"Kalau begitu maaf, aku tak mungkin menyetujui harapanmu. Seperti yang kau bilang, kita harus saling menguntungkan 'kan?" ungkap Elora.
Hayden seketika merasa direndahkan, setelah berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat gadis itu terpaksa setuju karena nyawanya terancam. Rupanya ia harus kembali menjadi raja egois. Elora begitu menguntungkan, jika vampir lain lebih dulu mendapatkannya maka klan selatan bisa tersingkir sementara klan tersebut berkembang pesat hingga menguasai banyak wilayah, "Kalau kau menolak, aku akan menganggapmu sebagai manusia sepenuhnya, yang jadi mangsa vampir dan tidak akan bisa lepas setelah mataku melihatmu."
Pria itu melesat dari satu sudut menuju sudut lain mengeliling Elora, hampir tidak terlihat bagaimana caranya berpindah karena terlalu cepat diproses mata, tepat saat beeada di belakang, ia mendekatkan kepala sembari berbisik, "Jangan takut, bukankah kau bisa menyerangku? Atau karena blood moon usai kekuatanmu pun menghilang? Sebenarnya aku bisa mencium aroma itu," bibirnya tersungging sebelah, menampakkan seringai licik.
Elora sudah cukup bertahan, ia tidak bisa lanjut berlari, menjauhi vampir sama saja dengan membuang tenaga. Untuk saat ini ia merasa beruntung karena Hayden tidak langsung menyerang seperti vampir lain, pria itu menjelaskan keinginannya dan meminta negosiasi, namun tetap mengintimidasi—dan hal itu semakin membuatnya tak nyaman.
"Semakin lama kau berpikir, maka semakin sedikit pula usia nyawamu. Jika indra pendengaranmu masih bagus, coba dengarkan secara seksama betapa ramainya suara langkah kaki dari setiap sisi hutan ini, mereka sedang menuju ke arah kita—oh, lebih tepatnya padamu," telinganya tampak bergerak, seolah menyaring segala macam bunyi yang berusaha masuk ke pendengaran, memfokuskan pada satu suara hingga dapat terpilah jeli, "Ayo, Elora. Hanya aku satu-satunya vampir yang akan membantumu keluar dari hutan dan berjanji tidak meminum darahmu."
Telapak tangannya terulur, meminta segera dijabat penuh penghormatan dan dilandasi perjanjian. Tetapi Elora sungguh belum dapat berpikir normal, jika menyetujui tawaran Hayden maka mulai sekarang hidupnya akan terus diganggu. Satu vampir sudah tahu manfaat mengenai keberadaannya, maka semakin lama rahasia itu akan terbongkar.
Melihat betapa kukuh dan egoisnya pria itu membuat Elora percaya, jika dia tidak akan menyebarkan hal ini pada vampir lain, Hayden akan menyimpan rahasia Elora untuk dirinya sendiri.
"Aku hanya akan memintamu untuk menggigit leherku seminggu sekali, lalu kau bisa mendapatkan apapun yang sedang diinginkan, bahkan jika itu uang, akan ku sanggupi. Lihat 'kan, bahkan aku justru memintamu melukaiku, kau aman selagi menyetujuinya," ujar pria itu mencoba memberi iming-iming dan tawaran mengesankan.
Suara desisan dan rauman lapar mendadak bersahut-sahutan dari sekitar. Belum ada satu pun siluet pemilik suara itu muncul, tapi dipastikan mereka ada di sekitar sini, sudah dekat dan mengintainya tanpa disadari.
Elora menarik lengan Hayden, kemudian dengan cepat menjabat tangannya. Ia tidak mau vampir lain langsung membunuh tanpa sebab, mungkin bermain di salah satu koloni vampir akan menghasilkna hal baik berikutnya, "Baiklah, ku terima."
"Tapi masih ada satu persyaratan," potong Hayden, seketika membuat raut panik Elora semakin parah.
Kulitnya memucat dengan bibir bergetar juga gigi sengaja digemertakkan, "Apa lagi?!"
"Jangan katakan pada siapapun mengenai hal ini termasuk orang-orang terdekatmu," Elora segera mengangguk cepat, ia sadar mengenai keberadaan dua pupil merah serupa bola api kecil tengah mengintai dari balik semak belukar, yang lebih mengerikan jumlahnya tak hanya sepasang. Hayden tertawa mengikuti arah pandang gadis itu, sengaja mengulur waktu agar yang sedang bersembunyi segera menampakkan diri menakuti Elora, "Lalu, apakah banyak yang tahu mengenai kemampuanmu?"
"Tidak ada yang tahu, ini baru pertama kalinya terjadi."
"Bagus, kalau begitu selamat malam," pria itu mendekat, namun kurang dari satu detik Elora sudah tidak dapat merasakan apapun, hanya ada wajah Hayden yang terlihat buram. Kemudian semuanya lenyap, menghitam ditelan kegelapan.
•••
Kicauan burung telah kembali hadir, mengepakkan sayapnya di langit. Mereka tidak sendirian, dengan ditemani cahaya terang kebiruan matahari di waktu pagi.
Pemukiman manusia telah kembali normal seperti biasanya, namun hari ini jumlah kasus kematian karena inveksi gigitan vampir tetap meningkat berkat efek blood moon. Rumah-rumah yang terserang mendapat garis polisi di sekelilingnya, terutama pada titik utama peristiwa berlangsung.
Di dalam ruang bawah tahan, Elora baru sadar pukul tujuh pagi tepat saat para tim penolong menggeledah rumahnya. Namun mereka kesulitan masuk ke ruang bawah karena pintu terpalu dari dalam. Menghiraukan segala perbotan yang semalam masih tersusun rapi, tapi kini berantakan total—Elora menggedor pintu panik, berharap segera diselamatkan.
Beberapa orang anggota militer menyuruhnya menjauh dari pintu, hingga tak lama kemudian benda itu roboh diterjang tubuh kekar mereka. Salah seorang segera berkeliling ruangan lengkap dengan senjata laras panjang yang menggantung di lengan.
Sementara para dokter dan perawat bergegas membawa Elora naik untuk segera diobati, baik psikis maupun fisiknya. Salah satu perawat tampak terkejut karena tidak mendapati satu pun goresan di tubuh gadis itu, "Syukurlah kau baik-baik saja, tapi jika boleh ku tahu bagaimana kau bisa melawan vampir yang menyerang rumahmu?"
Elora menggeleng ragu sambil menunduk, "Entahlah—oh, di mana ibuku? Apa kalian sudah menyelamatkannya lebih dulu?"
"Tidak ada orang selain kau di tempat ini. Sebelumnya pasukan kami sudah berkeliling hampir 30 menit, tapi tak ada tanda-tanda seorangpun, sampai akhirnya kau berteriak butuh pertolongan dari dalam ruangan bawah," perawat itu mengusap wajah Elora menggunakan tisu, namun ketika tanpa sengaja terkena sudut bibir, darah menempel pada tisu basah tersebut, tapi ketika ia menyuruhnya membuka mulut tidak ada luka sedikitpun, "Rumah sebelah juga jadi korban p*********n, satu jasad sampai terseret di aspal jalanan, barangkali... ibumu juga begitu—tapi semoga tidak, kami akan segera mencarinya."
"Elora," panggil seorang militer yang berpakaian tertutup, pria itu yang tadi sempat memeriksa ruang bawah tanah sesaat setelah ia keluar. Secarik kertas dalam genggamannya disodorkan, membuat Elora mengernyitkan dahi, "Namamu ada di kertas ini, ku pikir salah satu anggota keluarga yang menuliskannya untukmu."
"Iya, ini tulisan ibuku!" Elora belum sempat membaca isinya, namun sangat jelas susunan kata dari pena biru itu di buat oleh sang ibu.
Perawat mendekati si anggota militer seraya menjauh dari Elora, ia mendekatkan kepala dan berbisik, "Tidak ada orang lain selain perempuan ini, Sersan Smith Brooks, tapi dia bilang ada ibunya."
"Memang seharusnya ada, darah berceceran di ruang bawah tapi anak itu sama sekali tidak terluka."
"Para vampir bisa saja menyeretnya ke tempat lain."
"Beberapa anggota sudah mulai menyebar untuk mencarinya, urus saja gadis itu, beri sesuatu yang menghibur agar tak depresi seperti beberapa korban lain yang kehilangan keluarga," pria bergelar sersan lantas melangkah menjauh, ia sempat bertukar pandang dengan Elora namun tidak mengatakan apapun selain matanya yang berkedip, sementara bibirnya tertutup masker.
Matanya bulat lebar, terdapat kelopak ganda beserta t**i lalat kecil di salah satu sudut. Elora tidak pernah bertemu pria dengan ciri-ciri indra penglihatan seperti Sersan Smith sebelumnya, namun ia seolah mengenali pria itu secara dekat, memiliki hubungan erat antara keluarga, kerabat, ataupun teman.
Mengabaikan pria anggota militer yang kini telah pergi menuju mobil dinasnya, Elora membuka notes kecil berisi tulisan sang ibu. Ia mulai cemas ketika kalimat tersebut terlihat lebih acak ketimbang biasanya, ibu bahkan menulisnya dengan terburu-buru tanpa memperhatikan garis.
'Tulisan ini akan berguna jika kita mungkin sudah tidak bisa berkomunikasi lagi.
Sebelumnya maaf putriku tersayang, kau bukan manusia biasa sekaligus bukan anak kandungku. Tapi kita sudah bertemu sejak usiamu bahkan belum ada satu jam, sampai kapanpun aku ibumu dan kau anakku. Mengenai orang tua kandungmu, mereka sudah tiada karena para vampir membunuhnya.
Untuk saat ini ibu tidak bisa terlalu banyak menulis, maka dari itu temuilah seseorang yang tinggal di kaki bukit paling dekat dengan rumah kita, katakan padanya kau anak kandung Jane. Dia satu-satunya yang tahu siapa dirimu sebenarnya dan akan memberitahu apa saja peristiwa-peristiwa yang mungkin kau alami nanti, bahkan tujuan kehadiranmu juga.
Jika kau tidak menemui ibu segera lakukan panduan yang tertulis di sini.
Sejujurnya kau sangat istimewa lebih dari permata, berlian, dan para ratu bangsawan. Apapun yang terjadi pada tubuhmu malam ini sudah menjelaskan sebagian, maka jagalah dirimu baik-baik.
Aku mencintaimu putriku, sampai kapanpun... Semoga kita bisa bertemu lagi...
...setelah blood moon berakhir.'
Selembar kertas tipis tersebut mendadak basah karena tak kuat menahan air matanya. Elora tidak tahu di mana ibu, tapi pelakunya pasti salah satu kaum vampir, dan satu-satunya terduga adalah Julian.
Raja utara itu sebelumnya datang untuk melihat apakah Elora merupakan sosok yang dicari-carinya selama ini. Sebagai makhluk tabu terlampau membahayakan, sementara sang ibu justru menyebutnya istimewa. Apa yang telah ia perbuat selama ini hingga tiba-tiba semua orang yang disayangi menghilang beserta datangnya berbagai malapetaka—terutama dari para vampir.
Mengenai orang tua kandungnya, dan kematian ayah yang penyebabnya seolah disembunyikan, juga keberadaan ibu lenyap dalam sekejap tanpa jejak. Semua itu merundungnya hingga tidak tahan untuk tak berteriak melepaskan emosi. Para perawat, relawan, juga anggota militer segera berbondong-bondong mendekatinya dengan tatapan panik.
Julian datang untuk memusnahkan, sementara Hayden justru memanfaatkan ketidaktahuannya mengenai diri sendiri. Mengapa seluruh pihak terlihat jahat beserta dunia sekalipun.
Elora meremat kertas tersebut, tanpa sadar menggigit bibirnya hingga berdarah sambil menatap lurus dengan pandangan kosong. Ia bertekad untuk tidak mau ikut campur dengan segala hal yang terjadi selama ini.
Entah siapapun dirinya, baik vampir, manusia, ataupun monster, ia berusaha tidak peduli. Segalanya perlu berubah karena Elora tak mau bersangkutan dengan para vampir lagi. Masa bodoh dengan Hayden yang telah mengikat perjanjian gila semalam, juga Julian yang berusaha memusnahkannya tanpa mengatakan sebab secara jelas.
Pesan singkat pemberian sang ibu hanya ia simpan ke dalam saku tanpa berminat mengikuti arahannya. Seseorang yang perlu ditemui di kaki bukit pun pasti akan membuat masalah semakin besar—dan Elora tidak mau mengikuti permainan mereka semua.
Ia harus bebas sendiri, tidak akan mati seperti ayah, ibu, atau bahkan kedua orang tua kandungnya.
•••
Rembulan beserta kegelapan menyingkir, tergusur oleh sang mentari bersama rombongannya yang terang bagai jalan setapak menuju surga. Klan selatan pagi ini riuh karena kembalinya sang raja tanpa setitik pun darah yang menempel di jubah kebanggannya.
Rakyat mengira pria itu telah sukses menahan diri dari serangan menggila yang disebarkan oleh spektrum merah blood moon. Segel yang Hayden buat ternyata juga tak kalah sempurna dibanding para raja ras bangsawan sebelumnya—untuk saat ini sebagian besar anggota klan tampak memuja dan mengagungkannya, sebab pria itu berhasil mematahkan segala kalimat remeh yang dilontarkan beberapa orang secara diam-diam.
Orang-orang yang masih belum setuju hanya bisa terdiam menatap si raja penuh perasaan dengki, namun tidak ada yang berani mengungkapkan langsung dengan kata-kata. Mereka mungkin masih menentang, namun tidak berani melawan—mengingat raja sebelumnya telah ditumpas habiskan oleh pria bertudung hitam itu.
Ketika Hayden berdiri tegap di depan halaman kastil menghadap para anggota klannya, mereka tiba-tiba bersorak ramai sambil mengungkapkan rasa terima kasih juga pujian keagungan untuknya.
Dalam lubuk hati terdalam, ia merasa senang sekaligus bersyukur ketika melihat wajah-wajah damai yang murni mendukungnya tanpa paksaan. Hayden pernah punya kelompok kecil, bersama ayah dan adik, namun ketika ia berusia sekitar 13 tahun jika dihitung tahun manusia, kejadian buruk menimpa keluarga kecil mereka. Peristiwa tersebut benar-benar mendadak sebab terpicu dari hal sepele, tak terduga hingga akhirnya mengakibatkan perseteruan antar individu.
Hayden dan ayahnya saling menyerang karena berbeda opini, sementara mereka sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah. Keduanya terlibat faktor keturunan dan darah hingga tak mau mengalah karena merasa paling benar sesuai pernyataan sendiri.
Semuanya kemudian berakhir menyesakkan, memberikan penyesalan terbesar bagi Hayden sendiri. Kehilangan ayah juga adiknya dalam waktu bersamaan, peristiwa itu sudah berlalu sangat lama, ia bahkan telah melupakan wajah dua anggota keluarganya tersebut—bukan bermaksud sengaja lalai terhadap mereka, namun ia terlalu takut untuk mengingat betapa mereka begitu berharga.
Raut amarah ayah, mata menggemaskan adiknya, selaku terngiang di benak hingga membuatnya dihantui penyesalan selama ribuan tahun berlalu.
Mulai hari itu, ia hidup sendiri sebagai seorang vampir liar tanpa klan, selama itu pula tidak ada minat untuk menikah atau bergabung bersama sebuah klan besar. Hayden benar-benar takut kehilangan lagi, mengerikan jika kehidupannya yang berkelanjutan harus dijalani dengan penyesalan lagi hanya karena ia selalu kesulitan menghadapi emosi hingga akhirnya pasti menewaskan pihak lain.
Tapi akhir-akhir ini salah satu alur pemikirannya berubah, bukan untuk memiliki keluarga namun agar dapat berkuasa ia perlu dukungan anggota.
Hayden biasa tersingkirkan sebab berasal dari ras liar tanpa koloni sejak lahir, membuat martabat juga keberadaannya diinjak-injak. Padahal tenaga para vampir liar sebenarnya jauh diatas rata-rata, mereka mungkin tidak terlatih tapi terbiasa dengan rintangan kehidupan sehingga menjadi superior dengan sendirinya.
Meski begitu masih belum cukup diakui, ia dengan kegilaan dan tekad yang menyatu sempurna berusaha menjadi seorang pemimpin. Waktu akhirnya berpihak, usai mengalahkan raja selatan yang berkuasa sebelumnya, ia diangkat menjadi pemimpin pengganti—tanpa memerlukan banyak halang rintang untuk saat ini.
Dan Elora akan menjadi tameng kuat untuknya.