"Pah, mah, ini sekretaris aku, sore ini dia akan bantu aku nyiapin keperluan di Jerman," ucap Adipati saat memperkenalkan Elsa pada orang tuanya. Papa dan mamanya hanya mengangguk mengerti, Adipati selalu sibuk jadi wajar saja jika dia meminta bantuan oleh sekretarisnya. Tapi papa Adipati menatap Elsa dengan decak kagum, gadis manis nan cantik juga sopan. Elsa terlihat polos dan sangat santun.
Adipati menarik tangan Elsa dan membawanya ke kamarnya lalu memberikan koper besarnya, sedangkan dia membanting tubuhnya ke kasur, Adipati sangat lelah hari ini. Baginya pekerjaan kantor selalu melelahkan.
"Pak, ini langsung saya ambil saja bajunya di lemari?" tanya Elsa.
"Ya, atur semuanya dan setelah beres pulanglah, pesan taksi." Adipati lalu meringsut naik ke atas kasurnya dan meringkuk memeluk guling. Dia sudah sangat lelah saat ini.
"Baik pak."
Elsa membuka pintu kamar Adipati, dia hanya takut terjadi fitnah diantara mereka berdua, apalagi Elsa masih perawan, dengan telaten Elsa menata baju Adipati termasuk peralatan mandi dan semuanya. Setelah itu Elsa mengetikkan dokumen dan mengeprintnya, meski tidak diperintah oleh Adipati, dia menyiapkannya, khawatir jika Adipati lupa membawa dokumen untuk rapat disana. Jam menunjukkan pukul enam sore, Elsa bangkit ke kasur Adipati dan membangunkannya.
"Pak, bapak ...," panggil Elsa. Namun tidak ada jawaban dari Adipati. Dia masih asik berkelana di pulau kapuk.
"Bapak Adipati, pak!"
Elsa menggoyangkan tangan Adipati namun tanpa sadar Adipati menarik Elsa dan menjadikannya guling.
Deru napas Adipati tepat berada di tengkuk Elsa, gadis itu merasakan merinding karena napas Adipati yang hangat.
"Astaga bapak!" teriak Elsa, tapi Adipati malah mengingau memeluknya makin erat.
Teriakan Elsa membuat mama Adipati naik ke atas, melihat kamar Adipati, takut jika Elsa terjadi sesuatu saat membantu Adipati.
"YA ALLAH NAK! KALIAN BUKAN MUHRIM!" teriak ibu Adipati yang membuat Elsa kaget. Sontak Adi membuka matanya dan terkejut Elsa dalam pelukannya.
"Ma-maaf tante, ini salah paham saya tadi-," uca Elsa terpotong.
"TURUN!" ucap ibu Adipati dengan nada tinggi.
Kalau sudah begini, ibu Adipati pasti marah besar. Sejak kecil dia mendidik Adipati untuk selalu sopan terhadap wanita. Tapi Adipati kini malah menyentuh yang bukan muhrimnya.
"Mah ini ... astaga! Sudah jam 6 sore! Mah, aku ijin berangkat. Elsa! Bawakan jasku."
Adipati lalu turun dan berpamitan kepada orang tuanya lalu menuju bandara. Elsa berjalan tergesa-gesa mengikuti langkah kaki Adipati.
"Saya berangkat, saya titip perusahaan selama saya pergi. Kamu jangan sampai lengah. Disini saya menguji kamu sebagai sekretaris baru saya."
Elsa mengangguk dan Adipati pergi masuk boarding pass.
"Astaga, bagaimana aku bisa pulang?!" pekik Elsa. Dia baru menyadari dompetnya hilang.
Dia mengelilingi bandara mencari dompetnya, barangkali terjatuh.Dia melihat seorang laki-laki menanyakan sesuatu kepada petugas, dan tangannya membawa dompetnya.
"Ma-maaf, dompet itu milik saya." Elsa menatap lelaki itu, dan dia sepertinya mengenalinya.
"Elsa?" "Bapak Dirga?" "Ini dompet kamu?" tanya Dirga. Elsa mengangguk dan menerima dompet itu. Elsa lalu membuka dompetnya dan menunjukkan fotonya disana."Ah benar itu milikmu, yasudah. Syukurlah.""Untung saja bapak menyelamatkan saya lagi."
Dirga tersenyum sudah dua kali mereka bertemu tanpa disengaja.
"Kamu mau pergi kemana?" tanya Dirga.
"Oh tidak, saya hanya mengantar atasan saya untuk berangkat ke Jerman, tapi supirnya sudah pulang karena mengira saya juga ke Jerman. Lalu dompet saya hilang, saya tidak bisa pulang hehe." Elsa menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Kebetulan saya membawa mobil, saya baru saja mengantar klien untuk ke Cina, ayo mari saya antar.""Oh, ti-tidak perlu pak, saya biar pulang naik taksi saja." Elsa menolak halus Dirga.
"Tak apa, ayo." Dirga lalu menggandeng Elsa menuju parkiran, entah kenapa genggaman Dirga membuatnya terasa sangat nyaman.
"Silahkan tuan putri." Dirga tersenyum kepada Elsa dan mempersilahkannya masuk."Ah bapak bisa aja, terimakasih Pak.""Panggil aku Dirga, tanpa pak ya." Dirga tertawa kecil lalu masuk ke dalam mobil.
Rupanya Elsa sangat lelah, dia menyiapkan semua kebutuhan Adipati. Elsa menatap Dirga dari samping, wajah lelaki ini tampan, maskulin dan juga sangat baik hati, sopan sekali, jauh berbeda dengan Adipati.
"Apa bapak sudah memiliki istri?" tanya Elsa tiba-tiba membuat Dirga terkejut. Elsa sendiri merutuki dirinya bertanya sesuatu hal yang privasi, apalagi mereka baru saja bertemu. " Kebetulan saya single, masih perjaka. Kenapa? Kamu tertarik menjadi istri saya?" tanya Dirga. Pertanyaan Dirga sukses membuat pipi Elsa memerah, bagaimana bisa dengan mudahnya Dirga mengucapkan kalimat seperti itu, padahal mereka baru saja mengenal beberapa hari yang lalu.
"Kalau saya jadi istri bapak, nanti bapak yang kerepotan," canda Elsa
"Kenapa kerepotan?" tanya Dirga
"Soalnya saya ..."