Sharon tidak tahu harus berapa lama lagi dia berpura-pura bahwa dia baik-baik saja setelah drama lari dari pernikahan. Dia mencoba tersenyum dan mulai melakukan semua aktifitas senormal mungkin. Menghargai hidupnya, begitulah yang dikatakan ayahnya. Orangtuanya bukan orang tua yang berpikiran kolot, bahkan orang pertama yang dia hubungi setelah lari dari pernikahan adalah ayahnya. Mencoba mendamaikan perasaannya, karena dia tahu mereka tidak akan menghakiminya meski dia sudah mempermalukan keluarganya.
"Sharon?" Suara tenang ayahnya membuat dia tersenyum. "Apa baik-baik saja disana?"
"Aku baik." Jawab Sharon sedikit bergetar suaranya. Dia mencoba menahan tangis. Dia tahu banyak orang terluka dan salah satunya ayahnya yang sudah menaruh harapan besar.
"Syukurlah, aku dan ibumu senang mendengarnya."
Sharon mengangguk tanpa sadar. Mereka diam dalam sambungan telepon. Banyak hal yang ingin dikatakan pada orangtuanya namun dia tidak ingin melukai banyak orang lagi.
"Tidak apa-apa disini." Seakan mengerti apa yang dirasakan putrinya, Ayahnya sudah mengakhiri.
"Ayah ak-"
Sebelum bisa melanjutkan, ayahnya sudah memotong terlebih dahulu. "Hiduplah lebih bahagia dari sekarang, tinggalkan masa lalu. Ayah tahu kau sudah memikirkannya dengan mempertimbangkan banyak hal, jangan pedulikan orang lain yang tidak menyukainya. Dengar, ayah benci hal apapun yang membuat putri kebanggaan ayah menangis. Aku dan ibumu senang jika itu pilihan terbaik menurutmu, karena kita tahu putri kita tidak akan memilih atau membuat keputusan gegabah."
Sharon menangis sesenggukan mendengar kalimat ayahnya.
Dan sekarang dia tinggal di luar kota, meninggalkan masa lalu dibelakang sana. Bekerja sebagai Advertising Manager di sebuah perusahaan nasional.
"Sharon ikut kan?" Tanya Kania dengan nada pesimis.
"Tentu saja, dia sudah janji dari kemarin-kemarin!" Sembur Sabrina tersenyum lebar.
Dua rekan kerja Sharon, Kania dan Sabrina, selalu meminta atau lebih tepatnya memaksanya untuk ikut pergi keluar dengan mereka, bersenang-senang itu kata mereka. Tapi setiap kali itu juga dia selalu menolak. Dia tidak suka keramaian. Tapi sekali-kali tidak apa-apa bukan? Menikmati hidup.
"Oke, Aku ikut kalian." Suara tenang Sharon berbanding terbalik dengan jeritan kedua temannya yang senang.
"Ya Tuhan, kenapa harus butuh waktu lama sih?" Tanya Sabrina menyipitkan sebelah matanya pada Sharon. " Hampir setahun, gila kan?"
Kania mengangguk lemah masih dengan rasa tidak percaya. Seorang Sharon Adeline akhirnya mau ikut setelah dengan berbagai macam bujuk rayu.
"Aku hanya mencari waktu yang tepat." Jawab Sharon cengengesan pada dua orang teman barunya.
"Oke, besok kita pergi dan kita harus menemukan pria tampan. Bosen aku liat teman-teman kantor yang begini terus." Kata Sabrina blak-blakan.
Sharon menggeleng. Dua rekannya ini terlalu berbeda, Sabrina yang terlalu blak-blakan dan Kania yang selalu menjadi penengah dan cukup pendiam seperti dirinya.
Dirinya bertanya-tanya apakah ini keputusan yang benar atau salah dengan ikut bersama mereka ke tempat ini, dia tidak terlalu menikmati berada di tempat ramai. Saat menginjakkan kaki di lantai club yang terkenal di kota ini, perasaan yang bosan sudah melandanya dan dia sama sekali tidak peduli dengan beberapa pria yang coba mengajaknya mengobrol.
"Ayo bersenang-senang." Teriak Sabrina sebelum bergabung ke lantai dansa meninggalkan Sharon.
Sharon tersenyum.
"Sabrina suka kelewat kalau udah denger musik." Kania yang duduk di samping Sharon tertawa melihat temannya yang menggila di lantai dansa.
"Sana pergi." Sharon mendorong-dorong Kania dengan pelan untuk bergabung dengan Sabrina yang sekarang dikerubungi pria-pria tampan.
"Aku disini saja," Jawab Kania malu-malu.
"Udah sana pergi, aku nggak apa-apa sendirian." Sekali lagi Sharon memaksa temannya untuk pergi. Dia hanya butuh waktu sendiri untuk menikmati dirinya.
Kania tersenyum malu-malu dan tak lama kemudian bergabung bersama Sabrina.
Sharon lebih baik duduk dan mencari tempat yang tidak terlalu terlihat oleh orang-orang, duduk di sudut club dengan segelas soda di tangannya. Dia tidak ingin pulang dalam keadaan mabuk, atau sejujurnya dia tidak ingin merepotkan orang lain.
"Haloha, Sharon?" Suara di dekat telinganya yang terasa begitu akrab untuk waktu yang lama.
"Jangan bersikap konyol, Ganesha Darmawan, kau sudah mengawasiku dari tadi bukan. Seakan aku tidak tahu saja!" Desis Sharon melotot padanya.
Ganesha Darmawan menyeringai dan Sharon ingin sekali merobek mulutnya.
"Sensitif sekali wanita ini, tapi jujur aku tidak tahu apa yang kau bicarakan?" Tantang Ganesha, dia tersenyum yang bisa di bilang bukan senyuman biasa, sebuah seringai khas keluarga Darmawa yang melekat.
"Well.. Tuan Ganesha Darmawan yang playboy berubah menjadi bodoh. Tunggu? Bukannya dari dulu memang sudah jadi Playboy bodoh?" Suara Sharon yang sarat dengan sarkasme membuat pria yang di sebelahnya terdiam kaku.
"Nona Sharon, lidahmu semakin tajam dan berbahaya. Apa ini efek dari kegagalanmu menikah dengan pria lembek itu? Ck.. Ck.. Ck," Seringai iblis tidak pernah lepas dari wajah Ganesha yang tampan dimata para wanita tapi tidak bagi Sharon.
Sharon tampak mendidih menahan amarah, "Persetan denganmu, Ganesha." Desisnya dambil mencoba melewatinya. Dia harus segera menjauh dari Ganesha Darmawan sebelum tambah gila. Sudah cukup dia gila untuk tahun-tahun sekolah dengannya.
Ganesha dengan cepat meraih lengan Sharon untuk menghentikan langkahnya, "Jangan cepat mudah tersinggung, Nona Sharon, Kau tau? Kau tidak perlu malu dengan kegagalan pernikahanmu."
"Ganesha, apa kau bisa tutup mulutmu?" Tanya Sharon mencoba melepaskan diri dari Ganesha yang masih memegang lengannya. "Kau ini seperti keledai."
"Terima kasih telah memujiku, tapi tunggu. Aku selalu senang di puji olehmu dari dulu." Ganesha mencekram lengan Sharon erat lalu memaju mundurkan nya.
"Dasar bodoh, sekarang lepaskan lenganku." Ganesha menggeleng sambil tersenyum.
**
Askara mengatur napas secara perlahan untuk menenangkan debaran jantungnya, mimpi itu datang lagi, mimpi menakutkan yang menghantui setahun belakangan ini. Dia selalu bermimpi hal yang sama untuk waktu yang cukup lama, mimpi dimana hari itu terjadi. Sharon sahabat dan sekaligus orang yang di cintai nya meninggalkannya di hari pernikahan mereka.
Bangun dari tempat tidur, Askara melangkah mendekati meja kerja di sudut kamarnya. Lalu dengan perlahan membuka laci dan menemukan secarik kertas yang sudah mengubah semuanya. Sebuah tulisan tangan yang indah namun menyakitkan.
Aku terlalu mencintaimu, Askara.
Aku sadar, aku akan menyakiti perasaan bahagia semua orang yang sudah menunggu pernikahan kita sejak lama. Tapi aku juga terlalu sadar, perasaanku untukmu sama seperti perasaanku pada Jian. Aku tidak bisa memaksa kita harus berakhir di pernikahan seperti orang-orang berharap pada kita.
Sungguh aku terlalu mencintaimu. Terlalu cinta sebagai sahabat terbaikku.
Aku mohon. Jangan membenciku.
Askara tidak akan sampai hati membenci Sharon, dia hanya merasa sakit hati untuk keputusan yang di ambil Sharon sepihak. Banyak pertanyaan yang muncul juga di benaknya saat Sharon pergi, apa selama ini kebersamaan mereka hanya sebuah keharusan yang sudah terbiasa?
Dia, Jian dan Sharon tumbuh bersama di lingkungan yang sama pula. Mereka tidak terpisahkan dalam hal apapun, bahkan saat Sharon jatuh sakit dan tidak bisa pergi sekolah, dia dan Jian mencari alasan untuk membolos sekolah demi menemani Sharon.
Sharon yang selalu menjadi anak pintar diantara mereka tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik dan semakin pintar. Askara yang merasa ketertarikannya lebih dari sekedar sahabat mulai mendekati Sharon sampai mereka sepakat menikah.
Lalu saat melihat pandangan bertanya dari semua keluarga besarnya, Ia menggeleng, dan berkata pelan, Sharon telah pergi.
**
"Sharon, mau ikut ke tempatku?" Ganesha berbisik pelan.
"Untuk apa?" Sharon merasa tekanan tangan Ganesha begitu menyakitkan. "Berhubungan Seks?" Sambung Sharon yang membuat Ganesha tersenyum girang.
"Tidak salah lagi." Nada suara Ganesha sarat akan pujian.
"Tapi maaf, aku tidak tertarik untuk menyerahkan darah perawanku pada penismu yang kotor itu." Kata-kata Sharon yang tajam dan tegas membuat Ganesha terdiam.
"Lepaskan tanganku." Sharon yang berusaha lagi melepas cekalan tangan Ganesha.
Ganesha masih terdiam, mencoba mengartikan kalimat dari musuh masa kecilnya, lalu tiba-tiba dia tersenyum, "Sharon, kau masih perawan?" Ganesha tertawa girang.
"Apa ada yang lucu? Apa aku salah jika masih perawan. Tapi tunggu, ini bukan urusanmu juga." Desis Sharon.
"Sekarang ini sudah jadi urusanku." Geram Ganesha. "Sial, aku tidak percaya." Ganesha melepas cekalannya pada lengan Sharon lalu dia bergerak tidak jelas di depan gadis berambut cokelat tersebut.. Mengerutkan kening dan sesekali menggelengkan kepalanya.
"Selama ini kalian melakukan apa? Jalan-jalan? Makan? Nonton? Atau tunggu, apa dia impoten?" Selidik Ganesha sambil menyeringai.
Sharon terkikit tidak sadar saat mendengar pernyataan Ganesha tentang Askara.
"Benarkan?"
"Ini bukan urusanmu tuan Ganesha yang terhormat. Sudah aku mau pulang dan anggap kita tidak pernah bertemu."
Sebelum Sharon melangkah lebih jauh, lengannya sudah di tarik kembali oleh Ganesha. Punggung belakangnya menyentuh d**a bidang Ganesha.
"Kau mau apa?" Tanya Sharon yang sedikit tidak nyaman dengan posisi ini.
"Aku mau ini." Bibir Ganesha sudah menempel di leher Sharon.