kilau Palsu di Kamar Rahasia
"Gimana, Om? Enak, kan, sama Laura?" tanya Laura.
Dia mencoba mencairkan atmosfer kamar hotel yang mendadak terasa pengap.
"Mantap banget!" sahut Om Robert Gunawan bersemangat.
Pria tua itu menyahut sambil mengelap keringat yang banjir di sekujur tubuhnya.
Laura kemudian bangkit berdiri dari atas kasur, berniat melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Ehh, mau ke mana, sayang?" sahut Om Robert tiba-tiba.
Suara berat pengusaha kaya itu memecah keheningan kamar dengan nada menuntut.
"Aduh, Om... mau ke kamar mandi sebentar, bersihin badan Laura. Gerah banget."
Mendengar itu, Om Robert hanya tersenyum tipis. Sebuah seringai penuh kuasa terbentuk di bibirnya, membuat bulu kuduk Laura meremang sekilas.
Tanpa diduga, pria tua itu langsung menarik tangan Laura kembali ke atas kasur dengan bertenaga.
"Apasih, Om? Sakit, tau!" seru Laura spontan.
Dia mengaduh karena pergelangan tangannya tercengkeram sangat erat oleh jemari keriput itu. Om Robert tidak memedulikan protes tersebut, malah semakin mendekatkan wajahnya yang mulai berkerut ke arah Laura.
"1 kali lagi, ya?" bisik Om Robert tepat di lubang telinga gadis muda itu.
Laura menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar hotel yang dibayar oleh pria di atasnya.
"Ih, Om... Laura capek. Kan udah dua ronde dari tadi. Emang Om masih sanggup?"
"Sanggup dong! Kan tadi sudah minum obat," jawab Om Robert penuh percaya diri sambil cengir lebar memperlihatkan giginya yang sudah tidak utuh lagi.
"Tuh, lagian juga udah enggak berdiri lagi," sahut Laura melirik lesu ke arah bawah, mencoba mencari alasan agar bisa lolos malam ini.
"Ya bangunin, ntar bangun juga," sahut Om Robert bercanda.
Dia setengah memaksa dengan mencengkeram pinggang Laura dengan kedua tangan kasarnya.
"Udahlah, Om. Laura capek, nanti aja," tolak Laura, mulai kehilangan kesabarannya karena sekujur tubuhnya terasa sangat pegal.
Namun, Om Robert langsung menindih tangan Laura agar gadis itu tidak bisa kabur ke mana-mana. Jemari kasarnya mulai bergerak liar menyentuh leher Laura, membuat gadis itu menggeliat tidak nyaman.
"Ahk, geli, Om! Udahan ih... pelan-pelan, sakit!" keluh Laura.
Dia memalingkan wajahnya yang merona merah untuk menahan pergerakan Om Robert. Pria tua itu hanya terkekeh, menganggap protes Laura sebagai bumbu permainan mereka malam ini.
Melihat Om Robert yang makin agresif karena pengaruh obat, otak matre Laura langsung berputar cepat. Dia melihat peluang emas untuk meminta barang mewah yang sudah lama dia dambakan demi gengsinya di kampus.
"Om, satu ronde lagi boleh, tapi beliin Laura mobil BMW putih ya?" bisik Laura sengaja menggoda.
Dia mengerlingkan matanya manja, lalu melanjutkan, "Gengsi dong, Om, kalau jalan sama pengusaha sukses tapi ke kampus masih sering telat gara-gara nunggu ojek online."
Om Robert terdiam sejenak mendengar permintaan itu. Otaknya yang licik sebagai CEO konglomerat langsung bekerja menghitung untung rugi dalam hitungan detik.
“Kalau aku belikan dia mobil secara cash, anak ini pasti bisa kabur kapan saja dari aku,” batin Om Robert penuh perhitungan.
Pria tua itu tersenyum misterius, lalu mencubit dagu Laura dengan tatapan penuh rencana jangka panjang.
"Boleh, tapi Om cuma mau kasih uang tunai untuk DP kredit BMW seri terbaru buat kamu."
Om Robert menatap tajam mata Laura, lalu berbisik lagi, "Sisa cicilan tiap bulannya, kamu sudah tahu sendiri kan harus gimana biar mobilnya enggak ditarik leasing?"
Laura tersentak di tempatnya duduk. Dia sadar betul bahwa tawaran itu adalah jerat kontrak yang akan mengikat dirinya dalam waktu yang sangat lama.
Namun, demi sebuah gengsi memakai BMW putih ke kampus, keserakahan Laura langsung mengalahkan akal sehatnya. Dia membayangkan betapa irinya teman-teman kampusnya saat melihat dirinya turun dari mobil mewah Eropa tersebut.
"Deal, Om! Janji ya besok temenin Laura ke dealer," sahut Laura akhirnya dengan senyuman yang sangat manis.
Sambil menahan rasa lelah yang mendera, Laura kembali melayani Om Robert demi ambisi gaya hidup palsunya.
Setelah urusan mereka benar-benar selesai, Om Robert berjalan menuju meja rias tempat jas mewahnya tersampir. Dia mengambil seikat uang tunai puluhan juta dari dalam tas kerjanya, lalu melemparkannya ke atas kasur tepat di depan Laura.
"Ini uang DP mobilmu. Dan ingat, hubungan kita ini murni hubungan gelap yang sangat rahasia," tegas Om Robert dengan suara dingin.
Pria tua itu menunjuk wajah Laura, "Jangan sampai ada satu orang pun yang tahu, atau semua fasilitas ini bakal Om tarik dalam semalam."
"Iya, Om Robert sayang. Laura pasti jaga rahasia kita kok," sahut Laura cepat.
Dia langsung mengamankan uang tunai tersebut ke dalam tasnya tanpa memedulikan ancaman sang om. Laura buru-buru masuk ke kamar mandi mewah, lalu membasuh tubuhnya di bawah pancuran air hangat dengan perasaan campur aduk.
“Biarin aja terikat lama, yang penting besok aku bisa pamer BMW baru di depan mereka,” batin Laura puas sambil memulas lipstik merah tipis ke bibirnya.
Saat Laura keluar dari kamar mandi, Om Robert sudah duduk rapi di sofa sambil asyik mengisap cerutu mahalnya. Pria tua itu meletakkan beberapa lembar uang tambahan di atas meja kaca.
"Ini buat ongkos taksi kamu pulang malam ini. Keluar lewat pintu belakang basement hotel ini, jangan sampai ada orang atau ajudan saya yang melihat kamu," perintah Om Robert tanpa menoleh.
Laura mengambil uang itu, mencium pipi Om Robert sekilas, lalu melangkah keluar kamar dengan sangat hati-hati. Lorong hotel bintang lima itu tampak sepi, namun detak jantung Laura berpacu cepat karena ketakutan akan rahasia ini selalu membayangi pikirannya.
Begitu masuk ke dalam taksi online yang dipesannya, Laura langsung mengeluarkan ponsel mahal dari dalam tas tangannya. Dia mengambil foto selfie dengan sudut yang memperlihatkan seikat uang di dalam tasnya yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka.
Foto itu langsung diunggah ke i********: Story dengan takarir: “Hard work pays off ✨ Hubby gave me pocket money ❤️”.
Hanya dalam hitungan detik setelah diunggah, layar ponsel Laura langsung bergetar hebat menerima banjir notifikasi. Pesan dari Chintya, Ayu, dan Putra masuk bertubi-tubi di layar pop-up w******p miliknya.
Chintya: OMGGG LAURAAA!! Gilaaa ya, itu seikat uang cash?! Hubby kamu royal banget sih, spill dong dapet spek cowok kayak gitu di mana? 😭❤️ Mau juga elah!
Ayu: Gila, gila, gila! Tas Gucci baru kemarin belum kering, sekarang udah dikasih uang jajan se-gembol gitu. Fix sih besok lu harus traktir kita boba di kantin ya Lau! Jangan sombong lu ya bidadari kampus!
Putra: Wih, ngeri kali saingan gua sekarang. Berarti info yang katanya lu mau ambil mobil baru itu beneran ya, Lau? Cowok lu pengusaha ya? Kapan-kapan bolehlah kenalin, siapa tau bisa kecipratan proyek investasi haha.
Laura hanya tersenyum-senyum sendiri membaca rentetan pujian itu tanpa ada niat untuk langsung membalas chat mereka malam ini. Rasa lelah, geli, dan sakit di badannya langsung sirna digantikan oleh kepuasan ego yang melambung sangat tinggi.
Dia merasa berada di atas angin dan berhasil memanfaatkan Om Robert Gunawan, tanpa tahu jerat cicilan BMW baru saja mengunci nasibnya perlahan-lahan.