Bab8-Archimedes's Secret Story

3537 Words
Usai kericuhan di halaman depan kastil berakhir, masyarakat klan kembali beraktivitas seperti hari-hari biasa. Beberapa pria terkuat utamanya bagi yang masih muda ditunjuk menjadi prajurit militer keamanan kerajaan mulai usia 17 tahun, karena dianggap sudah mampu menjadi pelindung juga megatur strategi keamanan wilayah. Sementara yang lainnya bekerja keras menambang di wilayah setempat, barang hasil tambang akan ditukar dengan stok darah kiriman manusia. Kegiatan dan tugas individual tersebut bukan hanya berlaku di klan selatan, namun seluruh klan vampir yang mendiami wilayah dekat pemukiman manusia. Seorang raja bertugas memimpin rakyat baik dalam hal keamanan, kedamaian, kesejahteraan, juga ekonomi bahan pangan. Hampir sama seperti manusia, mereka kini hidup dengan memanfaatkan kenikmatan dunia, padahal dahulu kala vampir seperti koloni binatang buas. Pemimpin hanya berhak berada di jalur depan seperti tameng keselamatan, sedangkan anggota berburu makanan di bawah perlindungannya. Namun puluh ribuan tahun telah berlalu, vampir mulai dekat dan meniru gaya hidup manusia. Mereka semua selalu terlihat seperti bangsawan kalangan atas dengan setelan pakaian terbaik rancangan desainer ternama. Hal itu juga menjadi strategi utama agar tidak dicurigai, zaman abad pertengahan, pertama kalinya vampir mau berbaur dengan manusia seolah tidak membedakan jati diri, mereka berniat mengintai mangsa tanpa dihindari karena ketakutan melihat wujud mengerikan sebagai penghisap darah. Kebanyakan vampir yang turun langsung berjenis kelamin pria, memakai setelan jas formal seperti kaum borjuis, banyak wanita manusia kemudian tertipu kemudian berbondong-bondong mendekatkan diri. Mereka yang masuk perangkap, jelas tidak dapat lepas kembali, berakhir menjadi hidangan makan malam para vampir. Kemudian perjanjian vampir-manusia akhirnya diterbitkan mendadak, segala peraturan berubah agara tidak ada kebebasan saling membunuh. Beberapa hal yang tertulis memang lebih menguntungkan kaum vampir, namun ada juga yang mengarah pada kesejahteraan manusia. Segalanya dibuat begitu adil agar mendapatkan kesetaraan bagi tiap kaumnya, namun karena manusia terdapuk sebagai pihak lemah alias mangsa, maka mereka perlu lebih mengalah. Sayangnya akhir-akhir ini populasi manusia membludak, hingga mengancam kekuasaan para vampir. Hayden awalnya ragu menjadi pemimpin karena segala tuntutan dan ancaman tersebut, tapi setelah bertekad kuat juga bertemu dengan Elora—keinginannya segera melambung tinggi melebihi angkasa. Ia sudah lelah direndahakan pada masa lalu, sekarang selagi tubuhnya masih muda, kuat, dan mampu menanggung beban, kekuasaan wilayah terbesar harus didapat secepatnya. Sinar terang dari sudut ruangan mendadak muncul, menghancurkan imajinasi mengenai takhtanya di masa mendatang. Batu archimedes warna putih itu bercahaya seperti lampu senter. Membawa penerangan pada ruang pribadi yang begitu dirundung kegelapan. Hayden tidak pernah tahu apa kegunaan benda tersebut, bahkan tidak ada pula tulisan yang menjelaskan mengenainya. Serevian pernah berkata jika archimedes bisa menghalau saat blood moon, namun ia kesulitan menggunakannya semalam, dan pagi ini justru bercahaya sendiri tanpa perintah. Hayden mendekati batu putih tersebut, memandangnya dari luar kaca pelindung. Sejujurnya terlihat sesuatu yang bergerak tiap detik—seperti detak jantung. Pendangan Hayden teralih saat seseorang mengetuk pintu, ia segera membenahi pakaian dan memakai kembali tudung jubahnya seraya duduk di kursi takhta, "Masuklah." Serevian membuka pintu sambil menunjukkan senyum lebar seraya menaruh minuman merah di atas meja kerja pimpinannya tanpa diperintahkan, "Sekarang aku benar-benar sudah bisa mengakui kehebatanmu, Lord. Anda akan membawa kejayaan tertinggi bagi klan selatan." Senyum kebahagiaan Serevian akhirnya diperjelas, butler itu datang sendiri sambil membawa pelayanan terbaik bukan tanpa sebab. Ia sedang berusaha menghargai raja barunya yang belum berpengalaman. Hayden ikut menyunggingkan senyum tipis. Seseorang seperti Serevian seolah sudah berdiri di pihaknya tanpa paksaan, namun bukan berarti dia benar-benar tulus, ia senang jika diperlakukan baik selayaknya raja lain tapi bagaimana jika orang yang memperlakukan hal itu berkhianat di akhir nanti. Untuk masalah sekutu, Hayden belum bisa mempercayai siapapun. "Padahal kau menolak untuk membawa archimedes—yang memiliki kekuatan setara pengaruh blood moon terhadap dunia. Sejujurnya aku juga masih tidak percaya kau bisa menahan diri, ku akui kau terbaik, Lord. Pimpinlah kerajaan ini dengan caramu," puji Serevian tak henti-henti. Sang raja menggoyangkan gelas tersebut sambil mengetukkan jari pada tangkainya. Mendapati butler itu sudah memiliki banyak pengetahuan dalam hal kepemimpinan. Bertanya sedikit mengenai Elora mungkin tidak akan membongkar keistimewaan gadis itu pada kaum vampir, "Serevian, apa kau pernah mengetahui ada manusia yang istimewa—ah, bukan, seorang manusia yang bisa terpengaruh blood moon." Ia menggeleng, "Tidak pernah ada yang seperti itu, aku baru mendengarnya kali ini, Lord. Apa kau bertemu dengan dia?" "Ah bukan, aku mungkin salah lihat. Jadi menurutmu tidak ada, ya?" "Entahlah, ada ribuan rahasia dalam diri sendiri yang bahkan tidak bisa kita ketahui. Ku pikir suatu hari makhluk yang lebih berkuasa ketimbang para vampir akan hadir, dan manusia yang kau maksud akan menunjukkan kedatangannya." Hayden mengusap dagu, penjelasan si butler terlalu bercabang menuju beberapa arah. Ia memilih memikirkannya sendiri dari pada Serevian mengerti apa saja yang sedang ia ketahui. "Lord, tidakkah kau mau melakukan sesuatu yang sedikit berbahaya mulai sekarang?" Serevian bertanya sambil mengangkat alis. "Maksudmu?" "Kau mulai berkuasa, archimedes ada ditanganmu. Perluasan wilayah bisa kita lakukan demi mendapat tanah penghasil tambang lebih banyak, dengan begitu stok pasokan darah kita juga akan meningkat lebih banyak." Mempengaruhi anggota kerajaan, menggusur tempat penambangan, dan memperluas wilayah adalah hal mustahil bagi seorang raja yang baru menjabat kurang dari dua bulan. Namun Hayden tahu dirinya bukan vampir lemah juga bukan yang terkuat, jika tenaga alaminya bersatu dengan kekuatan Elora, maka akan menghasilkan hal besar—sesuai dugaan beberapa kala itu. Meski belum mencoba secara langsung efektivitas berkat perlakuan gadis beraroma anggur manis itu melalui pertarungan, kemungkinan besar tidak ada yang bisa menumbangkannya walau memakai senjata listrik sekalipun. Hingga saat ini Hayden masih merasakan efek setelah Elora menggigit leher untuk menghisap intisari buruk dalam tubuhnya, tetap bugar, bertenaga, dan menggebu-gebu seolah enggan menghadapi satu musuh, namun ingin menumpaskan seribu lawan secara langsung. Mendengar ucapan Serevian sekaligus mengingat pertemuan mengesankan dengan Elora, membuat Hayden kembali kedapatan sikap egois dan serakah sebagai penguasa. Ia telah menemukan sesuatu yang istimewa, mendapat dukungan secara tak langsung dari rakyat la sangre, juga takhta besar bergelar pemimpin tertinggi. Hayden tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatan langka. "Duduklah, Serevian. Mari kita bicarakan hal penting terlebih dulu kalau begitu," usai mempersilahkan tamu khusus tersebut untuk duduk berhadapan dengan kursinya, Hayden justru melangkah menjauh ke sudut ruangan, tepatnya pada batu archimedes yang terlindungi oleh dua lapisan kaca berbentuk kubus, "Sebelum memulai lebih jauh, aku ingin kau mengatakan segala hal yang ada pada batu putih ini, terutama fungsinya, juga mengapa keberadaanya ditempat ini?" Hayden segera memegang benda tersebut, namun Serevian lebih dulu berseru—sontak menghentikan pergerakannya, "Jika seseorang yang belum berhak atas kepemilikan sengaja menyentuh, maka kekuatannya akan terserap." "Jadi bagaimana para raja sebelumku menyentuh benda ini?" "Tidak ada yang menyentuhnya, archimedes adalah warisan sejak ratus ribuan tahun lalu sekitar awal generasi pertama kehadiran para vampir di dunia ini. Setiap raja yang berkuasa atasnya selalu diberitahu untuk tidak menyentuh demi keselamatan, sementara alasan dan sosok asli penciptanya belum bisa diketahui hingga saat ini." Serevian hanyalah seorang butler, kepala pelayan sekaligus asisten utama raja. Ia mungkin tahu banyak sejarah klan selatan sebelum berkat pekerjaannya yang telah lama ditempuh, namun untuk masalah archimedes tidak ada yang boleh tahu kecuali raja itu sendiri, Serevian hanya mengerti beberapa hal kecil yang tidak mempengaruhi kekuasaan. Pemimpin atau raja-raja sebelumnya menganut sistem kasta turun-temurun untuk menjaga martabat dan ras sebagai vampir bangsawan, ayah mereka menurunkan segala hal yang diketahui menganai archimedes pada penerus berikutnya, kemudian turun lagi pada pemimpin generasi selanjutnya. Karena Hayden berbeda—menjabat setelah berhasil melumpuhkan raja yang masih berkuasa, tidak ada seorang pun yang bisa membimbingnya memepelajari sistem kepemimpinan di sini. Pria butler itu hanya tahu jika batu putih itu digunakan sebagai pertahanan kerajaan namun tidak tahu apa yang terjadi berkat benda itu, "Tapi jika kau bukan orang pilihan, beberapa hari setelah menempati ruangan ini batu itu akan menghilang mencari pemiliknya yang baru. Sementara ini sudah berlangsung sebulan lebih dan archimedes masih ada ditempatnya, maka kedatangamu untuk membunuh raja sebelumnya bukan hal sepele, itu takdir. Archimedes telah mendatangkan sendiri siapa yang ingin dipilih." "Kedengarannya menarik, tapi jika begini aku tak tahu apapun tentang archimedes. Bagaimana akan menggunakannya? Apa benar-benar tidak ada buku petunjuk di perpustakaan kastil?" Serevian menggeleng, "Karena kau raja, mungkin jila 'suatu hal besar' dilakukan, bisa membuatmu berkomunikasi dengan batu itu. Kita tidak pernah tahu keajaiban apa yang dapat terjadi jika melakukannya sepenuh hati." Hayden mengerutkan kening, namun sejenak kemudian ia mengangguk yakin, "Aku sudah tahu apa yang perlu dilakukan, setelah selesai bersama archimedes kita akan mulai melancarkan aksi-strategi." ••• Licia mengamati tiap tetes embun yang menggantung di sisi daun dengan tatapan kosong. Gaun merahnya masih kotor, penuh darah dan lumpur, juga berbau busuk seperti limbah pembuangan industri di dunia manusia. Terdiamnya tubuh itu bukan tanpa alasan, sang raja dari klan utara telah mengawasi sehingga kemanapun ia pergi Julian akan tahu, dan jika Licia melakukan hal yang menurut pira itu kurang benar maka akan menimbulkan masalah semakin besar. "Sampai kapan kau mau di sini? Apa sudah benar-benar lupa jalan pulang?" Suara berat bernada lembut tiba-tiba menyapa, membuat Licia sontak berbalik dengan tatapan terkejut. "Kenapa ayah di sini?" Senyumnya seketika mengembang membentuk lengkungan, "Untuk mencarimu tentunya, putriku." Tidak bermaksud melupakan segala momen kebersamaan keluarganya, Licia hanya terpaku dan merasa bersalah telah menimbulkan pencemaran nama baik klan timur, "A-aku bukan anakmu, kalian vampir bangsawan sementara aku dari ras liar." Tidak tega melihat putri—meski bukan anak kandung, dirundung kesedihan bukan berarti sang raja harus berusaha keras mempengaruhi siapapun yang telah menyakiti gadis itu, ia mengajarkan cara terbaik dengan membuat sang anak bangkit dengan caranya sendiri, tidak untuk melupakan penyesalah melainkan kembali berdiri berkat pelajaran yang telah dia ambil dari kejadian lampau, "Siapapun kau, apapun jati dirimu, Licia tetaplah Licia, putriku. Jangan bersedih lagi mengenai hal itu, apa kau tidak memikirkan betapa frustasi ibu di rumah? Dia tidak mau membuka mata sebelum kau sendiri yang memanggil namanya." "Aku hanya akan jadi aib di keluarga kerajaan," ungkap Licia lirih, air matanya membanjir deras hingga mampu menghilangkan bekas darah yang tercetak di pipi. "Siapa yang mengatakan hal seperti itu padamu? Akan ayah utus mendekam di penjara bawah tanah bersama puluhan aligator jika dia anggota klan kita," balas pria itu sambil berlagak seperti sosok raja yang angkuh, padahal Licia sangat hafal jika pasangan raja-ratu dari klan timur begitu menjujung kesetaraan, mereka benar-benar baik hingga membuatnya merasa bersalah telah hadir diantara mereka. Karena tiap anggota bangsawan sekaligus keturunan raja ataupun ratu yang melakukan kesalah, menyerang manusia tanpa sebab, juga berperilaku buruk, akan mendatangkan bencana bagi keluarganya sendiri beserta seluruh klan jika masalah yang ditimbulkan besar dan cukup berpengaruh. Klan timur memiliki hanya satu pangeran satu puteri, anak sulung lelaki bernama Harry, putra kandung raja-ratunya yang bergelar bangsawan. Sementara Licia hanyalah anak asuh yang ditolong sang ratu ketika perjalanan kegiatan sosialitanya beberapa tahun yang lalu, Licia mungkin bagian dari ras vampir liar, namun saat bertemu ratu ia tidak menunjukkam sikap membahayakan sama sekali. Pakaiannya yang lusuh, penuh darah hasil buruan, membuat sang ratu iba dan segera mengangkatnya sebagai salah satu anggota kerajaan. Namun blood moon malam itu segera membuat Licia sadar ia tidak sebanding dengan para anggota kerajaan lain, ia juga sering diolok oleh teman seumuran karena berasal dari ras buangan dan tengah mendapat jackpot berkat kebaikan ratu klan timur. Sang raja tak kalah baik hati ketimbang istrinya, pria itu segera merangkul bahu putrinya penuh kasih sayang untuk menenangkan kesedihan, "Ayo kita pulang dan temui ibu." Licia menggeleng, "Aku sudah membunuh seorang manusia." "Kau bisa menebus kesalahanmu dengan tidak melakukannya di kala blood moon generasi berikutnya kembali berlangsung." "Tapi ayah, dia manusia yang berurusan dengan raja vampir dari klan utara. Jika aku tidak bisa membuatnya terbangun lagi, maka..." Licia menggantungkan kalimatnya dengan menunduk dalam penuh sesal. Sang ayah terbelalak, sosok yang disebut putrinya begitu tidak asing di telinga, orang yang cukup berpengaruh di antara seluruh klan vampir, "Raja klan utara? Raja Julian?" "Aku harus menghidupkan manusia yang telah terbunuh, dan tanpa sengaja aku berkata mengenai batu archimedes—yang pernah ku dengar dari para orakel di ruang pertemuan mereka. Musnahlah aku..." Raut ayah seketika berubah tak terbaca, sementara kulitnya yang pucat terlihat semakin putih karena tak dapat menahan keterkejutannya. Licia sudah menduga jika siapapun yang mendengar berita ini akan memyalahkannya, pria paruh baya itu mungkin juga segera membawanya ke penjara bawah tanah karena sudah menghancurkan potensi klan timur dalam sekejap. Berurusan dengan seorang pemimpin dari sebuah klan terhebat bukan berarti membanggakan apalagi jika masalah yang telah dibuat berujung kemarahan dari pihak tersebut, siapapun bisa mati. Sama halnya dengan yang menimpa Licia, terlebih ia bukan anak kandung sang raja sehingga tidak ada satupun kekuatan yang diturunkan. Klan timur bukan koloni rendah namun juga bukan yang terhebat, mereka masih akan kalah jika disandingkan dengan beberapa kerajaan terhebat seperti klan utara. Beberapa tahun silam, raja dari utara didapuk sebagai pemimpin paling hebat, ia menjabat segala urusan diantara persatuan kaum vampir—termasuk berhubungan dan menjalin komunikasi langsung dengan manusia. Raja Argus tidak mungkin melawan Raja Julian untuk membela putri bungsunya yang tanpa sengaja berbuat kesalahan berakibat fatal, namun ia juga tidak bisa membiarkan siapapun melukainya. Licia terpengaruh blood moon karena tak dapat menahan nafsu, berkat keturunan murninya sebagai vampir ras liar, raja dan ratu yang kala itu disibukkan dengan rakyat justru lalai membuat segel untuk putri mereka sehingga dia dapat berkeliaran bebas di pemukiman manusia. Licia belum lama pergi dari kawasan kastil, tapi rupanya dalam beberapa menit itu saja berhasil menumbangkan salah satu manusia—yang ternyata punya hubungan erat dengan Raja Julian dari klan utara, tepat pada saat itu ia tak kuasa mengendalikan kegilaan dengan bertingkah seperti binatang liar kelaparan, menggerogoti leher mangsa lalu menyesap darahnya hingga tidak tersisa seteguk pun. Setelah menyadari segala kesalahan dan kecerobohannya, Licia masih dirundung perasaan bersalah. Sang raja mendapati sendiri betapa bersedih gadis itu, selain karena mencelakai seseorang, dia segera mencemarkan nama baik klan timur yang telah susah payah dibangun ayahnya. Semua itu terjadi jika Julian benar-benar tidak bisa mengampuni kesalahan Licia. Raja Argus dan Ratu Athie tak kalah merasa bersalah, seandainya jika malam blood moon berlangsung waktu itu mereka bisa membuat segel yang lebih kuat, anak bungsunya tidak akan berada di situasi seperti sekarang. Dia mungkin akan ceria kembali, pergi ke sekolah seperti biasa dan tidak mengabaikan makanan yang tersaji di samping tempat tidurnya. Ibu manapun tidak tega jika putrinya berada pada situasi mencekam, jika sang ratu bisa menggantikan maka ia akan segera membuat Licia bebas dari beban ini, "Licia benar-benar tidak beranjak dari ranjangnya sama sekali, bagkan sekedar bergerak pun tidak," wanita itu mendesah lelah, mengadu keluh kesah pada suaminya yang sebenarnya juga tengah merasakan hal serupa. "Aku tidak membencinya sama sekali, tapi seharusnya kalian tak membawa vampir liar masuk ke dalam klan kita sembarangan. Meski Licia kelihatan baik dan tidak tahu apapun, dia tetap saja berasal dari ras liar dan hidup secara brutal seperti pada umumnya." Harry, si putra sulung melangkahkan kaki elegan sembari mendekati orang tuanya—tiap pasang mata mereka memandangi Licia yang tengah tertidur damai dalam ruangan, melalui kaca pintu. Kedua pasangan itu sontak saling melempar tatapan bingung. Mereka terkejut mendengar kalimat yang keluar dari bibir tebal putra sulungnya, rentetan kata yang kapan saja bisa menyakiti perasaan Licia. "Kau ini kenapa, Harry? Dia adikmu sendiri dan kita semua sepakat membawanya bersama dalam sebuah keluarga, jangan ada yang mempermasalahkan masa lalu Licia, bagaimana jika dia mendengarnya?" tanya Ratu Athie dengan nada meninggi namun tetap terdengar tenang, putranya sontak menukikkan alis. Harry tertawa miris, "Saat itu aku masih sangat muda, kehadiran Licia mungkin belum berarti, tapi aku sudah sangat tidak nyaman dengan apapun yang ku miliki harus terbagi bersamanya. Ibu dan ayah bahkan tidak pernah menanyaiku tentang bagaimana jika Licia hadir diantara kita, apa kalian tidak ingat aku? Kalian bahkan tidak butuh pendapatku." "Ibumu sudah bilang untuk tidak membahas masa lalu, lagipula sekarang sudah terlewat jika kau mau mengusirnya, karena tidak ada hal yang akan berubah. Ayah juga tak akan membiarkan kau atau siapapun orang yang ingin menyingkirkan Licia dari tempat ini, dia tetap keluarga kita, ingat!" Seru Raja Argus, tatapannya meredup sebab terkejut dengan pernyataan mendadak dari putra sulungnya yang kini telah beranjak remaja menuju dewasa. Ia tidak pernah tahu jika Harry kurang setuju dengan kehadirian Licia di keluarga mereka, karena anak itu sejak kecil tidak menampakkan sikap buruk, bahkan dia memberi sambutan untuk Licia yang baru datang kala itu. "Aku tidak akan menyingkirkannya ataupun membunuhnya, itu akan sia-sia karena Raja Julian yang akan melakukannya sendiri. Kita tinggal menunggu saja kapan klan timur ini runtuh, karena ulah kalian sendiri," pupil Harry membesar, tiap suku kata yang diucapkan selalu disertai penekanan yang mengintimidasi, kemarahannya tak terkendali namun tetap elegan sebagai seorang pangeran muda, "Ayah dan ibu telah menghancurkan kerajaan ini, kalian bahkan tidak membiarkanku untuk bertahan sebentar saja sebagai pemimpin klan timur yang selanjutnya. Padahal aku sangat menginginkanku, cita-cita sejak kecil yang sangat tidak sabar untuk ku nanti. Kalian mengabaikan itu semua, dan beralih membawa masalah masuk di keluarga kita, rasanya tidak begitu adil bagiku." Ratu Athie tercekat, ungkapan sang putra sulung seolah menampar dirinya untuk kembali di dunia realita. Ia terlampau menginginkan anak perempuan sejak dulu, namun Harry lah yang hadir—kaum vampir bangsawan biasanya tidak memiliki lebih dari satu anak demi menjaga keturunan murni penerus mereka. Bukan berarti hidup dibatasi, tapi Raja Argus pun telag berpendapat serupa, dia tidak mau memiliki anak lagi. Kedatangan Licia berbeda, Raja dan Ratu sepakat mengangkat gadis itu sebagai putri bungsu mereka karena tidak memiliki ikatan murni antar sesama, kedatangan Licia tidak akan mempengatuhi sistem kepemimpinan dan kepenerusan di klan timur. "Sudahlah Harry, sebaiknya kau tidak berbicara macam-macam. Pergilah berlatih bersama pasukan militer kita di perbatasan, biar masalah adikmu jadi urusan ibu dan ayah, yang jelas kami yakin tidak akan terjadi apapun," ungkap Raja Argus menahan emosi. Ia sudah telalu lelah untuk mendengar celoteh putranya. Harry mendesah kesal, tungkai dan lengannya sengaja dibenturkan pada barang-barang yang afa di sekitar—sontak menimbulkan keributan sepihak, "Kalau begitu segeralah lakukan sesuatu, kita tidak mungkin membiarkan Raja Julian datang langsung kemari sambil membawa ribuan pasukan dari klannya. Lepaskan Licia, suruh dia pergi jauh-jauh dan samarkan aromanya agar tidak ada vampir manapun yang bisa mrenemukannya lagi!" "Harry, pergilah ke ruanganmu dan segera istirahat," potong sang ibu. Suaranya yang lembut nan pelan membuat anak lelakinya meluluh meski enggan segera mematuhi perintahnya. Sekelebat ide mendadak berlalu di kepala Harry, ia menatap ayahnya penuh semangat, bahkan salah satu sudut bibir tersungging tinggi, "Ayah, penjarakan dia. Sembunyikan di sana dan beri perlindungan agar aromanya tidak terendus seluruh vampir. Itu ide terbaik, aku tidak mengusir anak itu dari klan timur kan?" Sepasang pria dan wanita paruh baya itu kembali saling tatap, ide gila macam mana yang sedang direncanakan putranya itu, hingga tega memberi saran kurang disetujui. "Bagus kan? Aku tidak menyuruh kalian mengusir anak itu dari wilayah ini, hanya memisahkan dia dari kita. Kalian masih bisa mengunjunginya setiap hari sampai semuanya berakhir dan Raja Julian tidak lagi menagih pertanggung jawaban Licia." Harry tersenyum licik. Situasi menegangkan tersebut mendadak kacau ketika pintu ruangan di hadapan mereka tiba-tiba terbuka, pemiliknya keluar dengan tatapan kosong, bahkan cekungan matanya membesar sekaligus menghitam serupa makhluk mistis penunggu tempat pemakaman. Ratu Athie segera mendekati gadis itu, berusaha menenangkan hatinya jika dia sempat mendengar segala hal yang mereka bicarakan, "Makanan di atas meja sudah kau habiskan, nak? Itu semua darah murni dari manusia paling sehat, kau pasti suka." Licia menggaruk lehernya, kemudian menggeleng. Tanpa mengatakan sepatah katapun ia segera melenggang pergi, menatap mata kakak angkatnya membuat kuku sontak meruncing dan ingin segera mencakar wajah bersih lelaki itu. "Licia, kau mau kemana?" Tanya sang ayah panik. "Penjara bawah tanah." ••• Julian kembali ke rumah Renata sehari setelah waniat itu tinggal jasad, ia pikir Elora tidak akan pergi terlalu lama, dan pastinya telah mengetahui keadaan jika ibunya tidak ada di hunian sederhana kompleks perumahan tersebut. Dalam perjalanan singkatnya, Julian menduga gadis itu tengah berkabung di dalam ruang bawah tanah sambil menekuk kaki, sementara mata basahnya fokus pada potret keluarga kecil yang telah mengasuh dirinya. Namun setelah sampai di depan rumah tersebut, keadaan masih tidak berbeda dari hari sebelumnya. Teras kotor, pintu hampir rusak, lantai penuh darah, bahkan lumpur dari jejak kaki seseorang terlampau banyak. Yang membuat suasana berbeda, hanya karena keberadaan para anak-anak muda berseragam lengkap sambil membawa ponsel mereka—banyak yang merekam keadaan ricuh di tempat ini tanpa belas kasih. Ketika semakin dekat pada kerumunan ia sempat mendengar suara nyaring seorang gadis beragumen lantang, "Karena Elora sangat angkuh dan menyebalkan, inilah balasannya! Aku ingin mengasihani mereka, tapi perasaanku terlalu mahal untuk diungkapkan!" Kemudian terdengar tawa bersahut-sahutan. Julian geram mendengarnya, ia mendekat ke arah siswi yang baru saja berteriak tidak sopan tadi, beberapa dari mereka segera menunduk sopan ketika sadar kehadirannya—sebagai guru baru, di sekolah yang sama. "Kau tidak seharusnya mengatakan hal seperti itu, seragam dan tas mahalmu kelihatan tidak berguna jika perkataan yang keluar dari mulutmu terdengar seperti sampah," ujar Julian lantang seperti seorang guru sungguhan yang tengah menasehati para muridnya, "Kalian semua pelajar 'kan? Ini masih jam pembelajaran berlangsung di sekolah, kenapa hampir semua anak berada di tempat ini?" Tidak ada yang berabi menyahut, mereka menunduk takut, namun tetap tidak ada raut penyesalan yang ditunjukkan, justru ekspresi semua anak seolah meremehkan di belakang namun takut jika harus dihadapkan secara langsung. Julian berteriak, "Kembali ke sekolah semuanya!" Salah seorang siswi perempuan yang terkenal paling pendiam segera ia raih pergelangan tangannya, kemudian membawa gadis itu menuju ke arah lain yang berlawanan. Tanpa basa-basi, Julian mengatakan hal yang ingin diketahui, "Dimana pemilik rumah ini, Elora dan ibunya?" "Ibunya hilang, sedangkan Elora dibawa tim penyelamat sejak kemarin, aku tidak tahu mereka membawanya kemana."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD