My Sharon 3

1165 Words
Sudut bibir Ganesha Darmawan terangkat saat melihat Sharon Adeline berdiri di tengah apartemennya. Ini bukan sekedar khayalan tingkat tingginya, menginginkan gadis itu di jangkauan terdekatnya. Dia tanpa malu menatap gadis yang tengah diam, memperhatikan setiap sudut apartemen mewahnya. "Kita bisa bercinta di setiap sudut manapun." Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana reaksinya, Sharon Adeline menegang dan mundur sedikit kebelakang. "Gila kau." Sharon melotot dan itu mengingatkannya pada masa-masa sekolah dulu. Ganesha Darmawan tidak peduli lagi dengan statusnya sebagai playboy ibukota yang selalu dia jaga saat berhadapan dengan Sharon Adeline, musuh masa kecilnya. Citranya sebagai pria yang dengan mudah mendapatkan wanita pun harus runtuh di depan Sharon. "Sharon, aku tidak gila seperti yang kau pikirkan. Hanya karena aku membawamu ke sini bukan berarti aku gila, lihat apa salahnya dengan niatku menghiburmu yang gagal menikah." Suara Ganesha yang terdengar penuh kepura-puraan. Sharon memicingkan mata, kemarahannya sudah naik dan Ganesha sudah siap menerimanya. Dengan secepat badai Sharon sudah berdiri di depan Ganesha, sorot matanya penuh dengan amarah yang siap meledak. Napas yang tajam dan bahunya yang tegang, itu yang selalu dilihat sejak masa sekolah. "Aku tidak perlu di hibur olehmu, karena apa? Karena aku baik-baik saja." Setiap kata yang keluar dari bibir Sharon terdengar indah. Bagaimana jadinya jika suara itu memanggil namanya dengan di iringi desahan, dia pasti akan gila. "Sungguh? Tapi aku melihatmu penuh ketakutan." Ganesha mengedipkan sebelah matanya lalu berjalan menjauh. Tuhan, dia bisa gila benaran jika harus berdekatan lebih lama dengan Sharon yang aromanya membangkitkan hasratnya. "Aku memang takut dekat denganmu, pria paling berengsek yang kukenal." Sharon menyilangkan kedua lengannya di d**a. "Sharon, tolong cabut julukan untuk pria berengsek. Karena kita tahu siapa pria paling berengsek itu," Ganesha berdiri di meja bar, menyiapkan segelas Brandy. Dia bisa melihat bagaimana Sharon sedikit termenung mendengarnya. "Mau segelas?" "Tidak, terima kasih. Aku tidak mau mabuk saat pulang." Sharon tetap berdiri, memperhatikan bagaimana musuh masa kecilnya itu banyak berubah. Ganesha yang sedang bersandar pada meja hanya menyeringai geli, " Siapa bilang kau pulang. Sharon, kau disini bersamaku." "Ganesha, aku sedang tidak ingin bercanda. Selera humormu sungguh aneh dan tidak lucu." Sharon mencoba tersenyum sesantai mungkin, dia harus lebih bersabar agar tidak terpancing. Jujur, dia sudah lelah seharian bekerja lalu pergi ke club' dan bertemu dengan mahluk aneh ini. "Senyummu tampak tidak ikhlas." Cibiran Ganesha mampu membuat Sharon tertawa lepas. "Kau tidak bisa membohongiku," Dengusnya. "Aku sudah lelah, jadi biarkan aku pulang untuk mandi dan masuk ke dalam selimut hangat di ranjang ku." Pinta Sharon melemah, dia harus segera pergi dari apartment Ganesha. "Kau bisa istirahat di kamarku, aku suka membuatmu hangat." Cengiran m***m terpatri di wajah Ganesha yang tampan. "Ayolah, stop bercandanya. Besok aku harus berangkat pagi-pagi ke kantor." "Aku tidak bercanda sama sekali, Sharon. Malam ini kau tidak akan pulang, titik." "Duh, sial." Bisik Sharon masih tidak percaya. Dia begitu terkejut saat sadar begitu luasnya apartemen di mana dia berdiri, jendela yang tinggi dan mengelilingi dinding menghadap langsung ke arah kota. Dia tahu jika keluarga Ganesha Darmawan itu kaya, tapi tidak seperti ini juga. "Apartemen bagus, tidak ku sangka seleramu berubah drastis untuk sebuah tempat tinggal. Apa bosan di rumah keluargamu?" Sharon masih memperhatikan setiap furniture yang melengkapi di ruangan ini. "Terima kasih pujiannya, di rumah itu banyak kenangan pahit." Ganesha tersenyum. "Lain kali aku mengajakmu kesana." Sambung Ganesha sambil tertawa kecil. "Tidak dan terima kasih atas undangannya. So, aku harus pulang. Dan satu hal, tolong sadarlah.. aku tidak akan berhubungan seks denganmu jika itu yang ada dalam otakmu sekarang." "Ck, ck, ck.. dangkal sekali, nona Sharon. Pertama, ini bukan seks saja. Aku bisa dengan mudah mendapatkan wanita yang ingin kutiduri. Kedua, aku sudah banyak belajar tentang diriku selama bertahun-tahun, jelas aku selalu menjadi fantasi seks para gadis di sekolah. Dan asal kau tahu, sampai detik ini juga." Kata Ganesha menyeringai. "Apa mungkin salah satu dari mereka itu dirimu, Sharon?" Ganesha mengangkat sebelah alisnya, mempertanyakan. "Cih, menjijikkan sekali." Cibir Sharon kesal. Ganesha tertawa terbahak-bahak setelah mendengar kata-kata dari Sharon. Dia tidak percaya jika gadis ini masih seperti dulu, selalu tidak menyukainya. "Apa kau tahu sebuah tantangan itu bisa membangkitkan potensi yang ada pada diri kita," Ganesha melangkah mendekati Sharon yang siaga. "Sharon, aku ingin mempunyai tantangan dan itu jatuh padamu." Sharon merasakan sesuatu yang sudah lama menghilang, sebuah amarah yang tiba-tiba bergemuruh dari dalam hatinya. Ini mengingatkan seperti jaman sekolahnya dulu. Dimana dia merasa seperti tertantang untuk menghadapi Ganesha Darmawan yang selalu mengganggu dan berusaha merebut peringkatnya di sekolah. Perasaan ini sudah lama menghilang setelah dia sibuk dengan kehidupan monotonnya, lalu Ganesha si berengsek dengan gampangnya menghidupkan kembali rasa ini. "Mungkin kau salah orang, Ganesha." Kata Sharon dingin. "No, kau juga pasti sadar bagaimana posisimu yang selalu menantang ku selama ini," Ganesha tersenyum miring. "Aku kira pesonaku bisa membuatmu luluh selama di sekolah, tapi nyatanya kau malah memilih si lembek itu. Tapi aku senang sekarang, akhirnya kau sadar jika dia tidak pantas untukmu." "Pesonamu? Pesona yang selalu menggangguku, membuatku marah dan mencoba merebut rangking juara umum?" Selidik Sharon tajam. "Nah, dasar tidak peka. Sharon, kau terlalu sering bergaul dengan dua orang bodoh itu jadi otakmu macet. Aku mengganggumu karena aku butuh perhatianmu." Kata Ganesha cemberut, dia menyilang kan kedua lengannya dengan bibir mengerucut, bak anak kecil yang lagi kesal. "Aku sudah tertarik denganmu sejak dulu, sejak kau menendang perutku karena mengganggu siswa lain." Ganesha diam sebentar untuk memperhatikan bagaimana reaksi Sharon. Sharon mematung diam. "Aku selalu mengingat percikan kemarahan di matamu yang indah itu saat aku mengganggumu. Kau tidak tahu berapa banyak malam yang ku habiskan untuk berfantasi tentangmu di tempat tidur," Ganesha mendekat perlahan sampai bibirnya dekat dengan telinga Sharon yang masih mematung. "Mencium dan membelai kulitmu yang lembut, aku selalu ingin melakukan itu. Kau tahu, setiap aku bangun pagi aku begitu keras karena membayangkanmu di bawahku, berteriak memanggil namaku saat aku memasukimu dengan keras tanpa ampun." Ganesha tiba-tiba menggigit telinga Sharon. "Sial." Sharon mundur kebelakang dengan cepat sampai punggungnya menyentuh dinding, napasnya terengah-engah. Dadanya bertalu tidak beraturan, nadinya berdenyut cepat saat mendengar pengakuan mantan musuhnya. "Kenapa aku selalu duduk di belakangmu? Karena aku ingin memperhatikan setiap gerakanmu. Saat kau merapikan rambutmu dan tanpa sengaja menunjukkan leher jenjangmu, saat itu juga aku ingin melompat padamu dan menjilat lehermu yang putih." Lanjut Ganesha melangkah mendekati Sharon yang kebingungan dengan pengakuannya. "Sto-Stop Ganesha Darmawan." "Aku tidak akan bisa berhenti lagi, Sharon." Ganesha berhenti tepat di depan Sharon, napas dan detak jantung nya sama memburu saat membawa telapak tangannya untuk menyentuh wajah Sharon yang terlalu lama di dambakan. "Sharon, aku sangat serius dengan semuanya." Ganesha menundukkan kepalanya, hingga ujung hidungnya menyentuh hidung Sharon yang gemetar. "Ganesha.." "Beri aku waktu dan ruang untuk menunjukkan bagaimana perasaanku." Pinta Ganesha lemah. "Aku tidak tahu," Sharon berusaha mendorong tubuh Ganesha yang semakin menghimpit tubuhnya. "Ganesha, aku sangat kacau." Sharon berteriak tidak terkendali. "Aku juga kacau dengan semua masalah yang ada. Kita sama-sama kacau tapi kita bisa saling memperbaiki. Ganesha memeluk Sharon erat. "Dan aku takut gagal sama seperti aku dan.. " "Kita tidak akan gagal, kita akan berhasil. Tolong percaya padaku, Sharon." Sharon diam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD