Bab2-Days of Red Moon

1510 Words
Pria itu guru baru Elora—yang tadi sudah pulang jauh lebih dulu. Ibu tidak keberatan sama sekali menerima tawarannya, bahkan sebelum si pemilik mobil membukakan pintu, ibu sudah lebih dulu masuk. Jelas ada yang tidak beres, Elora tak tahu mengapa ibunya dan Sir Julian mendadak sangat akrab, padahal mereka baru berjumpa pagi tadi. Tapi obrolan yang mereka saling lontarkan terdengar seolah sudah berkawan lama. Mungkin itu juga berkat pribadi supel ibu, mudah bersosialisasi dan bercengkerama dengan siapapun, lantas kebetulan Sir Julian juga pemilik sikap serupa. "Terima kasih, Sir. Semoga lain hari kami bisa membalas kebaikanmu kali ini," ungkap ibu sesaat setelah keduanya turun dari tumpangan. "Tidak masalah, saya permisi dulu, Ren...Ny. Renata" Sir Julian kemudian berpamit pergi, melaju dengan kecepatan tinggi. Kelopak mata Elora menyipit penuh curiga ketika sang guru hampir salah sebut. --- Hari terakhir dalam satu minggu telah tiba, malam nanti fenomena blood moon benar-benar akan terjadi. Dikarenakan hal itu, sejak pagi sudah tak ada satu pun manusia yang berkeliaran di luar rumah, atau barangkali sekedar menampakkan siluet tubuh di jendela. Blood moon atau gerhana bulan merah terjadi ketika bulan jatuh seluruhnya di dalam umbra bumi. Tepat sebelum masuk sepenuhnya, kecerahan bagian tepi melengkung bulan yang masih terkena sinar matahari langsung akan menyebabkan sisa bulan tampak relatif redup. Tatkala bulan telah memasuki gerhana total, seluruh permukaan akan mengalami tingkat kecerahan secara merata. Kemudian, saat anggota tubuh bulan yang berlawanan terkena sinar matahari, piringan keseluruhan akan kembali menjadi kabur. Hal ini karena dilihat dari bumi, kecerahan bagian bulan umumnya lebih besar daripada bagian permukaan lainnya karena pantulan dari banyak ketidakteraturan permukaan di dalam cabang, sinar matahari yang mengenai ketidakteraturan ini selalu dipantulkan kembali dalam jumlah lebih besar daripada yang mencolok bagian-bagian yang lebih sentral. Mengapa itulah sebabnya tepi bulan purnama umumnya tampak lebih terang daripada bagian permukaan bulan lainnya. Berikut ungkapan para pekerja observatorium yang disebarkan melalui siaran berita lewat internet. Meski demikian tidak ada efek bahaya yang disebabkan oleh bulan, namun marabahayanya sendiri datang dari sekitar mereka, tak lain yaitu kaum pengisap darah. Menurut para peneliti, iris mata vampir yang berwarna merah bisa terpengaruh spektrum blood moon—sebagaimana ketika hipnotis dilakukan pada manusia, kasusnya serupa, hipnotis merupakan kondisi kesadaran yang melibatkan fokus dan perhatian tinggi, meminimalisir adanya percabangan pikiran, sekaligus meningkatkan kemampuan untuk merespon sugesti. Sementara para vampir akan merasa harus mengikuti insting pemburu yang ada di tubuh mereka, sugesti itu menyuruh mereka untuk mengatur jiwa sendiri, melakukan sesuatu yang seharusnya benar tanpa berpikir lebih jauh bagaimana akibatnya. Sugesti lebih dijelaskan sebagai pemberi pengaruh dari satu pihak kepada pihak lain. Akibatnya pihak yang dipengaruhi akan tergerak mengikuti pandangan tersebut dan menerimanya secara sadar atau tidak sadar tanpa berpikir panjang. Spektrum bulan di sini berperan sebagai sugestor atau si pemberi pengaruh, pada pihak lain yang tak lain adalah para vampir. Apapun yang terjadi, manusia harus tetap waspada dan berlindung semampunya. Hunian sederhana di rumah Elora segera disulap menjadi benteng keamanan, segala pintu dan jendela dipaku dari dalam lantas digantungi bawang putih, sementara lantainya yang semula bersih berubah menjadi ladang bubuk bunga ash. Kini ia dan ibu selesai mandi sekaligus berendam air kapur barus, mereka berbondong-bondong membuat keamanan di ruang bawah tanah—sejujurnya ini kali pertama Elora datang menginjakkan kaki di ruangan tersebut. Tidak seperti dugaan, tempat yang kerap disebut gudang itu rupanya tidak seperti sebutannya, bahkan lebih cocok dianggap ruang rahasia keluarga. Terdapat jajaran foto ayah melekat di setiap sisi dinding, barang-barang istimewa peninggalannya, juga benda memoriable lainnya seperti mainan Elora sewaktu kecil, sampai gaun pernikahan ibu dulu. "Aku tidak tahu ibu mengubah tempat ini jadi seperti ruang memori keluarga kita," celetuk Elora. Wanita itu segera tersenyum pada putrinya, "Kau sendiri yang tidak mau datang kemari." "Ku pikir gelap dan kotor seperti gudang. Oh, sejak kapan ibu melakukan ini semua? Mendekorasi ruangan ini," ia bertanya antusias. "Sudah sangat lama, bahkan sejak dirimu masih di perut," ungkap ibu, tatapannya berubah sayu dan sendu, "Tepatnya setelah ayah pergi, ibu mulai senang menyimpan barang-barang kenangan darinya. Sampai tidak sadar kalau ruangan ini sudah sangat penuh." Elora seketika merasa bersalah sudah bertanya. Mendapati raut putrinya yang kentara merasa bersalah, ibu segera mengalihkan pembicaraan, "Lima menit lagi, segera kemari dan kunci pintunya. Ibu tidak ingin terjadi sesuatu padamu." Elora mengangguk dan hendak memalu pintu demi kemanan ibu dan dirinya, namun belum sempat menutupnya rapat, sebuah tangan berkuku runcing segera menahan. Gadis itu sontak terlonjak mendapatinya di depan mata. Pemilik tangan membuka lebar pintu, sambil menunjukkan senyum ramah seperti biasa. Semula Elora panik sekaligus terkejut, namun ia sadar mengenai dugaan dan kecurigaannya terbukti benar—pria yang berprofesi sebagai guru baru di sekolahnya memang tidak beres, terutama sejak akhir-akhir ini dia menjadi akrab dengan sang ibu. Tidak mau ambil resiko, gadis itu segera menodongkan palu yang dia pegang. Elora sudah menduga Julian bukan manusia, melalui kukunya yang runcing dan iris mata semerah darah, tidak akan jadi masalah besar jika ia melukai pria itu. Yang aneh, Julian hanya diam di tempat memandangi tubuh Elora dari ujung kepala hingga pangkal kaki, seraya menunjukkan seringaian mengerikan, dia tidak menyerang sama sekali—atau mungkin belum. Pria itu hanya tertawa, menghindari pukulan Elora sesekali berteriak mengejek, "Ouh, kalian menjaga rumah ini dengan sangat baik, sampai aku kesulitan masuk tadi. Tapi ngomong-ngomong putrimu sangat pemberani, Renata. Dia sepertinya bukan manusia... gadis muda terlalu ketakutan untuk menghadapi langsung para vampir sepertiku, apa dia memang bukan manusia?" Elora mengernyit, ia mungkin bingung dengan ungkapan Julian, namun yang lebih penting, pria itu vampir dan harus segera dibunuh, atau paling tidak menjauh dari kediaman mereka. Gadis itu hampir mengayunkan palunya pada sang guru, namun segera dihalangi. Ibu beralih berdiri di depannya dengan tatapan waspada sambil merentangkan tangan seolah membentengi putrinya dari marabahaya yang ada di hadapan mereka, "Dia bukan anak kandungku, gadis ini bukan orang yang kau cari. Tolong, kita sudah sepakat sebelumnya..." Elora terbelalak. Apa maksudnya bukan anak kandung? Dan kesepakatan apa yang sudah mereka perbuat? Sudah ada seberapa banyak rahasia yang ia tidak ketahui, dan mengapa harus disembunyikan darinya? Mencoba berpikir realistis, kemungkinan ibu dan Julian sedang bersiteru karena suatu hal. Mengenai perkataan 'bukan anak kandung' pasti hanyalah alibi belaka, atau karena Julian berniat mencelakainya, dan ibu berusaha melindunginya. Julian tertawa remeh, ia mendekatkan langkah, kemudian mendorong tubuh Renata, menyisakan satu jengkal jaraknya dengan Elora, "Kau berbohong Renata, apa dia benar-benar anak asuhmu?" Palu besar itu mengayun dan segera melukai bahu Julian, sayangnya seperti baja bertemu kapas, tidak ada efek apapun yang diterima pria itu. Ia justru tertawa, mengambil alih palu dari tangan Elora kemudian dilempar hingga mengenai salah satu foto ayah yang terpajang rapi. "Elora pergilah!" Seru ibu lirih hampir seperti bisikan, sambil membuka lebar pintu, memberi jalan keluar untuk putrinya. Elora yang tidak mengerti apapun hanya diam, yang dipikirkan, ia dan ibu harus selamat, vampir gila itu yang sepatutnya pergi. Kepalanya menggeleng ragu ketika pintu sudah terbuka lebar, kesempatannya untuk pergi selagi perhatian Julian masih teralih, "Ta-tapi bu, orang itu..." Julian mulai sadar perilaku mangsanya, tak mau kehilangan kesempatan, ia segera memojokkan gadis itu ke dinding, dengan lengan mencengkeram erat lehernya, membuat ibu makin panik. Melihat anaknya dalam bahaya, orang tua manapun rela menggantikan posisi dikeliling malapetaka itu, ibu berjalan mendekat berusaha menjelaskan pada Julian jika perkiraannya salah, "Putriku manusia, dia anak yang ku asuh sejak kecil, di adopsi dari panti asuhan. Kau tidak berhak membawanya." Vampir bangsawan termasuk golongan ras yang cerdik dan bisa berpikir seperti manusia, mereka tidak mengandalkan insting dan nafsu semata, sehingga segala alibi kebohongan Renata demi membebaskan anaknya termasuk sia-sia, Julian belum bisa meyakini kebenaran yang ada, namun juga tak mempercayai perkataan Renata, "Aku tidak akan membawanya, hanya ingin menunggu jika bulan merah itu segera berlangsung—apa yang akan terjadi pada putrimu?" "Sudah ku bilang dia manusia!" Bentak wanita itu geram, ia berusaha meraih putrinya dan menjauhkan dari tangan si vampir. Naas, Elora justru semakin ditarik menjauh, lengan Julian yang membelit lehernya juga semakin mengerat hingga wajahnya memucat. "Kalau memang dia manusia, seharusnya kau tidak perlu sekhawatir itu, Renata. Biarkan aku melihat sendiri, apakah dia akan berubah menjadi sepertiku." Ibu melangkah mundur, ia tidak mau Elora terluka karena sudah bertindak gegabah, "Seperti yang kau katakan sendiri, blood moon segera berlangsung. Aku cemas putriku berada di dekat vampir, bagaimana mungkin kau mau menunggu di sini selagi yang lain mengurung diri berlindung dari kalian." "Renata, kau lupa? Aku vampir bangsawan, lebih kuat dari ras manapun, bahkan blood moon itu tidak bisa mempengaruhiku," Ungkapnya menyombongkan diri. Tidak sepenuhnya salah, vampir bangsawan untuk saat ini sangat berpengaruh di dunia, baik bagi kaum mereka sendiri maupun manusia. Mereka kerap kali melakukan kerja sama dalam bidang yang saling menguntungkan bagi tiap individu—sayangnya mereka enggan mengungkapkan jati diri. Julian pun kini justru menyamar sebagai guru sekolah menengah atas, tanpa ada yang tahu siapa dia sebenarnya. Ibu membentak kembali, merasa semakin jengkel dipermainkan—sementara Julian jelas senang mengsanya frustasi dan kebingungan menghadapi keadaan, "Kalau begitu jagalah klanmu! Jangan biarkan mereka memasuki pemukiman kami, kau seorang raja 'kan?!" "Sudah ku urus semuanya. Malam ini adalah waktu yang sudah ku nanti sejak ratusan tahun lalu, untuk memastikan apakah putrimu bukan bayi tabu yang lahir delapan belas tahun lalu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD