"Kaza rupanya tahu sesuatu."
"Dia punya rahasia yang tidak bisa dibagikan," kata Mia setelah menurunkan kepalanya guna melihat lebih jelas cairan yang tercampur dalam wadah dengan memakai serpihan kayu yang menyerupai sendok kecil sebagai pengaduk. "Aku membantunya melarikan diri pagi sekali."
Saito duduk dengan tenang. Menyeruput ocha hangat miliknya sebelum para murid datang untuk belajar. Meski mereka tidak lagi mengutamakan pendekar sebagai anggota penting, budaya turun temurun khas Jepang masih memungkinkan pendekar memiliki tempat dan nama untuk unjuk diri. Terutama karena kondisi di sini belum mengarah pada kata stabil.
"Kau sudah melihat Liana?"
"Dia mengeluh sakit kepala," balas Mia setelah beristirahat dan menunggu sampai air itu panas untuk mencari kadar bahan utama seberapa jauh bertahan. "Aku sudah memberinya tanaman herbal. Dia tidak demam sama sekali padahal."
"Dia mengeluh sakit karena menangisimu. Bocah satu itu hanya bergengsi besar," Saito menghela napas melihat pintu terbuka dan Arata muncul membawa nampan berisi akar dan daun alami.
"Kau meminta Arata memetik semuanya?"
Gadis itu berjinjit untuk mengintip ke arah nampan. "Tidak."
Dan benar saja saat Arata menyambangi dapur, dia menaruh benda yang berisi akar tanaman dan daun ke atas meja. Ada beberapa bunga liar yang dijadikan satu dengan tumbuhan lain.
"Aku tidak tahu apa ini benar atau salah, tapi tanaman yang kulihat tidak hanya ada di Asakusa. Di tempat lain bahan ini cukup berguna."
Mia mendekat, melihat beberapa contoh daun dan akar dengan alis bertaut. "Bagaimana kau tahu tempatnya berkembang?"
"Bertanya pada anak kecil yang bermain. Ada beberapa tempat yang dilindungi anggota dengan bergantian." Arata mengangkat bahu acuh. "Kalau salah satu tempat tersebut menyimpan penawar hebat, itu bisa saja memungkinkan. Mereka tidak mau dasar itu tersebar luas ke masyarakat."
"Dia benar." Saito kali ini setuju dengan si pengembara.
"Pedagang yang bekerja sama dengan petinggi dan kepala desa untuk menyembunyikan sesuatu ke dalam Asakusa." Mia mengambil kesimpulan setelah terdiam cukup lama. "Jika benar alasan itu bisa mencemari air tanah, efeknya sungguh lebih besar dan tak terbayangkan."
Saito menatap Mia serius. "Bagaimana penemuan terbarumu?"
"Daun ini sangat asing. Tapi melihat bentuk dan aromanya, itu bisa membuat manusia hilang akal. Seperti adrenalin yang terbentuk untuk terus mencoba lagi tanpa henti. Jika seseorang sudah merasakan, akan sangat sulit untuk lepas dan menyerah."
"Lalu itu sesuatu yang tak biasa karena berlebihan," tukas Arata menimpali.
"Kalau kita bisa mencegah lebih banyak penduduk sebagai kelinci dan mencari solusi terbaik, kita bisa mengurangi segala hal di masa depan."
Saito menghela napas panjang. "Ini sebabnya mereka tidak menyukaimu dan Kaza memilih melarikan diri. Dia tidak mau terlibat lebih jauh dan tahu benar kau sangat berpotensi. Dia seperti sengaja membiarkanmu ke tepi dataran tinggi."
"Dokter Kaza tidak punya pilihan bagus," aku Mia dengan senyum. Membiarkan Saito kembali menggeleng sesal.
"Kau disisihkan karena menjadi seorang bangsawan."
Kalimat Arata membuatnya diam. Saito melirik pria itu dengan bibir menipis, sementara Mia menunduk untuk berpura tidak mendengar kalimatnya.
"Gejolak dalam kubu kanan yang tidak stabil akan melahirkan banyak spekulasi serta amarah baru." Saito menatap keduanya dengan datar. "Dimulai dari insiden keluarga berdarah biru secara massal, kehilangan para pejuang hebat dan era yang muncul. Mungkin mereka ingin menghapus sejarah dengan menciptakan tatanan lain dan melupakan pahlawan sebenarnya."
Saito bangun dari tempatnya. Meninggalkan Arata dan Mia berdua dalam sepi. Keduanya hanya tercenung, tidak mampu membantah selain mengembuskan napas bersamaan.
***
Mia setuju membawa dirinya untuk kembali pergi. Kali ini dia membawa sesuatu yang tersembunyi sebagai pegangan. Ketika Saito sibuk mengajar dan Liana tertidur, dia memanfaatkan waktu untuk pergi dan bergegas.
Sepinya rumah dokter senior Kaza menimbulkan banyak pertanyaan. Bahkan dalam perjalanan sebagian penduduk bertanya ke mana perginya sang dokter setelah terlibat urusan dengan keluarga kepala desa. Kabar baru semakin bermunculan pasca dirinya terluka. Kepercayaan penduduk menurun tetapi mereka tidak bisa berbuat lebih selain diam. Terutama para mantan pejuang yang sudah kehilangan jati diri mereka.
Mia menyusuri jalan dengan perlahan. Memantapkan tekad serta meningkatkan perhatian untuk lebih awas. Saat matanya bergerak mencari, ia sengaja berguling untuk menutupi jejak dan melihat beberapa orang berdiri di sekitar tempat bersama para pria berbadan cukup kekar dan gagah. Mereka membawa benda di tangan dan barang berbentuk pendek. Sesuatu yang bisa digunakan dari jarak dekat.
Napasnya tercekat dan keringat mulai mengaliri pelipisnya. Mia menarik napas pelan, membuangnya lamat setelah kembali membungkuk dan masuk ke sebuah ladang sepi.
Kali ini tampak tanamannya berbeda. Berbentuk bulat dan menutup serta sedikit lancip. Sebelah tangannya terulur mencari sampel dan barang bukti itu penting demi melandasi terciptanya cairan itu dibuat. Kepala desa tidak mungkin menebar secara sengaja apa bila dia menginginkan hal dari warganya sendiri.
Di saat memikirkan keselamatan penduduk Asakusa membuat perutnya mual.
Kemampuannya tidak sehebat itu walau bela dirinya lumayan. Guru Saito yang selalu mengajarinya ilmu melindungi dari setiap kejadian dan letak kesalahan ada pada Mia yang menginginkan dirinya fokus pada bidang kesehatan.
Ia bergegas pergi setelah mendapat beberapa contoh dari setiap sawah yang mencurigakan. Lahan itu milik kepala desa dan tidak ada satu pun yang berani datang atau menyentuhnya. Sudah menjadi rahasia umum dan kerap terjadi selama satu dekade.
Mia kembali berlari setelah melihat kebebasan. Sebelum suara lain menggema, membuat tubuhnya membeku. Kedua kakinya terasa semakin berat, harus berupaya untuk berlari semakin jauh.
Dia harus pulang ke rumah apa pun risikonya.
Dengan susah payah berjalan, Mia melihat cahaya. Tahu bahwa alarm itu akan sampai pada keluarga atasan serta bawahannya yang menyebalkan, Mia akan kembali mendapatkan nasib yang sama seperti kemarin.
Tetapi tubuhnya menyentuh punggung seseorang. Mia terhuyung jatuh, memungut tanaman aneh tersebut dan mendengar suara tawa keras dari seseorang. "Kau?"
"Menyadari bahwa pengembara asing ini bisa menemukan bayanganku, itu luar biasa hebat."
"Kau bilang apa?" Arata mengerutkan alisnya sebelum menyadari sesuatu dan rahangnya mengetat. "Kau belajar ilmu bayangan dari Shibuya, benar?"
Pria bertopeng misterius dengan busur malah menunjuk mereka sinis. "Untuk kelas manusia sepertimu, kau tahu banyak tentang pengetahuan para pejuang. Apa mungkin kau hadir atas perintah seseorang?"
Arata mencibir dingin. "Aku tidak diperintah oleh siapa pun."
"Baiklah. Alasan yang bisa kuterima. Kalau begitu, aku akan dengan sabar menanti adu kehebatan yang sebenarnya antara kita berdua."
Si pria penuh rahasia berjalan pergi setelahnya. Melewati satu sawah ke pohon lain dengan gesit. Mungkin dia berasal dari pejuang jarak jauh mengingat selalu membawa busur. Namun mendapati sarung itu ada, kekuatannya bukan hal yang pantas diremehkan.
"Apa maksudnya tadi?"
Arata membuang napas pendek. "Ilmu bayangan yang sempat terkenal pada tahun 1800. Tidak semua orang bisa mempelajarinya. Hanya satu dari sekian juta pendekar yang mampu dan dia termasuk salah satunya. Aku hanya melenyapkan bayangannya. Dia menggunakannya sebagai alat untuk mengukur kemampuanku."
"Lantas dia menyadari kelemahanmu?" tanya Mia panik.
"Aku tidak tahu."
***
Saito melihat Arata duduk seorang diri. Saat Mia pergi ke rumah warga untuk memeriksa kondisi seseorang, rumah dibiarkan sepi. Liana masih pulas dan Mia memintanya untuk tetap tidur, tidak membiarkan gadis kecil itu pergi berlatih di dojo.
"Biar kuberitahu beberapa hal yang sekiranya membuatmu mengenal Asakusa," kata Saito setelah mengambil tempat di sebelah Arata yang melamun. "Tempat ini indah, sangat malahan akan tetapi tidak semua manusia memiliki hati yang bersih dan keluarga itu salah satunya. Dia mendapatkan banyak keuntungan dari bisnis tersebut. Pedagang kaya dan petinggi yang tidak pernah cukup. Pada dasarnya mereka semua punya kepentingan sendiri demi mencapai misi."
"Tidak ada bedanya dengan kota lain," sahut Arata datar. "Mereka juga akan melakukan perbuatan yang sama demi diri sendiri dan kekayaan."
Saito menoleh ke arah Arata dengan senyum skeptis. "Banyak dari pejuang kita yang mundur dan tertekan karena merasa mereka hanya menyiakan waktu selama ini. Sebagian dari itu merelakan hidup sebagai suruhan atau kelinci demi mendapat kehidupan yang baik. Demi era baru yang membutuhkan kesetiaan."
"Apa ini alasanmu mundur?" Arata menatap datar pada awan yang bergerak melintasi langit. "Karena menyadari benar bahwa menjadi pejuang tidak ada gunanya lagi?"
"Aku hidup sesuai kemauanku. Jalanku sendiri dalam mewarisi ilmu yang menjadi pedoman hidup keluarga Mia selama puluhan tahun," balas Saito tanpa ragu dan Arata menoleh untuk mengamati ekspresi sang guru.
"Mereka tidak akan melihatmu sebagai pahlawan di era terkini. Jika dunia baru memang harus berdiri, kau mesti berani menghadapi kelas atas sekali lagi."
Arata menarik napas, melipat tangannya dengan decakan samar. "Apa kau akan kembali ke masa lalu lagi? Setelah sekian lama berhenti dan memutuskan menjadi guru di sebuah dojo, kau menginginkan milikmu itu hidup sesuai jalannya?"
"Andai itu merasa diperlukan mungkin saja ada kemauan," Saito tertawa pelan. "Aku sibuk mengurus orang lain dan tidak terlalu memikirkan hal tersebut setelah tahu bahwa manusia sangat berharga. Kita adalah kerabat satu sama lain."
Ekspresi datar itu berubah walau hanya sepersekian detik. "Aku tidak mengerti."
Saito bangkit untuk sekadar mengambil daun gugur dari pohon. Mengangkatnya ke atas, membiarkan langit biru sebagai latar pencahayaan.
"Apa kau hidup hanya sebagai mesin berjalan? Putaran roda ini menghabiskan banyak waktu, apa yang sudah kau temukan? Jati diri mana lagi yang kau cari sampai ujung dunia?"
"Bagaimana caramu bernapas setelah ini? Mimpi seperti apa yang kau inginkan?" Saito berbalik sembari menatap Arata hangat. "Pertanyaan paling dasar yang selalu muncul dalam kepalamu. Itu reaksi kecil yang tidak bisa kau kesampingkan begitu saja. Akan selalu ada melulu bertanya tentang kalimat yang serupa. Dirimu tak bisa menemukan jawabannya meski telah berlalu dan semakin jauh."
Gemerisik suara sarung memindahkan perhatian Saito pada katana milik Arata. Dia tidak akan bicara atau menilai kehebatan tangan seseorang termasuk pria itu. Biarlah itu tetap menjadi rahasia pribadi.
"Sejauh apa pun kau berlari, seseorang yang pernah mengenalmu di masa lampau akan tahu siapa sosokmu. Secara jelas pernah melihatmu sebagai orang yang sama dan tak akan berubah."
Kalimat Saito membuatnya membeku tanpa ampun. Saat sang guru pergi dan membiarkan Arata sendiri di teras, rasanya sangat hampa.
***
Hujan mengguyur Asakusa cukup deras. Tiupan angin berhasil membuat jendela kamarnya terbuka lagi. Mia menyingkap selimut, memeriksa lentera dan pemanas lalu mengunci jendela hingga rapat dan mendesis dingin.
Dedaunan kering mengotori halaman rumahnya. Ia berjalan pergi menuju kamar Liana, melihat gadis kecil itu meringkuk dalam selimut mencari kehangatan di atas ranjang tempat tidurnya sendiri. Mia masuk untuk memperbaiki bantal dan menambahkan selimut padanya agar tetap hangat.
Hujan disertai angin sama sekali tidak membantu dan malah membuatnya tak bisa tidur. Mia mendongak, memeluk dirinya sendiri tatkala melihat tirai kamar tamunya masih terbuka. Udara akan masuk ke sana dan air hujan yang terbawa angin bisa membuat lantai kayu menjadi basah.
Kedua kakinya menyusuri lantai dengan lamat. Berusaha agar dirinya tidak terpeleset atau tersandung. Saat pintu terbuka, matanya melihat bayangan Arata yang duduk menyandar bersama bantal tengah tertidur lelap.
Kilat yang menyambar, penerangan dari lentera cukup membuatnya tersadar bahwa pria itu memiliki luka. Arata tidur tanpa alas dan selimut, murni pulas tak ada apa pun.
Ada goresan yang memanjang di punggung tangan kanan. Mia meringis kecil, memberi reaksi singkat sebelum mundur untuk mengambil sesuatu dari dapur rumahnya. Kemudian menutup tirai memastikannya aman dari dalam.
Pertama, dia harus mengobati pria itu dulu. Bagaimana bisa Arata membiarkan itu terbuka tanpa mau menutupi? Dan Mia mendekatkan diri untuk melihat bekas yang lebih detail, menahan napas selama beberapa detik dengan sendu.
Itu bukan serius namun cukup dalam. Ada warna putih yang terlihat dan sepertinya datang dari bekas benda. Mia mengambil kain bersih, bersiap membersihkan kotoran di sekitar area luka dengan lembut.
Namun sebelum permukaan kain hangat itu menyentuh lebih banyak tempat, Arata terbangun dan mengulurkan sarung katana secara refleks membuat gadis itu berjengit mundur, kedua matanya melebar serta wajahnya memucat.
Bagian sudut hanya sepersekian senti dari lehernya saat Arata membatu, menyadari kesalahannya dan bergerak mundur dengan canggung. Raut wajahnya tampak bingung sebelum berubah datar, menutup kembali matanya dan mendesah berat.
"Kau terluka," ujarnya tertatih. "Aku hanya ingin menolong." Kemudian Mia tak bisa menyingkirkan debaran yang panik saat itu hampir menggores kulitnya.
Arata mengangkat tangan, memperlihatkan punggung polos tanpa bisa dirasakannya. Ini bukanlah sesuatu yang penting dan seharusnya Mia tidak perlu sejauh itu.
"Rasa sakitnya hanya akan sesaat," ucapnya ketika mengulurkan lap untuk membasuh bagian yang kotor. "Lalu selanjutnya terasa dingin. Ini harus dibaluri sebelum berubah infeksi dan kau akan merasakan rasa ngilu yang lebih parah."
Yang menyadari kalau kedua tangan gadis itu bergetar, Arata menghela napas lirih. "Kau gemetar."
"Kenapa?"
Mia menjauhkan sebelah tangannya, mencoba bersikap biasa kepada pria itu. "Mungkin karena suara petir yang terlalu kencang."
Hujan masih saja betah di luar sana. Suara gemuruh tidak lagi tertahankan dan angin yang bertiup semakin dingin. Arata melamun serta membiarkan tangan handal gadis itu menyentuh lengannya.
"Aku tidak berniat melakukannya. Itu hanya gerakan refleks."
Mia melirik dengan senyum tipis. "Aku tahu."
Rasa hangat itu berubah menjadi sentuhan sakit ketika racikan daun menutupi bekasnya. Arata menunduk dalam, mengerutkan kening ketika mendapati Mia sibuk membalurkan bahan alami untuk bagian sisanya. Punggung tangan itu terasa kaku selama beberapa menit sebelum akhir dinginnya menyebar, terasa lebih rileks dan ringan.
"Kau tidak terlihat sakit namun cukup dalam." Mia berjalan setelah selesai. "Obat bisa dibersihkan besok pagi dengan air dingin. Kau bisa melepasnya dengan perlahan sebelum membersihkan diri."
Iris gelapnya menatap tampilan punggung tangan yang baru. Arata memindahkan posisi duduk, menggeser lengan yang lain dengan helaan napas pendek.
"Terima kasih."
Mia bangun untuk membawa kembali wadah dan kain yang baru dipakai ke dapur. Dia harus membereskan sisanya untuk digunakan lain waktu. Lalu mencari pel untuk membersihkan lantai yang basah di kamar tamu tempat Arata menginap.
Pandangan Arata mengarah pada gadis itu. Kedua matanya terbuka, menatap Mia yang sibuk membersihkan lantai ruangan.
"Kau belum tidur?"
"Aku terbangun karena suara hujan dan jendela kamarku terbuka berkat angin," balasnya setelah berdiri dan melihat hasil kerjanya. "Aku juga harus melihat Liana dan mendengar suara aneh dari kamar ini, aku pergi untuk memandang ke dalam."
Arata membawa tangannya mundur saat tatapan gadis itu mengarah pada yang lain. Ini tidak serius dan tak seharusnya Mia melihatnya selayaknya lemah. Saat lengah, dirinya bisa saja mendapati bentuk serupa dan tangan ini adalah contoh nyata.
"Apa kau pernah mendapatkan yang lebih parah dari ini sebelumnya?"
Pertanyaan spontan gadis itu membuatnya menengadah. Arata menghela napas, hanya memberi respons singkat berupa anggukan kepala.
Mia berjalan lurus tanpa mengatakan apa pun lagi. Dia hanya membungkuk sebentar, menutup pintu kamar dan berjalan pergi ke dapur sendirian. Membiarkan Arata kembali istirahat dalam kamar tidak lagi ingin mengganggu.
Apa pun yang terjadi, aku tidak akan menyentuhmu.
Kepalanya bergeser, menatap langit kamar yang temaram dalam gamang. Kalimat itu menghantuinya seumur hidup dan dampaknya tidak akan pernah berubah.
Arata mencibir, membuang dengusan kasar. Menyingkirkan bantalnya untuk merebahkan dirinya sendiri tidur. Mungkin terlelap mampu membawa sebagian dirinya menghilang dan terbang, tak lagi kembali masuk ke raganya.