BAB 5

1028 Words
            Seusai makan siang, Lunetta mengajak Gerhan untuk menonton film di bioskop. Kali pertama bagi Lunetta maupun untuk Gerhan menonton bioskop. Lunetta memilih film bergenre romance, dan ia pun mengantri untuk membeli tiket. Setelah itu membeli popcorn dan minuman.             Setelah studio sudah dibuka, Lunetta dan Gerhan mencari tempat duduk mereka. Saat film akan dimulai dan lampu studio mulai redup, Lunetta terkejut dan dengan spontan ia mengenggam tangan Gerhan. “Kenapa Luna?” “Saya kaget. Saya ngga begitu suka gelap” ucap Lunetta ia semakin memperkuat genggamannya.             Gerhan mengelus tangan Lunetta dengan tangan satunya lagi. Lalu ia berbisik di telinga Lunetta. “Tenang ada saya disini” ucap Gerhan.             Lunetta tersenyum. Perkataan Gerhan sangat menenangkan hati. Namun, tetap saja ia tidak melepaskan genggamannya selama film berlangsung. ***             Lunetta memandangi Gerhan yang sedang terduduk sila di lantai, sedangkan dirinya diatas ranjang. Sebelumnya Lunetta sudah menyuruh Gerhan untuk tidur di kamar satunya karena dirinya sudah memesan dua kamar. Akan tetapi, Gerhan menolak. Gerhan tidak ingin jauh dari Lunetta layaknya seorang anak tidak ingin jauh dari indungnya. “Saya kan ngga tidur, jadi bisa jagain Luna” “Yaudah iya, kalau gitu kita beres-beres barang belanjaan kita. Biar barang belanjaan kita disimpen semuanya di kamar satunya”             Gerhan mengangguk dan masih seperti sebelumnya dengan tampang datar yang tidak dapat memperlihatkan ekspresi di wajahnya. Mungkin karena dia bukan manusia. Lunetta dan Gerhan pun mulai menata barang-barang belanjaan agar rapi untuk dipindahkan ke kamar satunya dan nantinya akan mudah dibawa saat mereka check out dari hotel.             Lunetta membaringkan tubuhnya karena lelah. Ia memejamkan kedua matanya untuk sekejap lalu saat ia membuka matanya kembali, ia terkejut karena Gerhan sedang menatapnya dengan jarak yang lumayan dekat. Lunetta merasakan jantungnya berdegup kencang. Untuk selang beberapa detik mata mereka saling memandangi satu sama lain, hingga akhirnya Lunetta tersadar dan mendorong pelan tubuh Gerhan agar sedikit menjauh. Lunetta dengan cepat beranjak dari ranjang. “Sa…saya…mau…mau…mandi dulu. Kamu boleh tidur di kasur dulu kalo kelelahan” “Makhluk bulan gabisa lelah kecuali kekuatan mereka sedang hilang”             Lunetta tidak menggubrisnya dan langsung menuju ke kamar mandi. Saat di dalam kamar mandi Lunetta tersenyum bahagia. Akhirnya ia dapat mewujudkan khayalannya yaitu mandi dengan air panas dari shower atau dapat berendam di dalam bathtub. Lunetta melepaskan seluruh pakaiannya dan mulai mandi.             Lunetta berdiri mematung saat keluar dari kamar mandi. Padahal ini kali keduanya ia melihat tubuh sixpack milik Gerhan, bahkan sebelumnya lebih parah yaitu tidak memakai celana seperti saat ini. Entah mengapa untuk kali kedua ini dirinya seperti tersihir dan tidak mengalihkan pandangannya. “Luna kenapa diam?” tanya Gerhan membuyarkan lamunan Lunetta. “Ah… itu…ehm…kamu kenapa lepas baju?” tanya Lunetta gelagapan. “Saya mau mandi biar kaya manusia” “Ah…iya iya. Yaudah gih sana”             Gerhan melangkahkan kakinya mendekati Lunetta karena memang Lunetta masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Pandangan mereka berdua tidak lepas hingga saat Gerhan akan membuka pintu kamar mandi, Lunetta merasakan seperti ada sesuatu yang berhembus di belakang lehernya. Saat ia berbalik, wajah Gerhan sudah berdekatan dengan wajah Lunetta. Lagi dan lagi jantung Lunetta berdegup kencang. “Luna wangi” ucap Gerhan. Lalu ia kembali membenarkan posisi tubuhnya karena sebelumnya condong agar wajahnya sejajar dengan leher Lunetta, karena tubuh Lunetta hanya memiliki tinggi sebatas bahu Gerhan saja. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi.             Lunetta menghela nafasnya. Sepertinya dia harus diperiksa ke dokter, ia khawatir mengidap penyakit jantung. Ia pun berjalan untuk mengenakan pakaian. “Lunaa!” teriak Gerhan tiba-tiba. Lunetta yang sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk, membalikkan tubuhnya. “Ada… a” kalimat Lunetta menggantung karena ia terkejut melihat keadaan Gerhan yang telanjang tanpa berbusana sehelai pun. Lunetta kembali membalikkan tubuhnya agar tidak terlalu lama melihat pemandangan tersebut. “Gimana caranya mandi disini?” tanya Gerhan “Ya tinggal mandi, nyalain showernya” “Saya ngga ngerti caranya. Terakhir ke bumi, mandi hanya pake gayung” “Yaudah kamu tutup bagian bawah kamu pake handuk, nanti saya bantu nyalain”             Gerhan mengambil handuk lalu menggunakannya untuk menutup bagian k*********a yang tidak ingin Lunetta lihat. Padahal kalau di bulan, berpenampilan seperti itu sudah biasa. “Sudah”             Lunetta melirik sebentar kearah Gerhan memastikan bahwa benar, bagian kemaluan Gerhan tidak lagi terlihat. Ia pun melempar handuknya ke ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi. Gerhan mengikutinya. Lunetta dan Gerhan sudah berdiri di dalam bathtub menghadap shower. “Kalo kamu mau nyalain kamu tinggal tekan yang ini” “Kaya gini…” Byurr…             Air deras yang keluar dari shower berhasil membasahi Lunetta dan Gerhan. Lunetta menghela nafas kesal karena itu artinya ia harus berganti pakaian. Padahal baru selang beberapa menit ia menggunakannya. “Ha…Ha…Ha…Ha” Gerhan tertawa. Lunetta pun ikut tertawa dan tidak kesal lagi karena mendengar cara tertawa Gerhan. “Maafkan saya Luna” lanjut Gerhan datar. “Saya jadi harus ganti baju lagi kan hahaha”             Tiba-tiba Gerhan menatap Lunetta dalam. Lalu ia mengecup bibir Lunetta sekejap. Lunetta kaget dan hanya memandangi Gerhan lalu ia mendekatkan wajahnya dan melingkarkan tangannya dileher Gerhan kemudian menciumnya. Mereka pun berciuman dibawah shower dengan air yang membasahi mereka berdua.             Saat tersadar, Lunetta melepaskan ciumannya lalu ia berlalu keluar kamar mandi. Gerhan hanya terdiam sembari menyentuh bibirnya. ***             Lunetta dan Gerhan kini berada di balkon kamar hotel memandangi langit malam sembari menyantap spaghetti untuk menu makan malam. Seperti biasa, langit Jakarta tidak akan dipenuhi dengan bintang-bintang. Hanya ada beberapa bintang yang menghiasi langit malam ini, tentunya tidak lupa beserta dengan bulan. “Jadi kamu tinggal disana ya?” tanya Lunetta sembari menunjuk bulan. “Iya” “Jadi kamu di bumi sampai kapan?” “Saya bertugas di bumi sampai dengan gerhana bulan selanjutnya” “Kapan gerhana bulan selanjutnya tiba?” “Saya belum mendapatkan informasi” “Emangnya kamu dapat informasi dari siapa?” “Atasan saya” “Gimana caranya kamu bertukar informasi?” “Saat bulan purnama dengan memejamkan mata” “Terus kalo kamu udah pergi, kalo misalkan manusia yang jadi client kamu tiba-tiba kangen gimana? Kan secara kamu udah buat mereka bahagia dan menemani hari-hari mereka”             Gerhan diam sejenak seperti mencerna pertanyaan dari Lunetta. Gerhan menatap Lunetta, tersirat dari sorat matanya terdapat sesuatu yang berusaha ia sembunyikan. Lalu ia kembali menatap langit malam. “Tinggal lihat bulan, katakan kalo memang rindu dengan menyebut namanya” “Tapi sebelumnya pernah ada kasus ngga sih kalo makhluk bulan dan manusia saling jatuh cinta?” “Pernah. Ada satu kali” “Terus gimana nasib mereka?” “Mereka mendapat hukuman dari semesta” “Kalo kamu pernah jatuh cinta sama manusia?” “Tidak pernah, karena manusia yang menjadi client saya selalu lelaki” “Tapi kan selama kamu jalanin tugas pasti berkali-kali bertemu wanita” “Iya tapi tidak pernah ada yang berhasil memasuki hati saya” “Kalo saya bisa memasuki hati kamu gimana?”         Terlihat jelas bahwa Gerhan terkejut mendengar pertanyaan dari Lunetta, karena sebelumnya tidak ada manusia yang melontarkan pertanyaan seperti itu kepada dirinya. Ini adalah kali pertama Gerhan mendengarnya. Gerhan terdiam sebentar untuk menyiapkan jawabannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD