Bab10-Stone's Heartbeat

1589 Words
"Archimedes adalah batu kehidupan dan harapan. Hanya berkaitan dengan nyawa, kematian, perlindungan, serta kekuasaan, kita tidak bisa menggunakannya untuk hal selain yang ku sebutkan. Pemegangnya berganti-ganti sesuai generasi, setelah pemilik sebelumnya mati. Keberadaannya juga berpindah-pindah, tak hanya di satu tempat, namun kebetulan raja selatan yang sekarang masih bisa meneruskan kepemilikan raja sebelumnya. Maka artinya kerajaan selatan akan tetap menjadi klan terkuat," Licia menunduk setelah sadar Julian semakin menatap tajam, meminta penjelasan lebih banyak, membuatnya segera mengakhiri sesi penjelasan, "Hanya sebatas itu yang pernah ku dengar." Jeda beberapa saat, pria itu tertawa meremehkan, "Aku seorang raja, telah lama berkuasa dan menjadi pemimpin klan terkuat sampai sekarang. Apakah mustahil jika aku tidak mengetahui tentang benda itu sama sekali?" "Yang mengukur takhta, kekuatan, kepemimpinan adalah batu batu itu sendiri, bukan berdasarkan pujian dan junjungan orang seperti gelar yang kau dapatkan. Archimedes akan datang sendiri kepada pemimpin yang dipilihnya, jadi banyak pula vampir awam mengenai hal ini—aku sendiri tak sengaja menguping pembicaraan orang penting di klan-ku." "Bukankah itu artinya sia-sia?" Tanyanya masih tidak percaya sepenuhnya, Julian sangat ragu tentang semua hal yang keluar dari bibir Licia. Namun ia berusaha mengikuti alur seolah-olah telah menaruh kepercayaan besar pada gadis itu, "Jika kau membawakannya padaku, dia akan kembali lagi pada pemiliknya." Licia mengangkat bahu, "Entahlah, tapi kita bisa mencoba terlebih dulu," nada suaranya kemudian meninggi, mencoba benar-benar membuat sang raja percaya padanya sekaligus berharap bisa diandalkan dalam berbagai situasi. Licia melakukan hal ini bukan semata untuk melindungi diri, tapi juga mencari sekutu sekalipun musuhnya sendiri. Julian harua berada di pihaknya apapun yang terjadi, karena jika suatu saat ada hal menimpa ras vampir liar, perlindungannya akan semakin banyak baik klan timur juga klan utara. Maka dari itu pula, ia kukuh membujuk Julian memeprcayainya—ketika archimedes berhasil didapatkan, maka si raja selatan itu akan memihaknya tanpa paksaan, "Beri aku sesuatu yang bisa digunakan untuk melindungi diri, paling tidak sepadan dengan pertahanan dan serangan seorang raja vampir. Jika aku datang dengan tangan kosong, sudah pasti mereka memberikan sambutan berupa upacara kematian." Mendengar kalimat Licia yang keterlaluan percaya diri, Julian tersenyum sinis, "Ku dengar raja selatan yang baru hanyalah seorang vampir rendahan dari ras liar sama sepertimu, dia hanya beruntung saat bisa membunuh raja sebelumnya. Ku pikir tidak perlu senjata berlebihan, kau pasti bisa berduel dan menumbangkannya dengan mudah." "Kalau aku mati maka tidak ada yang bisa mempertanggung jawabkan kesalahanku padamu." "Ada orang tua dan kakakmu." Gadis itu menggertakkan gigi, "Mereka bukan keluargaku, jangan bahas hal lain!" "Baiklah, kalau kau mati maka aku yang akan maju sendiri," ia kembali menegakkan tubuh, memandang lawan argumen penuh keseriusan, "Untuk sekarang jangan gunakan strategi p*********n mendadak. Datanglah ke wilayah mereka sebagai tamu yang baik, dan luangkan waktu mendekati si raja agar lebih banyak berita yang bisa kau dapatkan." "Apa mereka bisa percaya jika aku hanya berakting." "Maka tunjukkanlah kemampuanmu sebagai penipu," Julian langsung berdiri ketika pembicaraan keduanya belum tuntas dan sama sekali tak menghasilkan titik puncak, "Aku masih cukup sibuk akhir-akhir ini, jadi kerjakan sendiri apa yang harus kau lakukan—Edward akan membantumu sedikit." Julian melenggang pergi, membiarkan Edward si penasehat kerajaan yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan tanpa berani menyahut—kini duduk di tempat sang raja. Tatapannya lembut dan ceria, berbeda dengan si pemimpin, namun hal itu justru membuat Licia risih. Edward tak menatapnya kagum layaknya pandangan pria pada wanita, melainkan tatapan 'senang bertemu sesama teman'. Pria bertubuh kurus nan jangkuk tersebut segera membeberkan yang dikatahui tanpa berpikir panjang, "Hey, aku juga pernah mendengar sedikit tentang archimedes. Tapi mungkin ada satu hal terpenting yang tidak kau tahu." Licia pada awalnya berusaha mengabaikan, tapi setelah tahu topiknya mengarah pada hal penting, ia sontak menanggapi, "Apa maksudmu?" "Para raja yang menjadi pemegang di setiap generasi hanyalah orang beruntung, mereka tidak menguasai segalanya dan hanya menjadi tempat titipan teraman. Selain 'pemilik yang asli', tak ada yang bisa memegangnya apalagi vampir liar sepertimu." Sebagai seorang penasehat utama kerajaan, posisi Edward cukup penting, apalagi ialah orang kepercayaan sang raja, sehingga banyak hal perlu dilakukan demi menyanggupi perintang si pemilik takhta tertinggi. Menjadi pengantar surat pribadi, penasehat psikis khusus, dan masih banyak tugas negeri yang ia laksanakan sepenuh hati—hal itu membuahkan banyak hasil terutama mengenai informasi dari luaran sana, baik kebenaran maupun kebohongan. Ia sering mendengar berita mengenai batu archimedes ketika berkumpul bersama para vampir bangsawan dari berbagai klan. Tapi tidak semua membenarkan berita itu, ada yang membantah termasuk dirinya. Namun setelah Licia datang, menjelaskan segalanya secara rinci berkat pengetahuan dari orakel di klan timur, Edward mulai mengubah sudut pandanganya. Licia berdehem, segera menyadarkan lamunan pria itu, "Raja Julian menyuruhmu kemari untuk membantuku, bukan meremehkan orang lain." "Sudahlah, serahkan langsung nyawamu dari pada harus bertarung yang akhirnya berimbas kematian juga. Kau membuang waktu." "Aku butuh senjata terbaik yang kalian punya, lihat saja besok pagi apakah aku atau kau yang mati." ••• "Gadis itu keras kepala juga, kau harus lihat besok pagi jantungnya dikoyak langsung oleh raja selatan," tengah hari buta, Edward berjalan terseok ke ruangan sang pemimpin ketika mendapati panggilan. Padahal ia baru menyelesaikan urusan dengan Licia si vampir liar yang naik kasta. Sementara Julian memilih mengabaikan ocehan tidak berguna itu. Membuat Edward mengerucutka bibir. Ketika mendapati Julian tengah menggulung selembar papyrus besar, helaan napas segera keluar dari bibirnya, "Apa lagi ini? Kau mengajukan pertemuan dengan seluruh pemimpin klan?" "Tolong antarkan pesan ini pada pigeon nanti malam," ujar pria itu tak banyak bicara. Pigeon merupakan vampir dalam naungan seluruh klan, mereka bertugas mengantar pesan penting antar para raja sehingga nyawanya sangat dilindungi karena memegang hal penting tiap waktunya. Edward melirik gulungan tersebut, membacanya sekilas, "Kenapa kau tiba-tiba ingin membahas kurangnya pasokan darah? Ku pikir selama ini kau adalah pemimpin paling tidak peduli dengan stok pangan, dan hanya mengutamakan pasokan darah hewan yang kita buru dan perah sendiri." "Aku ingin bertatap muka langsung dengan raja baru selatan. Dia belum pernah keluar wilayah setelah menjabat, dan membuktikan tentang apakah yang Licia katakan memang benar." Julian kembali menjelaskan langsung pada intinya. Edward menatapnya dengan kening menrengut, "Kau pasti merasa tersaingi, aku paham betul bagaimana perasaanmu." "Jangan banyak omong, lakukan saja perintahku!" "Iya..." Ia tertawa sesaat sebelum akhirnya kembali serius, "Bagaimana dengan anak Renata yang kau pikir seorang humphire?" "Dia humphire, aku sangat yakin. Apalagi setelah beberapa hari menghilang tanpa meninggalkan bekas aroma, tidak ada manusia yang bisa melakukan itu." "Maka dari itu pula kau kukuh ingin menghidupkan Renata? Kenapa tak mencari anak itu langsung dengan mengerahkan pasukan, kita bisa membuka mulutnya untuk bicara dan tidak perlu melibatkan diri dengan batu archimedes yang kemungkinan menjadi ikon klan selatan," sejujurnya ia bicara seperti itu karena tidak ingin membuat Licia semakin dalam masalah karena berusaha menyelamatkan diri dengan menuruti permintaan Julian. Edward hanya merasa kasihan pada seorang gadis muda yang seharusnya masih bermain-main dengan teman sebaya. Julian menumpu dagu, ia tidak pernah mengira ide yang diajukan sang penasehat kerajaan karena terlalu beresiko, "Kalau kau pikir semudah itu maka akan langsung ku lakukan, tapi militer kita masih dinaungi tetua—mereka paling tidak percaya tetang dugaanku mengenai humphire 18 tahun lalu masih hidup, aku benar-benar tidak memiliki sekutu di sini, bahkan kau sekalipun!" "Kerahkan prajurit penjaga kastil, mereka hanya tunduk pada perintahmu 'kan?" nada bicaranya memelan, bahkan nyaris seperti bisikan. Sementara bola matanya bergulir ke pintu—tepat di mana para prajurit khusus keamanan kastil sedang berjaga. Helaan napas kembali keluar dari bibir Julian, "Mereka terlalu mencolok sebagai vampir, akan jadi masalah besar jika sosok mengerikan dan kaku seperti itu berkeliaran di dunia manusia." "Kalau begitu lupakan masalah ini, jika humphire itu hidup lagi dia tidak akan ingat siapa yang sudah berusaha membunuhnya saat masih bayi. Ingatannya tak sekuat itu." "Dia humphire, tak terduga. Aku hanya waspada." Julian terlalu takut, sedari kecil ia terlahir sebagai vampir bangsawan yang memahami banyak hal mengenai ras mereka. Pengetahuan seperti itu sangat berharga bagi para pemimpin klan agar bisa melaksanakan tugas secara bijaksana dengan taktik mengetahui siapa lawannya. Ia banyak mendengar mengenai humphire hingga ketakutannya membludak saat ini. Sementara di sisi lain, si raja selatan tidak mempedulikan apa yang terjadi di dunia luar. Ia berharap bisa segera bicara dengan batu archimedes untuk mendapat informasi yang lebih menjabarkan detil. Jantung di dalam batu putih tersebut memang berdetak, seperti dentingan jarum jam yang menunggu waktu hingga saat yang telah dinanti. Hayden tak lelah memandanginya demi mendapat jawaban langsung, namun sampai beberapa jam, sama sekali tidak ada gerakan, atau sekedar sinar terang seperti yang ia lihat tempo hari. Dengusan keluar dari bibir, sembari melangkahkan kaki menjauh dari kotak pelindung archimedes. Sudut matanya tiba-tiba menangkap pergerakan dari cermin, tampak siluet hitam dikelilingi asap hitam—ukuran tubuhnya serupa manusia, namun tak tampak wujudnya. Hayden tersenyum melihat hal itu, bangkit dari sofa dan segera menghadap cermin—yang tak menampakkan bayangannya sendiri, melainkan makhluk lain, "Jiwa dan pemilik jantung di dalam batu itu, apakah benar?" tebaknya. Tak ada jawaban, namun asap yang terlihat justru semakin mengepul hampir memenuhi seisi cermin. Hayden hanya bersidekap, menunggu hingga makhluk itu memulai pembicaraan, ketimbang ia membuang tenaga untuk memaksanya berkata. Namun setelah beberapa menit berlalu, Hayden mulai lelah. Ia kembali ke tempat sambil memandangi asap hitam itu dari kejauhan, asapnya bergerak keluar dari kaca, yang rupanya mengakibatkan batu archimedes keluar dari tempatnya kemudian memindahkan pada genggaman pria itu tak sampai sedetik. Mengingat ucapan Serevian tentang ketidak bolehan memegang archimedes sembarangan terutama jika bukan pemilik utama dan yang pertama—Hayden yang terkejut sontak melempar benda itu, tapi bukannya terjatuh, justru melambung semakin tinggi dengan tidak lupa memancarkan sinar putih yang khas. "Terima kasih sudah hadir vampir terpilih, jaga archimedes sepenuh hati dengan begitu kami akan kembali memberikan segalanya padamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD