Bab1-Phenomenon Approach

1067 Words
Satu minggu sebelum blood moon menyapa bumi, segala kegiatan bersosialisasi wajib dihentikan, mulai dari pekerjaan hingga pembelajaran. Sudah hampir tidak ada orang yang berkeliaran jauh dari rumah, paling-paling hanya membeli keperluan medesak ke toko kelontong terdekat. Sayangnya hal itu tidak berlaku bagi Elora, siswi kelas dua belas yang baru saja membuat masalah dengan guru baru di sekolahnya. Sebenarnya tidak ada yang mencari masalah, Elora hanya kurang mampu memahami pelajaran yang tiap hari diterimanya di sekolah—otaknya yang kesulitan menerima banyak hal itu mendatangkan kejengkelan dari para guru. Sir Julian, pengajar baru bidang matematika, dengan senang hati mau memberi jam tambahan pada muridnya yang tidak kompeten, bahkan rela meluangkan waktu cuti blood moon untuk datang ke sekolah. Sebenarya ada tiga anak yang masuk jajaran kurang kompeten, tapi dua dari mereka beralasan hadir dengan sebab yang sama, yaitu tidak diizinkan keluar rumah oleh orang tua mereka, takut terjadi hal berbahaya, padahal Elora yakin itu semua hanya alibi semata. Tahu teman-temannya tidak datang, seharusnya ia juga beralasan saja. Tatapan tajam sang ibu berhasil mendongkrak ekspresi muramnya, Elora tertawa kecil sambil bergelayut di lengan wanita paruh baya itu, "Tidak ada yang datang hari ini, sebaiknya kita pulang saja. Lagipula tak baik berkeliaran jauh dari rumah saat segera terjadi blood moon, ibu sendiri yang bilang kan?" Belum lama Elora berusaha membujuk ibu untuk kembali pulang dan tidak jadi sekolah, pria berperawakan kekar dengan setelan kemeja formal segera menghampiri keduanya, tak lupa melampirkan senyum manis nan ramah, "Selamat pagi, Elora, dan Ny. Renata. El, kau siap belajar hari ini kan?" "Pagi Sir, iya dia begitu semangat belajar. Saya bahkan rela mengantarnya langsung ke sekolah, demi keselamatannya," bukan, bukan Elora yang menyahut, melainkan ibu. Ia tampak ramah dan berusaha akrab dengan Sir Julian—yang entah tahu dari mana nama ibu kandung Elora. Putrinya mendengus, ia tidak pernah berpikir semangat ketika pergi ke sekolah, satu kali pun tidak pernah. Apalagi ketika teman-temannya yang lain diliburkan, dirinya justru harus masuk sendirian. "Saya sangat minta maaf, Ny. Renata. Elora harus tetap masuk, padahal jadwalnya sedang libur. Tapi ini demi penilaian di rapot, dengan mengikuti kelas tambahan saya harap poinnya bisa sejajar dengan murid lain," ungkap Sir Julian. Ibu menutup wajahnya malu, putri semata wayangnya pasti dicap paling bodoh seantero sekolah. Tatapannya kosong dan tidak ada gairah hidup, sikap pemalas, dan tidak suka berbaur, membuat teman-teman menjauhinya, mereka bahkam memberi julukan putri vampir berkat sikap non-atraktif yang melekat pada diri Elora "Saya yang harusnya minta maaf. Karena kesalahan Elora, Sir jadi kehilangan waktu liburan. Sekarang seharusnya semua orang beristirahat di rumah dan mempersiapkan diri menjelang fenomena blood moon." "Tidak, saya tidak keberatan dengan itu. Nilai dan prestasi murid lebih penting," Julian tertawa seakan tengah meledek Elora, "Bagaimana jika kita segera mulai jam pelajarannya, El. Supaya kau bisa cepat pulang juga nanti." "Baiklah, terima kasih atas perhatiannya, Sir," ibu kembali menyela, membuat Elora mendengus, "Nanti kalau sudah selesai ibu akan menjemputmu, jadi jangan pergi lebih dulu." Usai kepergian sang ibu, Elora segera mengikuti langkah guru muda itu, mereka mungkin tidak pernah akrab, namun Sir Julian terlalu sering memanggili namanya karena masalah nilai. Elora jadi sangat paham mengenai guru yang beru menjabat dua bulan tersebut. Tapi ada yang aneh dari sikapnya, seolah menganggap Elora jauh dari kata murid. --- Jam pembelajaran tambahan sudah habis pukul lima petang. Sepuluh menit yang lalu Elora berkali-kali menelepon ibu, agar segera dijemput. Aura di halaman sekolah menjelang malam tak disangka begitu mengerikan, membuat gadis remaja sepertinya merasa dimata-matai dan begitu terancam. Sir Julian sudah pulang beberapa menit lalu menggunakan kendaraan pribadi, Elora sempat kagum dengan mobil keluaran tahun 50-an yang masih kokoh dikendarai gurunya, namun modelnya yang kuno tadinya juga membuat aura sekolah mencekam. Beruntung pria itu tidak berlama-lama di tempat. Denting pagar bersentuhan dengan ranting sontak mengalihkan perhatiannya, sang ibu sudah berdiri di sana sambil melambaikan tangan. "Lama sekali! Aku takut di sini sendirian!" Elora mulai menggerutu, mengeluarkan serapahnya yang terpendam. "Ibu sudah satu jam di depan sini!" Balas wanita itu tak kalah sengit. Perdebatan antara orang tua dan anak memang paling mencengangkan, melebihi seorang pengacara dan tersangka. Elora menggukirkan bola mata, malas, "Kalau ibu sudah satu jam di tempat, kenapa tidak masuk dan memanggilku? Kalau begini 'kan kita sama-sama membuang waktu " Wanita itu kelihatan gugup, pupilnya bergetar, 'Andai kau tidak tahu apa yang sudah terjadi, aku sedang berwaspada padamu, nak,' namun rautnya yang aneh seketika tergantikan dengan senyuman lebar, "Ibu tidak tahu kalau kau sudah selesai belajar, baru sadar setelah gurumu keluar dari halaman sekolah. Sudah jangan dipikirkan lagi, mari kita beli pasta untuk makan malam hari ini." "Tidak ada yang menjualnya, bu. Semua orang sedang libur." Obrolan sederhana sesekali diselingi opini yang memancing emosi itu berlangsung cukup lama, mengantarkan langkah kaki mereka sampai ke sebuah halte. Sebenarnya tidak ada jadwal bus yang lewat, tapi ibu memaksa duduk dengan alasan lelah. Wajar, jarak seklolah ke rumah hampir 6 kilo meter, sementara ibu pulang pergi dua kali, totalnya dia sudah berjalan 24 kilo meter. Elora seketika merasa bersalah karena sudah membuat sang ibu kelelahan, seharusnya tidak perlu di antar jemput begini, apalagi tidak ada kendaraan umum. "Ibu tidak lelah, hanya saja kaki ini sudah lama tidak berjalan-jalan, jadinya kram. Kau jangan khawatir," ungkap ibu tiba-tiba, membuat Elora tersentak. Ia tidak mengungkapkan apapun, namun ibu seolah bisa membaca pikiran putrinya—mengulas senyum teduh. "Para vampir itu yang membuat ibu kelelahan, andai saja tidak ada fenomena blood moon berbahaya seperti ini, tidak ada perkejaan yang perlu diistirahatkan dan ibu tidak perlu susah payah mengantarku ke sekolah. Untungya besok Sir Julian tidak meminta jam tambahan lagi, aku lega ibu tidak perlu memaksakan diri berjalan jauh hanya demi mengantarku," Elora tersenyum tipis, bahkan hampir tidak terlihat jika ia tengah menyunggingkan bibir. Namun sebagai seorang orang tua yang punya insting sangat baik mengenai putrinya, ibu tahu gadis itu tengah mengungkap kepeduliannya. Elora bukan sejenis anak yang manja dan suka bercerita mengenai keseharian pada orang tuanya, dia benar-benar terpendam, penuh misteri, dan pemalu saat mengungkapkan perasaan. Gadis itu bahkan tidak pernah mengucapkan apapun di hari ulang tahun ibu, tapi diam-diam suka memberi kejutan tidak terduga—yang jelas kejutan itu tidak perlu diungkapkan secara langsung. Ia terlalu malu untuk menjadi anak manis. Sebuah mobil roda pendek yang tak asing mendadak berhenti di depan halte, mengalihkan kedua pasang ibu-anak yang tengah bercengkerama ria di sana. Pemiliknya membuka jendela sambil tersenyum lebar, "Ny. Renata, Elora, kalian butuh tumpangan?" Elora menajamkan pandangan, 'Ini aneh, ada yang tidak beres.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD