Sera duduk memeluk kedua lututnya, matanya menatap hampa pada dinding kamar yang terasa semakin menyempit setiap kali ia menghela napas. Waktu sudah menunjuk angka tiga pagi, namun rasa kantuk sama sekali tak menghampirinya. Hatinya resah, pikirannya dipenuhi oleh bayangan Dante. Ia masih tidak percaya bahwa Dante, pria yang selama ini ia anggap sebagai penyelamat sekaligus pelindungnya, memutuskan untuk menghadapi James seorang diri—tanpa dirinya, tanpa bantuan siapa pun. “Kenapa Dante begitu egois?” ucap Sera lirih, suaranya bergetar, hampir tak terdengar di tengah kesunyian malam. Matanya yang memerah karena kurang tidur mengerjap, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. "Padahal... aku bisa membantunya," ia melanjutkan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Di kepalanya, m

