Bab9-Disappeared In The Air

3021 Words
Gedung pusat rehabilitasi kini tampak ramai dipenuhi ratusan korban akibat fenomena gerhana bulan merah, dibanding yang terluka, lebih banyak orang mati. Inveksi gigitan itu bukan main bahayanya jika menyebar hingga ke seluruh saraf aktif. Orang-orang dikumpulkan agar bisa segera mendapat terapi psikis sekaligus pengobatan luka secara bersamaan, karena selain menimbulkan korban jiwa, blood moon telah mendobrak serangan panik dalam tubuh beberapa individu, terutama mereka yang ditinggal mati dan yang hampir binasa. Para lansia di umur renta lebih banyak mengisi ruangan ketimbang muda-mudi, dari sepuluh bangsal berjajar hanya Elora satu-satunya remaja berusia dibawah dua puluh tahun. Meja troli didorong oleh seorang perawat, berjalan mendekat ke arah ranjangnya. Melihat begitu banyak peralatan medis, membuat Elora sontak menggelengkan kepala, "Aku tidak mau disuntik." Wanita berbusana scrub suits tersebut mengabaikan, segera membawa cairan masuk mengisi ruang pada suntikan. Sebelum memulai kegiatan, ia mencoba meyakinkan pasien agar tidak terjadi hal buruk terhadap keduanya, "Ini obat, untuk membuatmu lebih baik." "Aku baik-baik saja," Elora kukuh menggeleng seraya memegangi lengan. "Begini, jika kau masih ingin melihat ibumu kembali, maka tubuhmu harus sehat demi bisa bertemu dengannya. Bagaimana jika ibumu datang tapi kau malah sakit?" Si perawat bertanya dengan nada cemas namun penuh perhatian, terdengar seperti sedang merayu anak kecil yang sulit makan sayuran. "Aku bukan bocah lagi, suster," kata Elora—yang kemudian melompat turun hendak keluar bangsal, bertepatan dengan seorang anggota militer yang membuka pintu. Gadis itu sontak mendekat antusias melihat sosok pria bertubuh kekar tersebut, "Sersan Smith, kenapa kalian membawaku kemari? Aku bisa tinggal di rumah selagi pencarian masih berlangsung, lagipula sudah tidak ada marabahaya." "Kau sendiri marabahaya itu," balas pria itu asal, tapi Elora tahu ada yang aneh dari ungkapannya, bukan sekadar candaan. Mendapati raut si korban blood moon tampak kebingungan dengan alis mengernyit dalam, kening mengerut, juga bibir menguncup, Pria ber-bordir 'Smith Brooks' itu segera menjawab dengan alasan yang masuk akal. Ia tidak ingin membuat kesan buruk dengan seorang pasien. "Mungkin dirimu menunjukkan sikap baik-baik saja pada kami, tapi entah apa yang sedang kau rasakan sebenarnya," pria itu mengangkat bahu singkat, ia tersenyum menenangkan selagi berusaha membawa Elora kembali ke brankar tanpa paksaan. "Yang jelas aku tidak akan mencelakai diri sendiri," balasnya acuh, kaki itu tiba-tiba melangkah mengikuti Sersan Smith yang duduk di dekat si perawat. Keduanya sontak tersenyum. Elora akhirnya kembali ke tempat semula tanpa sadar, setelah melihat pria berseragam militer itu menepukkan brankar untuknya, "Ku rasa kau tidak terlalu bersedih setelah kehilangan orang tuamu satu-satunya." "Jika aku sedih, apa ibuku akan datang kembali?" Sersan Smith terdiam, bibirnya seakan terkunci rapat. Detik ini adalah kali pertama dirinya sebagai seorang sersan I di angkatan darat—mendapat jawaban telak ketika mengobrol dengan seorang anak kecil yang belum lulus sekolah menengah atas. Tidak merasa derajatnya direndahkan, namun ia justru kagum betapa kuatnya anak itu menahan kesedihan, walau tempo hari Elora terlihat menangis tersedu-sedu sambil berteriak tidak karuan. Sang perawat dengan sigap memanfaatkan momen saling terdiam diantara ketiganya, ia mengangkat potongan pakaian di bagian lengan milik gadis itu, kemudian menyuntikkan cairan bening ke dalam tubuhnya tanpa ragu. Elora melirik wanita perawat itu usai sesi penyuntikan berakhir, kemudian beralih pada seseorang yang duduk di sampingnya, "Sersan, setelah aku disuntik, kata suster pasti tak akan ada hal buruk yang akan terjadi. Semuanya baik-baik saja, jadi apa aku sudah boleh pulang sekarang?" Tidak mampu menjawab, pria itu justru balik mengajukan pertanyaan, "Kau yakin?" Sejak awal, Sersan Smith tak mengkhawatirkan gadis itu sama sekali karena sikapnya yang terlihat aneh, ia justru menduga hal lain mengenai kematian Ny. Renata yang kemudian menghilang—kasus di rumah lain, vampir selalu membunuh seluruh anggota keluarga tanpa terkecuali, namun di kediaman Elora yang hanya berisikan dua jiwa, hanya satu yang menghilang lenyap. Meski begitu ia mencoba profesional untuk tak memberi tuduhan sembarangan pada gadis itu, barang kali memang ada faktor lain yang mengakibatkan hanya satu jiwa tersisa, "Selama beberapa hari sampai waktu pencarian resmi dihentikan pemerintah, keluarga korban sangat dianjurkan untuk tinggal di tempat ini. Hal itu dilakukan untuk menghindari hal-hal buruk seperti bunuh diri, selfharm, atau ketergangguan psikis." Elora berdecak sambil melipat tangan di depan d**a, seolah menunjukkan pada yang lebih tua jika ia masih sadar dan sehat untuk tidak melakukan beberapa hal yang disebutkan. "Bukan bermaksud menakutimu, tapi aku benar-benar tidak tega melepas anak remaja sendirian—yah, kau memang berkata baik, tapi bagaimana jika di rumah nanti justru bertambah depresi karena pengaruh situasi memoriabel." "Sejujurnya aku berniat melakukan sesuatu," pangkas gadia itu cepat. Sersan Smith memiringkan kepala sambil menggantungkan tangan—mempersilahkannya untuk lanjut bicara. "Aku ingin pergi jauh dari sini, memulai kehidupan baru sendirian tanpa terus dibayang-bayangi kejadian buruk masa lalu. Meski begitu, tolong terus cari ibuku dan... berikan dia penghormatan terakhir." Mendengar pernyataan yang keluar langsung dari bibir mungil tampak penuh tipu muslihat tersebut, pria itu semakin mengernyitkan dahi, "Kedengarannya kau memang sudah mengikhlaskan kepergian ibumu, sekaligus yakin jika dia telah tiada." "Realistisnya, siapapun yang berhadapan dengan vampir tidak akan selamat. Ini sudah hampir setengah hari berlangsung, apakah ibuku bisa bertahan?" Elora menunduk dalam dengan tangan mengepal saling bertaut erat, "Aku berpikir singkat seperti ini karena tidak ingin lebih terluka setelah mengetahui kebenarannya nanti, tapi jika benar ibuku selamat, maka itu adalah sebuah keberkahan terbesar yang kami dapat." "Baiklah, kalau begitu kau boleh melakukan apapun sesukamu, aku sudah bisa percaya untuk kali ini. Tapi ku mohon agar kita terus saling berkontak. Seluruh pasien di sini adalah tenggung jawabku, termasuk dirimu." ••• Penjara bawah tanah tampak lebih mengerikan ketimbang yang Licia duga selama ini, ia mungkin dahulu hidup di hutan lepas sendirian tanpa satu pun orang dewasa menjaga—setelah terpisah dari keluarganya yang tewas karena suatu insiden. Kenyataannya penjara dikelilingi aura mistis dari dunia bawah demi menjaga keamanan para pelaku kejahatan, agar tidak terjadi kelalaian. Meski bulu tangan sontak berdiri setelah kakinya melangkah di lorong tersebut, Licia tidak berhenti atau kembali, ia kukuh memasuki salah satu jeruji besi yang masih kosong. Di sel samping terdapat pria bermata satu penuh darah mengerikan, sementara di sisi lain ada seseorang bertubuh besar dan memiliki bulu kaki lebat. Ia meneguk ludah memandang mereka semua. Tak lama kemudian kedua orang tua asuhnya datang terbirit-b***t. Sang ratu memohon penuh duka di depan putrinya, "Licia, kita bisa bicarakan masalah ini bersama. Penasehat kerajaan akan memikirkan solusi agar semua bisa diselesaikan tanpa pertumpahan darah, ibu tidak mau kau terluka." "Karena itulah aku kemari. Harry memang benar, satu-satunya tempat teraman adalah penjara ini karena Raja Julian kemungkinan besar tidak akan kemari, kalian bisa berkata jika aku sudah lama tidak pulang sehingga klan timur aman dari perselisihan dan pria itu juga tak lagi mencariku," kata gadis itu mencoba meyakinkan. Licia telah memikirkan segala konsekuensi ide gila ini, karena banyak yang ia dengar ketika ayah, ibu, dan sang kakak berdebat di depan kamar. "Seharusnya ada cara lain, agar kau tidak perlu bersembunyi di kegelapan bersama pada penjahat," ayah menuding sekitar, "Apa kau tidak takut melihat mereka semua?" "Aku tidak masalah dengan hal itu ayah," Licia mengangguk yakin, "Kalau masih menunjukkan diri, Raja utara itu akan semakin gencar membuatku dalam bahaya. Karena taruhannya adalah batu archimedes, terakhir kali ku dengar batu itu berada pada klan dengan anggota paling banyak. Untuk saat ini klan selatan adalah pemilik jumlah terbanyak, raja mereka seorang vampir liar yang baru menjabat kurang dari dua bulan tapi sudah sangat terkenal kejam. Aku pun tidak mau menempatkan diri diantara dua bahaya sekaligus." Pria paruh baya itu seketika berdiri tegak setelah sebelumnya bersimpuh di depan pintu jeruji untuk membuat anakanya keluar dari sana. Ia berujar lantang seolah apa yang akan dilakukan tidak berbahaya sama sekali, "Kalau begitu biar ayah yang merampas archimedes itu dari tangan klan selatan." Licia pun berdecak, "Lalu membuat ayah dikejar-kejar raja kejam itu, setelah lepas dari Raja Julian?" Perilaku sepasang raja-ratu yang sekaligus berperan menjadi orang tuanya memang terlihat menyebalkan karena terlalu memaksakan diri, namun Licia sadar mereka seperti itu untuk dirinya—demi membuatnya terbebas dari kejaran Raja Julian. Licia tidak marah sama sekali, justru semakin dirundung kesedihan karena telah membuat orang-orang baik disekitarmya dalam bahaya. Harry benar, seharusnya raja dan ratu bisa lebih berhati-hati membawa vampir ras liar masuk dalam klan mereka. Dan juga, harusnya Licia menolak untuk diajak menjadi bagian dari suatu koloni—dahulu ia terlalu senang mendapatkan keluarga baru hingga mengabaikan apa saja yang akan terjadi pada mereka ketika memaksakan keberadaannya. Memang kesalahan besar terlahir sebagai ras vampir liar, tidak diterima sebangsa sendiri, juga ditolak mentah-mentah dunia luar. Licia kembali dari dunia lamunan ketika sang ayah kembali bicara, "Dia mungkin kejam, tapi rasnya tergolong rendahan. Klan kita pastinya jauh lebih unggul." "Tidak, firasatku buruk jadi tolong jangan semakin memperkeruh permasalahanku. Biarkan semua yang sudah terjadi, ku selesaikan sendiri," balas gadis itu pasrah, nada suaranya yang lelah sontak dimengerti oleh sang ibu. Namun wanita paruh baya itu hanya diam, memandangi raut kusut putrinya. Raja Argus masih kukuh mempertahankan opini, ia mencoba membujuk putrinya agar mengikuti arahan, dengan membiarkan dirinya menjadi tameng utama untuk seluruh klan. Idenya jelas ditolak mentah-mentah, karena bagaimanapun Licia sadar ia hanya anak asuh, membuat sang ayah terluka karena permasalahannya akan membuat dirinya menjadi vampir terkutuk, "Licia, ingat... ayah bisa mengambil archimedes yang kau maksud dari klan selatan." Keberadaan Elora telah benar-benar lenyap seakan ditelan bumi. Mulai dari gedung pusat rehabilitasi yang dikhususkan untuk korban blood moon, rumah beberapa teman dekat, juga sanak saudara, telah Julian datangi satu per satu demi menemukan gadis itu. Berkat wujudnya yang menghilang sekaligus aroma yang dikeluarkan tubuhnya, sang raja utara tersebut semakin menduga jika gadis itu adalah seorang humphire, yaitu keturunan manusia dengan vampir. Jika dia memang masih manusia biasa, aroma yang sering tercium Julian akan sangat mudah ditemukan, karena mereka sering bertemu di lingkungan yang sama yaitu area sekolah—kecuali jika saat ini Elora pergi ke kota atau wilayah lain yang lebih jauh, indra penciuman sosok vampir hanya terbatas pada radius terdekat. Humphire adalah makhluk tabu yang belum pernah hidup lebih dari satu hari, keberadaan mereka sangat membahayakan namun juga mudah ditemukan. Seorang manusia yang mengandung bayi vampir selalu jadi incaran pemangsa darah karena menguarkan aroma 'hidangan terlezat' bagi mereka, karena itu pula hubungan vampir-manusia tidak bertahan lama, hingga akhirnya sang ibu mati setelah melahirkan. Bayi tabu yang disebut humphire dieksekusi sesaat setelah lahir, bersama dengan si ayah. Demi menjaga kesetaraan kaum, baik manusia dan vampir, humphire resmi ditolak oleh semua pihak. Selain itu, mereka berada pada puncak rantai makan, vampir sebagai ras terkuat jelas tidak menerimanya—memilih waspada di awal akan lebih baik kedepannya, mencegah bahaya ketimbang menyesal di akhir nanti. Sama seperti yang terjadi pada Elora, jika gadis itu memang humphire, maka 18 tahun lalu seharusnya adalah hari kelahiran sekaligus hari kematiannya—Julian begitu yakin bayi itu binasa namun pertemuannya dengan Renata segera menimbulkan keraguan, terlebih sebelum menduga, ia memastikan begitu banyak hal mengenai apakah ada sesuatu yang janggal pada remaja perempuan itu, dan kemudian dugaannya banyak terbukti. Entah apa yang terjadi mengenai hilangnya ingatan semua orang di hari kematian si humphire kala itu, namun Julian yakin hal tersebut bersangkutan dengan Elora—yang kini telah berusia 18 tahun, usia matang dan cocok untuk memahami segala hal yang dia ketahui, termasuk mengenai humphire. Seseorang ada di balik semua yang terjadi, buka hanya Renata—wanita paruh baya itu jelas manusia biasa, ia pasti kesulitan mengasuh anak humphire. Ada pihak lain yang lebih berkuasa, dan memiliki kekuatan setara para vampir. Tidak ingin memsusingkan segala dugaan sementara, Julian memilih sibuk dengan bagaimana cara menghidupkan Renata, hanya orang itu satu-satunya manusia yang mengetahui rahasia besar. Kematiannya meninggalkan pertanyaan besar bagi beberapa pihak termasuk dirinya. Ia mendatangi klan timur, tempat 'si pembunuh' berdiam diri, meminta pertanggung jawaban gadis muda itu bagaimanapun caranya. Tapi kedatangannya tidak sesuai dugaan, rakyat klan tersebut menyambutnya seolah tamu istimewa yang kedatangannya telah dipastikan, kecurigaan semakin membludak tatkala raja dan ratu klan timur ikut memberinya jamuan besar seakan tahu siapa saja yang akan datang di kastil mereka. "Kami memiliki kumpulan vampir peramal atau sering disebut orakel, kedatanganmu telah diprediksi, Lord. Mereka bilang akan ada seseorang bertakhta besar menginjakkan kaki di tempat ini," ujar Raja Argus, seolah dapat membaca isi pikiran. Julian seketika merasa waspada setelah tahu mereka pemilik kumpulan orakel yang mampu meramal masa depan, ia tidak ingin isi pikirannya ikut terbaca. "Kalian bisa membaca pikiran orang lain juga?" Pria itu tampak terkejut, "Apa?-oh, tentu tidak. Apakah aku baru saja mengatakan hal yang sedang kau pikirkan?" Julian mendesis, "Lupakan," bola matanya kemudian berkeliling ke seisi ruangan secara singkat, namun dapat merasakan jika keberadaan gadis yang ia cari jauh dari tempat ini, "Mengenai kedatanganku, kalian pasti sudah tahu apa yang telah anak perempuan itu perbuat. Dia bilang keluarganya dari klan timur, jadi apa kalian memang orang tuanya?" "Putri kami Licia McRoee, apakah dia yang kau maksud?" tanya sang ratu, tampak jelas jika tengah berbasa-basi dan mengulur waktu. "Kau pikir siapa lagi?" Julian balas bertanya, disertai gertakan gigi. "Anak itu sudah lama tidak pulang, tepatnya setelah blood moon. Sebenarnya dia bukan putri kandung kami, Licia masih ras vampir liar yang kesulitan mengatasi kegilaan malam bulan darah waktu itu, segel yang ku pasang pun lepas. Setelah semuanya berlangsung, dia benar-benar pergi dari klan kami." Mendengar penjelasan langsung dari sosok ayah sekaligus raja klan timur yang rupanya bukan orang tua kandung Licia, semakin membuat emosi Julian memuncak. Ia tidak peduli dari manapun asal gadis itu, atau cerita mengenai masa lalunya, yang ia butuhkan sekarang hanyalah pertanggung jawaban. Menghidupkan orang mati bukan hal mudah sekalipun ia seorang vampir—yang dianggap bagian dari makhluk astral oleh beberapa kelompok manusia. "Anakmu telah membuat masalah denganku, mau bagaimanapun keadaannya aku hanya ingin pertanggung jawaban, jika tidak kastil ini akan ku rubuhkan—" Ucapan Julan terpotong oleh lelaki yang tampak seusia, dia menghadang ketukan kaki sang raja selatan tanpa rasa takut sama sekali, "Orang yang kau cari ada di penjara bawah tanah kastil ini, dia bersembunyi darimu." "Harry!" Bentak Ratu Athie. Pandangan Julian beralih pada kedua pasang pria-wanita dengan takhta tertinggi di tempat ini, "Kalian membohongiku?" "Tidak, mereka hanya menuruti keinginan Licia." Harry lagi-lagi menyela. Julian menyeringai sambil menatap dalam sosok di hadapannya, "Harry, kau menginginkan takhta kerajaan ini? Menjadi pemimpin resmi setelah melengserkan ayahmu?" Raja Argus seketika terbelalak, ia paham betul apa yang sedang mereka berdua pikirkan. Strategi saling menyingkirkan antar anggota keluarga demi mendapat kekuasaan tertinggi terlampau tidak asing didengar, Raja Argus telah melukai banyak saudaranya sendiri demi takhta. Untuk itu ia sadar betapa serakahnya tatapan mata Harry saat ini, keinginan besar melengserkah kedudukan tanpa pandang lawan, sekalipun itu ayahnya sendiri. "Aku menginginkannya, sangat menginginkan!" seru Harry. Seringainya semakin lebar, Julian mengerti betapa khawatirnya Harry—lelaki itu terlihat khawatir jika takhta justru diberikan pada Licia, padahal tidak akan pernah terjadi karena utamannya pemimpin adalah seorang pria, "Kalau begitu duduklah di singgasana ayahmu, dan perintahkan prajurit untuk membawa Licia kemari." Harry bergerak mendekati ayahnya, menatap tajam setelah sampai dihadapan pria itu—tak peduli jika statusnya masih putra, satu-satunya penerus yang sah. Ia hanya tidak ingin terlambat memegang takhta dan berakhir penyesalan, "Menyingkirlah, Yang Mulia. Biarkan putramu yang memimpin negeri ini, sekarang saat paling tepat untuk pergantian pemegang takhta." "Sadar, Harry! Kita hanya dirugikan, jangan terpengaruh pria itu! Kau akan tetap menjadi raja, tapi tidak untuk sekarang!" bentak pria itu, suaranya nyaris tidak terdengar, sebab bagaimanapun keberadaan Julian bisa menjadi peledak, mengejutkan dan tak terduga. Dari penopang di pinggangnya, keluar belati kecil dengan ujung tipis nan lancip yang sigap mengoyak, Harry mendesis marah, tatapannya tak terbaca seperti tengah dirasuki jiwa asing, "Lalu kapan? Harus menungguku mati, setelah itu takhta kau berikan pada Licia?" Julian tertawa senang melihat pertikaian itu, semakin lama mereka saling bercekcok, maka dipastikan pertumpahan darah akan terjadi. Kemudian semua orang lenyap, hingga memudahkan dirinya memancing Licia kemari. Namun tanpa diduga gadis itu datang sendiri bahkan sebelum sebulir darah hasli pertikaian menetes. Melihat kedua orang tuanya dalam bahaya dihadapan sang kakak, Licia tidak segan mendekat hingga lengannya tanpa sengaja tergores, pakaian merah itu pun terkoyak disertai darah hitam mengalir deras membasahi sekitar. Licia berguling ke arah Harry, menyabet belati yang melekat di telapaknya, kemudian dilempar ke segala arah. Ia sempat saling beradu fisik dengan sang kakak, namun sadar kekalahan, langkahnya justru mendekat pada Julian, "A-aku akan menyeragkan diri, apapun yang kau inginkan akan ku sanggupi. Tapi tolong hentikan mereka. Jangan ganggu klan timur." "Tidak bisa." "Kenapa?!" Tanya Licia geram, Harry masih terus menyerang—membuat langkahnya berpindah-pindah demi menyelamatkan diri. "Itu bukan kehendakku. Lihatlah, kakakmu memang serakah." Julian mengangkat bahu sambil melirik tatapan tak terkendali pangeran klan tinur tersebut. Dia bahkan rela melakukan apapun agar tidak kehilangan takhta, termasuk dengan cara menyakiti ayah, ibu, juga adiknya yang sebenarnya tidak tahu apapun. Gadis itu berkali-kali terjatuh akibat serangan yang semakin membabi buta, bantuan dari ayah dan ibunya sama sekali tidak berpengaruh, tenaga Harry mendadak bertambah ribuan kali lipat, sementara para prajurit di luar ruangan tampak tenang seolah tidak mendengar apapun selain kicauan burung dari halaman depan kastil. Licia membungkukkan badan di depan Julian, posisi layaknya hamba menyembah tuhan, "Ku mohon... batu archimedes itu akan ku dapatkan secepatnya." "Aku belum bisa percaya mengenai benda itu, apakah kau memang tidak membual?" Licia menahan amarah, ia sadar Julian hanya ingin mengulur waktu agar Harry bisa melukainya, namun tidak sampai membunuh. Sampai akhirnya kemudian ia mendapat ide cemerlang, berlari ke belakang pria itu dan berlindung di balik punggung selebar samudra. Julian menahan napas ketika tangan gadis itu tertaut di perutnya, Licia mungkin hanya berniat melindungi diri, namun Julian justru tergoda. "Iya, aku tahu siapa pemegangnya sekarang. Ada di kerajaan selatan, raja baru mereka yang memilikinya." "Baiklah berhenti," Ungkapnya tegas, sontak membuat sosok yang tak terkendali kembali disadarkan. Namun sejujurnya Harry tidak terpengaruh apapun, ia murni ingin membunuh keluarganya demi takhta. Julian menjauhkan kedua pasanga adik-kakak tersebut, "Harry, kau akan dapat takhtamu nanti, jadi jangan khawatir. Untuk sekarang Raja Argus memang masih muda, dia belum layak digantikan kecuali jika kau meracuninya." Pandangannya beralih pada Raja Argus dan Ratu Athie yang ketakutan di sudut ruangan, meski begitu mereka tetap berusaha melindungi kedua anaknya dari jauh dengan melontarkan kata-kata penyemangat melalui gerakan bibir. Harry pun terdiam di tempat, tidak lagi berusaha menyerang Licia seperti tengah di medan perang bersama musuh. "Masalah selesai, akan ku bawa anak perempuan kalian." Julian menghadap sang raja dan ratu, memegang telapak putri mereka—kemudian menghilang lenyap ditelan asap hitam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD