Malam telah menjelang sempurna, pekat seperti selimut sutra hitam yang menutupi setiap sudut rumah megah itu. Hanya deru angin yang menerpa dedaunan dan bisikan sunyi dari dinding-dinding bisu yang menjadi saksi percakapan terakhir Dante dengan Vincent. Langkah kaki Dante menggema di sepanjang lorong gelap yang diterangi lampu-lampu kecil di dinding, menambah kesan mencekam. Wajahnya keras, tegang, seolah-olah ada perang batin yang tengah berkecamuk di dalam dirinya. Tapi langkah itu terhenti tiba-tiba. Di ujung lorong, ia melihat sosok yang tidak terduga. Sera. Sera, dengan mata besar dan cahayanya yang menggetarkan jiwa Dante, tampak terkejut. Dia berdiri terpaku, hampir membeku di tempatnya. Napasnya tertahan di tenggorokan, seperti seekor rusa yang ketakutan saat melihat singa yang

