Renata Kusuma

1850 Words
“Ren, jadi ya… Aku jemput.” Idris langsung menutup teleponnya. Senyum samar muncul di wajahnya, bahkan sorenya terasa lebih indah hanya karena ia tahu akan bertemu dengan gadis yang selalu mengisi hatinya—Renata Kusuma. Mengambil map berisi berkas rapat, Idris melangkah keluar dari ruangannya. Setelan jas hitam yang melekat di tubuhnya membuat sosoknya semakin karismatik. Dia bukan hanya anak bungsu keluarga Prakoso, tapi juga pemimpin muda yang dikagumi banyak karyawan. Semua tahu, Idris adalah harapan masa depan perusahaan. Namun, meski sorot matanya selalu tajam dalam dunia bisnis, hanya nama Renata yang mampu melembutkannya. ⸻ “Pak Indra belum datang?” tanya Idris saat masuk ke ruang meeting. Kursi besar di ujung meja masih kosong. Biasanya sang kakak, Indra Prakoso, selalu tepat waktu, bahkan datang lebih dulu daripada siapa pun. “Beliau sudah berpesan, mungkin akan terlambat,” jawab Alpin, sekretaris pribadi Indra. Idris mengernyit. Ia mengecek ponselnya, berharap ada kabar. Tidak ada pesan. Tidak ada pemberitahuan. Hatinya mendadak tidak tenang. ⸻ Sementara itu, di sebuah apartemen sederhana, Indra tengah duduk di sofa. Rena berbaring di pangkuannya, matanya masih terpejam. Jemari Indra bergerak lembut, menyisir rambut hitam halus yang selalu menjadi kesukaan tangannya. “Rena… Kakak harus segera ke kantor. Ada rapat penting,” ucap Indra pelan. Renata menggeliat, lalu semakin erat memeluk pinggang Indra. “Tidak mau… Aku ingin Kak Indra di sini. Jangan pergi sampai aku bosan.” Suaranya manja, tapi ada nada rindu yang dalam. Indra menahan napas. Kata-kata itu, sentuhan itu, seolah merobek pertahanannya. “Rena…” bisiknya. “Aku rindu Kakak. Kenapa akhir-akhir ini kita jarang bersama?” tanyanya, lirih. Indra menunduk, mencium helai rambut Rena yang wangi. Ada perasaan pahit menyeruak. “Bukannya ada Idris? Dia selalu ada untukmu.” Ucapan itu membuat Rena membuka mata, menatap Indra dengan sorot yang dalam. Ia memegang wajah lelaki itu dengan kedua tangannya. “Aku ingin kamu, bukan siapa pun.” Dan sebelum Indra sempat menolak atau berkilah, bibir Rena sudah menempel pada bibirnya. Hangat. Dalam. Menghanyutkan. Bukan pertama kali mereka melakukannya, tapi setiap sentuhan terasa baru. d**a Indra bergetar, hatinya penuh rasa bersalah sekaligus bahagia. “Rena…” suara Indra tercekat. Rena hanya menutup mata, menikmati setiap detik bersama lelaki yang ia cintai, lelaki yang selalu dipandang rendah dunia—tapi baginya, Indra adalah segalanya. ⸻ Sore itu, Idris menunggu di depan gedung kampus Rena. Wajahnya menegang, tapi matanya berbinar penuh harap. Satu jam berlalu. Dua jam. Dan akhirnya, Rena muncul dengan langkah tergesa. “Ren, kenapa telat?” tanya Idris, mencoba menyembunyikan rasa cemasnya dengan nada kesal. “Ada urusan,” jawab Rena singkat. Ia tersenyum tipis, tapi matanya tampak lelah. Idris ingin mengajaknya makan malam, ingin memperpanjang waktu kebersamaan. Tapi Rena hanya menggeleng. “Aku capek, Kak. Pulang saja, ya?” Sepanjang perjalanan, Idris berusaha mencari kata untuk membuka percakapan. Namun ketika matanya melirik ke arah penumpang di sebelahnya, ia melihat Rena sudah tertidur, kepalanya bersandar di jendela. Begitu damai. Begitu jauh terasa. Idris hanya bisa menggenggam erat setir, menahan perasaan yang tak pernah bisa ia ucapkan. * Suasana rumah besar keluarga Prakoso selalu terasa dingin bagi Indra. Meskipun lampu kristal menggantung indah, lantai marmer berkilau, dan segala kemewahan terpampang, Indra sering merasa dirinya bukan bagian dari semua itu. Langkahnya berat saat menaiki anak tangga. Tongkat penyangga di tangan kirinya beradu dengan lantai, menghasilkan bunyi berulang yang selalu menjadi pengingat: ia berbeda. “Dra, kenapa tidak ikut rapat?” suara berat itu menghentikan langkahnya. Indra menoleh. Ayahnya, Budi Prakoso, berdiri di dekat sebuah guci besar. Wajahnya serius, satu tangan menggenggam tongkat yang sudah menjadi teman setianya selama puluhan tahun. “Soal itu—” Indra mencoba menjelaskan. Belum sempat kata-kata keluar, suara lain memotong. Tajam, menusuk. “Lihat, Pak. Makanya jangan dimanjain anak cacat begitu. Nggak becus kerja, nggak becus jadi penerus.” Indra mengepalkan tangannya. Suara itu, suara yang sudah terlalu sering ia dengar. Ibunya, Ayu Nandia Prakoso, berdiri di ujung ruangan, lengannya bersilang di d**a. Tatapan matanya penuh benci. “Pak, lihat Idris. Dia yang pantas. Bukan dia,” tambah Ayu, seolah ingin menusuk hati Indra lebih dalam. “Yu!” bentak Budi, mencoba menghentikan istrinya. Namun Ayu hanya mendengus. Sorot matanya tidak bergeser dari Indra, penuh amarah. Seolah keberadaan putra sulungnya adalah aib yang harus segera disingkirkan. Indra menunduk, lalu melanjutkan langkahnya. Hanya beberapa anak tangga lagi, tapi terasa seperti perjalanan panjang yang menyiksa. “Dra.” Suara ayahnya pelan. “Jangan diulangi.” Indra terdiam. Kata-kata itu seperti belati. Ia tidak pernah bermaksud meninggalkan tanggung jawab, hanya… ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya selalu merasa kalah, bahkan sebelum bertarung. ⸻ Malam itu, Rena baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah, meneteskan bulir air ke bahu. Baru saja ia hendak mengeringkan rambut, bel apartemennya berbunyi. Berulang-ulang, mendesak. “Siapa malam-malam begini?” gumamnya. Saat pintu dibuka, Indra berdiri di sana. Wajahnya pucat, napasnya berat. Tongkat di tangan kirinya membuat Rena langsung tahu: sesuatu terjadi. “Kak…? Ada apa?” tanyanya cemas. Indra tersenyum tipis, meski jelas-jelas itu hanya topeng. “Kebetulan lewat jalan sini.” Rena tahu itu bohong. Indra tidak pernah datang tanpa alasan, apalagi di jam seperti ini. Tapi ia tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya meraih pinggang lelaki itu, menuntunnya masuk. “Ada makanan kesukaan Kakak di kulkas. Duduk dulu, ya?” Rena berusaha ceria. Namun Indra menahan tangannya. “Ren, sebentar saja. Duduk sama aku.” Mereka duduk di sofa. Indra meraih jemari Rena, menggenggam erat, seolah takut kehilangannya. “Kak, apa soal rumah?” suara Rena pelan, matanya menatap lembut. Ia tahu, hanya satu hal yang bisa membuat Indra seterpuruk ini: keluarganya. Indra tidak menjawab. Ia hanya mengusap pipi Rena. Tatapannya penuh luka, sekaligus rasa syukur. “Gimana kuliah tadi?” tanyanya, mencoba mengalihkan. “Kakak jangan ganti topik,” rengek Rena, menarik kerah baju Indra mendekat. Bibirnya menyentuh sudut bibir lelaki itu. Indra menahan napas. “Rena—” “Tolong jangan berpura-pura kuat. Aku di sini, Kak. Aku lihat semua yang orang lain nggak pernah mau lihat.” Suara Rena bergetar. Ia menempelkan keningnya ke d**a Indra. “Mereka boleh hina Kakak, tapi buatku… Kakak sempurna.” Air mata yang sudah lama ditahan akhirnya jatuh. Indra memeluk Rena erat, menenggelamkan wajahnya di bahunya. Di malam itu, di apartemen kecil yang jauh dari megahnya rumah Prakoso, Indra akhirnya menemukan rumah sebenarnya: pelukan Renata Kusuma. ⸻ Keesokan paginya, Idris mengetuk pintu kamar Indra. Ia membawa secangkir teh hangat. “Bang, semalam ke mana? Aku cari-cari nggak ada.” Indra menerima teh itu, meneguk pelan. “Dari Rena.” Idris menahan napas sejenak, tapi wajahnya tetap datar. Seolah kalimat itu tidak membuat hatinya bergetar. “Dris, oke?” tanya Indra. “Oke. Bang, aku harus rapat duluan.” Idris buru-buru pamit. Tapi begitu pintu tertutup, Idris berjalan cepat, hampir berlari ke lantai paling atas gedung Prakoso. Saat sampai, ia berteriak sekencang-kencangnya. Suaranya pecah, dadanya sesak. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. Ia sudah tahu. Lima bulan lalu, ia pernah melihat pelukan itu—Rena yang memeluk Indra begitu erat, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Tapi hari ini, ia mendengarnya langsung dari mulut kakaknya. Hatinya hancur. * Kafe kecil di sudut kota itu sudah lama menjadi tempat pertemuan Idris dan Rena. Meja kayu di pojok, dekat jendela besar yang menghadap jalan, selalu mereka pilih. Dari dulu, sejak masih remaja, hingga sekarang saat Idris sudah menjadi pria dewasa dengan setelan jas rapi dan Rena tumbuh menjadi wanita yang cantik dengan pesonanya sendiri. Hari itu, Rena datang dengan langkah terburu-buru. Rambutnya tergerai sederhana, wajahnya sedikit basah oleh keringat. Idris bisa menebak, ia berlari dari kampus ke tempat ini. Senyum otomatis muncul di wajah Idris—Rena selalu tampak indah, bahkan saat kelelahan. “Ren,” sapa Idris. Ia berdiri, menarik kursi untuk Rena. “Kamu kelihatan capek.” Rena tertawa kecil, duduk dengan tubuh sedikit terengah. “Ya begitulah, kuliah lagi padat. Kamu gimana, Kak? Sibuk rapat terus, ya?” Idris hanya mengangguk sambil menatap wajahnya. Pandangan itu lama, terlalu lama, hingga membuat Rena merasa kikuk. “Kenapa lihat aku begitu?” tanyanya. “Aku cuma… bersyukur,” jawab Idris pelan. “Kamu selalu datang, meskipun aku tahu kamu capek.” Rena tersenyum tipis, lalu mengambil segelas air dingin yang sudah disiapkan. Ia meneguknya. Idris menunggu, menimbang-nimbang kata-kata yang sudah ia rangkai sejak lama. Detak jantungnya menggema di telinga sendiri. Akhirnya, ia berani. “Ren, aku mau ngomong sesuatu.” Rena mengangkat alisnya. “Apa?” Idris menarik napas dalam. Tangannya mengepal di atas meja. “Renata Kusuma… aku cinta kamu.” Sunyi. Suasana kafe yang riuh terasa menghilang seketika. Waktu seakan berhenti. Rena terdiam, matanya membesar, lalu perlahan melembut. Idris melanjutkan, suaranya penuh rasa sakit tapi juga kejujuran. “Aku sudah simpan ini lama sekali. Dari dulu. Dari kita masih kecil. Aku nggak pernah berhenti melihat kamu, Ren. Setiap hari. Setiap senyum kamu. Aku tahu mungkin aku telat bilang. Tapi aku nggak bisa terus pura-pura jadi cuma ‘kakak’ atau teman masa kecil. Aku mau lebih dari itu.” Rena menunduk. Tangannya bergetar di pangkuan. Kata-kata Idris begitu tulus, begitu dalam, hingga menusuk hatinya dengan cara yang berbeda—bukan karena ia balas mencintai, tapi karena ia tahu ia akan melukai. “Ren, tolong bilang sesuatu…” suara Idris bergetar. Rena mengangkat wajahnya. Senyum lembut muncul, tapi matanya berkaca-kaca. “Kak… aku juga cinta.” Hati Idris berdegup kencang, harapan hampir meluap. Namun, kalimat berikutnya menghancurkan segalanya. “Tapi, sebagai kakak.” Senyum itu pecah, berubah getir. “Aku nggak bisa mengukur seberapa besar rasa sayang aku ke kamu, Kak Idris. Kamu baik, kamu perhatian, kamu selalu ada buat aku. Tapi cinta yang aku punya… hatiku… sudah jadi milik orang lain. Aku nggak bisa hidup tanpanya.” Idris terdiam. Kata-kata itu seperti palu besar yang menghantam dadanya. Ia mencoba tersenyum, meski wajahnya retak. “Orang lain… siapa, Ren?” Mata Rena berkedip ragu. Ada ketakutan. Tapi akhirnya ia memilih jujur. “Indra.” Nama itu meluncur seperti panah tajam. Idris menunduk, matanya berkabut. Ia sudah menduga, tapi mendengar langsung dari bibir Rena adalah pukulan yang tak terhindarkan. “Kenapa… harus dia?” suara Idris serak. “Kenapa bukan aku?” Rena mengulurkan tangan, menggenggam jari Idris. “Karena dia membuatku merasa lengkap. Karena meski dunia menolaknya, dia tetap berdiri. Dan aku ingin jadi orang yang selalu ada di sampingnya. Aku minta maaf, Kak…” Idris menatap genggaman itu. Hangat, tapi tidak untuknya. Ia tahu, tangan itu sudah terikat pada kakaknya. Air mata menggenang di pelupuk mata Idris, tapi ia buru-buru menghapusnya. Ia tersenyum, meski getir. “Kapan diresmikan?” tanyanya pelan. Rena terkejut, lalu menunduk. “Secepatnya.” Idris bangkit, menatap keluar jendela. Jalanan ramai, orang-orang berlalu lalang tanpa tahu ada hati yang hancur di balik kaca kafe itu. “Kalau begitu… semoga kamu bahagia, Ren.” Suaranya bergetar, tapi Rena tahu, Idris berusaha kuat. Rena ikut berdiri, ingin menahannya. “Kak—” Namun Idris sudah melangkah pergi. Punggungnya tegak, tapi langkahnya berat. Seperti seseorang yang baru saja kehilangan seluruh dunianya. Dan di kursi itu, Rena terdiam. Air matanya jatuh, karena ia tahu luka yang baru saja ia buat pada Idris tidak akan pernah sembuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD