"Aku vampire."
Aku menoleh ke arah teman sejawatku itu. Aku tidak tahu seperti apa ekspresi wajahku saat ini, karena tak lama kemudian, dia memasang wajah kesal.
"Aku tidak mengigau. Aku juga tidak gila."
Aku menunjuk diriku dengan jari telunjuk. "Aku belum mengatakan apa-apa."
"Ekspresimu berkata seperti itu." desisnya kesal.
Aku tertawa.
"Ah, isi hatiku sudah terbongkar. Maaf." ujarku ringan. Lalu aku kembali mengetik di laptop mengerjakan laporan yang harus kami serahkan ke dosen sore nanti.
Temanku yang baru saja membuat pengakuan kalau dirinya vampire mengembuskan napas pendek.
"Kau pasti menganggap perkataanku tadi hanya gurauan." sahut Dani.
Aku menutup bibirku rapat-rapat, menahan diri untuk tidak mengeluarkan kalimat yang tidak perlu. Melihat raut wajahnya yang memelas, setengah hatiku ingin menggodanya dan setengahnya lagi merasa kasihan kepadanya.
"Lupakan. Kurasa aku memang gila." semburnya kesal.
Aku menggelengkan kepala tidak setuju.
"Kau tidak gila, hanya saja kau membuat pengakuan di saat kita tengah dikejar deadline. Jadi, mari kesampingkan dahulu soal dirimu dan kita kerjakan laporan ini. Ah, bisakah kau buka modul itu? Aku butuh referensi." jelasku panjang lebar.
Aku tidak bohong. Aku, kaget, tentu saja. Temanku ternyata seorang vampire.
Wow.
Aku ragu Dani berbohong karena wajahnya terlihat serius dan aku tahu dia tidak bisa berbohong kepadaku.
Sayangnya, dia membuat pengakuan di waktu yang salah.
Maaf, Dani. Di waktu deadline yang mepet ini, fakta kalau kau seorang vampire tidak lebih menyeramkan dari dosen killer yang tidak mau menerima tugasmu jika kau telat barang semenit saja.
Bisa kulihat matanya melebar namun tak pelak, ia menuruti permintaanku. Setelah itu kami sibuk membolak-balik buku, modul, dan berdiskusi tentang hasil laporan kami.
Belum lagi kami harus mencetak laporan tersebut. Kau tahu betapa padatnya tempat fotokopi di kampus, yakni ketika segala macam urusan mahasiswa bercampur aduk menjadi satu di tempat itu.
Pada akhirnya, kami berhasil mengumpulkan laporan kami satu jam sebelum tenggat waktu yang diberikan.
Aku meregangkan otot-otot tubuhku setelah berkutat dengan laporan sialan itu.
"Mau ke kantin? Aku lapar." seruku seraya mengerang. Berpikir benar-benar menguras tenagaku.
Dani mengangguk. "Aku juga haus."
Kami pun berjalan bersisian menuju kantin terdekat. Sembari melangkahkan kaki, aku melemparkan pertanyaan yang membuatku penasaran setengah mati.
"Omong-omong, apa kau juga merasa lapar seperti manusia biasa? Apa kau harus makan makanan tertentu?"
Dani menolehku dengan ekspresi terkejut di wajahnya. Jika tadi aku masih mencoba menjaga perasaaannya, kini aku tertawa lebar tepat di depannya.
"K-k-kau percaya?" tanyanya dengan nada tak menyangka.
Aku mengangguk di tengah tawaku. "Aku tidak menemukan alasan mengapa kau harus berbohong kepadaku soal itu."
Dani diam mendengar jawabanku. Aku pun ikut diam, berpikir mungkin Dani butuh waktu untuk memproses fakta jika aku percaya kepadanya.
Dalam hati, aku jadi terpikir bahwa mungkin saja Dani sudah melalui pengalaman tidak menyenangkan dengan tidak dipercayai oleh orang-orang di masa lalunya.
"Kau... tidak takut denganku?"
Aku mengangkat bahu.
"Kalau kau menakutiku, tentu aku akan takut." Aku menoleh ke arahnya. "Apa mulai sekarang kau akan menakutiku setelah kau mengaku sebagai vampire?" sambungku.
Dani menggeleng kuat. "Tidak, tidak akan."
Aku tersenyum melihatnya menggelengkan kepala. Membuatku teringat dengan anak tetanggaku yang mengakui perbuatan dosanya.
"Kalau begitu, aku tidak takut kepadamu."
Mata Dani menatapku dalam. Berusaha mencari kebohongan dari ucapanku itu. Aku membalasnya dengan senyum lalu berlari kecil menjauhinya.
"Aku lapar!! Percepat langkahmu itu! Kau tahu kau tidak banyak membantu saat membuat laporan tadi!" seruku agak keras.
Air muka Dani yang tegang sedari siang, baru melemas setelah mendengar teriakanku. Kulihat ia tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sore itu kami besenda gurau seperti hari-hari biasanya.
Tidak ada yang berubah.
Senja pun masih terbenam di barat.
Aku tetaplah aku.
Dani tetaplah Dani.
The End