Selama gerhana bulan merah perlahan menghilang dari kanvas dunia yang disebut langit, keadaan di wilayah para vampir juga berangsur membaik, tidak banyak kekacauan yang terjadi berkat betapa kuatnya segel yang dibuat oleh tiap pemimpin klan. Meski begitu, para penghisap darah tetap mengeluh kelelahan walau tidak melakukan apapun, mereka semua seolah ditantang untuk menahan napas selama beberapa menit, diam dan tak melakukan apapun.
Edward, seorang penasehat utama dari klan utara atau kerajaan la luna, adalah orang pertama yang berani keluar ruangan. Matanya yang semula merah membara telah berganti menjadi berpupil hitam layaknya manusia, memandangi betapa indahnya rembulan ketika si fenomena berdarah tidak lagi datang.
Sebenarnya di saat-saat seperti ini adalah waktu keberuntungan terbaik bagi para vampir, mereka bisa bebas menggila di luar sana, mencicipi dari satu darah menuju darah lain hingga tidak ada satupun manusia yang tersisa.
Namun kembali pada keadilan, perjanjian tertulis antara kaum penghisap darah dan manusia tidak bisa diabaikan begitu saja, dua kaum telah berusaha damai dan tidak saling membunuh secara ilegal sejak ribuan tahun silam. Ketika dilanggar dua-duanya justru sama-sama merasakan penderitaan, manusia ketakutan sementara vampir kesulitan mencari mangsa karena telah banyak nyawa yang melayang sia-sia. Dahulu kala semua itu terjadi pada dunia mereka ketika blood moon berlangsung, dan perjanjian antar dua kaum tersebut juga belum ada.
Vampir dan manusia, sampai kapanpun akan tetap berselisih, namun juga tidak dapat hidup tanpa satu sama lain.
"Semua baik-baik saja, Ed? Ada satu prajurit kita yang lepas tadi, dia sudah membunuh satu anggota keluarga."
Edward mendengus ketika suara sang raja terdengar menyapa, saat berbalik ia terkejut dengan seseorang yang sedang dibawa, "Kenapa kau membawa manusia kemari?"
"Dia manusia yang penting," balas Julian. Kelopak matanya berkedip dua kali ketika sampai di teras kastil, membuat pintu berukuran tiga meter tersebut terbuka lebar mempersilahkannya untuk masuk. Si penasehat kerajaan yang dilanda rasa pensaran segera mengikuti langkah sang raja.
Sampai di suatu ruangan tertutup yang sama sekali tidak membiarkan udara masuk, beberapa peti berjajar rapi di dalamnya beserta seseorang yang menempatinya. Julian membuka salah satunya, dan menaruh jasad Renata di dalam sana secara perlahan agar tidak menimbulkan hal berbahaya bagi tubuh rapuh manusia setelah mati.
Edward mengernyitkan dahi, baru menyadari jika manusia yang dibawa pemimpinnya telah meregang nyawa, sebab tidak terdengar detak jantung dan deru napasnya, yang terpenting ada banyak lelehan darah di perpotongan leher wanita paruh baya itu, "Kenapa kau membawa orang mati, Lord? Tadinya ku pikir masih hidup, atau kau merasa bersalah setelah membunuh orang?" Penasehat itu tertawa tanpa rasa bersalah.
Melihat tingkah bawahannya yang tidak memiliki sopan santun sontak membuat Julian mendesis, sejujurnya Edward selalu berperilaku seperti itu hingga membuatnya terbiasa dengan tidak adanya perubahan sikap setelah ia diangkat menjadi raja klan selatan, "Ingat statusmu, dan aku seorang raja di sini."
"Oh ayolah, kita tumbuh bersama sejak kecil, apa aku perlu melakukan itu semua setiap hari? Sudah cukup di saat waktu-waktu resmi berlangsung," balasnya sambil tertawa riang, tidak peduli sama sekali jika si lawan argumen menancapkan anak panah tepat pada jantungnya, "Katakan padaku secara informal tentang wanita ini, kenapa kau membawanya? Apa dia punya masalah dengan klan kita?"
Masalah mengenai hilangnya memori Julian pada detik-detik pemusnahan humphire juga ayahnya yang seorang vampir, hanya ia yang menyadari. Orang-orang mungkin juga lupa dengan potongan kejadian itu tapi mereka merasa baik-baik saja, menganggap humphire itu memang telah mati bersama ayahnya. Selama beberapa tahun terakhir tidak ada yang mempermasalahkannya sama sekali bahkan para tetua juga vampir peramal alias orakel, tidak ada yang membicarakan hal itu sama sekali.
Juga tidak ada yang curiga mengenai hilangnya potongan peristiwa itu pada ingatan masing-masing. Lagipula tak ada satu kejadian aneh yang membahayakan, maka dari itu banyak yang mengabaikan dan lebih fokus pada masa depan kejayaan para vampir.
Namun Julian bukan seseorang yang bisa melarutkan masa lalu tanpa gambaran jelas, ia harus tahu kenapa seluruh memori itu hilang. Apakah sosok humphire bisa hidup lagi setelah jantungnya dibakar, atau ada seseorang yang berusaha menyelamatkannya pada saat itu? Kemungkinan terbesar jawaban ada pada Renata, "Ed, menurutmu peristiwa pemusnahan humphire awal tahun 2000-an, apa benar dia sudah mati?"
Edward merengut kecewa sebab tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya mengenai wanita paruh baya yang terbujur kaku dalam peti, sang raja justru mengalihkan topik dan menanyainya hal lain, sontak emosinya tersulut bagai listrik bertemu konduktor, "Sudah ku bilang 'kan kalau kau sendiri yang merobek badannya hingga terbelah jadi dua, lalu melempar jantung itu pada kobaran api yang menggunakan kayu khusus. Kenapa kau selalu menanyakan itu? Aku risih sudah menjawabnya belasan kali."
Julian balas menentang pernyataan penasehatnya, tidak ada yang tahu kebenaran ada pada siapa, namun mereka berusaha untuk saling mengunggulkan opini, "Mengapa kau tidak curiga ketika ingatan kita menghilang mengenai beberapa peristiwa penting itu? Aku sangat khawatir seandainya humphire itu masih hidup, sekarang telah delapan belas tahun berlalu, jika dia ada maka usianya sudah cukup untuk membalaskan dendamnya pada kaum vampir."
"Dia jelas sudah mati, lagipula tidak ada orang yang berani merawatnya sekalipun itu seorang vampir ras terkuat sepertimu," balas Edward merasa jengah, ia lelah mendapati perilaku rajanya berubah akhir-akhir ini, dengan penjadi pria yang lebih sensitif dan selalu dikelilingi kekhawatiran mengenai humphire.
Padahal jika saja bayi itu memang masih hidup hingga saat ini, seharusnya tanggungan tidak hanya dibebankan pada Julian—meski dia berperan sebagai pembunuh utama, namun waktu itu para raja dari banyak klan memberikan suara agar dapat mengungkapkan pilihan mereka mengenai orang yang berhak membunuh bayi humphire beserta ayahnya yang dahulu juga seorang raja.
Sebagai pria termuda sekaligus raja terkuat pada masanya, Julian pun didapuk serentak. Awalnya ia hendak mengundurkan diri karena cemas jika sesuatu akan terjadi nantinya, tapi orang-orang berkata tidak akan terjadi apapun. Sebab puluhan humphire terdahulu juga sudah dimusnahkan, dan selama waktu berlalu tidak pernah terjadi apapun.
Julian membuka suara, ia merasa menyimpan rahasia sendiri mengenai hal besar akan berefek tidak baik bagi klan yang tengah dipimpin. Jadi meski Edward tidak mempercayai pendapatnya, apapun yang terjadi seseorang harus tahu isi pikirannya, "Sejujurnya wanita ini berkaitan erat dengan manusia yang melahirkan anak raja vampir waktu itu. Dia membuatku curiga karena tiba-tiba punya anak yang sekarang berusia delapan belas tahun, sama seperti bayi humphire jika masih hidup."
"Mungkin dia membawanya dari panti asuhan," tebak Ed.
Dugaan sang penasehat kerajaan itu sama persis dengan yang Renata ungkapkan, "Alibinya juga begitu tapi aku tidak bisa percaya, asal kau tahu gadis itu sekarang hilang entah kemana dan aku kesulitan mencium aromanya, seolah menghilang ditelan bumi."
"Kau mencurigai anak itu?" Edward masih berusaha menanggapi walau sejujurnya sudah lelah dengan topik mereka. Meski terbiasa bersikap bagai kawan pada sang raja, ia tetap mengikuti prosedur sebagai bawahan yang baik dan patuh sehingga tidak ada pembangkangan.
"Tentu saja, aku datang ke rumah mereka untuk memastikan tidak ada yang terjadi selama blood moon berlangsung. Yang ku tahu, jika dia masih keturunan vampir pasti akan terpengaruh kegilaannya juga," selagi beberapa waktu mereka bertemu, Julian sebenarnya juga tak mencium aroma darah yang berbeda dari Elora dengan manusia lain, namun seiring berjalannya waktu ia sadar aroma khas darah gadis itu berubah-ubah setiap hari. Julian belum bisa menyimpulkan hal itu, "Selama ini aku juga pergi ke sekolah menengah atas untuk memantaunya, menjadi guru di sana membuatku tahu lebih banyak karakteristik anak Renata. Dia benar-benar punya kebiasaan dan beberapa ciri khas kaum kita."
"Kau yakin? Bukan hanya kebetulan?" Tanya Ed lembali memastikan.
Edward memiliki pendapat sendiri yang kesulitan diungkapkan, ia tidak berani bicara pada sang raja jika keturunan vampir baik itu bersama manusia, seharusnya tetap mengkonsumsi darah—mungkin tidak selalu, karena mereka masih manusia, entah sayuran, dagingan, maupun darah bisa bercampur menjadi satu, humphire bukan pemangsa satu jenis makanan.
Pria itu kembali menjelaskan, membuat Ed terdiam, "Tatapannya kosong dan penuh intimidasi, terkadang wajahnya juga pucat, sangat pucat seperti salju. Dia juga pandai berlari, berkelahi, waspada terhadap sesuatu, punya penglihatan yang teliti, dan suka mengkonsumsi daging, aku selalu melihatnya makan daging, bukankah humphire diramal bisa menjadi kanibal?"
"Itu semua... ambigu, ada banyak manusia yang punya sikap serupa dan yang kau awasi itu kemungkinan hanya kebetulan. Karena terlalu menduga gadis itu humphire, semua yang dia lakukan terasa tidak asing dengan kaum kita." Edward meringis, meski berbeda takhta mereka juag berbeda opini, ia berhak menilai bagaimana sang raja membuat kesimpulan dan pernyataan.
"Ah, kau perlu melihatnya sendiri," balas Julian sebal, apapun yang terjadi tidak akan ada orang yang percaya sekaligus setuju mengenai hal yang ia yakini benar. Meski begitu, Julian berharap dugaannya salah, humphire tidak boleh hidup lagi, mereka bisa menghancurkan dunia atau menaruh dendam pada pembunuhnya dari masa lalu. Dengan begitu kepastiannya harus dijelaskan, "Bahkan dia menghilang tak terduga sekarang. Coba pikir, apa ada manusia yang bisa bersembunyi dengan menyemarkan aromannya agar tidak tercium vampir?"
"Ada, manusia zaman sekarang sudah banyak berubah, mereka jauh lebih pintar apalagi mengembangkan suatu penemuan unik. Kita bisa saja benar-benar musnah setelah mereka menemukan senjata ampuh untuk membinasakan para vampir, manusia senang mendominasi dunia," selain Julian yang suka berkeliling di pemukiman manusia dan menyamar sebagai orang biasa dengan profesi seadanya, Edward pun terkadang begitu, ia pernah menjadi pekerja kontrak di sebuah pabrik tekstil hingga barista ternama. Segala sikap dan tingkah laku manusia sering ia amati secara teliti tanpa disengaja.
Julian tertawa remeh mendengar balasan Ed, "Kau pikir itu lelucon?"
Pria penasehat itu sontak membungkuk, merasa bersalah.
"Bersihkan jasad wanita ini lalu awetkan dengan suhu -40°," ujarnya singkat, kemudian meninggalkan ruangan.