito mendengar suara lirih dari belakang. "Bagaimana situasinya?" "Aku harus bicara sesuatu padamu." Saito melirik dari sudut mata, mengulum senyum ramah. "Apa ini tentang Arata si pengembara itu?" "Sang pejuang hebat dari Kyoto." Mia mengulang kalimat Sagara sebelum dirinya pulang ke rumah. "Dia pergi bukan tanpa tujuan dan arah, tapi mencari kehidupan baru." "Sagara memberitahumu tentang Arata?" Mia bergeming canggung. "Paman sudah tahu?" Saito mengulum senyum tipis. Menggeleng lemah sebagai balasan. "Arata juga tidak berbicara apa pun padaku. Dia juga diam dan mengenalkan dirinya sebagai sosok tanpa arah. Bagaimana bisa aku menyadarinya? Aku mungkin mengenalinya sebagai pendekar dari katana yang selalu dibawa." "Untuk apa dia ke Asakusa?" "Kemungkinan bekerja untuk seseorang atau malah sebaliknya." Saito membalas santai, tidak membiarkan Mia terpancing berkat kalimat lelucon Sagara. "Sebab lain melarikan diri dari kehidupannya juga ada." "Ini alasannya dia tahu siapa diriku? Bagaimana silsilah keluargaku yang tersembunyi rapat?" "Apa dia bicara begitu padamu?" tanya sang paman lekat. "Dia berkata tentang keluargamu dan masa lalu. Kalian saling mengenal. Dia tidak bicara hanya menurut pengalaman dan kacamatanya?" Sekali lagi Mia mematung. "Sagara mungkin berpikir kalau Arata adalah suruhan petinggi Tokyo. Dalam tubuh mereka, tidak semua orang bertangan dingin. Jika dia bekerja untuk sosok yang benar, maka perjalanan ini disebut memiliki tujuan bagus." Mia menghela napas lelah. "Dia lebih hebat dari paman?" "Aku tidak pernah melihat kemampuannya selama di sini," balasnya setelah terkekeh dan mengambil tempat untuk istirahat. "Bisa saja dia adalah pejuang setelah zamanku. Dia lahir sehabis gejolak baru yang menuntut semua generasi muda harus pandai bela diri." Saito meraih kayu miliknya yang tergeletak, menatapnya dalam. "Pada dasarnya benda ini hanya alat. Kemampuan sesungguhnya ada pada diri pribadi. Kau masih bisa melukai tanpa harus menggunakan ini." Tidak ada percakapan setelah Mia menunduk. Mata gadis itu menatap sendu pada ilmu yang dianut keluarganya selama ratusan tahun. Ajaran bertahan, membela yang lemah tanpa menyakigi. Berkonsep yang bertolak belakang dengan jalan Arata sesungguhnya. "Kau berpikir karena ilmu yang kalian pelajari berbeda. Arata dan kau serupa melindungi yang lemah," ujar Saito melihat Mia yang merenung. "Kehidupan yang kalian miliki juga berbeda. Aku sama dengannya sebelum bertemu keluargamu dan memutuskan untuk berhenti." Mia memejamkan mata, menatap lantai kayu dengan gelengan pelan. "Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Lalu mereka semua tahu?" "Tidak, mungkin julukan itu tidak berlaku hanya untuk Arata saja. Karena dia masih menjalani perjalanannya dengan aman dan nyaman selama ini." Kedua mata Mia membuka lamat. Saito mengamatinya dari dekat. Tidak lagi bersuara atas apa pun dan memilih diam. *** Arata mengamati puing yang tersisa dari rumah dokter Kaza. Tidak ada yang tertinggal dari kediaman dokter senior tersebut. Semua habis telah rata dengan tanah. Beberapa barang hangus menghitam. Seakan kepala desa dan pebisnis bekerja sama untuk menutup mulut semua penduduk Asakusa agar tidak berani berbuat lebih jauh dari ini. Kepalsuan baru saja terjadi di tempat terpencil. Apa pun yang Mia cari, dia tidak akan menemukannya. Kaza telah melarikan diri dan kemungkinan kalau Arata menduga dokter malang itu tidak akan selamat walau Mia membantunya kabur di pagi buta sekali pun. "Seseorang memintamu untuk bertemu." Arata berbalik, melihat dua anggota datang menemuinya dengan raut datar. "Siapa?" "Kau diminta untuk segera menghadap di kantor setempat." Dia berjalan pergi setelah berjalan mengekori kedua anggota tersebut ke kantor. Jalan yang mereka lalui berbeda dari sebelumnya. Arata tidak melewati rumah warga, melainkan hanya memutar jalan. Salah satunya membuka pintu kayu itu untuknya. Arata diberi waktu untuk masuk, ruang untuk berbicara saat cahaya matahari hanya terlihat dari celah kecil yang terbuka. "Lama tidak bertemu, Arata." Si pria dengan seragam berpaling ke arahnya. Memberi senyum tipis yang misterius saat menekan ujung pena ke atas keras. "Sang pejuang berhasil lolos selama beberapa tahun dan secara kebetulan aku mendengarmu di Asakusa. Apa kabar teman?" "Geto." Sapaan itu membuat sang pria tertawa lebar. "Aku patut merasa tersanjung karena kau belum melupakanku setelah pertemuan terakhir kita." "Bagaimana kau bisa ke Asakusa?" "Aku mendengar kabar tentangmu dari anak buahku. Dia seorang detektif handal. Laporanmu tertahan di pintu perbatasan dan aku sudah mengurusnya." Geto mengintip dari celah yang terbuka sebelum mendengus. "Kau dituduh sebagai pesuruh oleh pedagang yang menyewa mantan pendekar. Kepala desa itu akan berbuat semaunya kepada penduduk Asakusa." "Pusat tahu tentang hal ini?" Geto mencibir kecil. "Mengapa? Kau takut ketahuan dan mereka akan membawamu lagi? Berapa banyak keberuntungan yang hinggap pada dirimu? Kau selalu lolos dari malaikat maut." "Aku harus pergi dari Asakusa." Arata telah memutuskan. "Percuma. Kau bersembunyi ke ujung dunia sekali pun, mereka pasti menemukanmu. Kau belum melupakan siapa yang paling berkuasa di negara ini." Geto berpindah untuk menatap Arata lebih jelas. Sudah berapa lama mereka berpisah? Sepuluh atau lima belas? Rasanya tidak lagi terhitung setelah banyak kekalahan demi mencari era baru. "Negara memiliki banyak petaka setelah kalah dari krisis berkepanjangan. Era kita tidak lagi dibutuhkan, tetapi mereka masih memerlukannya untuk beberapa kepentingan." Geto mulai memaparkan. "Semua terganti dengan ragam alat baru. Kau melihatnya dari anggota yang bekerja untuk pemimpin desa." Arata mendengus, menatap Geto dingin. "Kau bekerja untuk petinggi saat ini. Apa begini caramu berterima kasih karena diberikan napas kedua?" "Menginginkan kedamaian sama sepertimu." Geto menghela napas panjang serta memejamkan mata. "Aku menginginkan semuanya berjalan sempurna. Tidak seharusnya kita diperlakukan seperti tak berguna. Mereka tetap pahlawan terhormat." "Aku menentang pemimpin desa ini. Yang dia lakukan sungguh konyol dan menciptakan konflik baru. Dokter senior itu telah tiada. Kami menemukan seseorang yang berada di hulu sungai." Geto memberikan buktinya pada Arata. "Tidak ada petunjuk, tak ada informasi apa pun tertulis. Aku pergi ke Asakusa untuk mencari sumber awalnya." "Dokter Kaza," ucap Arata lirih. "Apa ada dokter lain di desa ini?" "Ada namun dia seorang tabib. Ahli ramuan herbal terbaik di Asakusa." Kedua alis Geto tertaut. "Bagus. Dia akan menjadi sasaran selanjutnya. Kau mengenalnya?" Arata terdiam selama beberapa menit berjalan. *** Kalimat Geto terngiang jelas dalam kepalanya. Arata menengadah menatap langit yang cerah malam ini setelah kemarin malam Asakusa dilanda hujan badai yang cukup lebat. Menunduk menatap tangannya sendiri, Arata sudah memutuskan untuk mencari tempat lain. Asakusa bukan tempat terakhirnya meski Geto memintanya untuk bertahan sedikit lebih lama. Tidak ada tempat seaman Asakusa di kota baru nanti. "Bertahanlah sedikit lagi di Asakusa." Namun dirinya tidak bisa membiarkan orang lain terusik karenanya. Termasuk sang tabib muda yang banyak membantu, memberinya tempat berteduh dan tidur. Mia berbuat sangat baik padanya dan Arata harus berterima kasih setelah ini. Ketika pintu tergeser, Mia sedang bersantai seorang diri di teras rumah. Melamun memandang langit yang berjaga tanpa bintang. Tiupan angin menggoyangkan daun dan ranting dengan lembut. "Kau sudah tahu siapa diriku." Gadis itu menoleh, menatapnya gamang dan bimbang. Arata melihat dilema yang menyala di matanya saat ia menutup pintu. "Kau bicara dengan paman?" "Aku yang seharusnya tidak membohongimu." Mia terdiam sesaat. Mengamatinya lekat dengan pandangan penuh tanya sebelum menghela napas pendek. "Aku membawamu pulang sebagai pengembara dan bukan seseorang yang mereka sebutkan." Kali ini Arata yang membeku datar. "Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi." "Aku juga tahu bahwa paman pernah berbuat sama sebelumnya. Dia termasuk yang terbaik dalam kelasnya," imbuh Mia cepat. "Dan dia sudah berubah ke arah lebih baik. Paman telah menemukan jalannya sendiri untuk mengarungi hidupnya walau tidak peduli sesulit itu." "Masa laluku sangat gelap." "Kau sudah mendengarnya tadi. Semua orang memiliki rahasianya sendiri. Kau, paman, aku dan siapa pun di luar sana. Aku tidak akan mencampurinya." Mia menyahut dengan jelas beralih menatap pria itu. "Kau tidak bisa pergi dari Asakusa karena merasa bersalah." "Aku bukan orang baik sedangkan dirimu apa adanya. Pamanmu mengajarkan hal sebaliknya, serupa dengan Liana." Arata turun dari teras tengah bersiap memakai sandalnya. "Aku tetap harus keluar dari Asakusa." "Kau punya tempat lain untuk menetap?" Kepala itu menggeleng kecil. "Kau bisa tetap di sini sampai memutuskan untuk pergi karena kau mau, bukan karena merasa takut atau gelisah karena memikirkan seluruh penduduk sekitar." Kedua mata mereka bertemu. Arata membisu larut dalam iris teduh itu selama beberapa menit. Bibirnya terbuka dan kemudian kembali terkatup. "Kau tidak perlu mencemaskanku atau Liana." Yang meluncur hanya sebuah kalimat miris lainnya. "Jangan pernah terlibat denganku." Pandangan matanya merambat turun pada bekas luka yang masih ada di punggung tangan kanan. Arata menyembunyikan tangan berbalik untuk bersiap melangkah. "Aku tidak akan membiarkanmu berjalan lebih jauh lagi." Arata kembali berhenti. Mematung mendengar kalimat lirih itu meluncur untuk menghadangnya. Tidak menyadari dampak itu cukup membuatnya bertahan, memikirkan kembali ucapan gadis itu secara tak sengaja. "Julukan itu hanya masa lalu, benar? Aku juga memilikinya dan tidak akan terpengaruh. Itu hanya kenangan dan menjadi bagian dari yang sudah terlewati." Mia melihat pria itu menoleh, menatapnya datar penuh perhitungan. "Apa mereka semua tahu siapa dirimu, penduduk Asakusa tanpa kecuali?" "Kau mau percaya padaku?" "Kau mengenalkan dirimu sebagai penyintas saat pertama kali bertemu," balas Mia sedih tersenyum tipis. "Dan aku tidak melihat adanya kepalsuan dari sana. Kau tidak bermaksud menipu kami atau siapa pun dengan ucapanmu. Kau sungguh mengembara tanpa tujuan dan berakhir di Asakusa." Mia bangun dari tempatnya. Melangkah melalui tubuh pria itu dan bersandar pada pagar pintu rumahnya. "Aku tidak bisa membiarkanmu ke mana pun sekarang. Tidak untuk saat ini." Bola mata itu berlari mencari objek lain untuk dipandang. Arata mengambil napas berat, memejamkan mata seraya berpikir. "Aku merasa punya teman yang sepemikiran denganku. Kita berada di jalan yang sama, kan? Aku yakin kau akan melindungi lebih banyak orang di masa depan dari pada yang lalu." Menunduk menatap kedua kakinya sendiri, Arata menghela napas datar. Melihat Mia berpindah, melangkah menuju kamarnya sendiri dan membungkuk singkat ke arahnya. "Selamat malam." Dia kembali berteman dengan sepi. Arata menengadah memandang langit yang gelap, kemudian pada lentera yang tertiup lembut. Eksistensi Mia sudah tak lagi ada namun seolah rasanya masih tertinggal. Seakan gadis itu masih berdiri di depannya, menghalangi untuk melewati pagar dan pergi. Mungkin dia harus menetap sedikit lebih lama sebelum memutuskan harus kembali ke mana. Arata menoleh, melihat Saito yang berdiri dengan senyum menatapnya penuh haru. "Aku tahu Mia sudah mengambil pilihan dan aku sepakat apa pun yang dia putuskan dengan bijaksana." Ekspresi Arata belum berubah sejak bermenit yang lalu Saito melihatnya. Si pengembara asing itu terlampau pandai menyimpan segalanya sendirian dengan rapi dan sempurna. Memendam seluruhnya begitu sempurna. "Kembalilah untuk beristirahat, Arata. Ini sudah larut. Selamat tidur." Saito berjalan mundur untuk kembali membiarkannya memeluk sunyi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD