Shanaya

1945 Words
"Mi, Iska ada di kamar?" Tanya Shanaya Munaf, gadis cantik berdarah Arab. Penampilannya yang sederhana namun memancarkan kecantikan membuat orang yang melihatnya selalu ingin terus melihatnya. "Ada tuh, ke atas saja" Jawab suara lembut dan keibuan, Evita Hartono. Evi selalu berharap di masa depan, kelak yang menjadi menantunya adalah Shanaya, gadis yang sudah dikenalnya sebelum lahir ke dunia ini. "Makasih, Mi" Jawab Shanaya berlari ke arah tangga. Bukan tanpa alasan Evi menginginkan Shanaya untuk jadi menantunya. Shanaya hanya satu orang yang mampu mengimbangi atau membuat putranya takluk dan menurut hanya dalam satu lirikan atau sentuhan. Eva merasa bingung, kenapa putranya begitu menurut pada Shanaya? Atau lebih tepatnya ketergantungan? Mereka besar bersama, menjalani semuanya bersamaan. Meski Shanaya lebih muda lima tahun, dia mampu menjadi "Mami" kedua bagi Iska. Evi tersenyum. Shanaya langsung masuk ke kamar Iska tanpa meminta izin terlebih dahulu. Dia sudah terbiasa keluar masuk kamar pria yang sekarang sedang tertidur di ranjangnya. Rambut berantakan, mata terpejam, mulut sedikit terbuka, dan d**a telanjang. Itu hal pertama yang dilihatnya saat masuk kamar ini. Kebiasaan Iska yang suka tidur setengah telanjang. Naik ke ranjang, Shanaya ikut berbaring di samping Iska, memiringkan badannya untuk menghadap langsung Iska. "Ka, tadi di kantin kampus ada yang menembakku" Shanaya menyentuh d**a Iska dengan jarinya, mengikuti garis tato yang tergambar di sebagian tubuh Iska. "Menurutmu bagaimana?" Shanaya kembali bertanya. "Bilang kamu sudah punya pacar, bahkan calon suami" Suara berat Iska bergemuruh, walau kedua matanya masih terpejam. Dengan sekali tarikan, tubuh Shanaya sudah di atas tubuhnya. Kedua tangan Shanaya meraba wajah Iska. "Aku belum pernah mendapat pengakuan cinta darimu" Kepala Shanaya sedikit menunduk, mencium sudut bibir Iska. "Tidak perlu, aku lebih suka dengan melakukan ini" Menekan kepala Shanaya untuk semakin menunduk, memperdalam ciuman. Menyapu bersih setiap inci mulut wanitanya dan tidak ingin berhenti sedikitpun. "Ka, ayo berhenti" Rengek Shanaya saat bibir mereka terlepas. "Tidak, aku sangat rindu padamu. Menghilang seminggu ini, awas jika kau mengulanginya! Aku akan langsung datang ke rumahmu, meminta pada Mama untuk menikahkan kita secepatnya" Iska melotot, memberikan peringatan pada Shanaya yang hanya dibalas cengiran saja. Merasa tidak mendapat respons yang diharapkan, dia langsung membalik tubuh Shanaya untuk berada di bawah tubuhnya. "Aku... ini belajar buat ujian" Terkikik saat lidah Iska menjilat lehernya. "Aku benci harus tidak tahu kabar darimu," Menggigit dagu Shanaya, Iska memberikan tanda untuk dilihat semua orang, menunjukkan kalau Shanaya Munaf miliknya sejak kecil dan sampai kapanpun. "Aku minta maaf?" Shanaya pasrah dan menikmati saat dadanya dipuja oleh mulut dan tangan Iska. "Bu, makan siangnya sudah siap" Mbok Siti memberi tahu. Evi yang sedang membaca beberapa arsip pekerjaannya langsung mendongak, tersenyum. "Apa saya harus membangunkan Den Iska, Bu?" "Terima kasih. Tidak usah, biar saya saja" Merapikan beberapa lembar kertas yang tersebar di meja, Evita berjalan ke kamar putra semata wayangnya, Iskandar Hartono, yang terletak di lantai dua. Sampai di depan pintu, Evi akan mengetuk, namun urung saat mendengar suara rintihan dari dalam kamar putranya. Mendekatkan sebelah telinganya, dia semakin jelas mendengar erangan dan rintihan yang berasal dari mulut Shanaya. "Tidak, aku sangat rindu padamu. Menghilang seminggu ini, awas jika kau mengulanginya! Aku akan langsung datang ke rumahmu, meminta pada Mama untuk menikahkan kita secepatnya" Evita menutup bibirnya yang setengah terbuka dengan kedua telapak tangan kanannya. Mundur kembali, Evi melangkah sangat pelan menjauh dari kamar putranya. "Ya, kamu mau aku belikan tas?" Tanya Iska, mengelap sisa air di ujung rambutnya. "Aku ada uang lebih nih," "Nggak perlu, Ka. Aku belum mau ganti tas. Simpan saja uangnya buat beli mas kawin... Hehehe" Cengiran Shanaya di balik novel yang dibacanya. Shanaya ingat, sudah beberapa tahun terakhir kebutuhannya dipenuhi oleh Iskandar Hartono. Dia bukan tidak mampu atau keluarganya melarat, hanya saja Iska yang minta. "Simpan saja sama kamu," Iska menyodorkan setumpuk uang yang jumlahnya lumayan untuk membeli satu buah kendaraan. "Ada kenaikan omset di daerah selatan" Lanjutnya. "Ke rekening mana? Aku, kamu, atau kita?" Goda Shanaya mengambil uang. "Kita saja ya, Shanaya Hartono?" Iska tersenyum. Dia merasa Tuhan memberikan pelengkap hidupnya di tengah kehancuran. Seorang gadis yang begitu indah, yang setia mendampinginya sejak masih mengompol di celana. Seorang gadis yang dengan lugunya, tersenyum, menawarkan telapak tangannya untuk digenggam saat Iska terpuruk kehilangan orang yang disayanginya. "Ka, jangan nangis lagi. Aku janji bakal selalu di samping Iska, biarin Om Hartono tenang di Surga." Menyentuh sudut-sudut mata Iska yang basah, tangan kecil itu mengusap lembut. "Janji ya? Aku akan selalu ingat janji Aya" Iska, sembilan tahun, mencium kepala Shanaya sebagai tanda perjanjian. "Ka... Hei...?" Shanaya mencubit perut Iska, yang dijawab dengan loncatan kaget. "Melamun apa, Ka?" "Melamun ingin cepat kawin," Jawab Iska menyeringai. "Kalian mau ke mana? Nggak makan dulu?" Evi menutup majalah bisnis yang sedang dibacanya saat melihat Shanaya turun dibarengi Iska. Wajah mereka berdua tampak bahagia. "Nggak Mi, nanti di luar aja. Kebetulan kami lagi buru-buru banget" Shanaya mendekat ke arah Evita untuk pamitan. Iska yang di belakangnya seperti anak ayam. "Mi, kami pergi dulu," Setelah berpamitan, Iska langsung menggandeng lengan Shanaya di hadapan Evi. "Hati-hati di jalan." "Jangan bikin tato lagi, jelek ah" Shanaya melirik tato baru di leher Iska. Tato bergambar tulisan Thailand itu. "Apa artinya?" Iska menjawab, "Shanaya Hartono" tersenyum. Shanaya sedikit terkejut. Ini bukan pertama kalinya Iska mentato tubuhnya dengan tulisan atau gambar yang berhubungan dengan dirinya. Bahkan Shanaya ingat saat Iska berumur sembilan belas tahun, dia sudah mentato sebagian tubuhnya. "Ka, yakin?" Shanaya sekali lagi meyakinkan keputusan Iska. Minggu ini, mereka mengunjungi salah satu seni tato paling terkenal di Jakarta. "Aku yakin, mana mungkin aku nggak yakin bikin tato baru? Apalagi aku bikin gambar kamu di bawah perutku" Iska mengacak rambut Shanaya, lembut dan harum. "Kan sakit, Ka? Kalau Mami tahu gimana?" Shanaya merapikan kembali rambutnya. "Mami nggak bakal apa-apa, dia sudah bebaskan aku kok" "Bukan berarti sudah bebas langsung mentato tubuh seenaknya" Dengus Shanaya. Dia juga cukup keberatan dengan keputusan Mami Evi dalam mendidik Iska, memberikan kebebasan yang tidak terbatas dalam hal apapun semenjak Iska selamat dari maut. "Ay, marah?" Iska bertanya pelan, memperhatikan Shanaya yang tiga bulan lalu berusia empat belas tahun. Shanaya menolak untuk melihat atau menjawab Iska. "Aku bikin tato juga nggak asal kok, semuanya punya arti. Kayak tato di punggung aku, lingkaran-lingkaran yang berpusat pada satu titik. Satu titik itu kamu," Jari telunjuk Iska menyentuh pipi Shanaya yang tertunduk. "d**a aku, itu gambar rambut kamu yang selalu indah, di pundak..." Iska merasa mendengar tangisan pelan dari Shanaya. "Ay, kenapa? Aku salah banget ya?" Shanaya tidak menjawab. Dia semakin tidak bisa membendung air matanya yang turun. "Ka...?" Menubruk Iska, memeluk dengan sangat erat. "Makasih" "Jangan nangis, nanti aku ikutan nangis" Iska melingkarkan kedua lengannya di pinggang Shanaya. "Aku sayang banget sama kamu" "Jadi, bagus nggak?" Iska membuyarkan lamunan Shanaya. Shanaya mengangguk untuk menjawab. "Tapi kurangi, Bang Shakti suka mengomel-ngomel... Dia kadang suka takut sama calon adik iparnya yang banyak tato, katanya kalah pamor" Iska tertawa pelan mengingat Shaktia Munaf, kakak kandung dari Shanaya yang juga teman satu permainannya. "Bilangin ke Shakti, dia sirik aja" "Ogah, bang Shakti mengancam nggak mau ngasih restu buat kita" Shanaya ikut tertawa. Kakaknya selalu bersikap menyebalkan kalau menyangkut Iska, meski mereka berteman. "Jangan khawatir, nanti aku yang ngomong ke Shakti" Tangan kiri Iska bergerak mengusap tengkuk Shanaya. "Ay..." Perlahan wajah Iska mendekat. Shanaya menutup kedua pasang matanya, menunggu sentuhan Iska. Setiap sentuhan intim yang diberikan Iska padanya, membuat Shanaya tidak berdaya sama sekali. Perut dan napasnya selalu bekerja tidak normal kala Iska menyentuhnya dengan lembut atau kasar. "Ngrh..." Erang Shanaya, merasa bibir bawahnya digigit dengan lembut oleh gigi Iska. Rasanya mendebarkan dan nikmat. Membuka bibirnya perlahan, mengadu lidah masing-masing. "Nghh..." Telapak tangan Iska menyusup di balik kaus yang dipakai Shanaya, mengusap punggung lembutnya dan dia merasa kedua dadanya bergetar bebas saat jari tengah Iska menekan pusat titik sensitifnya. BLUK BLUK BLUK Ciuman, pelukan, dan belaian panas mereka terlepas begitu saja. Mereka berdua kaget. Napas mereka masih memburu. "Pakai kembali bra-mu" Perintah Iska yang berusaha mengontrol gairahnya. Shanaya bingung, sejak kapan bra-nya lepas. Membuka setengah kaca mobilnya, Iska mengatur napas sebelum menjawab rentetan pertanyaan dari orang yang sudah mengganggunya. "Ya...?" "Maaf, mobil saya tidak bisa keluar" Seorang pemuda yang mungkin seumuran dengan Shanaya menampakkan wajah kesalnya. "Bisa tolong pindahkan mobil Anda," "Tentu, tolong tunggu sebentar" Iska merasa terganggu saat mata pemuda itu mencoba mengintip wajah Shanaya yang tertunduk untuk merapikan pakaiannya. "Maaf? Ada perlu apa lagi?" Tanya Iska tajam, menyipitkan kedua pasang matanya yang lumayan sipit. Orang itu tersenyum, lalu mundur. "Lain kali jangan berhenti sembarangan," Shanaya menjewer kuping Iska yang dijawab ringisan. "Untung bukan polisi," "Maaf..." Iska tersenyum. Shanaya menghembuskan napas lega saat berhasil menyelesaikan ujian. Dirasanya belajar selama beberapa hari ini tidak jatuh sia-sia ketika semua soal ujian dijawab dengan penuh rasa percaya diri. "Shanaya, ke kantin yuk?" Ajak Mita, teman baiknya selama di kampus. Mita, gadis cantik dan enak diajak mengobrol apapun. "Yuk" Merangkul lengan Mita, mereka berjalan ke arah kantin yang selalu ramai. Selama perjalanan, banyak pasang mata yang memperhatikan dua bintang kampus tersebut. "Shanaya?" Panggil seseorang dari belakang. Shanaya menoleh dan tersenyum mendapati siapa orang yang memanggilnya. Abimanyu, pria yang mencoba mendekatinya. "Hai?" Shanaya mencoba menyapa. Terlepas dari maksudnya, Abi termasuk teman yang baik dan menyenangkan. Abi menggaruk rambutnya yang tidak gatal, mencoba ingin menyampaikan hal penting. "Jadi, kemarin itu pacarnya?" Abi ragu-ragu. Shanaya tidak mengerti, kemarin apa? Perasaan dia tidak bertemu Abi atau seorang teman lainnya pun. "Hah?" "Yang di mobil kemarin," Mobil? Kemarin? Hah. Shanaya membeku, apa jangan-jangan orang yang... "Apa kau lihat...?" Abi tersenyum. "Kok terlambat?" Tanya Nani Munaf. Shanaya yang baru sampai langsung mencium telapak tangan ibunya yang sedang menonton televisi di ruang keluarga, di sebelahnya ada Shakti. "Pacaran lah, Bu" Potong Shakti menggoda. "Segitu melekatnya mereka, Bu, mending kawinkan aja mereka sebelum Shanaya bunting" Shanaya ingin sekali melempar barang apapun pada wajah culas Shakti. "Sirik aja," Ikut duduk di sebelah ibunya. "Memang kalian pacaran?" Tanya Nani penasaran. "Ibu, mereka tuh kayak suami sama istri... Ke mana-mana bareng, bahkan beli baju dalam juga bareng" "Bang Shakti!" "Ya sudah tidak apa-apa, nanti Ibu sama Ayah yang meluruskan ke Iska sama Maminya" Nani mengusap rambut Shanaya pelan. "Kamu tidak keberatan kan kalau Ibu sama Ayah bahas ini?" Shanaya tidak menjawab. "Bu, sebenarnya Iska sudah mau melamar cuma aku minta diundur dulu" Shanaya masih terus menunduk. Takut respons negatif yang diberikan ibunya. "Berani juga tuh anak, ternyata tidak cuma tato doang yang banyak" Celetuk Shakti. Nani terkekeh pelan mendengar apa kata putra tuanya tentang Iskandar Hartono. Dulu, dia sempat was-was dan ragu saat melihat kedekatan putri bungsunya dengan Iska. Yang diingat, Iska, anak yang manis dan manja namun berubah drastis saat Hartono meninggal. "Kenapa harus diundur, sayang? Selagi Iska serius dan cinta sama kamu?" "Maaf, Bu" Shanaya memeluk erat ibunya. "Sayang, makasih banyak sudah mau menerima Iska buat jadi pendampingmu" Evi menangis terharu saat proses lamaran berjalan sesuai rencana. Sudah diputuskan oleh kedua belah pihak, pernikahan akan digelar tiga minggu lagi. "Mi, aku cinta Iska" Shanaya melirik Iska yang sedang mengobrol bersama para sepupunya. Dia begitu tampan dan bahagia. "Iska juga sangat mencintaimu, dia selalu memujamu dari dulu" Evi mengikuti arah pandang Shanaya. Di sana putranya memandang penuh cinta pada gadis yang sekarang dihadapannya. "Sana..." Dorong Evi pada bahu Shanaya. Shanaya berlari pelan pada pelabuhannya yang menanti. Dia berharap hubungannya bersama Iska akan lebih hangat dan bertambahnya rasa cinta yang jarang terucap di antara mereka. "Ka, aku hamil dan aku ingin ditato di bawah pusar" Shanaya berdiri di depan Iska yang sedang mengecek penghasilan dari beberapa restoran dan usaha lainnya. "Yakin?" Iska bertanya tanpa menatap langsung wajah Shanaya. "Sakit nggak?" Cicit suara Shanaya. "Lumayan," Jawab Iska. Melirik dari ujung matanya, Iska tersenyum. Shanaya pasti mengurungkan niatnya untuk membuat tato, dengan alasan ngidam. No way! Jangan harap. "Kamu aja yang bikin tatonya," Shanaya berjongkok, lalu mencium pipi Iska. "Aku mandi dulu," Iska menyeringai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD