Lunetta bingung harus berbuat apa, karena ini adalah ciuman pertama dalam hidupnya. Ia hanya bisa terdiam saja, dengan mata yang membelalak. Lelaki tersebut hanya mencium Lunetta sebentar.
“Kamu siapa? Kenapa sembarang cium saya hah?!” ucap Lunetta kesal.
“Kamu yang harus kasih saya nama. Saya mencium kamu, agar saya dapat mentransfer bahasa yang kamu gunakan untuk berkomunikasi di bumi karena saya berasal dari bulan. Kalo manusia menyebutnya dengan sebutan client, kamu adalah client wanita pertama saya. Sebelumnya saya selalu mendapatkan client manusia berjenis lelaki dan untuk mentransfer bahasa yang digunakan, saya hanya perlu memeluknya tapi karena kamu wanita jadi saya harus mencium kamu” ucapnya dengan sangat datar layak robot yang sedang berbicara. Lunetta bingung dengan semua yang diucapkan lelaki tersebut.
“Kamu ngomong apasih saya ngga ngerti. Terus kenapa kamu bisa ada disini?”
“Saya keluar dari buku, tapi saat ini bukunya sudah kembali ke tempat semula. Saya kesini untuk membuat hidup kamu bahagia. Jadi silahkan katakan apapun yang kamu inginkan agar kamu bahagia, maka saya akan mengabulkannya. Akan tetapi, kamu harus memberi saya nama terlebih dahulu agar kamu dapat merasakan black magic saya”
“Apapun yang saya inginkan? Ada batasannya ngga?” tanya Lunetta.
“Betul. Unlimited” ucapnya. Lunetta tertawa mendengar lelaki tersebut menyebut kata unlimited karena sangat lucu, lelaki itu pun ikut tertawa.
“Ha…Ha…Ha…Ha..Ha…Ha” begitulah tawa lelaki tersebut, yang bagi Lunetta itu sangat aneh. Lunetta memandangi lelaki tersebut dari atas hingga bawah. Badan lelaki tersebut sangat proposional layak lelaki yang rutin gym. Warna kulitnya putih pucat. Hidungnya mancung. Dibawah matanya hitam seperti mata panda. Sosok lelaki ini tampan namun menyeramkan bagi Lunetta. Lunetta memikirkan nama yang cocok untuk lelaki yang berada di hadapannya.
“Gerhan. Ya saya kasih nama kamu Gerhan. Berasal dari Gerhana karena kamu muncul disini bertepatan saat gerhana bulan. Gimana?”
“Saya setuju dengan nama itu. Terimakasih Luna” ucap Gerhan.
“Saya bukan Luna, nama saya…”
“Lunetta. Saya akan tetap memanggil kamu Luna yang memiliki arti yaitu bulan. Tidak berbeda jauh dengan nama kamu yaitu Lunetta yang artinya bulan kecil”
“Kok kamu tau nama saya? Sekarang kamu jelasin semuanya sampe saya ngerti kenapa kamu disini, dan sampe kapan kamu berada disini karena saya masih kaget dan bingung sama keberadaan kamu disini” ucap Lunetta lalu ia duduk di ranjangnya dan menepuk ranjangnya agar Gerhan duduk disebelahnya. Gerhan pun duduk di sebelah Lunetta.
“Saya itu berasal dari bulan, sudah berumur ratusan tahun. Kami para makhluk bulan diutus ke bumi untuk menjalankan tugas yaitu membuat beberapa manusia yang mengalami penderitaan terus-menerus dalam hidupnya untuk dibuat bahagia. Kami akan turun saat gerhana bulan tiba. Tugas kami akan selesai dan kembali ke bulan lagi saat gerhana bulan selanjutnya. Saya mengetahui kamu karena data kamu berada di pusat data bulan. Satu hal yang harus kamu ingat, kamu tidak boleh memberitahukan kepada siapapun mengenai identitas asli saya. Alasan saya berada disini karena kamu salah satu manusia yang selalu mengalami penderitaan terus-menerus. Menurut informasi, gerhana bulan kaliini sangat istimewa karena super blue moon oleh karena itu pihak bulan memberikan hal istimewa juga yaitu saya dan kamu akan dapat berkomunikasi melalui suara hati saat kita berjauhan. Manusia menyebutnya dengan sebutan telepati. Saya datang untuk membuat kamu merasakan kebahagiaan, jadi sebutkan hal apa yang ingin kamu inginkan? Tapi satu yang tidak bisa saya kabulkan yaitu menghidupkan orang meninggal”
“Oh jadi setiap gerhana bulan banyak makhluk bulan datang ke bumi gitu?”
“Tidak, hanya beberapa saja karena gerhana bulan terjadi di bumi setiap negaranya berbeda-beda”
“Udahlah saya ngga ngerti, ya paham lah sedikit-sedikit. Terus selama kamu di bumi, kamu tinggal dimana?”
“Bersama kamu” ucap Gerhan menatap Lunetta. Lunetta salah tingkah ditatap seperti itu oleh Gerhan. Selama hidupnya, ia belum pernah mengobrol seintens seperti sekarang dengan lelaki.
“Kalo ada yang tahu keberadaan kamu disini gimana? Temen-temen kosan atau pemilik kosan. Ya walaupun ini kosan bebas, tapi saya tidak enak kalau tinggal bersama dengan lelaki” ucap Lunetta.
“Kamu tinggal membeli rumah agar leluasa tinggal bersama saya”
“Dipikir beli rumah kaya beli tahu bulat kali ya. Saya tidak punya uang sebanyak itu untuk membeli rumah Gerhan” ucap Lunetta lalu menghela nafas.
“Saya yang akan memberikan kamu uang”
Gerhan memejamkan kedua matanya. Lalu ia menyentuh urat nadi yang terletak di lengan sebelah kirinya, kemudian setelah itu keluar cahaya biru dari lengan kiri Gerhan untuk sesaat cahaya biru tersebut hilang. Bersama dengan itu ponsel Lunetta mendapatkan sebuah notifikasi pesan. Lunetta mengecek ponselnya. Lunetta membelalak saat membuka pesan tersebut, tangan gemetar hingga ponselnya terjatuh.
“Li…li..li..ma…ratus…tus…mil..mil…yar” ucap Lunetta terbata-bata, seketika oksigen seperti habis begitu saja di dalam ruangan dan membuat Lunetta susah bernafas.
“Kenapa? Kurang? Saya bisa tambahin lagi” ucap Gerhan. Lunetta hanya menggeleng-geleng. Ia masih tidak percaya. Ia pun meraih ponselnya yang tergeletak dilantai, lalu menghitung deretan nolnya dengan teliti. Tidak berubah. Benar kini tabungannya baru saja mendapatkan uang sebesar 500 milyar.
“Kamu boleh menggunakan uang itu untuk membeli apapun yang kamu mau. Kalo habis saya akan memberikannya lagi” ucap Gerhan. Lunetta memeluk Gerhan sembari meneteskan air mata bahagia. Setelah sekian lama akhirnya ia merasakan apa itu bahagia kembali. Setelah selang beberapa detik, Lunetta melepaskan pelukannya. Lalu ia beranjak dari duduknya dan menghapus air matanya.
“Kamu liat fisik saya kan? Saya sering di bully. Sekarang saya ingin cantik” ucap Lunetta dengan senyuman di bibirnya.
“Saya akan mengabulkannya. Tapi satu yang harus kamu tahu, kamu akan ke wujud asli kamu hanya saat bulan purnama saja karena kekuatan saya sementara akan hilang saat bulan purnama. Tapi kamu akan berubah kembali ke fisik yang kamu inginkan setelah bulan purnama selesai”
“Jadi fisik saya akan jelek saat bulan purnama saja kan?” tanya Lunetta meyakinkan. Gerhan hanya mengangguk.
“Itu seumur hidup saya akan begitu terus?” tanya Lunetta lagi.
“Tidak. Hanya sampai gerhana bulan selanjutnya yaitu saat saya kembali ke bulan”
“Yaudah gapapa”
Gerhan pun kembali memejamkan kedua matanya dan menyentuh urat nadi yang terletak di lengan sebelah kirinya, lalu cahaya biru keluar lagi dari lengannya. Sekejap sosok Lunetta langsung berubah menjadi cantik bahkan pakaian yang ia gunakan sekarang kelonggaran dan membuat jeans dan celana dalamnya melorot. Untung saja baju yang ia kenakan mampu menutupi bagian intimnya.
“Please sekarang juga saya butuh baju yang sesuai ukuran badan saya sekarang!” ucap Lunetta panik. Gerhan pun mengabulkannya. Lunetta melihat dirinya di depan cermin. Sungguh tidak percaya dengan sosok wanita cantik dengan tubuh yang indah yang terpantul dari cermin adalah dirinya. Kini ia akan merasa percaya diri dengan penampilannya. Lunetta menghampiri Gerhan dan kembali memeluknya.
“Terimakasih Gerhan, kamu udah datang ke hidup saya” ucap Lunetta. Lalu ia melepaskan pelukannya.
“Sama-sama. Kamu cantik Luna” ucap Gerhan. Sukses membuat pipi Lunetta memerah, Gerhan merupakan lelaki pertama yang menyebut dirinya cantik. Wajar saja dengan fisiknya sekarang pasti semua orang akan menyebut dirinya cantik.
“Oh iya sekarang jelasin lagi tentang kamu dong yang lain” ucap Lunetta berusaha mengalihkan pembicaraan karena salah tingkah dibilang cantik oleh Gerhan.
“Ada satu peraturan yang tidak boleh dilanggar makhluk bulan” ucap Gerhan.
“Apa?” tanya Lunetta penasaran.