Dante melangkah dengan irama tenang, namun tiap tapak kakinya penuh dengan kesadaran akan setiap inci tanah yang ia pijak. Ia dan James baru saja tiba di markas baru, yang kali ini terasa lebih mewah dan lebih terjaga daripada markas sebelumnya. Dinding-dindingnya kokoh, dihiasi ornamen keemasan, sementara pencahayaan remang-remang menambah kesan angker sekaligus megah. Sesekali, suara langkah kaki anak buah James terdengar di kejauhan, membuat suasana semakin mencekam. Dante mengangkat alisnya, tak bisa menyembunyikan rasa herannya. "Berapa banyak tempat persembunyian yang dimiliki pria ini?" batin Dante, bibirnya tak bergerak tapi matanya tak bisa membohongi kebingungan yang dalam. Saat keduanya berjalan melewati sebuah aula besar, James tiba-tiba menghentikan langkahnya. Tanpa ber

