BAB 4

1137 Words
            Gerhan menatap Lunetta dengan serius layaknya seseorang yang akan menghipnotis.             “Kami tidak boleh jatuh cinta dengan manusia”             “Terus kalo terlanjur jatuh cinta gimana?”             “Akan ada hukumannya”             “Apa?”             “Saya tidak tahu. Saya tidak pernah dihukum”             Lunetta hanya manggut-manggut saja. Ia beranjak menuju lemarinya, mengambil sebuah kaos dan celana training yang sudah lama tidak dipakai berniat diberikan kepada Gerhan untuk dipakainya karena hanya kain saja yang menutupi bagian bawah tubuh Gerhan.             “Nih kamu pakai dulu untuk sementara. Besok saya belikan pakaian buat kamu. Besok saya mau resign dari pekerjaan saya, kita cari rumah dan belanja. Mulai sekarang saya hanya akan fokus dengan kuliah dan ingin membuka toko roti” ucap Lunetta semangat dengan senyumnya yang mengembang.             “Kamu ngga bisa gunain kekuatan kamu buat pakaian yang pake gitu?” lanjut Lunetta.             “Kekuatan tidak bisa untuk diri saya sendiri Luna” balas Gerhan.             “Yaudah saya bakalan merem, kamu cepetan pake baju”             “Iya, Luna”             Lunetta memejamkan kedua matanya. Sedangkan Gerhan mulai mengenakan kaos dan celana yang diberikan oleh Lunetta.             “Berarti kamu tahu tentang kehidupan manusia dong?” tanya Lunetta masih memejamkan kedua matanya             “Iya, karena setiap saya bertugas ada hal baru yang manusia ajarkan kepada saya. Bumi pun banyak berubah dari terakhir saya datang kesini”             “Emang kamu terakhir ke bumi kapan?”             “Tahun 2000 dan negara Indonesia juga”             “Oh makhluk bulan bertugas di negara lain juga?”             “Iya. Kita makhluk bumi bertugas menyebar di berbagai negara di bumi. Saya sudah selesai”             Lunetta membuka kedua matanya. Dilihat Gerhan seperti sedang kebingungan melihat ponsel Lunetta. Berkali-kali lelaki itu memutar-mutar ponselnya.             “Ini benda apa?” tanya Gerhan masih fokus dengan ponsel milik Lunetta             “Itu namanya hp. Buat alat komunikasi jarak jauh, karena kamu terakhir ke bumi tahun 2000 jadi kamu baru liat yang model seperti itu, ya walaupun hp saya juga model lama dan hanya bekas tapi saya yakin di tahun 2000 belum ada”             “Saya mau ini Luna. Dia bisa menghasilkan cahaya. Saya suka”             “Besok kita beli hp mahal model terbaru untuk kamu dan saya ya”             Gerhan hanya mengangguk. Lunetta tersenyum melihat tingkah lucu Gerhan. Ia memandangi keadaan kamar kosan miliknya. Ia harus mulai mengatur bagaimana Gerhan dan dirinya dapat tidur di kamar sempit ini.             “Gerhan karena kasur saya kecil, kamu tidur dilantai ya beralaskan selimut. Gapapa kan?”             “Saya tidak tidur. Makhluk bulan tidak pernah tidur seperti manusia. Luna saja yang tidur” ucap Gerhan lalu ia duduk di kursi meja belajar. Lunetta hanya ber-A ria saja lalu ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.             “Luna tidak lapar?” tanya Gerhan. Lunetta melirik kearah Gerhan.             “Lapar. Saya belum makan malam”             Tringg…             Tiba-tiba saja berbagai makanan sudah tersedia di lantai kamar kosan Lunetta. Lunetta berbinar melihatnya. Ia pun beranjak dari ranjangnya dan duduk sila dilantai. ***             Lunetta dan Gerhan keluar dari kamar kosan. Hariini Lunetta berniat untuk pergi dari kosannya tanpa membawa barang apapun karena ia akan membeli semuanya dengan yang baru. Berpapasan dengan mereka berdua keluar, pemilik kosan juga datang.             “Kalian siapa? Kenapa keluar dari kamar Lunetta?”             Lunetta kaget. Ia baru ingat kalau fisiknya sudah berubah, pantas saja pemilik kosan tidak mengenalinya. Tidak mungkin ia jujur kalau dirinya adalah Lunetta, karena baru kemarin malam pemilik kosannya bertemu dengannya masih dengan fisiknya yang gemuk.             “Sa..sa..ya…Lisa…se..sepupu Lunetta. Diaa..ehm…temen saya” ucap Lunetta terbata-bata.             “Terus ngapain disini?”             “Ngambil hp sama dompetnya. Mulai hariini dia tidak akan tinggal disini. Barang-barang miliknya di dalam terserah mau ibu apakan, dibuang, dijual, atau apapun terserah. Kita pamit bu. Permisi” ucap Lunetta lalu menarik pergelangan tangan Gerhan dan berjalan pergi. Saat melewati gerbang kosan, tiba-tiba langkah Gerhan terhenti.             “Kenapa berhenti?” tanya Lunetta yang heran Gerhan yang berjalan di belakangnya tiba-tiba diam mematung.             “Saya merasakan ada hawa makhluk bulan lain disini” ucap Gerhan.             “Apaansih perasaan aja kali. Ayo Gerhan kita pergi” seru Lunetta lalu ia Kembali berjalan dan Gerhan menyusulnya.   ***               Lunetta memutuskan untuk tinggal di hotel selama beberapa hari, karena mencari rumah sesuai dengan keinginan tidak segampang membalikkan telapak tangan walaupun saat ini dirinya memiliki banyak uang. Lunetta pun ingin memenuhi keinginan masa kecilnya yaitu menginap di hotel seperti yang dilakukan orang-orang pada biasanya.             “Ini access card-nya. 2 kamar bersebelahan. Kamar nomor 201 dan 202. Ada lagi yang bisa saya bantu?” ucap resepsionis dengan ramah. Lunetta meraih access card tersebut sembari menggeleng dan tersenyum. Bukannya menuju kamar hotel, Lunetta langsung mengajak Gerhan menuju mall yang berdekatan dengan hotel dan dapat dituju hanya dengan jalan kaki saja.             Mulai dari membeli ponsel baru untuk Gerhan dan dirinya. Membeli pakaian, tas, sepatu, sandal bahkan akhirnya ia dapat merasakan membeli makeup dan skincare seperti wanita-wanita pada umumnya. Tidak lupa juga ia membelikan kebutuhan untuk Gerhan. Bahkan mereka berdua bolak-balik sudah sebanyak 5 kali antara kamar hotel dan mall karena sekalinya berbelanja kedua tangan mereka berdua sudah tidak cukup untuk menenteng kantong belanjaan yang lain. Jadinya, mereka menyimpan terlebih dahulu di kamar dan kembali lagi ke mall. Saat kali keenam mereka ke mall, Lunetta membeli empat buah koper untuk menyimpan barang mereka berdua agar dapat dibawa saat mereka check out dari hotel.             “Gerhan saya lapar dan ini udah sore, saya belum makan sama sekali. Kita makan dulu ya” ajak Lunetta. Gerhan hanya mengangguk dan mengikuti langkah Lunetta memasuki sebuah restaurant. Mereka mencari meja yang masih kosong dan meminta buku menu kepada pelayan.             “Mau pesan sekarang atau nanti?” tanya ramah seorang waitress.             “Nanti saja” jawab Lunetta dengan senyum.             “Baik, ini buku menu-nya” ucap waitress menyerahkan dua buku menu kemudian berlalu.             Saat Lunetta membolak-balikkan halaman buku menu, Gerhan hanya terdiam saja dan memandangi Lunetta. Merasa sedari tadi dirinya di pandangi terus oleh Gerhan, ia pun menatap Gerhan.             “Kok kamu malah liatin saya terus? Kamu ngga akan pesan makanan?” tanya Lunetta.             “Makhluk bulan seperti saya tidak butuh makan”             “Pantas aja kamu semalem juga ngga makan, saya pikir kalo ada kamu sekarang saya ngga akan makan sendirian lagi kaya sebelumya. Bakal ada temennya” ucap Lunetta dengan sedih.             “Kalau menemani makan membuat Luna bahagia, saya akan melakukannya”             Lunetta benar-benar tersentuh dengan perkataan Gerhan.             “Emangnya kamu ngga akan kenapa-kenapa kalau makan, makanan manusia?” tanya Lunetta khawatir. Gerhan hanya menggeleng.             “Tapi saya ngga ngerti tentang makanan manusia. Jadi Luna saja yang memilih”             Lunetta mengangguk lalu dia memanggil pelayan agar dapat mencatat pesanannya. Setelah mengulang pesanan dan dirasa tidak ada yang salah pelayan pun mengambil kembali buku menu dari meja Lunetta dan Gerhan kemudian berlalu.             “Kayanya besok kita harus membeli mobil deh biar enak kalo kemana-mana. Tapi saya gabisa nyetir. Kekuatan kamu bisa buat saya nyetir ngga? Kaya tadi, kamu gunain kekuatan buat nambah pengetahuan saya tentang hotel dan berbelanja. Kalau ngga pake kekuatan kamu pasti saya keliatan norak banget tadi karena semuanya baru pertama kali untuk saya. Tapi karena kekuatan kamu, saya keliatan sudah melakukannya berkali-kali seperti naik lift terus buka kamar hotel, naik escalator dll. Itu benar-benar membantu saya” cerocos Lunetta.             “Bisa. Luna hariini bahagia?”             “Pastinya saya bahagia banget karena bisa ngelakuin yang sebelumnya ngga bisa saya lakuin karena tidak memiliki uang”             “Saya akan pastikan membuat Luna bahagia”             Luna tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD