Ayahmu Pasti Senang

1196 Words

Malam itu, Dante duduk santai di ruang kerjanya, sebuah ruangan dengan dinding kayu gelap dan pencahayaan lembut yang menciptakan suasana yang tenang namun elegan. Di depannya, Vincent duduk di kursi kulit yang menghadap meja. Senyum lebar menghiasi wajah Dante, sementara tawa renyah sesekali keluar dari mulutnya. "Penyamaranku ternyata berhasil," Dante berkata dengan nada puas. "Mathew dan James benar-benar menganggapku sudah mati. Mereka bahkan tidak sedikit pun curiga." Vincent, yang selama ini mendampingi Dante dalam menjalankan misi-misinya, mendengarkan sambil mengangguk perlahan. "Mudah bagimu untuk berkeliaran bebas di bawah hidung mereka. Sejak mereka mengira kau sudah mati, kau bisa masuk dan keluar dari lingkaran mereka tanpa ada yang memperhatikan." Dante tersenyum lebih l

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD