Di dunia ini, kedudukan vampir jelas lebih tinggi dari manusia, sebab mereka berperan sebagai predator sementara manusia adalah mangsa, seperti rantai makanan pada kebanyakan jenis binatang, pemangsa punya jumlah lebih sedikit ketimbang yang dimangsa, namun memiliki fisik jauh lebih unggul sehingga mampu bersaing satu sama lain demi kebutuhan hidup. Sebagian besar makhluk penghisap darah itu tinggal di hutan, perbukitan, dan beberapa berani menempati pemukiman manusia tanpa mengungkap jati diri, biasanya hanya kaum vampir ras bangsawan, dan mereka melakukannya bukan semata mencari kesenangan, melainkan untuk sebuah tugas yang perlu diselesaikan, salah satunya memata-matai kaum manusia.
Ada juga yang berkeliaran di sekitar pemukiman tanpa peduli keadaan, mereka vampir kalangan rendahan yang liar dan brutal, apapun dilakukan demi mendapat setetes darah walaupun harus terus mempertaruhkan nyawa. Vampir liar tidak berbaur dengan sekawanannya, mereka tinggal berpindah-pindah di hutan dan hanya sesekali ke pemukiman untuk memenuhi hasrat. Keunikan mereka, jika blood moon tiba, insting liarnya akan semakin parah hingga bisa membinasakan seratus orang dalam beberapa menit selama gerhana bulan darah berlangsung , hal itulah yang paling ditakuti sebab mereka tidak terikat dari klan manapun sehingga tak ada penjagaan dari para vampir bangsawan.
Berlawanan dengan vampir liar ras menengah dan keatas memiliki kelompok hidup sendiri di hutan, jumlah keseluruhan dalam satu klan cukup banyak layaknya pemukiman pada umumnya, dipimpin satu orang raja yang berkuasa dan berasal dari ras bangsawan, kepemimpinan mereka memiliki sistem monarki kecil termasuk bagian militer yang disusun sangat sempurna.
Karena wujud mereka yang serupa dengan manusia, tak jarang banyak orang yang pergi ke hutan sendirian, akan terperangkap jebakan para vampir dan berakhir menjadi mangsa. Sudah dijelaskan dalam perjanjian manusia-vampir beberapa abad silam, jika larangan terbesar bagi manusia adalah memasuki wilayah musuh, tapi tidak berlaku bagi sebaliknya.
Sebab hal itu pula, kawasan perbatasan hutan senantiasa diberi penjagaan ketat agar tidak terjadi kesalah pahaman antar dua kaum, dengan alasan lain supaya baik manusia ataupun vampir tidak saling mengganggu.
Tentunya vampir sebagai predator tidak menerima keputusan ini, mereka kaum yang lebih mendominasi dan memiliki persentase kemenangan terbesar. Dalam perjanjian yang ditulis di kertas papyrus satu milenium silam, keuntungan bagi bangsa vampir memang jauh lebih besar, manusia tidak mampu memberi keadilan bagi pihaknya sendiri. Mereka lebih baik mencari kemanan diri sendiri ketimbang harus mati pucat kekurangan darah karena kukuh mempertahankan keinginan.
Hanya saja kaum vampir sudah menyebut segala perjanjian itu adil, ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan.
Sebagai raja vampir bagian klan selatan yang baru menjabat dua bulan, Hayden kesulitan dengan segala perjanjian itu. Terbiasa hidup sebagai vampir liar yang keluar masuk perbatasan tanpa hukuman ketat membuatnya frustasi dengan semua tugas penjagaan kastil yang dibebankan padanya. Sesungguhnya ini bukan masalah besar, ia sudah tidak perlu mencari mangsa ilegal karena tiap bulan stok darah akan dikirim langsung dari para manusia itu—jelasnya, demi menghilangkan kasus pembunuhan keji dengan bekas gigitan di leher.
Istilah singkat, manusia berusaha memberi stok darah tersebut secara suka rela untuk terus menjaga perdamaian dan mengurangi kasus pembunuhan karena nafsu vampir. Mereka mengharapkan kehidupan berdampingan tanpa saling mengganggu satu sama lain, paling tidak tolong-menolong itu terus dilandasi kerjasama demi keuntungan.
Contohnya, satu kardus kantung darah ditukar dengan sejumlah tembaga dan emas hasil tambang para vampir. Serupa sistem barter namun antar kaum.
Hayden menggelengkan kepala, mengapa para vampir yang kuat bisa terpedaya kebodohan manusia? Jika tidak ada rentetan perjanjian gila itu, banhsa vampir akan semakin jaya, bebas mencari makan kemanapun tanpa ada batasan wilayah, konflik utama mereka mungkin hanya yang terjadi diantara pemberontakan vampir liar pada sebuah klan tertentu.
Setumpuk kertas lagi-lagi didatangkan dari perbatasan, Serevian—butler itu meletakannya sopan di meja sang raja, setelah diberi izin tentunya. Pria bermata kecil itu bahkan tak segan menjelaskan secra rinci tiap lembar tanpa diminta, karena sadar raja barunya mungkin belum terlalu memahami dunia politik kerajaan yang begitu terikat dengan pemerintahan manusia.
Terbukti, Hayden hanya diam sambil memainkan bibir tidak minat ketika Serevian berceloteh mengatakan rentetan kalimat.
"Jelasnya, beberapa kolom di surat ini perlu anda tanda tangani, Lord. Supaya bisa segera dikirim kembali ke pusat kerja sama antar kaum, dan stok bahan pangan kita segera datang." Serevian menutup kata dengan senyuman tipis, ia baru sadar ucapannya sama sekali tidak dipedulikan sejak tadi.
"Mengapa kita perlu melakukan ini semua? Bukankah sistem yang kalian lakukan masih serupa barter? Akan lebih baik jika bertemu langsung dan saling menyerahkan barang. Ingat, kita itu vampir—kaum yang hebat dan lebih mendominasi, kedengarannya lucu harus diperdaya manusia selama ribuan tahun berlalu."
Serevian menahan desisan sebal yang hampir lolos dari mulutnya, "Ini juga demi kesejahteraan dan privasi kaum kita, sejak dulu setiap perjanjian dilakukan dengan surat karena vampir sangat tertutup dan tidak mau menunjukkan wujud secara fisik. Ku pikir kepribadian anda sendiri juga seperti itu, Lord. Ku lihat... tidak pernah melepas jubah hitam itu seolah sangat menyembunyikan diri."
"Tidak juga." Hayden mendecih sinis sambil membuka tudungnya.
Sontak wajah rupawan pria itu terpampang jelas tanpa siluet gelap dari tudung jubah yang biasa dipakainya, meski begitu terdapat banyak luka dan goresan di wajah Hayden—Serevian segera sadar betapa keras pria itu bertarung selama ini, yang bahkan kemudian mampu mengalahkan raja klan selatan yang sebelumnya, menggulirkan takhtanya untuk ditempati. Butler itu berdehem merasa gugup, "Untuk saat ini tolong tanda tangani saja kolom yang ada, agar stok darah segera datang untuk klan kita."
"Baiklah... baiklah..."
Serevian hendak kembali melanjutkan pekerjaannya, sebagai seorang butler di kastil utama sebuah kerajaan, ia terbilang orang paling sibuk selain raja. Namun kali ini ia terpaksa menunda niat bekerja produktif karena teringat suatu hal. Pria itu kembali mendekati Hayden dengan tatapan cemas, "Lord, mengenai blood moon yang akan terjadi nanti malam, ku pikir anda sudah tahu bagaimana peraturan bagi setiap individu vampir. Apa kita—"
Hayden memotong cepat, "Aku juga masih memikirkan masalah itu, Serevian. Fenomena serupa yang terjadi sebelumnya membuatku benar-benar gila, aku hampir ditahan karena membunuh dua ratus orang dalam semalam."
"Lalu bagaimana solusinya atau anda sudah memiliki ide, Lord? Bukan bermaksud merendahkan, tapi hanya vampir ras bangsawan yang bisa menjaga ras menengah seperti kami dari efek blood moon. Sementara yang ku dengar, vampir liar justru lebih sulit mengendalikan diri ketimbang sejenis kami semua."
"Aku mungkin masih bisa membuatkan segel untuk kalian semua agar tidak terpengaruh efek blood moon, ada beberapa cara yang bisa dilakukan pemimpin demi melindungi rakyatnya, tapi tidak ada cara yang bisa membuat pemimpin dilindungi, aku masih tidak tahu harus bagaimana apa malam nanti. Waktunya juga semakin dekat," raut Hayden menjadi pucat pasi, Serevian baru sadar jika rupanya pria itu punya potensi dan keinginan untuk menjabat sebagai pemimpin.
Ia tersenyum, "Mungkin darah ras bangsawan itu mulai diturunkan pada anda. Saran saya, malam ini setelah membuatkan segel untuk kami semua, anda perlu menahan diri, Lord. Batu archimedes yang tersimpan di ruangan anda, adalah rahasia semesta yang hanya diketahui silsilah raja selama ini, mungkin malam ini bisa terbantu berkat benda itu."
•••
Dentuman detik demi detik berlalu, tidak ada apapun yang terjadi seolah dunia terlampau aman. Marabahaya lenyap bagai angin lewat, hanya menyisakan suasana gelap yang mencekam. Gerhana bulan merah tengah berlangsung, sinarnya temaram seperti api unggun di tengah hutan, namun warna merah mencolok yang dihasilkan mampu menembus apapun yang ditunjuk seperti laser.
Belum ada tanda-tanda kemunculan vampir, karena sama sekali tidak terdengar keributan dari luar.
Terkecuali pria berkulit pucat itu, si raja vampir dari klan utara. Julian merasa bimbang dengan apa yang dilakukannya saat ini, sebab gadis remaja yang ia duga bagian dari vampir ternyata bukan, Elora tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan wujud sama sekali, pun tidak kelihatan menahan sesuatu yang menggebu dari dalam jiwa—sebagaimana insting para vampir ketika blood moon menyapa bumi dari angkasa. Cengkeramannya pada leher gadis itu semakin mengerat, membuat sekujur badan tiba-tiba membiru kehabisan napas, "Jangan menahannya Elora, ayo tunjukkan jati dirimu yang sebenarnya."
"Kau boleh menunggu dan membuktikan sendiri kalau putriku bukan orang yang kau maksud, tapi tolong jangan menyakitinya."
"Kalau gadis ini bukan si bayi tabu yang ku cari, maka dia harus mati. Lagi pula bukankah tak ada gunannya hidup? Kau bisa saja mencari anak asuh lagi dari panti asuhan 'kan?"
"Bayi itu sudah mati! Kau sendiri yang membunuhnya kan?! Kedua telapak tanganmu itu yang sudah membinasakannya! Kau lupa atau bercanda?"
Suara gedubrak dari atas sontak mengalihkan atensi mereka, Julian paling sadar dengan aroma tidak asing yang seketika menguar—ada salah satu anggota klannya yang lolos dari kurungan, dia pasti sudah berulah di pemukiman manusia dan menyerang banyak orang, pemerintah bisa protes mengenai keamanan yang kurang ketat. Namun di sisi lain, ia tak boleh meninggalkan Elora dan ibunya, mereka kemungkinan akan menghindarinya sampai sulit ditemukan.
Raungan kepuasan yang terdengar semakin menjadi-jadi, tak tahan dengan perilaku ganas vampir itu, Julian terpaksa meninggalkan kedua ibu-anak di dalam ruangan bawah tanah dengan tak lupa mengunci pintu. Ia berjalan keluar, tepatnya pada hunian sebelah yang sudah hancur tidak berbentuk—pecahan kaca dan darah berceceran di mana-mana, ada dua jasad mati mengering pucat kehabisan darah, sementara pelakunya masih setia mencari mangsa lain di kediaman tersebut. Dia belum menyadari kedatangan Julian, dan meski sadar, insting alamiah sebagai vampir yang tengah menggila akan mengalahkan rasa hormat dan tunduknya sebagai seorang prajurit pada sang raja.
Vampir itu merupakan salah satu prajurit muda klan utara, Julian cukup mengenalnya karena sudah berhasil mencetak prestasi ketika ditugaskan dan saat terjadi peperangan. sang raja utara enggan membunuhnya karena jasa prajuritnya masih akan dibutuhkan suatu hari nanti.
Demi mengembalikan satu vampir yang lolos dari segel, Julian terpaksa meninggalkan kediaman Elora. Ia pikir tidak akan terjadi apapun selama perkiraan beberapa menit saja ditinggal.
Sayang sekali dugaan Julian salah kaprah, sesuatu yang ditunggu-tunggu dilewatkannya begitu saja.
Elora jatuh merosot setelah satu menit mengeluhkan sakit kepala, iris gelapnya perlahan memerah bagai cahaya blood moon sudah tercerai-berai berpindah tepat pada bola matanya. Urat-urat ungu kehitaman muncul di bawah mata dan pelipis juga beberapa bagian sensitif seperti leher dan pergelangan tangan.
Sang ibu memekik saat taring tajam ikut mencuat menambah parah perasaan cemasannya. Melihat sang putri tidak berhenti menggumamkan kata sakit dengan kondisi tubuh lesu, "Seharusnya tidak terjadi sekarang."
Elora mencoba membuka kelopak mata yang terasa begitu lengket, "Apa yang terjadi padaku? Kenapa rasanya lemas sekali, bu?"
Wanita itu menahan air mata seraya merengkuh anaknya dalam dekapan erat, "Kau akan baik-baik saja, jangan khawatir. Semoga tidak terjadi apapun... mari kita berusaha lewati blood moon ini sebentar, setelahnya kau akan kembali seperti semula, jangan tinggalkan ibu."