Jadi Asisten Pribadi Dante

1065 Words
Sera membeku, tubuhnya gemetar setelah mendengar ucapan Dante yang menghantamnya seperti gelombang pasang yang datang tiba-tiba. Paman James, seorang pembunuh berdarah dingin? Hatinya berdetak kencang, dan napasnya terasa berat. Seumur hidupnya, ia tak pernah membayangkan bahwa pria yang selama ini dipanggilnya paman, yang ia layani dengan setia, adalah seorang pembunuh. “Ak—aku … aku tidak menyangka jika selama ini aku hidup dengan seorang pembunuh,” suaranya terdengar serak, nyaris tak terdengar. Seluruh kekuatan seolah hilang dari tubuhnya, membuatnya terkulai lemas di kursinya. Dante memandangnya dengan tatapan yang tajam dan penuh arti. “Ya,” katanya perlahan, nadanya datar namun menakutkan. “Pamanmu seorang pembunuh berdarah dingin, Sera.” Sera meneguk ludah, mencoba menenangkan diri. “Dan pantas saja kau rela jadi bodyguard pamanku karena untuk balas dendam atas kematian ayahmu, kan?” tanyanya, menatap Dante dengan mata yang penuh dengan ketidakpercayaan dan kengerian. Dante tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia hanya mengambil gelas wine-nya dan meneguk isinya dengan tenang. Keheningan di antara mereka begitu tebal, seperti kabut yang menutupi jalan di pagi hari. Diamnya Dante sudah cukup menjawab pertanyaan Sera, lebih dari cukup untuk membuatnya mengerti. Sera menghela napas panjang, mencoba memahami situasi yang ada. “Ayahku tidak pernah memberi tahu siapa orang yang sudah membunuhnya,” lanjut Dante, matanya menatap jauh ke depan, seolah melihat kembali masa lalunya yang kelam. “Namun, ketika aku dewasa, orang terpercaya ayahku memberi tahu bahwa James lah yang telah membunuh ayahku.” Kata-kata itu keluar dari bibir Dante dengan penuh emosi, namun tetap terkontrol. Sera bisa merasakan amarah yang tersimpan rapi di balik wajah tenang Dante, seperti gunung berapi yang sedang menunggu waktu untuk meletus. Ia mendengarkan setiap kata dengan penuh perhatian, hatinya terasa sakit mengetahui Dante harus kehilangan ayahnya di usia yang masih sangat muda. Dante mengingat kembali sejarah pahit yang telah mengubah hidupnya selamanya. “Seharusnya hal itu tidak pernah terjadi,” gumamnya, matanya berubah menjadi gelap dan suram. “Aku harus kehilangan ayahku, sosok yang seharusnya menjadi pemandu hidupku, hanya karena keserakahan dan ambisi James.” Sera menelan ludahnya, mencoba meredam ketakutan yang melandanya. Ia menatap Dante, merasakan kemarahan yang menguar dari pria itu. “Aku pikir, kau keponakan kesayangan pamanmu,” lanjut Dante, suaranya melembut namun tetap berisi. “Ternyata aku salah.” “Huh?” Sera mengangkat wajahnya, kebingungan melintas di matanya. Dante kembali terdiam. Sesaat ia berpikir bahwa Sera adalah keponakan kesayangan James, seseorang yang akan diberi segalanya tanpa diminta. Ternyata, pandangannya keliru. Sera bukanlah seseorang yang dianggap penting oleh pamannya. Justru, ia dimanfaatkan, diperlakukan seperti pelayan, terjebak di rumah itu tanpa pilihan. “Apa itu artinya kau akan mengembalikanku ke rumah pamanku?” tanya Sera hati-hati, suaranya bergetar. Ketakutan menyergapnya, membayangkan harus kembali ke rumah yang penuh dengan kebohongan dan pengkhianatan itu. Dante hanya menatapnya, tidak memberikan jawaban. Sementara itu, Sera terus menunggu dengan gelisah. Keheningan di antara mereka membuat jantungnya berdegup semakin kencang, hampir melompat keluar dari dadanya. Tapi jauh di dalam hatinya, Sera berharap Dante tidak akan mengirimnya kembali ke rumah pamannya. Tidak setelah semua yang ia ketahui hari ini. “Aku bukan pria bodoh seperti pamanmu!” Dante akhirnya membuka suara, nada suaranya tajam seperti pisau. “Tentu saja tidak. Aku tidak akan mengembalikanmu ke rumah sialan itu.” Sera terkejut, namun senyum tipis tersungging di bibirnya tanpa ia sadari. Entah mengapa, ada perasaan lega yang menjalari dirinya. Mungkin karena ia tahu ia tidak perlu kembali ke tempat di mana ia tidak pernah benar-benar diterima, atau mungkin karena ia sudah mulai nyaman di tempat ini. Di rumah Dante, meskipun pria itu memiliki niat tersembunyi. “Maafkan aku,” ucap Sera pelan, sedikit malu karena reaksi sebelumnya. “Aku pikir, kau akan membawaku ke rumah itu lagi.” Dante menatap Sera dengan tatapan yang dalam dan penuh arti. “Memangnya kau mau kembali ke rumah itu?” tanyanya, kali ini suaranya lebih lembut, hampir seperti bisikan. Sera menggelengkan kepala pelan. “Jujur saja, aku sudah mulai beradaptasi di rumah ini. Dan tentunya… lebih nyaman tinggal di sini daripada di rumah pamanku, Dante.” Dante mengangguk, bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis. “Kau belum tahu saja, di balik kemewahan ini, banyak hal yang tidak kau sadari, Sera. Kau belum tahu sejarah di balik berdirinya rumah ini.” Sera menelan ludahnya. Kata-kata Dante membuat bulu kuduknya meremang. Di balik kesempurnaan yang terlihat, selalu ada rahasia yang tersembunyi, dan Sera tahu, baik Dante maupun James, bukanlah pria yang benar-benar baik. Keduanya memiliki sisi gelap yang menakutkan. Meskipun ia belum sepenuhnya tahu siapa Dante sebenarnya, instingnya mengatakan bahwa Dante tak jauh berbeda dengan James. Sama-sama berbahaya. Namun, Sera tahu ia harus tetap tenang dan hati-hati. Dalam situasi seperti ini, langkah gegabah bisa menjadi bumerang yang berbahaya. “Well, Sera,” Dante memecah keheningan, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. “Kau akan menjadi asisten pribadiku. Mulai besok!” Mata Sera membelalak lebar. “Apa?!” serunya tak percaya, hampir terperanjat dari kursinya. "Asisten pribadi? Maksudmu .…" Dante tertawa kecil, namun tawa itu terdengar lebih seperti geraman yang mengancam. "Ya, Sera. Asisten pribadiku," jawabnya, suaranya rendah dan berat, penuh arti. "Kau akan bekerja langsung di bawah perintahku, mengikuti setiap instruksiku, dan membantu menjalankan rencanaku. Kau ingin tinggal di sini? Maka ini harga yang harus kau bayar." Sera menghela napas panjang. "Apa yang harus kulakukan?" tanyanya hati-hati, mencoba menenangkan dirinya meskipun pikirannya berkecamuk tak karuan. Ada perasaan takut, namun juga penasaran, ingin tahu apa yang ada di balik semua ini. "Kau akan tahu nanti," jawab Dante singkat, mengakhiri pembicaraan. "Sekarang, pergilah ke kamarmu. Istirahatlah. Besok adalah hari yang panjang, dan aku butuh kau dalam kondisi terbaikmu." Sera hanya mengangguk pelan. Hatinya masih berkecamuk, antara takut dan penasaran. Ia tak tahu apa yang menantinya besok, namun satu hal yang pasti: hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Tidak setelah semua yang ia ketahui hari ini. Dengan langkah pelan, Sera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Pikirannya melayang-layang, memikirkan apa yang harus dilakukannya selanjutnya. Satu hal yang pasti, ia harus tetap waspada. Karena di dunia yang penuh dengan kebohongan dan rahasia ini, setiap langkah yang diambil bisa menjadi langkah terakhir. Dante memandang punggung Sera yang perlahan menjauh, senyum tipis terukir di wajahnya. Wanita ini, pikirnya, akan menjadi bagian penting dari rencananya. Namun, apakah ia bisa benar-benar mempercayainya? Itu pertanyaan yang belum ia ketahui jawabannya. Namun, satu hal yang pasti: permainan baru saja dimulai. Dan di permainan ini, hanya ada dua pilihan: bertahan hidup atau mati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD