ten - gelap yang mengusik

1158 Words
Liana yang bersemangat pagi ini terlihat lebih baik dari sebelumnya. Mungkin karena faktor Mia telah kembali dan rumah itu tidak lagi sepi. Gadis itu tampak serius menekuni latihannya pagi ini bersama Saito yang mengajarinya beberapa teknik tambahan sebagai bentuk pertahanan terhadap pihak luar. Arata muncul dari ruangan. Terlambat bangun dan melewatkan sarapan. Pada akhirnya dia menyantap makanannya seorang diri di kamar, membersihkan sisa tangannya yang terluka sebelum bergabung bersama lainnya. "Uh, dia sudah bangun." Liana mengendik pada Arata saat mata cokelatnya menatap Mia yang sedang melamun. Tabib muda itu menoleh, mendapati sosok pria yang lebih tinggi sedang berdiri memandang datar ke arah mereka. "Tangannya terluka," kata Liana serius setelah Saito menyudahi sesi latihan secara singkat dan bergegas mendekati Arata. Sebelah tangan kurusnya menyentuh punggung tangan itu dengan perlahan, melihat bekas yang menjalar. "Ini cukup dalam tetapi sudah terlihat lebih baik. Mia yang mengobatimu?" Arata melirik singkat saat membiarkan Liana melihatnya dari dekat. "Iya." Saito ikut duduk dan menghabiskan sisa minuman herbal buatan Mia untuknya. Mengamati interaksi keduanya dengan gelengan pelan. "Semalam hujan turun sangat deras. Aku beruntung karena hanya merasa sedikit kedinginan." "Mia memperbaiki selimutku. Dia juga melihatku semalam," balas Liana setelah ikut bersantai mengambil napas panjang dan berlari mencari air minum karena kehausan. Sementara Mia masih melamun, memandang lurus pada sumur pribadi yang menjadi pemasok utama air terbesar di dalam rumah serta tempat praktik dan dojo. Mereka bergantung dengan persediaan di sana. Saito menggeser tatapannya pada Arata yang bergerak, memeriksa goresan pada punggung tangan kanannya dengan dalam. "Lukanya sudah mengering. Kau akan terbiasa dengan obat herbal yang membantu memulihkan bekasnya secara alami walau terasa lama." Kepala itu hanya terangguk singkat. "Aku harus pergi." Keduanya menoleh, menatap Mia yang sibuk memakai sandal dari kayu untuk bergegas menjauh. "Sekarang Mia? Kau ingin mencari bukti di rumah Kaza tanpa mau menunggu?" "Mereka belum masuk ke tempat itu. Aku harus menemukan sesuatu atau tidak sama sekali." "Kau sulit tidur karena penemuan ini, kan?" Saito menebak dengan seulas senyum. "Tolong jaga dirimu di sana. Ilmu yang kuberikan mungkin saja tidak pernah cukup membantumu menepis mereka dengan mudah karena perlu proses panjang." Arata ikut bangkit saat bersiap mengambil sandalnya. "Aku ikut denganmu." "Tidak usah, tetaplah di rumah bersama paman dan Liana." "Aku tidak mendengarmu." "Aku bisa mengatasinya sendiri," sahutnya cepat ketika mata mereka bertemu. "Aku kembali lebih cepat. Jangan khawatir." Saito menghela napas. "Mia tidak akan mampu meninggalkan tempat praktiknya terlalu lama. Dia pssti pulang sebelum matahari berayun lebih tinggi." Gadis itu mengangguk dan membuka pintu rumahnya untuk berjalan keluar. Menemui beberapa orang yang bercengkerama, menyapanya dengan ramah. Sikap penduduk yang tenang dan seolah tidak terjadi apa pun hanya membuat Mia semakin gelisah. Dilanda rasa takut berlebihan malah membuatnya sakit kepala. Petugas setempat mungkin sudah mendengar ini dan mereka memutuskan untuk tidak melakukan apa pun. Terutama hilangnya dokter senior terkemuka di desa mereka, Kaza yang pergi secara mendadak setelah terlibat sebuah proyek rahasia bersama kepala desa. Penduduk hanya tidak ingin menempatkan diri mereka sendiri dengan melanggar batas terhadap aturan yang berlaku. Terutama para pejuang yang kehilangan jati diri serta kepercayaan mereka di masa lalu akibat kasus yang memilukan serta mimpi buruk tak berkesudahan. Rumah dokter Kaza masih utuh. Nampak jelas terlihat dari kejauhan. Mia sedikit berlari, memangkas jarak yang semakin dekat saat matanya berbinar menemukan pintu masuk terbuka. Namun sebelum tangannya menyentuh gagang, sesuatu seperti suara kembang api terdengar keras. Membuat penduduk yang lewat bergema riuh karena refleks berteriak, tubuhnya terhempas sedikit lebih jauh dari tempatnya berdiri semula. "Mia?" "Aku tidak apa," gadis itu lekas bangun dan lirihan masih terlihat saat kobaran menyapu habis rumah setelah suara itu terjadi. Kediaman dokter Kaza kini hilang, terlalap si jago merah yang tak bisa terkendali. *** Bunyi keras serta asap pekat yang membumbung ke angkasa menarik perhatian Arata yang sedang merenung. Bersama Saito yang sejak kepergian Mia tidak membuka suara dan Liana yang berlari dengan kedua mata kucingnya melebar panik. "Mia ada di mana?" Saito memejamkan mata, menghela napas pendek. "Mereka sungguh tidak membiarkan Mia menyentuh apa pun di sana." Sebelum Arata melangkah pergi, pagar kayu tebal itu terbuka dan Mia muncul setelah terbatuk pelan. Gadis itu bergegas masuk ke dalam rumah, membersihkan wajah dan tangannya lalu mencari air minum baru. Lima menit setelahnya Mia baru terlihat lebih normal. Manik teduhnya melihat bayangan Arata yang berdiri seolah ingin menyusulnya. Kemudian pada Liana yang menghampirinya. "Mereka sengaja melakukannya kepada rumah dokter Kaza." Saito menepuk bahu Arata lebih lembut. "Kau bisa bersantai. Dia sudah pulang tanpa kekurangan." "Aku akan memeriksanya sebentar." Mia cepat berlari, merentangkan tangan untuk menahan pria itu pergi dari rumah. "Kau tidak bisa ke sana saat banyak orang dan petugas setempat sedang sibuk mendinginkan situasi." "Mereka semua tidak ada gunanya," sahutnya dingin dan menggeser bahu itu untuk lewat. "Aku harus mencari tahu itu sendiri." "Nanti, aku tidak memberikan izin padamu keluar dari pintu ini." Liana memandang keduanya dengan tatapan bingung. Sesaat matanya melirik Saito yang diam hanya ikut menatap. Lalu melihat Arata yang kembali mundur tanpa mendebat membuat senyumnya berubah geli. "Mia memang keras kepala. Kau tidak akan mampu membantahnya saat sedang mode seperti itu. Aku juga memilih mengalah jika jadi dirimu," dan menyadari pria itu memilih untuk berbalik dari pada bersuara. "Aku pergi ke rumah dokter Kaza demi mendapati sebuah petunjuk baru. Karena tanaman itu sangat aneh, aku pikir dokter punya barang yang mendukung penemuan tersebut." "Dia meninggalkan catatan untukmu, kan?" tanya Arata tertarik. "Itu tidak membantu dalam hal apa pun," sahutnya. "Segalanya yang direncanakan kepala desa dengan para pedagang tidaklah bagus, terutama untuk kepentingan banyak orang." Saito menukas dengan desisan. "Kaza mengetahui yang tersembunyi atau mungkin dia terlibat dalam urusan tersebut sehingga memilih menyelamatkan diri karena takut sekaligus rasa bersalah. Semoga dia tetap hidup dan bernapas." Liana mendengarkan secara seksama. "Apa kita bisa menghadapi mereka? Tindakan ini diperbolehkan oleh para petinggi?" "Ketidakstabilan, kepentingan beberapa pihak dan mereka membutuhkan tambahan pemasukan. Ini tentu menjadi lahan sendiri dalam mengais keuntungan." Mia menjawab pertanyaan Liana. "Kau tidak bisa menghadang mereka semudah itu dengan kemampuan lemahmu yang sekarang." Gadis kecil itu cemberut. "Aku akan belajar lebih giat untuk berhasil berada di puncak. Kita tidak perlu melukai, kan? Hanya berusaha dan bertahan mereka hingga menyerah lalu menyesal." "Tidak semua dari kubu itu termasuk manusia bersih," ujar Arata skeptis menunduk menatap punggung tangannya sendiri. "Beberapa memiliki kekuatan dan manipulatif. Dia bisa mencuci banyak pemikiran lainnya demi kepentingan diri sendiri. Yang membuat banyak orang menderita dan harus menanggung risiko. Sosok itu yang harus kita perhatikan." Saito mengalihkan tatapannya ke arah Arata cukup lama. Seakan menyadari arah percakapan mereka terkait masa lalu yang kelam dan penuh insiden pilu. Masa menegangkan sekaligus kegelapan sebagai seorang pejuang terbaik dari kota utama. "Apa kau mengenal mereka, Arata? Salah satu dari yang berkuasa yang sangat penting dalam tubuh jajaran kelas atas?" Arata bungkam, bergeming selama beberapa menit lamanya saat matanya bergulir memandang Mia dan Saito yang menantinya bersuara. "Iya, aku sempat mengenalnya walau sebentar saja." Saito seolah tidak terkejut. Lain halnya dengan Mia yang mematung, kehabisan kalimat untuk sekadar bersuara atau membalas ucapan pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD