Cahaya terang yang memancar dari Tetua Bintang menyilaukan mata mereka, memaksa mereka untuk melindungi penglihatan. Sensasi ditarik ke dalam pintu cahaya semakin kuat, seperti arus sungai yang menarik perahu menuju air terjun. Bisikan-bisikan mengerikan dari bayangan di celah pintu semakin mengancam, tetapi cahaya Tetua Bintang terasa seperti perisai yang melindungi mereka. "Ikuti cahayaku... dan hadapi kegelapan yang sebenarnya..." bisik Tetua Bintang dengan suara yang semakin lemah namun penuh tekad. Dengan mata terpejam, mereka merasakan diri mereka melewati ambang pintu cahaya. Sensasi transisi itu berbeda lagi – bukan lagi tarikan fisik atau pusaran emosi, melainkan seperti meluncur melalui lorong yang terbuat dari bintang-bintang yang berkerlap-kerlip. Bisikan-bisikan mengerikan i

