eight - bagaikan jendela terbuka

1160 Words
"Kau sudah merasa lebih baik?" Mia membuka mata, menyesuaikan cahaya sekitar yang datang dari lentera kecil di sudut ruangan. Aroma minyak dan beberapa tambahan akar wewangian memenuhi udara. Ia segera bangun, mencoba meluruskan punggung yang terasa kaku dan berat. "Bagaimana bisa?" suaranya terbata menatap telapak tangannya sendiri dan melihat dokter paruh baya itu sedang sibuk menulis sesuatu di atas kertas putih. "Kepala desa itu sengaja berbuat sejauh ini," gumamnya dengan decakan. Sang dokter menaruh tintanya dengan gelengan. "Kau seharusnya tidak bersikap gegabah, Mia. Jangan ceroboh dengan pergi ke sana seorang diri. Kalau begini hasilnya, penduduk akan semakin merasa cemas dan terbebani karena satu orang." "Anda tahu sesuatu?" Sang dokter menghela napas panjang. "Tidak sebanyak itu. Tetapi ada beberapa hal yang menarik perhatianku. Lalu yang bisa kulakukan hanya diam dan menjadikan itu sebagai rahasia pribadi." "Karena Anda bekerja untuknya," sahut Mia muram melepas selimutnya dan memejamkan mata lelah. "Kau cukup beruntung sebenarnya. Tuhan masih memberkatimu dengan cara tak terduga." Iris hijaunya menatap sang dokter dalam diam. Bibirnya menipis tatkala memandang langit yang cerah malam ini. "Tuan Kaza, aku tidak bisa diam saja melihat kepala desa mencoba berbuat hal aneh kepada penduduknya sendiri. Asakusa tidak bisa dibiarkan gaduh dan diliputi kegelapan seperti itu." "Aku mengerti jalan pikiranmu," balas sang dokter serius. "Dia bekerja sama dengan pedagang kaya yang menginginkan keuntungan berlebih, Mia. Dunia tidak sebersih itu. Kau harus memahaminya dengan benar. Selama kita dalam keadaan krisis berkepanjangan, akan ada kekacauan di dalam tubuh sendiri. Kau harus menghadapi sesuatu tak kasat mata dan itu lebih menyedihkan dari apa pun yang terlihat." Mia menarik napas sedih. "Apa Anda ingin bebas dari pekerjaan sebelumnya?" "Mungkin setelah ini aku harus melarikan diri ke Kyoto atau Shibuya. Aku tidak ingin terlibat lagi dengan penduduk Asakusa mau pun keluarga tersebut. Ini menjadi pengalaman sekali dalam hidup." Kaza mengangkat bahunya dengan senyum. "Karena kutahu risiko yang membayangiku di masa depan. Semua penduduk percaya padamu, terutama karena kau telah lama menjadi bagian dari mereka dan populer." "Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Mia memandang Kaza penuh tekad. "Ini bukan sesuatu yang besar. Aku masih bisa bangun dan kembali ke rutinitas. Terima kasih banyak telah menolongku." "Santai saja," jawab Kaza dengan senyum ramah. "Aku senang bisa membantu. Kau anak muda yang berbakat dan wajar jika mereka menginginkan kau terluka. Hidup memang selucu itu, benar? Orang baik selalu punya cara untuk disisihkan dengan beragam upaya." "Cairan yang kuminum tadi bukan jenis yang harus dihindari?" "Kandungannya tidak sebanyak itu," balas Kaza datar. "Aku harus mencari penawar yang ada pada benda sebelumnya. Saat aku pergi, seseorang mengincarku dengan sengaja dan dia misterius dan membawa barang yang tak biasa." Mia menjelaskan sedangkan Kaza mendengarkan. "Aku merasa bersyukur karena seseorang segera membawaku pergi ke sini." "Arata?" tebak sang dokter tepat. Kedua mata gadis itu melebar kaget. "Anda mengenalnya?" "Guru Saito bicara padaku," ujar Kaza mengibaskan tangannya. "Dia yang menggendongmu kemari atas saran penduduk desa. Karena kebetulan aku kosong dan tidak punya pekerjaan, aku berusaha menolong. Liana dan guru menyusulnya kemudian. Itu bukan golongan yang sedang kau teliti. Aku punya cadangan obat di dalam rumah." Gadis itu membeku hebat. "Jadi, dia sungguh seorang pengembara biasa yang kebetulan menetap di Asakusa?" "Aku bertemu dengannya saat iringan pengantin putri kepala desa," balas Mia memaparkan. "Dia berkeliling tanpa tujuan dan tidak punya tempat tinggal." "Aku bisa melihatnya begitu." Kaza bangun dari tempatnya, memberikan Mia selembar kertas yang telah tertulis sesuatu. "Kau bisa menyimpannya. Ini sebagai bukti untuk menyudutkan pria itu. Tetapi Mia dirimu juga harus mampu menjaga diri dari pedagang picik di luar Asakusa. Kau paham? Jangan melakukannya sendirian. Kau akan berakhir sama dan kemungkinan lebih parah dari yang tak terduga." *** Arata mengangkat sebelah alisnya naik kala melihat gadis itu muncul dari kediaman dokter Kaza dengan cara aneh. Mia seperti sedang mengendap, bersiap lari dan malah tersandung kakinya sendiri. Suara rintihannya terdengar sampai ke telinga yang membuat Arata mendengus pelan. "Kenapa kau kembali?" "Aku sudah lebih sehat," jawab Mia menahan malu. "Mengapa kau di sini?" "Untuk melihatmu." Oh, itu seharusnya bukan kalimat pujian atau godaan yang harus membuatnya berdebar. Tetapi Mia bukan bocah usia belasan yang sepantasnya merasa merona atau merasa kasmaran yang terlambat. Dirinya berdeham, mengalihkan muka demi menepis rasa panas yang menyentuh pipinya. "Aku sudah merasa lebih baik. Tidak ada alasan untuk merepotkan dokter Kaza lagi," balasnya sedikit ketus. "Aku akan pulang ke rumah." "Kau yakin?" "Sangat malahan. Mengapa?" "Di mana dokter Kaza?" tanya Arata dengan pandangan memindai datar. "Aku harus menemuinya untuk membahas sesuatu." Mia mendadak membisu. Saat gadis itu melihat sekitar, meraih tangan pria itu untuk merapat ke tembok pembatas lebih dekat. "Kau tidak bisa menemuinya sekarang. Dokter Kaza berhasil kabur dari Asakusa. Aku yang membantunya pergi lima belas menit lalu." "Oh," respons yang tidak terduga terdengar dari pria itu. "Hanya itu?" Mia tercengang. "Dia telah memberitahuku sebelumnya. Tuan Saito juga tahu jika dokter Kaza akan pergi setelah malam." Arata membalas santai tidak peduli dengan reaksi kecewa sang tabib. "Karena dia tahu kondisi Asakusa tidak lagi nyaman selama keluarga itu masih menjabat, dia memilih untuk lari. Aku terlambat menemuinya." "Kenapa kau merasa begitu?" Mia mundur dengan raut dingin. "Aku membuat sarapan karena Liana mengeluh sakit kepala. Gadis kecil itu terus menangis memikirkanmu," sahut Arata santai. "Kau tidak membuat dapurku berantakan?" Arata menggeleng datar. "Tidak." "Bagus." Mia memujinya singkat dan berbalik arah. Mia memutuskan untuk berjalan pergi. Melewati beberapa penduduk yang senang melihatnya kembali. Gadis itu terlihat lebih segar dari kemarin dengan Arata yang masih mengikuti. Percuma saja dia pergi ke rumah Kaza jika sang dokter sudah berhasil keluar tanpa ketahuan. "Kau berpikir kalau dia berhasil lolos?" "Siapa?" "Tuan Kaza." Arata menarik napas panjang. "Pemimpin Asakusa punya koneksi yang lumayan banyak untuk sekadar informasi buatmu. Pedagang dari luar kota sering kali bertangan dingin. Apa dia bisa semudah itu pergi ke tempat baru?" Kedua kakinya berhenti melangkah. Mia terdiam sesaat membayangkan kegagalan yang membayangi dokter malang itu jika benar terjadi. "Bagaimana andai sang dokter terluka?" "Itu konsekuensi yang harus diterima. Dia memutuskan untuk menjauh dari keluarga dengan membawa banyak rahasia, maka ada sesuatu yang harus dilindungi." Arata melalui gadis itu saat berjalan maju. "Kemungkinan besar juga dia menitipkan sesuatu kepadamu sebelum pergi. Lalu tidak menanggung beban itu sendirian." "Aku berpikir kalau kau sebenarnya adalah seorang cenayang dan bukan pengembara atau ahli katana," manik hijau itu menelusuri pakaian Arata secara sinis. "Bagaimana bisa kau tahu tentang itu secara benar?" "Aku melihatmu seperti buku terbuka. Terlalu mudah terbaca." "Itu gurauan." Mia menghela napas pendek saat kembali berjalan dan berpura tidak terpengaruh. "Itu perumpamaan yang sedikit menyebalkan. Tapi aku berusaha menerimanya. Paman juga sempat mengatakan kalimat serupa." Mia berjalan lebih dulu tanpa lagi menoleh ke belakang. Membungkuk saat para warga dengan ramah memanggil namanya. Terutama anak kecil yang senang melihatnya kembali pulih. Mereka berkembang dan berinteraksi sesuai usianya. Asakusa tempat yang sempurna dan seseorang mencoba mengacaukan tempat ini dengan harapan buruk. Arata berhenti untuk memandang langit. Menyadari kalau masih ada kebenaran yang belum terungkap, termasuk masa lalunya sendiri. Lantas jika Asakusa menjadi tempat terakhirnya, bagaimana caranya bertahan sampai nanti?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD