Mengungkap Identitasnya

911 Words
Esok paginya, matahari baru saja merangkak naik ketika Sera bangun dari tidur gelisahnya. Cahaya lembut menyelinap masuk melalui celah-celah tirai kamar yang setengah tertutup. Udara pagi terasa dingin menyentuh kulitnya, menambah rasa asing yang menyelimuti hatinya. Pikirannya masih kacau balau setelah percakapan dengan Dante semalam. Ada begitu banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya, tapi tak satu pun yang menemukan jawaban. Dengan langkah hati-hati, Sera turun dari tempat tidur. Tubuhnya terasa kaku, seakan masih berada di bawah bayang-bayang mimpi buruk yang menyelimuti malamnya. Ia berdiri sejenak, memejamkan mata, mencoba menenangkan debaran jantung yang tak beraturan. Dia tahu, hari ini dia harus menghadapi kenyataan baru—sebagai asisten pribadi Dante. Meskipun masih merasa asing dengan peran barunya, tekad di dalam hatinya sudah bulat. Mengambil napas panjang, Sera melangkah keluar dari kamarnya. Setiap langkahnya terasa berat, kakinya bergerak dengan sedikit keraguan. Namun, ada api kecil di dalam dirinya yang menyala, memaksa dirinya untuk terus maju. Ia harus menghadapi Dante, harus mengetahui apa yang harus ia lakukan. Tidak ada lagi waktu untuk ragu-ragu. Di ruang tengah, Dante sudah berdiri. Ia tampak sibuk memeriksa beberapa berkas di tangannya. Wajahnya terlihat serius, alisnya berkerut tipis seolah sedang memikirkan sesuatu yang penting. Ketika mendengar langkah kaki Sera, Dante mendongak, menatapnya dengan mata tajam. Sera merasa dadanya berdebar keras di bawah tatapan itu. “Apa yang harus aku lakukan?” Sera bertanya dengan suara sedikit bergetar, mencoba terdengar setenang mungkin. “Aku tidak punya pengalaman sebagai asisten pribadi. Aku hanya tahu asisten rumah tangga saja.” Dante menatap Sera dengan pandangan tajam, bibirnya melengkung tipis. Sekilas, senyum kecil terulas di bibirnya, hampir seperti senyum seorang pria yang melihat seorang anak kecil yang kebingungan. Ada sesuatu yang dingin dalam senyumnya, sesuatu yang membuat Sera merasa tidak nyaman. "Kepolosanmu," pikir Dante, "terkadang begitu memikat, tapi juga begitu bodoh." Di benaknya, Dante merasa gemas dengan kepolosan Sera. Wanita ini, pikirnya, terlalu naif. Ia bisa saja hanya mengurung Sera di rumah ini, jauh dari ancaman luar. Namun, entah kenapa, ia malah memberinya pekerjaan sebagai asisten pribadi, pekerjaan yang jelas-jelas membuat Sera kebingungan dan terus memikirkannya. “Aku tidak ingin rahasiaku bocor olehmu!” jawab Dante dingin, suaranya terdengar seperti bilah pedang yang tajam. Matanya masih menatap Sera tanpa berkedip, seakan mencoba membaca pikirannya. Sera menghela napas berat, menahan kesal. “Berapa kali aku harus bilang, Dante? Aku tidak akan membocorkan apa pun,” sahutnya lelah. "Aku hanya ingin tahu apa yang harus kulakukan." Dante mengangkat bahu, matanya masih tajam meneliti wajah Sera. “Kau mungkin tidak bermaksud membocorkannya, tapi siapa yang bisa memastikan? Dunia ini penuh dengan tipu daya, Sera. Kau harus selalu waspada.” “Ya, aku tahu. Tetapi, alasanmu tidak masuk akal sama sekali. Kau bisa memanggil asisten pribadi yang lebih berpengalaman dariku—” “Justru ucapanmu yang tidak masuk akal, Sera.” Dante memotong ucapan Sera. “Keputusanku sudah benar, menjadikanmu tawanan di rumahku.” Dante menaikkan alisnya, tatapannya penuh tantangan. Sera menelan salivanya. “Pada akhirnya memang itu yang kau inginkan dariku,” ucapnya dengan pelan, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan pagi yang sepi. Merasa percuma berdebat dengan Dante, Sera berbalik dan kembali ke kamarnya. Pintu kamar ditutup dengan perlahan, dan ia segera duduk di tepi tempat tidurnya, mencoba menenangkan pikiran. Semua ini, pikirnya, adalah sesuatu yang tak pernah ia bayangkan. Bertemu dengan orang yang menjadi korban pamannya, dan mengetahui bahwa James, pamannya sendiri, adalah pembunuh berdarah dingin. “Aku masih tidak percaya jika dunia sesempit ini. Kenapa harus aku yang jadi tawanan di sini?” gumamnya lalu mengembungkan pipinya, seolah berharap bisa melepaskan semua ketidakpastian dan rasa takutnya. “Ayah, Ibu. Ternyata Paman James sangat jahat. Apakah kalian sudah tahu soal ini?” ucap Sera seraya menatap kosong pada dinding di depannya. Ada rasa rindu yang menyakitkan di hatinya, rindu pada orang tuanya, rindu pada kehidupan yang dulu ia kenal. Saat Sera tenggelam dalam pikirannya, pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar. Dante masuk tanpa mengetuk, langkahnya pasti dan tenang, membuat Sera terlonjak kaget. Ia langsung berdiri, menatap Dante dengan mata melebar, jantungnya berdetak semakin cepat. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya, mencoba terdengar tegas, namun tak bisa menyembunyikan rasa takut dalam suaranya. Ada sesuatu dalam tatapan Dante yang membuatnya merinding, sesuatu yang gelap dan misterius. Dante tidak segera menjawab. Ia menatap Sera dengan pandangan yang sulit ditebak, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat penting. “Besok aku libur,” katanya akhirnya, suaranya datar. “Temani aku bermain golf di taman belakang jam sembilan pagi.” Sera terperangah. “Golf? Di taman belakang?” gumamnya. Dia tahu Dante memiliki segalanya, tapi lapangan golf pribadi? Apa sebenarnya pekerjaan Dante ini, selain berpura-pura menjadi bodyguard pamannya? Di balik semua ini, siapa sebenarnya Dante? “Kau … bukan orang sembarangan. Tapi, sampai saat ini aku masih belum tahu apa pekerjaanmu sebenarnya,” kata Sera dengan pelan, nadanya penuh keraguan dan ketakutan. Dante melihat ekspresi terkejut di wajah Sera, dan ia menyunggingkan senyum tipis. “Kau ingin tahu pekerjaanku sebenarnya?” tanyanya, nadanya penuh godaan, seakan menikmati kebingungan dan ketakutan Sera. Sera mengangguk ragu, matanya masih terpaku pada Dante. Ada rasa ingin tahu yang menggelitik hatinya, meskipun ia tahu bahwa mungkin lebih baik ia tidak tahu. Tapi bagaimana ia bisa berhenti? Semakin lama berada di rumah ini, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya. Dante mendekat, perlahan, hingga jarak mereka hanya beberapa langkah. “Aku .…” ia berhenti sejenak, menikmati ketegangan yang tercipta di udara. “Adalah mafia berdarah dingin! Aku bisa membunuh siapa saja yang berani mengkhianatiku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD