Dante melangkah dengan berat menuju pintu rumah pamannya, Arthur. Hujan masih mengguyur deras, namun ia tak peduli. Tubuhnya yang basah kuyup tak seberapa dibandingkan dengan beban pikiran yang menggelayut di benaknya. Sepanjang jalan, bayang-bayang percakapan dengan Mary terus menghantui. Pertanyaan-pertanyaan tentang masa lalu ibunya, tentang kematian kedua orang tuanya, menggemuruh dalam dadanya. Saat pintu terbuka, Arthur menatap keponakannya dengan tatapan terkejut. “Dante? Apa yang terjadi? Kenapa kau basah kuyup begini?” Arthur menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa aneh melihat Dante yang biasanya rapi kini tampil kusut, dengan ekspresi penuh kemarahan yang membekukan. Dante menatap pamannya tanpa rasa takut atau ragu. Suaranya dingin dan tajam ketika ia bertanya, “Apa benar, I

