BAB 6

1041 Words
“Jangan, berbahaya Luna” ucap Gerhan serius.             Lunetta hanya tersenyum. Lalu ia mengambil kedua piring kosong dan memindahkannya ke meja di dalam kamar, agar saat esok hari housekeeping membersihkan kamarnya dapat dengan mudah mengambil kembali piring milik hotel yang digunakan untuk hidangan makan malam Lunetta dan Gerhan. Setelah itu ia baru teringat bahwa belum mengaktifkan ponsel barunya.             Lunetta memasukkan kartu provider baru ke ponsel dirinya dan Gerhan lalu mengaktifkan keduanya. Lunetta menelfon dari ponsel Gerhan ke nomor barunya, agar ia dapat menyimpan nomor Gerhan. “Gerhan! Sini masuk!” panggil Lunetta. Gerhan menurutinya. “Nih hp kamu, udah ada nomer saya disitu. Saya juga udah masukin koneksi wifi hotel ini” lanjut Lunetta sembari menyodorkan ponsel milik Gerhan. Gerhan meraihnya.             Baik Gerhan maupun Lunetta, mereka sibuk dengan ponsel masing-masing. Hingga akhirnya Lunetta terlelap. Sedangkan Gerhan sedang berusaha memahami bagaimana cara menggunakan barang yang memiliki simbol apel telah digigit dibagian belakang tubuh barang tersebut.             Setelah cukup mengerti ia menyimpan ponselnya. Lalu melirik kearah Lunetta yang sudah tertidur pulas. Gerhan yang sedari tadi duduk di sofa langsung berjalan dan duduk sila di lantai dengan kedua tangan yang disatukan diatas ranjang untuk menjadi tatakan dagunya. Ia memandangi Lunetta. Ya, hanya memandanginya hingga esok hari menjelang.             Lunetta membuka matanya perlahan. Jantungnya berdegup kencang saat melihat tatapan Gerhan. Setiap Gerhan menatap dirinya dalam seperti itu, selalu saja ada sesuatu yang menjalar dalam hatinya. Entah apa, Lunetta tidak mengetahuinya. “Selamat pagi Luna” sapa Gerhan dengan senyumannya. “Pagi juga Gerhan” “Kamu ngga tidur ya?” tanya Lunetta. “Ngga, karena saya harus menjaga Luna saat Luna tidur dan mengucapkan selamat pagi untuk Luna” “Setiap hari?” “Iya setiap hari”             Simple namun bermakna bagi Lunetta saat mengetahui Gerhan akan mengucapkan selamat pagi saat dirinya membuka mata setelah terlelap tidur. Kehadiran Gerhan di dalam hidupnya saat ini benar-benar membuat hidupnya perlahan berubah. Defini setelah hujan akan ada pelangi, kini terjadi di kehidupan dirinya. Setelah mengalami penderitaan di dalam hidupnya kini pelangi itu datang dalam bentuk sosok Gerhan. Baru dua hari dirinya bersama dengan Gerhan, namun ia sudah nyaman bersama lelaki tersebut. “Hariini kita mau ngapain?” tanya Gerhan. “Sebenernya saya pengen beli mobil dan rumah, tapi ngga mungkin walaupun ada uang karena saya masih pelajar pasti bakalan aneh kalo tau anak usia 18 tahun sudah membeli barang mewah seperti itu tanpa wali” “Kan ada saya. Dengan kekuatan saya yang mustahil terjadi bisa berubah menjadi kenyataan”             Benar sesuai dengan perkataan Gerhan bahwa yang mustahil terjadi akan berubah menjadi kenyataan. Kini Lunetta sudah menyetir di dalam mobil sport Aston Martin berwarna abu metalic untuk menuju sebuah perumahan. Entah apa yang Gerhan lakukan dengan pegawai dealer hingga benar-benar sangat mudah mengurus surat-surat dan hal lainnya hingga mobil tersebut langsung dapat dibawa oleh Lunetta. Sungguh, seperti hidup di negeri mimpi. Semua keinginannya dapat terkabul asalkan ada Gerhan. Betapa beruntungnya Lunetta saat ini.             Sama halnya dengan mobil, rumah pun dengan mudah Lunetta dapatkan dengan bantuan Gerhan. My dream house is became true. Lunetta berlari menuju ke dalam rumah barunya. Rumah dengan dua lantai yang memiliki kolam renang. Lunetta berlari kesana kemari layaknya anak kecil menyusuri setiap sudut rumah barunya. Gerhan hanya tersenyum melihat tingkah Lunetta. Lunetta berlari menuju Gerhan lalu memeluknya sangat erat. “Makasih Gerhan, makasih kamu udah datang ke kehidupan saya” ucap Lunetta. Mereka berpelukan untuk selang beberapa detik lalu Lunetta melepaskan pelukannya. “Sama-sama. Tapi rumah ini baru boleh ditempatin 3 hari lagi” “Yaudah gapapa, sekarang kita beli furniture dulu dan nanti minta dianter 3 hari lagi kesini”             Gerhan mengangguk. ***             Lunetta memilih furniture dan barang-barang pendukung lainnya untuk diantarkan 3 hari kemudian agar mengisi rumah barunya. Sembari memilih furniture, Lunetta dan Gerhan mengabadikan momen mereka dengan jepretan kamera ponsel. Canda tawa mereka berdua mengisi setiap pergerakan keduanya. Lunetta baru kali ini tertawa sebegitu bahagianya hanya karena melihat tingkah seorang Gerhan.             Setelah yakin sudah sesuai memilih furniture sesuai kebutuhan, mereka beralih ke toko elektronik untuk membeli televisi, kulkas, mesin cuci, dan lainnya. Saat melewati pajangan laptop-laptop, Lunetta menghentikan langkahnya. Ia mengelus salah satu laptop dan memandanginya. “Ada apa Luna? Kalo Luna mau tinggal beli” “Pastinya. Selama ini saya lagi menabung untuk membeli laptop ini untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah, karena saya kalau mengerjakan tugas kuliah meminjam laptop milik bos saya di minimarket. Saya selalu memandangi dari kejauhan laptop kaya gini dipake temen-temen dikampus. Ngga nyangka hariini, saya bakalan milikin dia juga kaya temen-temen yang lain”             Gerhan menatap Lunetta. Sejauh ini manusia-manusia yang pernah menjadi client dirinya hidupnya tidak semenderita Lunetta. Mengapa alam dan semesta begitu kejam kepada gadis seperti Lunetta. Apa salah gadis ini hingga menjalani kehidupan yang begitu menyedihkan? “Ah iya saya baru teringat sesuatu. Kalo saya nanti masuk kuliah setelah libur semester, gimana caranya saya kuliah dengan penampilan baru saya? Temen-temen dan dosen-dosen pasti bingung” “Tenang, mereka hanya mengingat diri Luna yang sekarang bukan yang dulu” “Bukan Lunetta yang gendut, jelek, dan cupu?” “Iya, bahkan mereka semua ngga akan ingat bahwa Luna orang yang selalu di bully. Semuanya sudah aman terkendali. Luna tinggal fokus belajar dan dapat gelar sarjana”             Lunetta mengangguk dan tersenyum.             Setelah selesai dengan toko elektronik, Lunetta memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum kembali ke hotel. Saat memasuki foodcourt yang berada di lantai paling atas mall, langkah Gerhan terhenti. “Bentar Luna, ada manusia yang butuh pertolongan” “Hah? Orang gaada yang minta tolong”             Gerhan berjalan meninggalkan Lunetta dan menghampiri  sebuah counter penjual minuman milkshake . Lunetta menyusul Gerhan. Gerhan berdiri di depan sebuah counter tersebut. Lunetta bingung, apa yang sedang dilakukan lelaki tersebut. “Kamu ngapain diem disini? Mau beli?” tanya Lunetta. Gerhan menggelengkan kepalanya. “Maaf Mas dan Mbak, mau pesan rasa apa?”             Gerhan membalikkan tubuhnya menatap si penjual. Lalu dia tersenyum sembari mengelus dan menepuk-nepuk bahu si penjual. “Tenang ya, sebentar lagi akan banyak pembeli yang datang” ucap Gerhan.             Baik si penjual maupun Lunetta kebingungan mendengarkan perkataan Gerhan. Namun, selang beberapa menit usai Gerhan mengucapkan kalimat tersebut. Segerombol gadis berjumlah lima orang datang dan memesan minuman milkshake tersebut dengan berbagai rasa yang berbeda.             Walaupun si penjual masih kebingungan, ia tetap dengan sigap melayani para pembelinya dengan ramah. Tidak lama beberapa pembeli lain pun berdatangan. Lunetta yang melihat hal tersebut hanya mengernyitkan dahinya saja. Melihat Lunetta kebingungan, akhirnya Gerhan berbisik. “Tadi penjualnya berdoa dalam hati, 3 hari ini tidak ada pembeli satu pun ia takut dipecat oleh bosnya” “Kamu kok bisa denger suara hati dia sih?” tanya Lunetta berbisik. “Saya makhluk bulan”             Lunetta hanya mengangguk saja. Lunetta melihat penjual minuman milkshake tersebut terlihat sangat bahagia dengan senyuman di wajahnya ia melayani para pembeli. Lunetta ikut senang melihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD