Malam mencekam di kawasan kerajaan selatan segera berlangsung, seluruh penduduk diharap tetap berada di rumah masing-masing karena Raja Hayden hanya memberika perlindungan di tempat-tempat tersebut, masih ada kemungkinan segel yang dibuat mampu diterobos. Rakyat panik dan khawatir mengingat raja baru mereka sungguh awam, Hayden mungkin sanggup memimpin namun halangan berupa jenis ras membuatnya kurang cakap. Vampir liar hanya terbiasa hidup bersama kesendirian dan kelemahan, mereka liar, berutal, ataupun kuat berkat keterbiasaan hidup di luar tanpa perlindungan dari yang lebih berkuasa, pria itu sungguh kesulitan menghadapi fenomena blood moon kali ini.
Serevian beberapa kali mengajukan saran agar klan selatan tersegel rapat tanpa sedikit pun celah untuk diterobos, namun Hayden enggan mendengarkannya. Tak suka membuat masalah semakin rumit, ia memasang segel melalui pengajaran yang didapat dari buku keturunan para raja yang tersimpan apik di perpustakaan kastil. Hayden merasa segelnya terhadap keseluruhan kawasan kastil sudah sangat bagus, untuk saat ini yang menjadi masalah adalah dirinya sendiri.
Seperti penjelasan sebelumnya, vampir liar hidup sendirian tanpa memimpin maupun dipimpin. Segala cara menghadang hipnotis yang didapat dari blood moon itu tidak akan terpengaruh baginya, sebab tidak ada yang bisa mengatur—vampir liar tidak terikat dengan siapapun kecuali dirinya, berbeda dengan anggota klan, mereka sangat erat dengan raja maupun ratunya.
Hayden mungkin dulunya pribadi yang tak peduli dengan orang lain, tapi sekarang realita sudah berbeda. Sebagai seorang raja atau pemimpin panutan rakyatnya, nama baik itu baru disunggingkan belum lama, ia tak mau kehilangan takhta dan kesempatan besar menjadi bagian dari kaum penguasa. Sudah ratusan tahun silam diidamkan, keinginannya mengambil alih suatu wilayah akhirnya terkabul saat ini.
Tidak mau gelarnya tercoreng, Hayden memilih pergi sejauh mungkin dari pemukiman manusia. Langkahnya yang lekas bagai hembusan udara kini telah mengantarkan pada hutan rimbun dipenuhi pohon besar dengan dahan menjulang ke segala arah, sehingga cahaya manapun kesulitan menembus, termasuk sinar merah yang dipancarkan blood moon.
Deru napasnya mulai tidak beraturan, membuatnya letih tanpa melakukan apapun. Spektrum merah itu sudah berhasil sedikit demi sedikit menggerogoti jiwanya kembali pada insting vampir yang sempurna, yaitu membunuh.
Tekad yang besar membuat Hayden tidak mau menyerah, meski begitu ia juga ingin menyerang ke pemukiman manusia demi setetes darah. Sekuat tenaga mencoba menahan nafsu itu dengan mencengkeram erat batang pohon—kuku runcingnya sontak menggores kacau di sana, mengakibatkan getahnya mengalir bercucuran.
Irisnya mulai memerah, Hayden terus menggelengkan kepala guna menyadarkan diri agar tidak terpengaruh sama sekali.
Sayang sekali dunia seolah sedang tidak berpihak padanya, aroma lezat darah manusia tiba-tiba melebur di depan indra penciuman. Aroma darah kali ini cukup unik sebab berbeda dari yang biasanya ia kenali, atau mungkin berkat efek blood moon yang memabukan, darah manusia terasa lebih menggoda ketimbang apapun. Hayden mengernyitkan dahi saat siluet seseorang mulai semakin mendekat ke arahnya, manusia mana yang berani menginjakkan kaki di tengah hutan ketika bencana gerhana bulan merah pembawa petaka ini berlangsung?
Tak pikir panjang, dengan hanya menuruti insting sebagai penghisap darah, Hayden mulai mencari sumber aroma itu. Irisnya sudah merah total, ia benar-benar gagal mengendalikan diri dan tidak tersisa sedikitpun kesadaran. Jiwa abadinya sebagai vampir liar telah muncul sempurna, siap menerkam mangsa yang datang.
•••
Kuku jemarinya semakin meruncing tajam, Elora kembali menjerit melihat pantulan tubuhnya dalam cermin. Mata memerah seperti darah, dua taring mencuat bagai harimau yang tak segan mengoyak, dan yang paling mengerikan ada pada bagian bawah mata dan pelipis sebab urat-urat gelap menonjol itu membuat penampilannya seperti monster sesungguhnya.
Melihat kondisi putrinya yang semakin memburuk, ibu jelas tidak menjauh—wanita itu justru mendekat, berusaha merengkuh Elora sambil mencoba menahan air mata yang siap membanjir deras.
Elora yang menjauh, ia mungkin tidak merasakan apapun barangkali seperti perasaan menginginkan darah manusia untuk di konsumsi, tapi ia tak mau beresiko menempatkan ibu dalam bahaya. Bagaimana jika instingnya tiba-tiba berubah? Itu akan sangat membahayakan orang disekitar.
"Kemarilah, nak. Pegang tangan ibu, kau akan baik-baik saja dan segera kembali seperti semula," ibu mengulurkan tangan, tidak mau gegabah mendekati Elora secara paksa. Gadis itu sedang tidak sadar dan ketakutan terhadap apa yang terjadi pada dirinya sendiri, ia terus menjauh mungkin karena tidak mau melukai orang lain, jika tiba-tiba jiwanya berubah menjadi seperti vampir mengikuti bentuk fisiknya.
Elora bersandar di daun pintu sambil memejamkan mata takut. Untuk sekarang ia tidak bisa mencari tahu apa yang terdi terhadap fisiknya, namun yang pasti perubahan ini akan membawa marabahaya, Elora tidak mau mengambil keputusan yang salah dan terlambat. Menghiraukan ucapan ibu, ia membuka pintu untuk segera pergi dari rumah.
"Jangan! jangan pergi, kau masih manusia!" Cegah ibu, Elora merasakan pergelangan tangannya kembali ditarik masuk. Ia tidak bisa memaksa pergi, tapi juga khawatir akan mencelakai orang tua tunggalnya yang tersisa.
Gadis itu berbalik dengan tatapan nanar, "Ibu mungkin tahu apa yang terjadi padaku, tapi jiwaku mengatakan akan ada marabahaya jika tidak segera pergi dari sini, aku sendirilah marabahaya itu. Kalau kita tetap bersama di satu ruangan, kemungkinan besar aku akan mencelakai ibu, sesuatu di dalam jiwaku yang membisikannya—aku harus pergi dari sini, bu."
"Tidak," wanita itu menggeleng heboh, tidak bisa berpikir lebih jernih bagaimana putrinya bisa bertahan diluar rumah selagi blood moon berlangsung, "Ibu sudah memastikan tidak akan terjadi sesuatu padamu. Kau adalah putriku satu-satunya, sebagaimana manusia dan tidak akan menjadi penghisap darah sampai kapanpun. Tolong tetap di sini."
"Aku akan kembali bu, aku juga ingin tahu semuanya langsung darimu. Dan mungkin hal inilah yang ditunggu-tunggu Julian, kalau aku benar dari sebangsa mereka."
Elora merasa telah ditipu mengenai rahasia hidupnya sendiri. Ia dan dan ibu mungkin sangat dekat layaknya hubungan orang tua-anak pada umumnya. Tapi ada banyak hal besar yang selalu menjadi pertanyaan dan terus menghantui kepala, ibu tidak benar-benar menyembunyikan hal besar itu, namun dia berusaha terus mengabaikan. Seperti penyebab kenapa ayah meninggal, lalu kehidupan mereka yang cukup bergelimang harta meski wanita paruh baya itu hanya bekerja sebagai pegawai toko roti, atau bahkan alasan sepele lain yang Elora tidak sadari.
Kemudian sekarang, Elora justru mendapati kebenaran mengenai jati dirinya. Bukan masalah kenapa bisa hal ini terjadi, tapi mengapa ibu tidak menceritakannya dahulu—paling tidak sebelum waktunya berlangsung, agar ia bisa bersiap menghadapi kenyataan. Elora sadar blood moon lah yang membuatnya menampakkan wujud serupa vampir, karena kaitan antara keduanya begitu erat, itu juga alasan Julian kerap berada di dekatnya akhir-akhir ini.
Raja vampir itu sudah mewanti-wanti sesuatu akan terjadi.
"Elora, kau bukan vampir. Julian bukan sekutumu, mereka musuh!" seruan sang ibu membuat Elora kembali menghentikan langkah, "Kau tidak boleh bertemu mereka, tertaplah di sini berlindung bersama ibu."
Pengendalian jiwa di dalam tubuhnya semakin kacau, seperti kobaran api meraung-raung disekitar benda yang segera dilahap. Elora mulai merasakan kerongkongan panas dan kering, serupa saat sedang kehausan namun yang harus mengguyur bukanlah air melainkan darah. Sadar keberadaannya semakin mengancam keselamatang sang ibu, gadis itu berlari keluar rumah tanpa mempedulikan teriakan marah orang tua tunggalnya.
"Aku bukan vampir... aku bukan vampir..." Kepalanya menggeleng ribut, mencoba mengembalikan kesadaran diri secara utuh. Ia tak mau apa yang dipikirkan menjadi nyata, namun tak lama kemudian Elora kehilangan kesadaran—bukan, bukan pingsan sampai kesulitan membuka mata.
Melainkan kesadaran jiwa yang sudah resmi direnggut oleh jati diri si vampir. Matanya merah menyala siap menerkam mangsa untuk kali pertama, ia hanya mau darah untuk membasahi tenggorokan.
Langkah samar menyerupai gesekan antar aspal dan benda keras kembali menyadarkan. Tidak disangka ibu masih berusaha menahannya untuk tak pergi, wanita itu berlarian cepat tanpa memperhatikan telapak kaki yang terkena goresan karena kurang berhati-hati.
Elora sadar itu ibunya, ia juga masih bisa mengenali dengan baik. Namun insting sebagai pemangsa darah membuat keadan terdesak menargetkan ibunya sebagai mangsa utama. Bukannya berlari menjauh saat pupil Elora mengecil tajam, ibu justru semakin mendekat.
"Tahan! Jangan melukai siapapun, kau harus bisa menahan nafsumu!" bentaknya, disertai derai air mata mulai menganak sungai.
Elora mengernyit, ia kembali bisa mengatur kesadaran. Alasan logis, tidak mau mengambil resiko melukai banyak orang di tempat padat penduduk seperti ini, membuat inisiatif singkat langsung bekerja. Tidak menghiraukan teriakan ibu, langkah lajunya yang seperti hembusan udara membawa gadis itu melesak masuk jauh ke area hutan. Elora hanya berpikir tempat itu tidak didiami manusia, ia mungkin bisa lebih menahan keinginan gila ini dengan berusaha menjauhi sesuatu yang berbau darah.
Sampai di bawah kawasan pepohonan yang menjulang dan rimbun, langkahnya mulai memelan gontai. Tidak ada apapun selain angin yang berlalu lalang tak kasat mata membuat Elora lega, tubuhnya terasa lebih lesu ketika sama sekali tidak tercium aroma darah dari sekitar.
Belum lama dihinggapi kesadaran, aroma lain tiba-tiba menguar, sumbernya tak jauh dari tempat ia berdiri sekarang. Darah yang mengalir dari sel-sel tersebut kelihatan lebih menggiurkan ketimbang darah merah milik manusia biasa, sebab ada aroma lain yang menghinggapi, bau khas bunga lili.
Elora berdiri di balik batang pohon, sembari menajamkan pandangan tatkala 'sumber' aroma itu mulai mendekatinya. Ia semakin gila mendapati bau menggiurkan tersebut, sampai tak tahan untuk terus berlindung jika saja yang datang marabahaya.
Mengabaikan segala pemikiran berbelit itu, ia hanya mau mengikuti insting pemburu. Tidak peduli apa yang ada di hadapannya, yang jelas jika itu mangsa maka harus di dapatkan.
Siluet seorang pria muncul, ditemani temaram cahya dari gerhana bulan merah—sontak pupilnya semakin berderai darah ketika pandangan mereka saling bertemu tatap. Elora tak mau kehilangan kesempatan, ia pun maju lebih dulu dengan langkah tak terduga.
Lantas spontan menancapkan taringnya pada perpotongan leher pria itu.