Jujur saja aku belum siap dengan perubahan dadakan ini. "Mobilnya bagus banget ya, Mah?" Suara menggemaskan keponakanku membuat aku tersenyum samar. Ibunya sangat kewalahan menghadapi kecerdasan anak-anaknya yang kembar identik. Aku selalu membayangkan kelak bisa memiliki anak-anak lucu mengemaskan seperti keluarga sepupuku. Tapi, sekarang rasanya malah jadi rikuh sendiri, mengingat suamiku ini bukankah kekasihku. "Mobil siapa ini, Mah?" "Iya, bagus. Punya Om Aksara, Sayang," jawab sepupuku lembut, selalu bersabar pada tingkah kecerewetan keponakanku. "Kok dihias bagus banget ya? Mana wangi, nggak kayak punya papah." "Huumz, ya. Mobilnya papah bauk ikan!" Nyaris aku tergelak mendengar obrolan para bocil-bocil itu. Mereka belum memahami bahwa kendaraan orang tuanya digunakan untuk j

