Dengkuran keras ayah Malakor kembali menggema di ruangan kecil itu—WHOOOMPH... GRRRUUUUMMBLE... Matanya masih tertutup rapat, seolah-olah petunjuk yang baru saja ia ucapkan hanyalah gangguan sesaat dalam tidur abadinya. Ucapannya tentang peta dan tupai bercahaya masih menggantung di udara, membingungkan... tapi entah kenapa, menyisakan secercah harapan yang samar. Utusan Kegelapan mendesis marah, langkahnya terhenti di ambang pintu yang telah hancur. "Mimpi naga tua? Kalian sungguh menggantungkan harapan pada ilusi yang rapuh!" serunya tajam. "Serahkan artefak itu. Sekarang juga!" Energi gelap di telapak tangannya berdenyut tak sabar—vvvzzzz—seperti petir yang ditahan hanya oleh sisa kendali. Kembaran Senja menyeringai sinis di belakang Utusan itu. "Jangan buang waktu dengan naga yang s

