Bab 1. Racun dalam seragam

793 Words
Langit sore mendung, menggantung rendah seperti tahu betapa busuk isi sekolah ini. Awan-awan gelap menekan bangunan tua SMA Wijaya seolah mencoba memeluknya sampai retak. Udara terasa berat, dan gerimis menggantung di ujung angin. “Berantem lagi! Di lapangan belakang!” Suara itu melesat seperti petasan. Sorak-sorai meledak di lorong-lorong sekolah, menular cepat seperti virus. Anak-anak berhamburan dari kelas, melompati anak tangga, mendorong pintu dengan semangat liar yang hanya muncul saat kekacauan mendekat. Wajah-wajah penuh antusiasme, senyum setengah gila, langkah tergesa seperti hidup mereka bergantung pada darah dan drama. Aku tetap duduk di meja kantin. Meja nomor tiga dari pojok kanan, tempat paling strategis untuk melihat segalanya tanpa ikut terlibat. Tangan kiriku memegang gelas plastik rasa stroberi—warnanya mencolok, terlalu merah untuk jadi alami. Aku menyesap perlahan, pura-pura tidak peduli. Seperti biasa. Tapi kupingku tidak bisa menahan diri saat satu nama disebut. Lagi. Radja. Radja, si anak baru. Pindahan dari sekolah entah di mana, dengan reputasi yang lebih kelam dari hoodie lusuhnya yang seolah tidak pernah dicuci. Sudah dua bulan dia muncul di sekolah ini—diam, tak tersentuh, dengan tatapan kosong yang tak pernah meminta belas kasihan. Katanya dia tinggal sendiri, di rumah tua warisan neneknya. Dua rumah dari tempat tinggalku. Orang tuanya? Tidak jelas. Gosipnya, mereka pergi meninggalkannya waktu kecil. Ada juga yang bilang, dia yang mengusir mereka. Tak ada yang tahu pasti. Tak ada yang cukup berani untuk bertanya langsung. Yang jelas, Radja datang ke sekolah bukan untuk belajar. Dia datang seperti badai yang belum selesai. Satu demi satu anak laki-laki di sekolah ini sudah pernah mencicipi tinjunya, dan tidak ada yang menang. Aku mendongak sedikit. Dari tempat dudukku, aku bisa melihat gerakan siswa berkumpul di lapangan belakang, tepat di samping gedung laboratorium. Beberapa guru melongok dari balik jendela ruang guru, tapi seperti biasa, tak ada yang bergerak. Mereka pura-pura tidak tahu, pura-pura sibuk dengan tugas-tugas yang tak penting. Tipikal. “Lo nggak mau liat?” tanya Vira, duduk di seberangku, mengunyah permen karet seperti sedang menghitung waktu sampai kekacauan dimulai. “Ngapain?” jawabku pelan, mataku tidak berpaling dari minuman. “Hasilnya udah jelas.” Vira menaikkan alis. “Radja selalu menang.” Aku hanya mengangguk. Kalimat itu seperti fakta yang tidak perlu dibahas lebih jauh. Lalu dia menyeringai. “Tapi lo penasaran, kan?” Aku tidak menjawab. Karena ya—aku memang penasaran. Tapi bukan soal siapa yang dipukul Radja kali ini. Aku lebih penasaran… kenapa dia belum pernah bicara padaku. --- Beberapa menit kemudian, aku berdiri di balkon lantai dua. Tanganku menyentuh pagar besi yang dingin, sedikit berkarat. Dari sini, lapangan belakang terlihat jelas, seperti arena gladiator. Kerumunan mulai bubar. Seorang siswa—anak OSIS, kalau aku tidak salah—tersungkur di tanah, wajahnya lebam, napasnya memburu seperti habis dikejar mimpi buruk. Dua temannya menarik tubuhnya menjauh dari tengah lapangan. Dan di sana… Radja berdiri di sisi lingkaran yang perlahan kosong. Menyalakan rokok. Gerakannya tenang, nyaris lamban. Tatapannya tak tertuju ke siapa pun. Seolah dunia ini hanya latar belakang dan dia satu-satunya tokoh utama. Hidungnya berdarah. Tapi dia menyeringai. Bukan senyum ramah. Bukan kemenangan. Tapi senyum tipis yang lebih mirip ejekan sunyi pada hidup. Senyum yang membuat tengkukku meremang. Lalu dia melirik ke atas. Ke arah balkon. Ke arahku. Jantungku mencelat ke tenggorokan. Aku refleks memalingkan wajah, tapi terlambat. Aku tahu dia melihatku. Dan entah kenapa, aku merasa seperti baru saja menandatangani sesuatu. Tak terlihat. Tapi nyata. --- Di rumah, Mama tidak ada. Tidak pernah benar-benar ada, kalau boleh jujur. Papa? Masih di luar negeri, katanya akan pulang "begitu urusan selesai." Entah kapan. Kata-kata itu sudah basi bertahun-tahun lalu. Tapi tetap aku menghormati dan menyayangi mereka. Rumahku besar. Dua lantai, halaman depan yang selalu terlalu rapi karena tukang kebun datang seminggu sekali, dan teras belakang yang selalu kosong karena tak ada yang mau duduk di sana. Terlalu sunyi. Kamarku di lantai atas. Jendela besar menghadap ke gang kecil dan deretan rumah-rumah tua yang lebih banyak diam daripada bicara. Malam itu, langit gelap tanpa bintang. Hujan tak jadi turun, tapi udara tetap lembap. Aku berdiri lama di depan jendela. Tirai tipis bergoyang pelan, seperti menyimpan rahasia. Dan saat aku membuka sedikit kaca jendela, angin malam menyelinap masuk. Dingin. Tapi bukan itu yang membuat kulitku merinding. Di seberang jalan kecil… dia ada di sana. Radja. Duduk diam di atap rumah tua berwarna kusam. Rokok menyala di antara jari-jari panjangnya. Hoodie abu-abu menutupi sebagian wajahnya, tapi aku bisa lihat matanya—menatap langit, atau mungkin tidak menatap apa pun sama sekali. Aku tidak tahu dia tinggal sedekat itu. Hanya dua rumah dari tempatku. Hanya satu gang kecil yang memisahkan kami. Dan entah kenapa, malam itu aku membuka jendela lebih lebar. Hanya sedikit. Tapi cukup. Cukup agar dia tahu aku melihatnya. Cukup agar aku tahu… dia juga melihatku. Aku tidak menutupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD