Dante duduk dengan gelisah di ruang VVIP yang remang-remang, ditemani hanya oleh bayangannya sendiri dan suara detak jantungnya yang semakin keras. Pikirannya terfokus pada satu titik—Sera. Dia tak bisa mengalihkan perhatian dari monitor di depannya, yang memperlihatkan Sera duduk sendirian di sudut ruangan VIP, mengikuti instruksinya dengan patuh. Namun, bayang-bayang kekhawatiran terus menghantui pikirannya. Pintu ruang VVIP terbuka perlahan, dan Vincent masuk dengan gaya santai khasnya. Senyum licik terukir di wajahnya saat ia menyaksikan Dante yang tampak gelisah. Ia melangkah pelan, mengambil gelas vodka dari meja, lalu meneguknya dengan santai. “Kau khawatir, hm?” Vincent menggoda, senyumnya semakin lebar. “Cemas Sera disentuh oleh mereka?” Dante menegang. Suara Vincent, meski h

