Chapter 17

1229 Words
Di sebuah tempat di pinggir Jakarta, berdiri gedung tinggi dan megah bertuliskan Rumah Sakit Tera. Langit berwarna biru pagi hari itu membuat gedung tersebut terlihat makin menonjol dari kejauhan. Masuk ke dalam, tepatnya di salah satu koridor rumah sakit tersebut, tampak sekumpulan orang berkumpul dengan peralatan lampu dan kamera di mana-mana. Suara diskusi para kru dan latihan dialog para aktor dan aktris tampak mewarnai ruangan tersebut.  “Rendra, kau mulai lari dari sini sampai ujung sana. Kita akan melakukan empat kali pengambilan gambar. Pertama dari depan, kedua dari sisi kananmu, kedua dari belakang, dan keempat dari bawah.” ujar Edi, sutradara dari sinema series yang mana Rendra terlibat di dalamnya. Rendra mengangguk mengerti lalu dengan diaba-abai oleh Edi, ia melakukan geladi adegan yang akan diambil. Tampak kedua kakinya tidak terbalut dengan alas apapun alias bertelanjang kaki.  Bukan tanpa alasan, pengambilan gambar hari ini adalah scene di mana tokoh yang diperankan Rendra mengejar seorang penjahat. Adegan tersebut menuntut Rendra untuk bertelanjang kaki karena tokoh yang diperankan Rendra tanpa ba-bi-bu langsung melepas sepatunya agar lebih mudah berlari di koridor rumah sakit yang licin. Selesai geladi dan memahami seberapa cepat ia harus berlari, Rendra kembali ke posisi awal. Aba-aba pengambilan gambar pun mulai terdengar. “Audio.” “Ready!” “Slate 176, Take 2!” “Camera.” “Roll!” “Action!” seru Edi Rendra langsung berlari sesuai instruksi yang telah diberikan sebelumnya. Raut wajahnya dipenuhi dengan rasa marah dan matanya menatap tajam ke arah lawan mainnya yang berlari di depannya. Kemeja luaran yang dikenakannya terlihat berkibar mengikuti angin. “Cut!” Bersamaan dengan sahutan dari Edi, Rendra secara perlahan mulai berhenti berlari. Ia berjalan menuju Edi untuk memonitor ekspresi wajahnya saat berlari tadi. Rendra bersama Edi dan staf lainnya, bersama-sama memantau layar monitor dengan seksama, memeriksa apakah ada yang terlihat janggal dan sebagainya. “Oke! Kita lanjut ke shot berikutnya, dari sisi kanan!” ujar Edi usai memastikan tidak ada yang janggal. Rendra sendiri kembali ke titik awal dan mengulang adegan larinya lagi. Memonitornya lalu mengulangnya lagi jika ada yang kurang atau lanjut pindah ke pengambilan gambar selanjutnya. Itu baru di koridor, belum di tempat lain seperti yang sudah direncanakan yakni di tangga dan lobi. “Bagaimana dengan kakimu? Apakah baik-baik saja?” tanya Edi setelah mereka menyelesaikan pengambilan gambar untuk adegan Rendra berlari. Rendra mengangguk, memberi tahu jika dirinya baik-baik saja. “Tidak apa-apa. Aku memakai alas bening di telapak kakiku, jadi tidak terasa sakit saat berlari.” balas Rendra dengan nada ringan. Usai mendengar perkataan Rendra, Edi menyodorkan sebotol minuman segar ke Rendra. “Kau punya waktu setengah jam untuk beristirahat. Manfaatkanlah dengan baik.” Rendra menerima minuman segar tersebut dengan senang hati. Setelah melepas alas bening di kakinya, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah ruang kumpul khusus untuk para pemain. Ketika melewati ruang logistik, langkahnya terhenti karena mendengar namanya disebut-sebut. Tertarik, Rendra pun bersandar di dinding dekat pintu tersebut seraya mengeluarkan ponselnya. Ia bertingkah seolah-olah asyik memainkan ponsel padahal sebenarnya ia sedang berusaha mendengarkan apa yang mereka bicarakan. “Akting Rendra keren ya, mas.” “Dia, sih, levelnya memang sudah masuk jajaran aktor papan atas.” “Pantas saja. Sudah ganteng, baik, kerjanya bagus pula.” “Tapi bobroknya dia juga tidak kalah, cyin.” “Apa itu kak?” “Main perempuannya tidak pernah berhenti. Gas teruuuss…” “Serius? Tapi aku tidak pernah melihatnya merayu atau melecehkan perempuan di lokasi syuting.” “Orang bilang, dia memang tidak berani main ‘api’ di lokasi. Tetapi, katanya, kalau habis syuting dia pasti pulangnya bareng sama aktris atau model. Kalau yang satu ini sudah terbukti benar dan banyak saksi matanya, cyin.” Rendra tertawa dalam hati. Senyum lebar terpatri di wajah tampannya namun ia berusaha menutupinya dengan menaruh punggung ponsel di depan mulutnya. Rendra baru pergi saat topik obrolan sudah berpindah ke subjek lain. Setelah agak jauh dari ruang logistik, pecahlah tawa yang sudah Rendra tahan sedari tadi. Tidak peduli jika ia terlihat seperti orang gila yang tertawa seorang diri.     Lucunya dunia ini. *** Sesampainya di rumah indekos, Hani menceritakan ke Shaina sejak kapan gejala traumanya muncul lagi, bagaimana dia tidak bisa tidur selama hampir sebulan hingga bagaimana akhirnya Hani memutuskan untuk menemui Asta lagi. “Aku bodoh.” Shaina mengerutkan keningnya dalam. Bingung mengapa Hani tiba-tiba mengatakan hal seperti itu. “Aku tahu persis kalau tempat yang akan kudatangi adalah kafe dan bar. Aku tahu, pasti akan ada alkohol, orang mabuk, dan semacamnya.” ujar Hani seraya memeluk lututnya. ”Tetapi aku berlagak sok kuat dan berpikir ‘Aku sudah menjalani hidup dengan normal. Tidak masalah’. Sekarang, lihat hasilnya? Aku seperti ini lagi.” Setelah mengatakan hal tersebut, Hani menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut. Shaina mendekatkan wajahnya ke kepala Hani, khawatir kalau-kalau Hani menangis, namun berdasarkan penglihatan dan pendengarannya sejauh ini, Hani belum menangis. “Sudah tahu tidak suka orang mabuk, tetapi justru pergi ke bar. Bodoh sekali.” maki Hani kepada dirinya sendiri. Suaranya terendam karena ia masih menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut. Shaina mendekati Hani lalu memeluknya dari samping. Kepalanya bersandar di bahu Hani dan tangan rampingnya mengelus-elus punggung sahabatnya, berharap tindakan itu dapat memberikan sedikit ketenangan pada Hani. Mereka berdiam di posisi tersebut untuk beberapa saat sebelum akhirnya Shaina mengucapkan sesuatu. “Hani, aku menyayangimu.” Hani mengangkat kepalanya, menoleh ke Shaina. Shaina pun mengendurkan pelukannya dan membalas tatapan tak mengerti dari Hani dengan senyum. “Aku menyayangimu meski kau bodoh sekalipun. Bukankah sangat manusiawi bagi kita, manusia, untuk melakukan hal-hal bodoh?” ucap Shaina. Sedikit malu setelah kalimat seperti itu, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan menyingkirkan anak-anak rambut yang menempel di wajah Hani. Hani terdiam sebelum akhirnya ia menyandarkan kepalanya ke bahu Shaina. Shaina mengangkat kedua alisnya, agak kaget, namun ia menyambut baik tubuh Hani di dekapannya. Ia melirik sesaat ke wajah Hani dan menemukan kedua mata sahabatnya itu tertutup. Shaina pun mengayunkan tangannya ke puncak kepala Hani dan mengusapnya lembut. Dengan posisi tersebut, Shaina bisa mendengar ritme napas Hani perlahan berubah menjadi lebih teratur. Perasaan Shaina mengatakan orang di pelukannya itu sudah tertidur, namun Shaina tetap mendekapnya untuk beberapa saat. ‘Dia pasti lelah setelah kejadian di toko buku tadi. Belum lagi harus mengumpulkan keberanian untuk menceritakan kondisinya kepadaku.’  pikir Shaina sekaligus mengingat kembali cerita Hani hari ini. Helaan napas pelan keluar dari mulut Shaina. Ia berpikir bahwa seharusnya ia lebih peka saat tidak bisa tidur malam itu di Bandung. Ada banyak sekali pemikiran ‘jika saja’ muncul ke otak Shaina, namun Shaina segera mengenyahkannya karena tak mau berlarut-larut dalam hal yang sudah lewat. Ponsel Shaina bergetar membuyarkan lamunan Shaina. Ia pun menengok ke Hani dan menemukan Hani masih tertidur lelap. Merasa Hani sudah tidur nyenyak, Shaina perlahan mulai membaringkan Hani di karpet. Tak lupa ia menyisipkan bantal di bawah kepala Hani agar tidurnya lebih nyaman. Shaina meregangkan tubuhnya –agak pegal setelah diam dalam posisi menekuk cukup lama– dan meraih ponselnya yang berada di atas meja. Ada sebuah pesan masuk dari manajernya yang mengirimkannya jadwal pekerjaan selama tiga bulan ke depan. Shaina langsung memeriksanya dan sudah siap untuk mengirimkan pesan bahwa ia sudah membacanya, namun sedetik kemudian niatnya itu berubah. Dengan bibir mencebik, jari-jari Shaina sibuk menari di atas layar ponsel. Entah apa yang diketiknya, karena tahu-tahu, Shaina memutuskan untuk mengganti metode dengan menghubungi sebuah kontak di ponselnya. Matanya berseliweran ke kanan-kiri, berharap panggilannya segera diangkat. Klik. “Ada apa?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD